
Empat hari sudah cukup bagi Seokyung tidur di kasur rumah sakit. Jika lebih lama lagi mungkin dia bisa gila. Lebih dekat ke membosankan. Hidupnya monoton, apalagi Hwan yang menemaninya. Bergerak sedikit saja tidak boleh. Banyak orang tiba-tiba dimobilisasi masuk ke kamar tempatnya dirawat. Termasuk tambahan dua orang staff untuk mengurus si kembar.
Seokyung dibuat gemas oleh tingkah polah CEO Kangin Group, Kang Inhwan. Ada hikmah dibalik ini, mereka kembali dekat dan pikiran tentang perjanjian dengan Sora kembali melunak. Baik Seokyung atau Hwan mengendorkan pengawasan mereka.
Mereka berdua kini sedang menikmati menjadi orang tua baru untuk si kembar, Kang Inkyung dan Kang Inseo.
"Fokus saja pada mereka. Aku akan mengurus sisanya."
"Jika Sora kembali bagaimana? Dia istrimu Hwan, tidak mungkin aku akan tetap tinggal. Tempat ini bukan milikku."
Hwan diam.
"Tugasku hanya melahirkan, setelah itu aku harus pergi."
"Seokyung, jujurlah padaku, bagaimana dengan perasaanmu? Kamu ingin meninggalkan mereka begitu saja?"
"Kalau boleh jujur aku tidak ingin. Tapi aku sudah menerima uang dari Sora dan tidak mungkin aku terus disini jika Sora kembali. Aku juga bingung Hwan, tolong mengertilah."
"Percayalah padaku. Aku akan membereskannya. Aku yang akan mengurusnya. Jadi tolong tetap tenang dan fokus pada Inkyung dan Inseo. Mereka membutuhkanmu Seokyung." Pinta Hwan hampir memohon.
"Aku takut."
"Percaya padaku." Hwan menarik tubuh Seokyung kemudian memeluknya. Air mata Seokyung tumpah. Dia bingung dan takut sekaligus. Dia ingin tetap tinggal tapi itu menyalahi perjanjian. Jika dia pergi dia tidak akan sanggup meninggalkan kedua anaknya.
Situasinya jadi kacau.
Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan tenang. Seperti berjalan di atas es yang tipis. Takut kapan pijakan itu akan runtuh. Tanpa terasa satu bulan telah berlalu, para staff mulai dikurangi. Kewaspadaan Hwan sedikit berkurang. Belum ada tanda-tanda Sora menampakkan dirinya. Hwan sedikit lega karena dia punya rencana besar. Dia akan menemui Sora lebih dulu sebelum dia menemui Seokyung. Sora masuk dalam pantauan tim keamanannya. Belum ada hasil memang, tapi Hwan tahu Sora menyembunyikan sesuatu darinya.
"Anda siapa?" Tanya salah satu staff keamanan saat melihat seorang wanita berjalan mendekat menggunakan kaca mata hitam.
"Halo, aku adalah Nyonya Kang." Wanita itu melepas kacamatanya, senyum liciknya segera terbit.
Dua staff keamanan yang berdiri di depan pintu terhenyak. Wanita itu memang Nyonya Kang, tapi mereka sedikit bingung. Wanita itu tidak seperti Nyonya Kang biasanya. Nyonya yang mereka layani setiap hari tidak pernah menggunakan riasan tebal, pakaian seksi dan sepatu hak tinggi.
__ADS_1
"Buka pintunya." Titahnya.
Dua staff gagap, sontak saja mereka membuka pintu masuk. Masih dengan kebingungan mereka, pintu tertutup.
Seokyung sedang memberikan susu kepada Inkyung sambil tiduran. Inseo sudah mendapat gilirannya yang pertama. Saat ini bayi itu sedang tidur di sebelah Inkyung. Mereka tidur berjejer. Tangannya meraih baju Seokyung saat menyusu. Inkyung lebih aktif dibandingkan Inseo. Meskipun laki-laki, Inseo jauh lebih tenang dibanding Inkyung. Usia mereka kini satu bulan. Waktu yang berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin Seokyung melahirkan mereka, bayi kecil itu sudah tumbuh besar.
Ceklek
Pintu kabar terbuka. Seokyung tidak menoleh karena para staff atau bibi pembantu selalu mengetuk sebelum masuk. Jika dia masuk tanpa mengetuk itu pasti Hwan. Akhir-akhir ini dia sering pulang lebih awal. Namun orang yang masuk bukanlah Hwan.
"Sora!" Tubuh Seokyung menegang.
Sora berdiri dengan tatapannya yang menusuk seperti biasanya.
"Hai, bagaimana kabarmu?" Tanya Sora basa-basi.
Seokyung diam. Tubuhnya gemetar.
"Sekarang sudah seperti Nyonya Kang sungguhan rupanya. Apakah kamu menikmatinya?" Pertanyaan Sora langsung pada intinya. Seperti biasanya. Sikapnya yang selalu mengintimidasi.
"Kita bicara di luar saja. Mereka baru saja tidur." Seokyung melangkah lebih dulu.
"Mereka kembar?"
Seokyung mengangguk.
"Nasib yang mengerikan."
"Ya sama seperti kita. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka sama seperti kita Sora. Meraka akan memiliki hubungan yang baik."
"Cih... jangan sok baik kamu, dasarperebut suami orang." Suara marah Sora terdengar.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Jangan pura-pura bodoh, kamu melanggar janjimu Seokyung. Sudah aku bilang jangan gunakan perasaan. Sekarang aku kembali untuk menagih janjimu."
Seokyung tetap diam.
"Sisa uang perjanjian sudah aku transfer ke rekeningmu. Jadi silahkan pergi. Mereka sekarang menjadi milikku."
"Tunggu Sora, bisa beri aku beberapa hari lagi? Mereka masih butuh ASI dariku dan Hwan, aku belum berpamitan padanya."
"Dasar perempuan tidak tahu diri!"
Plak
Tamparan melayang ke pipi Seokyung.
"Aku mohon, tolong beberapa hari saja." Pinta Seokyung dengan memohon. Dia tidak menghiraukan rasa menyengat di pipinya.
"Kamu yang mempengaruhi Hwan untuk memblokir kartu yang aku bawa bukan? Apa yang kamu lakukan Seokyung? Karena tinggal di rumah ini kamu jadi merasa menjadi Nyonya Kang hah? Ingat akulah Nyonya rumah ini yang asli. Kamu hanyalah pengganti. Pergi sekarang juga!" Bentak Sora dengan suara yang lantang.
"Apa tidak mengerti apa yang kamu katakan. Aku tidak pernah sekalipun mempengaruhi Hwan."
"Bohong. Hwan tidak pernah seperti ini sebelum mengenalmu. Dasar wanita ja*ang!"
Sora menarik tangan Seokyung dan menyeretnya turun ke lantai satu. Ada kegaduhan dibawah. Bibi pembantu dan para staff terkejut nyonya mereka ada dua. Jika dilihat sekilas wajah mereka mirip dan sulit dibedakan.
"Cepat hubungi Tuang Kang." Bibi pembantu memerintahkan salah satu staff. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat Seokyung diseret Sora dan ditendang ke luar rumah.
Seokyung memohon pada Sora. Dia ingin tambahan waktu beberapa hari lagi. Dia belum berpamitan dengan baik pada anaknya dan juga Hwan. Dia dibutakan oleh kenyamanan hingga melupakan kenyataan jika Sora kembali dia harus segera pergi.
Pintu gerbang luar rumah Hwan tertutup. Tubuhnya jatuh ke tanah saat Sora mendorongnya. Air mata Seokyung tumpah. Barang-barang yang dia bawa dilempar secara berhamburan dari dalam oleh Sora.
Apakah ini akhir dari semuanya, hati Seokyung tenggelam. Ketakutan yang selama ini menghatuinya terjadi juga. Inilah akibatnya. Benar apa yang dikatakan Sora, 'jangan gunakan perasaan', Seokyung melanggar dan dialah yang dapat hukumannya. Tapi siapa yang tega melakukannya tanpa menggunakan perasaan, Seokyung manusia biasa. Dia punya hati. Dengan hati yang berat Seokyung memunguti barang-barang miliknya. Dia terpaku sejenak menatap rumah besar milik Hwan. Dia menyesal tidak bisa berpamitan pada si kembar dan Hwan.
Dia harus pergi. Perjanjiannya dengan Sora telah berakhir.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Seokyung menjauh. Wajah Hwan dan si kembar terbayang-bayang di matanya. Apakah dia akan bisa hidup tanpa mereka, Seokyung tak mampu membayangkan. Disepanjang jalan Seokyung hanya bisa menangis.
Game of Hearts #15 Next...