
"Ada undangan dari istana. Sebuah makan malam."
Sofia menghentikan tangannya yang giat mengiris daging. Merasa terganggu dengan sesuatu yang tidak ingin dia dengar.
"Hanya kita berdua. Alex terus memaksaku untuk membawamu ke istana."
Sofia meletakkan pisau dan garpunya kemudian mengangkat kepalanya.
"Bolehkah saya menolaknya?"
"Tentu saja. Ini adalah undangan yang bersifat pribadi jadi tidak apa-apa menolaknya." Jawab Jordan dengan kepala mengangguk.
"Saya tidak ingin bertemu dengan permaisuri."
Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian skandal pesta teh di istana yang melibatkan Permaisuri Elderbar dan Duchess Hexalios. Karena keduanya tetap diam, suasana panas perlahan mulai mereda. Berkat pernyataan publik Jordan beberapa waktu lalu untuk tidak membesarkan masalah ini karena mereka adalah keluarga dan telah menyelesaikannya sendiri.
Riak di aristokrat segera mereda. Namun masih ada beberapa pihak yang tidak terima dan masih menggunjing dibelakang. Tidak sebesar dulu. Jadi masih ditaraf aman.
Kenyataannya memang tidak seperti itu. Sejak Sofia bangun dua bulan lalu, tidak ada yang mengunjunginya, dari pihak istana maksudnya. Baik Alex ataupun Janetta sendiri. Mereka seperti pengecut yang bersembunyi di dinding istana. Memang pasangan itu adalah cerminan diri kita sendiri. Untuk pertama kalinya Sofia mengakui mereka cocok, dalam hal menjadi pengecut.
Sofia memaafkan tapi dia tidak akan pernah melupakannya.
"Sebenarnya aku sudah sering menolak tapi tidak ada salahnya untuk mendengar pendapat Sofia."
"Bukan saya yang melakukan kesalahan. Bukankah seharusnya mereka yang datang untuk meminta maaf?"
Jordan mengangguk tanda setuju dengan pendapat Sofia.
"Saya tidak ingin lagi bertemu dengan Permaisuri. Jika saya harus melakukan kegiatan sosial saya hanya ingin datang ke pesta teh alih-alih bola."
"Sofia tidak harus mengikuti acara melelahkan itu."
"Tapi saya Duchess sekarang, ketidakhadiran saya pasti akan membuat desas-desus."
"Siapa yang peduli?"
"Saya yang peduli."
"Sofia aku hanya takut kamu terluka."
"Saya tidak akan terluka lagi Jordan. Itu hanya pesta teh biasa."
"Hah." Jordan mengehela nafas kasar.
Tubuh bukan satu-satunya bagian yang bisa terluka. Pesta teh para wanita adalah ajang persaingan tingkat tinggi. Dia khawatir istrinya yang polos tidak bisa menanggungnya. Tapi siapa yang bisa menentang sifat keras kepalanya.
"Baik kalau Sofia sudah memutuskan. Tapi ada satu syarat."
Sofia menyipitkan matanya.
"Aku sendiri yang akan mengantar dan menjemput Sofia kesana."
Senyum terbit dari bibir Sofia. Kesepakatan diterima. Dia tidak perlu khawatir lagi karena orang paling kuat di Elderbar melindunginya.
Dia kembali memusatkan perhatiannya pada daging dipiringnya. Kemampuan koki keluarga Hexalios tidak perlu diragukan lagi. Apapun yang dibuat sesuai dengan selera Sofia. Dia selalu makan kenyang hingga perutnya hampir pecah.
Baru-baru ini dia sangat terobsesi dengan olahan daging. Matanya berkilat merah saat daging disajikan di atas meja. Seperti tahu tanpa mengatakannya, daging adalah menu wajib disetiap makannya sejak dua minggu yang lalu.
Sofia tidak sadar pada perubahan halus selera makannya dan kebiasaannya sehari-hari. Ada orang-orang yang menyadarinya, mereka adalah para pelayan yang setia mengurusnya. Perawatan ekstra hati-hati dan kebutuhan makan yang sangat berkualitas telah mereka lakukan. Mereka berharap segera mendengar kabar bahagia.
Setelah sekian lama Sofia kembali bermimpi.
Dia berdiri di padang rumput yang ditumbuhi pohon lebat dan bunga-bunga yang indah. Wanginya sangat harum sekali. Berbeda dengan mimpinya terakhir kali yang penuh kegelapan, mimpinya kali ini terang benderang dan penuh dengan keindahan.
Sofia mengedarkan pandangannya sambil memikirkan kali ini apa yang akan dia lihat.
Tidak ada tanda siapapun datang. Sofia melihat ada sebuah bangku kecil tak jauh darinya. Tepat ada dibawah pohon peach yang ranum buahnya.
Sofia duduk kemudian menyilangkan tangannya di pangkuannya. Dia memejamkan matanya untuk menikmati damainya alam ini. Suara gemerisik daun terkena angin dan suara kicauan burung memenuhi telinganya.
Tiba-tiba sebuah suara datang.
"Ibu!" Teriakan menggema.
__ADS_1
Sofia sontak membuka matanya. Dia melihat di kejauhan ada dua anak yang sedang bergandengan tangan. Mereka berlari mendekat.
"Ibu sudah datang?" Tanya salah satu dari mereka dengan suara yang mendesak.
"Felix?" Sofia bertanya-tanya.
"Iya ini aku ibu." Mereka terus berlari mendekati Sofia.
Saat keduanya telah mencapainya, Sofia tertegun. Felix yang dia ingat dengan Felix yang saat ini berdiri di depannya sangat berbeda.
Anak yang berdiri disampingnya juga tak kalah mengejutkan Sofia. Mereka memiliki wajah yang mirip. Seperti seseorang yang Sofia kenal. Mereka berdua memiliki fitur Jordan versi muda. Sofia pernah melihatnya. Di lukisan keluarga Hexalios yang ditempel di dinding ruang utama.
'Apa yang sebenarnya terjadi?'
Sofia menutup mulutnya karena terkejut.
"Benarkah kamu Felix?"
"Iya ibu benar aku Felix."
"Lalu siapa ini?"
Sofia menunjuk anak yang ada disamping Felix. Mereka saling bergandengan tangan seperti tidak ingin dipisahkan.
"Dia juga anak ibu."
"Iya ibu." Anak itu akhirnya membuka suara.
"Ya?"
Kepala Sofia pusing dan sebuah ingatan tiba-tiba datang. Wajah anak laki-laki Janetta terlintas. Dia melihat kembali wajah anak itu. Wajah mereka menjadi tumpang tindih.
"Ya Tuhan!" Sofia berseru.
'Siapa nama anak itu? Sepertinya aku pernah mendengarnya disuatu tempat. Ah iya aku ingat!' Batin Sofia menjerit.
"Leonil?"
"Apa, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Sofia dengan suara gagap.
"Dia terus memaksa untuk ikut denganku untuk menemui ibu." Suara kesal Felix menetas.
"Ya?"
"Saya hanya ingin bersama dengan saudara Felix." Leonil menjawab dengan sangat sopan. Bahkan suaranya juga lembut.
"Tolong jangan bertengkar. Jelaskan pelan-pelan padaku hm?" Mendengar anak itu berdebat mencubit hati Sofia.
"Ibu tolong terima saya sebagai anak ibu." Pernyataan Leonil kembali membuat Sofia tersentak.
"Saya selalu iri dengan saudara Felix. Saya juga ingin memiliki ibu yang seperti ibu." Suara memohon Leonil sangat lucu.
Jantung Sofia berdebar kencang. Dua anak ini meskipun saling berdebat tapi mereka tampak dekat. Sebenarnya apa yang terjadi. Kepala Sofia pusing.
"Tolong terima saya ibu." Suara Leonil hampir menangis karena kediaman Sofia.
"Kalian semua anak ibu."
Sebelum air mata Leonil tumpah, Sofia memeluk mereka.
"Terima kasih ibu karena sudah membawa kami ke hidup ibu."
Suara Felix terdengar samar dan Sofia membuka matanya.
Ruangan gelap yang familiar segera terlihat. Sofia bangun dan memegangi perutnya. Mimpi itu, apa artinya mimpi itu.
"Sofia apa yang terjadi?" Jordan yang terkejut ikut terbangun.
"Jordan saya bermimpi."
"Mimpi?"
"Iya. Tolong panggil dokter karena ada yang ingin saya pastikan."
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Jordan membolak-balik tubuh Sofia untuk memastikan sesuatu.
"Saya baik-baik saja." Jawab Sofia penuh keyakinan. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Jordan kemudian berbisik.
"Sepertinya saya sedang mengandung."
"Ya?"
"Anak Jordan dan saya." Sofia menunjuk perutnya yang rata.
"Panggil dokter!" Jordan menarik tali untuk memanggil pelayan dan memberikan perintah.
Dia memeluk tubuh Sofia erat-erat. Air matanya tumpah dan dadanya sesak.
"Sungguh?"
Sofia mengangguk dalam pelukannya.
"Mereka akan datang sekaligus."
Jordan melepas pelukannya kemudian menatap Sofia dengan wajah tidak mengerti.
"Akan ada dua bayi. Dua anak laki-laki."
Sembilan bulan kemudian lahir dua anak laki-laki di rumah Hexalios. Berita menyebar keseluruh Elderbar hingga menutup berita lain, Permaisuri Elderbar sedang mengandung.
Dua anak laki-laki itu merupakan tiruan ayah mereka. Rambut hitam gelap segelap malam tanpa bulan dan mata hijau tua seperti batu berlian sangat memesona. Semua orang berbahagia kecuali satu orang, ayah mereka sendiri. Dia membayangkan anak yang akan menyerupai istrinya, namun kedua anaknya malah mirip dengannya. Namun rasa kecewa itu segera sirna setelah melihat kelucuan kedua putranya.
Mereka bisa saja memiliki fitur Jordan, namun di dalamnya milik Sofia sepenuhnya. Anak itu tenang dan tidak merepotkan. Bahkan saat masih di dalam kandungan anak itu sangat tenang. Tidak menyusahkan sama sekali. Kadang Jordan tidak percaya bahwa di dalam perut besar Sofia ada dua bayi laki-laki.
Dua anak kembar itu diberi nama Felix Hexalios sebagai kakak karena yang pertama lahir. Kemudian si nomor dua yang lahir beberapa menit lebih lambat diberi nama Leonil Hexalios.
"Anak itu, maksud saya bayi Janetta dan Alex adalah anak perempuan. Saya pernah melihatnya di dalam mimpi." Sofia membuka suaranya tiba-tiba.
"Di dalam mimpi, anak itu akan dibuang karena Janetta hanya ingin anak laki-laki untuk menjadi kaisar selanjutnya." Tambahnya.
"Sofia ingin aku melakukan apa?"
Melihat kedua bayinya yang tertidur pulas dengan pipi yang tembam, hati Sofia melunak.
Dia menggeleng pelan.
"Jangan lakukan apapun. Saya tidak ingin ikut campur ke dalam kehidupan orang lain." Jawabnya.
Tangan Jordan mengelus pipi Sofia pelan. Mereka berempat selalu tidur di kasur yang sama. Sofia ingin mengurus bayinya sendiri sebagai tebusan karena dulu tidak bisa merawat Felix.
Dia menyembunyikan fakta bahwa Leonil, anak kedua mereka sebenarnya adalah anak Janetta dan Alex di mimpinya. Cukup dia saja yang tahu. Mimpi itu bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi bencana. Sofia memutuskan untuk menyimpannya sendiri karena dia tidak tahu masa depan seperti apa yang akan terjadi.
Tepat sembilan bulan kemudian dia mendengar kabar jika Janetta telah melahirkan bayi perempuan. Kali ini masa depan tampaknya telah berubah. Janetta mengakui anak perempuannya. Dia tidak membuangnya.
Sofia tersenyum lega. Bagaimanapun kita tidak berhak memutus nasib anak yang tidak berdosa. Meskipun Janetta tidak pernah meminta maaf atas sikapnya, kali ini Sofia yang akan memaafkannya karena tidak menelantarkan anak kandungnya. Mereka berdua impas.
Lima tahun kemudian anak ketiga lahir di rumah Hexalios. Bayi laki-laki yang lagi-lagi merupakan tiruan ayahnya. Sofia sudah tidak bermimpi lagi. Jadi kedatangan anak ketiga ini merupakan berkat dari Dewa Elderbar. Sebuah hadiah yang tiba-tiba.
Anak yang sama tenangnya dengan kedua kakak laki-lakinya diberi nama Julius Hexalios. Anak laki-laki yang tidak diragukan lagi memiliki darah Hexalios diseluruh tubuhnya. Rambutnya hitam pekat meskipun terkena sinar matahari dan mata hijau yang indah. Julius siap bergabung ke dalam barisan pelindung ibunya bersama dengan ayah dan kedua kakak laki-lakinya.
Secara mengejutkan dua tahun kemudian Sofia dinyatakan hamil. Semua orang kembali bertepuk tangan gembira. Lagi-lagi berkah dari Dewa Elderbar. Tuan yang mereka layani akan bertambah lagi. Tepat sembilan bulan kemudian lahir seorang bayi perempuan yang mirip dengan ibunya. Jordan menjadi orang yang sangat bahagia di dunia ini.
Akhirnya dia bisa melihat anak yang menyerupai istrinya, bukan anak-anak yang seperti melihat dirinya sendiri. Rambut perak dan mata biru gelap seperti tiruan ibunya. Sebagai anak bungsu dan satu-satunya perempuan, Angelica Hexalios harus menanggung kasih sayang ayah dan ketiga saudara laki-lakinya yang meluap-luap.
Berbanding terbalik dengan keluarga Hexalios yang sangat bahagia, pasangan penguasa Elderbar tidak.
Permaisuri Janetta Elderbar dinyatakan tidak subur lagi karena suatu hal yang tidak bisa diuraikan sebabnya setelah melahirkan Putri Margine de Elderbar. Rahimnya menjadi rusak permanen yang mengakibatkan dia tidak bisa lagi melahirkan anak.
Kekaisaran Elderbar yang menjunjung tinggi garis keturunan laki-laki mengkritik pedas Janetta. Semua orang tahu kemana pandangan para aristokrat mengarah.
Ya anda benar, keluarga Duke Hexalios yang merupakan pewaris tahta nomor dua. Duke yang sangat luar biasa itu memiliki tiga anak laki-laki.
Negeri ini butuh tontonan dari para penguasa. Kaisar yang hanya memiliki satu anak, seorang putri, tidak bisa memuaskan dahaga seluruh rakyat. Mereka butuh putra mahkota, pewaris sah dari tahta Kekaisaran Elderbar.
Jadi semua orang tahu kemana mata mereka membidik. Ya, dia adalah anak pertama Duke Hexalios, Felix Hexalios.
The Empress Crown END.
__ADS_1