
Sofia bermimpi.
Hamparan rerumputan hijau terlihat dengan angin sepoi-sepoi. Sofia berdiri melihat sekelilingnya.
Ada nisan terbuat dari kayu tampak usang. Disana tertulis Felix de Elderbar Si Pengkhianat. Hati Sofia tertohok.
Tempat peristirahatan terakhir Felix yang tidak tertawat. Sendirian. Sepi.
Sofia mendekat.
Menatap lama gundukan yang tidak terawat, hati Sofia tenggelam. Saat kakinya kembali mendekat, semua yang ada di depan matanya tiba-tiba menghilang.
Gundukan dan nisan lusuh hilang tanpa jejak. Tergantikan dengan taman bunga yang luas. Sofia terkesiap.
"Felix."
Sofia bingung. Kesana kemari mencari tempat peristirahatan Felix. Seberapa keras dia mencari, hasilnya nihil. Ait mata Sofia tumpah.
Malam semakin larut. Jordan tetap setia duduk di samping Sofia yang terbaring dengan nafas yang teratur. Tiga hari telah berlalu saat dia menerobo masuk ke penjara bawah tanah dan menyelamatkan Sofia.
Sofia sempat membuka matanya tadi pagi. Tapi dia kembali tertidur dan belum bangun lagi sampai sekarang.
"Sofia." Jordan mengelus pipi pucat Sofia.
Sambil memandangi wajah damainya seperti tidak pernah terjadi apa-apa, ingatan Jordan melayang jauh pada saat dia mendobrak pintu Soltera. Menemukan Sofia dalam keadaan yang menyedihkan. Tergeletak ditanah seperti binatang buas yang harus dirantai.
Pada saat itu amarah Jordan naik ke ubun-ubun. Jika Alex bukan seorang kaisar, dia pasti sudah menebas kepalanya saat itu juga.
Matanya terpejam kuat untuk meredakan amarah di dalam dirinya yang siap berkobar ketika dia mengingat hal itu.
Jordan yang menyerbu penjara bawah tanah pribadi kaisar tentu sudah menyebar menjadi rumor dimana-mana. Sebentar lagi, hal yang akan membuatnya sakit kepala segera datang. Jordan menekan pelipisnya pelan.
"Felix."
Terdengar suara samar. Panca indra Jordan yang tumpul sejenak menjadi tajam. Di tengah kegelapan, Jordan mencari sumber suara.
"Felix."
Jordan tersentak saat melihat Sofia yang bergumam pelan dengan air mata yang mengalir deras.
"Sofia."
Jordan mengguncang pelan tubuh Sofia. Tangannya mengusap pipi Sofia yang basah. Hatinya jatuh. Bagaimana bisa seseorang yang terpejam bisa sekaligus menangis. Dia pasti bermimpi buruk. Maka dari itu Jordan berusaha membangunkan Sofia.
"Sofia, apa yang terjadi. Bangunlah."
Kali ini guncangan Jordan lebih keras dibahu Sofia. Tangannya mengangkat tubuh Sofia yang lemah ke dalam pelukannya.
"Sofia bangunlah. Ini aku."
Tangis Sofia tidak mereda, air matanya semakin meleleh. Jordan sibuk menyeka air mata yang membasahi pipi Sofia.
Tangannya meraih pundak Sofia kemudian mengguncangnya pelan. Panik akan situasi, Jordan memanggil nama Sofia beberapa kali.
"Sofia." Panggil Jordan lembut dengan nada miris.
Jordan hampir putus asa saat Sofia akhirnya membuka matanya.
"Jordan?" Suara Sofia serak dan hampir tidak terdengar.
"Ya ini aku. Hah..." Jordan mendesah pelan. Hampir saja jantungnya meledak jika Sofia tidak membuka matanya.
Pandangan Sofia kabur, ruangan yang memang redup menambah kekaburan penglihatannya.
"Kamu pasti bermimpi buruk."
Jordan mengangkat tubuh Sofia dengan mudah. Dia menata bantal untuk sandaran Sofia. Dia juga segera mengambil gelas berisi air kemudian mendekatkannya ke bibir Sofia.
Air dingin segera mengaliri tenggorokan kering Sofia. Rasanya segar.
"Bagaimana perasaanmu?" Jordan duduk ditepian kasur dengan tangan menggenggam erat Sofia.
Sofia mengangguk pelan. Mengisyaratkan jika dia baik-baik saja.
"Kamu mimpi buruk Sofia, kamu menangis."
__ADS_1
Sofia kembali mengangguk pelan kemudian tersenyum.
"Saya mendengar seseorang memanggilku, itu pasti Jordan."
Giliran Jordan yang mengangguk. Tangannya merapikan rambut Sofia yang berantakan dan basah.
"Apa yang kamu mimpikan hingga menangis seperti itu?" Tanya Jordan lembut seraya membelai pipi Sofia.
Hening.
Ada keengganan dari bibir Sofia untuk menjawab. Dia memalingkan wajahnya. Terlihat jelas dibawah sinar bulan yang masuk melalui jendela jika Sofia menolak untuk mengatakannya.
Dahi Jordan berkerut. Ini adalah pertama kalinya Jordan melihat wajah Sofia yang murung. Meskipun hidupnya yang ternyata menyedihkan di dalam istana, Sofia selalu riang. Wajahnya berseri-seri dengan senyumnya yang hangat.
Jordan sadar jika Sofia tidak ingin mengatakannya padanya. Jordan tidak mungkin memaksanya. Jadi Jordan memilih diam dan mengalihkan pembicaraan.
"Apakah ada yang kamu inginkan?"
Sofia menoleh. Menatap lurus mata Jordan kemudian menggeleng.
"Saya pasti sudah menyita banyak waktu Jordan. Jordan adalah orang yang sibuk."
"Tidak. Aku punya banyak waktu luang."
"Jordan terima kasih."
"Untuk?"
"Semuanya. Jordan menyelematkan saya dan juga dua pelayan saya, Ema dan Rona."
Sofia mendengar dari pelayan yang mengurusnya jika Ema dan Rona selamat. Ksatria Duke Hexalios telah menyelamatkan mereka. Sofia berterima kasih atas nama mereka.
"Itu sudah tugasku Sofia."
"Karena saya teman Jordan?"
Jordan mengangguk dengan canggung.
Sebaliknya, Sofia membalasnya dengan senyumnya yang biasa. Cantik. Bahkan di bawah kegelapan malam dengan cahaya yang minim.
Hati Jordan berdesir. Tidak ada senyum yang indah selain senyum yang baru saja dia lihat. Bibir merah seperti pahatan itu mengguncang batin Jordan. Meskipun sudah sering dia melihatnya, namun sensasinya tetap sama. Mendebarkan.
Jordan membantu Sofia kembali berbaring. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Sofia.
"Mimpi indah Sofia. Jangan khawatir ada aku disampingmu. Jika butuh sesuatu kamu bisa memanggil pelayan. Mereka menunggu di depan pintu."
Sofia mengangguk.
"Aku harus kembali ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Jordan mengelus puncak kepala Sofia kemudian bangkit. Saat dia hendak berbalik, sebuah tangan menariknya. Menahan langkahnya. Jordan menoleh. Itu adalah tangan kurus Sofia.
"Jordan, kita teman bukan?"
Sontan Jordan mengangguk.
"Jika saya menceritakan mimpi itu, akankah Jordan percaya?" Suara Sofia bergetar.
Jordan kembali duduk di tepian kasur.
"Tentu saja. Teman harus saling percaya."
Berulang kali mendengar dan mengucapkan kata 'teman' sendiri mencubit hati Jordan.
"Saya melihat masa depan dimimpi itu."
Wajah Jordan mengeras dengan pengakuan Sofia yang cukup mengejutkan. Tanpa sadar dahi Jordan berkerut dan dia bisa melihat Sofia menggigit bibir bawahnya. Itu bisa berdarah jika dibiarkan. Maka dari itu Jordan membuka mulut dari keterkejutannya.
"Masa depan?"
"Ya masa depan. Jordan pasti tidak percaya pada saya."
"Aku percaya Sofia. Silahkan ceritakan mimpi Sofia, aku akan mendengarkannya."
Sofia ragu sejenak sebelum akhirnya dia membuka mulutnya.
__ADS_1
"Saya pertama kali memiliki mimpi itu saat saya tiba di istana, setelah upacara pernikahan dengan Yang Mulia."
Bibir Sofia bergetar menyebut Alex. Yang Mulia Kaisar Elderbar.
"..."
"Mimpi itu sangat panjang. Awalnya saya mengira itu hanya mimpi biasa, tapi kejadian dimimpi itu terus menjadi nyata. Akhirnya saya percaya dan takut."
"Mimpi yang tidak indah?"
Sofia mengangguk kemudian melanjutkan.
"Di dalam mimpi itu saya diasingkan dan diremehkan. Yang Mulia tidak pernah datang atau bahkan memperhatikan saya. Saya mengetahuinya saat tidak ada siapapun yang datang untuk mengurus kami."
Sofia hampir menangis. Tapi Jordan menguatkannya dengan menepuk tangannya pelan.
"Saya melihat semuanya. Dari saya hidup hingga mati."
"Apakah semua terjadi persis sama?"
"Sebagian, karena begitu saya sadar jika mimpi itu adalah masa depan saya, saya mencoba untuk mengubahnya. Tapi ada hal yang tidak. Seberapa keras saya mencoba, itu tetap terjadi."
"Bahkan pertemuan kita di pasar waktu itu? Apakah Sofia juga berusaha mengindarinya? Karena Sofia sangat keras menolak pertemanan kita."
Sofia menggeleng.
"Tidak." Jawabnya singkat.
Jordan terkesiap.
"Jordan tidak ada di dalam mimpi itu."
Jordan diam.
"Mungkin saya yang berusaha mengubah masa depan itu makanya saya bertemu Jordan."
"Oh begitu."
Entah kenapa, jawaban Sofia membuat hati Jordan tenggelam. Kenyataan dia tidak ada di dalam mimpi itu mengecewakannya. Itu artinya di mimpi itu hanya ada Sofia dan Alex.
Suasana kembali menjadi hening. Pikiran Jordan menjadi kusut. Wajahnya mengeras. Tiba-tiba ingatan melintas dipikirannya.
"Felix." Jordan ragu-ragu. "Kamu menyebut Felix beberapa kali tadi, siapa Felix?"
Mata Sofia membulat. Dia pasti tanpa sadar menyebut nama Felix saat bermimpi tadi.
Meskipun pelan, Jordan jelas mendengarnya. Sofia memanggil nama Felix beberapa kali.
"Felix de Elderbar." Sofia tidak ingin menutupinya. Dia sudah memutuskan untuk berbagi mimpi itu dengan Jordan. Jadi tidak seharusnya ada yang ditutupi.
"Ya? de Elderbar? Itu berarti..."
"Ya, anak saya dengan Yang Mulia Kaisar."
Hati Jordan runtuh seketika. Tubuhnya tersentak mendengarnya. Bahkan meskipun langit runtuh, Jordan tidak peduli. Namun pernyataan Sofia barusan membuatnya terguncang hebat.
"Anak?"
Sofia mengangguk. Dia menghela nafas berat.
"Saya berusaha keras menghindarinya. Saya tidak ingin anak itu lahir." Air mata Sofia akhirnya tumpah.
Jordan membeku ditempat. Membayangkan Sofia mengacuhkannya saja cukup membuatnya frustasi apalagi melihatnya dengan laki-laki lain. Ada sesuatu yang meledak di dalam tubuh Jordan. Hawa dingin malam seketika menjadi panas. Darahnya mendidih.
"Maka dari itu Sofia berusaha kabur malam itu dan berakhir di Soltera?"
"Ya." Suara Sofia teredam isak tangisnya. Bahunya bergetar hebat.
Jordan segera meraih tubuh Sofia, mengangkatnya kemudian memeluknya.
Tangan Jordan mengelus pundak Sofia pelan. Rasa marah yang tidak menyenangkan hilang dalam sekejap. Jordan lemah dengan air mata Sofia.
"Itu mimpi yang sangat buruk. Saya tidak mau itu terjadi."
Sofia menangis seperti anak kecil yang kehilangan permennya.
__ADS_1
Jordan terus menepuk punggung kemudian mengelus rambutnya. Berusaha keras untuk menenangkan Sofia yang terbenam di dalam pelukannya. Menangis seperti air mata tidak pernah ada habisnya.
The Empress Crown #21 Next...