Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #10


__ADS_3

Meskipun menikah dengan kaisar belum tentu menjadi permaisuri. Karena ada prosesi panjang yang harus dilalui.


Tentu yang pertama adalah pernikahan itu sendiri. Pasangan kaisar atau calon permaisuri harus menghabiskan malam dengan kaisar selama tiga hari. Setelah itu penyatuan mereka akan diakui oleh kuil sebagai simbol pasangan. Di hari keempat ada prosesi penyerahan benda pusaka kepada calon permaisuri oleh kaisar langsung. Benda itu adalah sebuah cincin. Di hari kelima, dan terakhir, pasangan kekaisaran, diarak keliling kota. Rakyat akan turun ke jalan untuk menymbut permaisuri yang baru.


Dari empat tahapan penting untuk menjadi permaisuri, Sofia hanya melewati yang pertama saja. Selebihnya tidak. Jadi jika saat ini di panggil dengan gelar kehormatan itu, Sofia tidak suka.


Pundaknya seperti tertekan benda berat.


Sofia menegakkan punggungnya sebelum membuka mulutnya.


"Seseorang mungkin saja menikah dengan kaisar, tapi belum tentu dia adalah permaisuri. Semuanya tentu tahu bagaimana prosesi menjadi permaisuri. Tolong ambil lagi kata-kata anda semua. Saya tidak suka dengan julukan selangit itu."


Kata-kata Sofia tajam. Meskipun begitu dia tidak kehilangan dirinya.


Semua orang tertegun.


"Tolong fokus saja dengan kondisi Yang Mulia Kaisar, jangan pedulikan saya."


Sofia bangkit.


"Ajudan?" Suara Sofia melembut.


Ajudan Alex mendongak.


"Anda bisa memanggil Lady Janetta Oliver kemari. Kehadirannya pasti akan sangat berarti bagi Yang Mulia."


Sofia bisa melihat matanya bergetar. Sofia terhenyak. Sepert ada sesuatu yang salah.


"Kalau begitu saya undur diri. Terima kasih atas bantuannya dokter."


Sofia benar-benar pergi. Di dalam terlalu menyesakkan. Alex sudah ditangani oleh banyak orang, jadi kehadirannya tentu tidak berarti apa-apa.


"Nona anda baik-baik saja?" Tanya Ema dengan suaranya yang serak. Matanya merah dan sembab akibat menangis.


Sofia mengangguk.


"Ya aku tidak apa-apa."


"Nona kami sangat takut sekali. Gaun anda berlumuran darah." Rona menimpali.


"Kami akan segera mempersiapkan air untuk mandi." Mereka segera bangkit dan menghilang.


Sofia menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia memijat pilipisnya yang berdenyut sakit. Sadar akan tindakannya. Sofia baru saja melemparkan dirinya ke dalam kekacauan.


Mungkin lebih baik tadi dia tidak menolong Alex.


"Hah!" Sofia mendesah kasar.


Hari berlalu begitu saja. Sofia bangun dengan seluruh tubuh remuk. Semalam dia tidak bisa tidur. Resah.


Pikirannya penuh dengan banyak hal. Bahkan ada Alex juga dipikirannya. Dia tidak terluka sebanyak Alex tapi badannya seperti habis dihajar puluhan kali.

__ADS_1


Sofia mengerang saat kakinya menginjak lantai. Rasa dingin menjelar ke punggung belakangnya. Masih berusaha untuk berdiri tegak, dia menoleh saat pintu kamar dibuka. Ema masuk dengan wajah cemasnya.


"Nona anda sudah bangun?"


"Ya, apa yang terjadi?"


"Ada utusan dari istana utama. Yang Mulia Kaisar meminta anda untuk menghadap."


Mata Sofia membulat mendengarnya.


"Ya?"


"Yang Mulia baru saja sadar dan mencari anda."


"Suruh utusan itu menunggu, aku akan mandi dan segera bersiap."


Ema mengangguk.


"Saya akan memanggil Rona untuk membantu anda."


Sofia mengangguk kemudian bergegas untuk bersiap.


Dia pergi sendiri. Menemui Alex yang mencarinya. Jika situasinya buruk, Sofia bisa menyelamatkan Ema dan Rona. Dia tidak tahu alasan Alex mencarinya. Ini adalah pertama kalinya, bahkan dimimpi.


Pintu yang dia lihat kemarin terbuka. Di atas tempat tidur ada Alex yang duduk bersandar. Dadanya terbuka. Ada perban yang dililit diagonal dari perut hingga lengan kanan.


Sofia berjalan masuk. Menghela nafas diam-diam kemudian menunduk.


"Salam kepada matahari Elderbar. Berkat dewa sangat murah hati kepada Yang Mulia Kaisar." Jika itu orang lain mungkin mulutnya saat ini dipenuhi oleh nektar. Tapi tidak bagi Sofia, mulutnya sepahit menenggak obat.


"Saya menghadap kepada Yang Mulia. Ada yang ingin anda sampaikan?" Sofia tanpa basa-basi. Dia ingin cepat angkat dari dari sana.


"Duduklah." Titah Alex.


Ajudan mendekatkan kursi ke Sofia.


Sofia duduk dengan punggung tegak dan tangan tumpang tindih di gaunnya. Dia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Silahkan anda bisa bicara Yang Mulia."


Hening.


Alih-alih menjawab, Alex malah mengerutkan keningnya.


"Aku dengar dari Thomas kamu mencari Janetta saat aku tidak sadarkan diri."


'Thomas?'


Sofia menoleh ke arah ajudan yang berdiri tak jauh dari mereka. Jadi ajudan Alex bernama Thomas. Dalam mimpi Sofia pernah bertemu dengannya beberapa kali, tapi tidak mengenalnya secara pribadi.


Kebencian tiba-tiba muncul. Thomas tampak masih muda, harusnya dia bisa menghentikan usaha Alex untuk membunuh Felix dengan pikiran-pikiran majunya.

__ADS_1


Thomas menunduk seolah tahu arti tatapan Sofia.


"Ya Yang Mulia." Sofia menjawab lantang. Muak dengan wajah dingin di depannya. Karena inikah dia di panggil, sungguh lucu.


"Apa maksudmu mencari Janetta?"


"Saya rasa dia perlu tahu tentang kondisi anda. Kehadirannya mungkin bisa membantu anda yang tidak sadarkan diri. Ajudan anda tidak menyampaikan kepada anda saat dia mengadu?" Mata Sofia menyipit tajam.


"Sudah aku bilang jangan menyubut nama Janetta."


"Maaf?"


Tatapan Alex sengit.


"Karena dia tinggal di istana dan mungkin sangat membantu untuk pemulihan anda maka saya mengambil inisiatif Yang Mulia. Apakah saya salah?"


Wajah Alex mengeras. Sofia tahu itu. Jika dia salah Alex bisa langsung mengatakannya, jadi dia bisa memperbaikinya. Tapi tunggu, bukankah harusnya dia mendapatkan ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkannya. Kenapa dengan dia duduk disana seperti seorang pesakitan.


"Jangan sebut nama Janetta sembarangan untuk ke depannya."


'Ya Tuhan!' Sofia mengumpat dalam hati. Dia tahu Alex membencinya. Tapi dia tidak pantas diperlakukan seperti ini.


"Yang Mulia, bukankah anda seharusnya berterima kasih?" Sofia bangkit karena tidak tahan dengan sikap Alex yang tidak jelas. Dia selalu sensitif ketika Sofia menyinggung Janetta Oliver.


"Kenapa kamu menyelamatkanku?"


"Karena saat itu anda berada diposisi yang layak untuk diselamatkan."


"Pasti kamu sengaja bukan ada disana? Kamu mencuri kesempatan untuk mengambil keuntungan."


Darah Sofia mendidih. Jika dia bukan kaisar, Sofia tentu sudah menampar mulut Alex.


"Silahkan berpikir sesuka hati anda Yang Mulia. Saya akan undur diri." Sofia berbalik.


"Kamu sudah berjanji untuk tidak mendekati istana utama. Apa yang kamu lakukan kemarin?" Suara Alex menghentikan langkah Sofia.


'Apa? Yang benar saja, hutan untuk berburu terletak di belakang istana utama.' Pekik Sofia dalam hati.


"Kapan anda mengumumkan Lady Janetta ke publik? Setelah itu segara tepati janji anda Yang Mulia." Suara Sofia penuh amarah.


Alih-alih pergi, Sofia melangkah mendekati Thomas yang berdiri kaku.


"Anda cukup baik untuk mengadu. Anda tahu sendiri apa yang terjadi kemarin."


Thomas menunduk kaku tak menjawab.


Sofia kembali memusatkan perhatiaannya pada Alex.


"Bahkan binatang tahu rasa terima kasih. Salam kepada Yang Mulia Kaisar Elderbar. Semoga anda diberkahi dengan umur yang panjang."


Tanpa menunduk Sofia berpaling. Kakinya mantap melangkah keluar dari ruangan yang menyesakkan dada.

__ADS_1


Air matanya tumpah saat menyusuri lorong yang sempit. Dia tidak pantas diperlakukan seperti ini. Dia tidak melakukan kesalahan apapun.


The Empress Crown #11 Next...


__ADS_2