
Arus badai menyerang semua orang di kediaman Hexalios setelah surat undangan penobatan datang langsung dari kaisar. Stempel dengan ukiran Elderbar menjadi bukti nyata jika surat itu ditulis sendiri oleh Kaisar Elderbar.
Madame Fox mengunjungi mansion saat matahari berada tepat di atas kepala.
"Duke mengatakan jika saya harus menyelesaikan semua gaun di sketsa yang Nyonya lihat kemarin. Mohon ampuni saya Nyonya, mustahil untuk membuatnya dalam waktu kurang dari sepuluh hari. Beri saya kelonggaran waktu. Saya akan menyelesaikan dua gaun untuk upacara penobatan dan bola topeng di malam hari." Suara Madame Fox bergetar. Terlihat jelas dia tertekan dan gelisah.
Sofia menghela nafas pada sikap keterlaluan Jordan padanya. Sedikit ibat menyusup.
"Ya anda bisa." Jawab Sofia singkat.
"Terima kasih Yang Mulia atas pengertiannya." Wajah Madame Fox menjadi cerah. Dia segera mengeluarkan alat ukur dan memerintah beberapa hal kepada asistennya.
Siang hari menuju sore tersebut Sofia habiskan untuk mengukur gaun dan memilih model seperti apa yang cocok dengan Madame Fox ditemani teh hangat dan beberapa camila.
Saat matahari mulai tenggelam dan bulan menampakkan kehadirannya, Jordan tiba di rumah. Dia harus pergi pagi-pagi sekali ke istana karena ada beberapa hal. Dia bersisipan dengan Madame Fox yang hendak pamit.
Madame Fox menyapa Jordan sekilas kemudian bergegas meninggalkan mansion. Jika menghitung waktu, tersisa lima hari untuk menyelesaikan gaun itu. Empat hari sisinya akan dia gunakan untuk menyesuaikan gaun dan perlengkapannya.
"Sepertinya saya harus belajat etiket pesta." Ucap Sofia ditengah makan malam mereka.
Karena sarapan sudah terlewatkan, Jordan pulang lebih awal untuk makan malam. Untuk menunjukkan jika dia memegang teguh janjinya.
"Tidak perlu. Setiap orang bebas melakukan apapun di tempat pesta." Jawab Jordan dengan tangan yang sibuk memotong daging steak.
"Tapi Jordan setidaknya beritahu saya, saya harus bersikap bagaimana."
"Melakukan apapun yang kamu inginkan."
"Jordan!" Sofia meletakkan sendok dan pisaunya hingga berdenting. Para pelayan yang berdiri di belakang terkesiap.
Sofia kesal dengan jawaban 'melakukan apapun'. Bagaimana bisa dia menjawab seenaknya sendiri. Ini adalah pesta, pesta yang akan dihadiri para bangsawan. Sofia tidak ingin membuat kesalahan dan mencoreng nama Hexalios.
Jordan menghentikan aktivitas makannya kemudian mengalihkan pandangannya pada Sofia.
"Sofia tidak perlu khawatir. Kamu bisa melakukan apapun, kamu satu-satunya wanita berpangkat tinggi disana."
"Saya hanya takut membuat kesalahan."
Jordan tersenyum tipis.
"Buatlah kesalahan yang membuatku harus membereskannya nanti. Aku dengan sedang hati melakukannya."
"Hah?" Sofia tersentak kaget.
Tidak mendapatkan jawaban apapun, Sofia semakin kesal. Dia wanita tidak berpendidikan bangsawan. Meminta guru untuk belajar sia-sia belaka mengingat waktu yang singkat. Dia hanya tahu tersenyum dan memberi hormat.
"Saya bahkan tidak bisa menari."
__ADS_1
"Bagus, Sofia cukup mengikutiku nanti."
"Jordan saya mohon, setidaknya saya ingin tahu garis besar pesta nanti."
Jordan menghela nafas kasar. Wanita di depannya ini sangat keras kepala. Jika menginginkan sesuatu dia akan gigih untuk mendapatkannya.
Bukannya Jordan tidak mau menjawabnya, memang tidak ada yang spesial dari pesta bangsawan. Membosankan menurutnya. Hanya rumor dan tawa licik yang ada. Jadi Jordan tidak ingin memberitahunya, lagi pula dia akan selalu berada di dekat Sofia, lalu apa yang perlu dikhawatirkan.
"Baiklah.." Aku Jordan kalah.
"Pesta penobatan akan berlangsung pukul sepuluh, kaisar dan permaisuri terlebih dahulu akan melakukan upacara di kuil. Para tamu undangam bangsawan menunggu mereka di aula yang telah ditentukan. Aula dalam yang akan digunakan. Setelah itu pasangan tersebut akan memberikan pidato singkat. Para wanita akan saling berkumpul untuk minum teh sedangkan para laki-laki akan membicarakan politik di tempat terpisah. Pesta pertama ini akan berlangsung hingga siang hari."
Sofia penuh perhatian mendengarkan penjelasan Jordan.
"Untuk malam hari itu adalah bola topeng pukul delapan malam. Ya seperti pesta pada umumnya, menari, menyapa dan menikmati hidangan. Tidak ada yang istimewa Sofia. Hanya skalanya saja yang lebih besar. Pesta ini diadakan di aula luar. Sofia tidak perlu khawatir karena ada aku disampingmu."
Sofia mengangguk pelan.
"Senang memiliki Jordan disamping saya." Senyum merekah di bibir merah muda Sofia. Apa yang perlu dikhawatirkan jika ada pangerang berkuda putih disampingnya.
Makan malam tersebut menjadi makan malam terakhir mereka sebelum disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
Pekerjaan Jordan meningkat berkali-kali lipat lagi menjelang upacara penobatan. Banyak hal yang harus dia urus sehingga intensitas pertemuannya dengan Sofia semakin berkurang.
Sofiapun sama. Menyiapkan ini dan itu ternyata menyita banyak waktunya. Menyesuaikan dress, sepatu, satung tangan dan perhiasan. Dia tidak mengira hanya untuk menghadiri satu pesta bisa menjungkir balikkan hidupnya.
Sofia meringis pada masa depan yang telah dia ubah. Dia tidak lagi terikat dengan Alex dan Janetta. Tidak ada pula Felix yang lahir kemudian mati mengenaskan. Sebagai gantinya dia bertemu dengan Jordan dan menikmati hidupnya sekarang. Sampai kapan, entahlah. Perasaan Sofia rumit ketika memikirkannya.
"Ya ampun, anda cantik sekali Nyonya!"
Seriun pelan menggema dari berbagai sudut. Kamar ganti mendadak dipenuhi banyak orang. Para pelayan dan Madame Fox sibuk sejak fajar untuk mempersiapkan Sofia yang akan ke istana.
Gaun yang dikenakan berwarna navy. Warna ini dipilih karena keluarga Hexalios memiliki lambang keluarga berwarna sama. Pakaian Duke juga disamakan dengan milih Sofia.
Sebuah gaun bergaya klasik tanpa lengan dengan pinggang ketat dan melebar ke bawah hingga menutupi kaki. Bagian dada terpotong lebih rendah sehingga memperlihatkan sedikit buah dada yang montok. Meskipun memiliki badan kurus, bentuk tubuh Sofia proporsional.
Dada berisi dan pinggangnya ramping. Kulit putih bersihnya bersinar begitu terkena warna biru gelap. Di bagian leher ada renda tipis berwarna putih yang menggantung di kanan kiri. Renda mewah ini memberi kesan simpel tapi elegan.
Madame Fox memilih untuk tidak mengenaka kalung untuk menghindari paparan yang berlebih. Rambut perak Sofia dikepang menyamping dan ditata sedimikian rupa. Lehernya yang jenjang dan indah segera terungkap.
Sebuah anting-anting berlian berukuran sedang menambah kesan manis di telinganya. Sepanjang rambut yang ditata rapi juga berlian berwarna hitam yang konon langkah. Rambut putihnya dan berlian hitam tersebut memberi kesan malam di siang hari.
Sarung tangan renda senada diaplikasikan. Tanpa gelang. Hanya sebuah cincin mutiara berwarna perak bertahta di jari manis. Cincin pilihan Jordan sendiri.
Semua mata orang berbinar dan mulut mereka ternganga. Lupa untuk mengedipkan mata karena tidak mau melewatkan momen luar biasa ini.
Sofia mematut dirinya dicermin beberapa kali. Dirinya sendiri kagung pada wanita yang dia lihat dicermin.
__ADS_1
'Apakah benar?' Belum selesai mengagumi, Sofia dituntun untuk duduk di sofa kecial. Sepasang sepatu berhak sedang terungkap. Berwarna senada dengan yang dia kenakan.
Rasanya ingin menangis. Bolehkah dia menikmati kemewahan ini jika dia hanya istri sementara. Bukan Duchess yang sesungguhnya.
"Yang Mulia sudah menunggu Nyonya. Sudah waktunya untuk berangkat." Kepala pelayan menginterupsi momen haru Sofia.
"Baik.." Madame Fox menyeru kemudian membantu Sofia berdiri. Para pelayan segera mengekor di belakang. Mereka membantu Sofia hingga turun tanggan dan mendekati pintu.
"Semoga hari anda menyenangkan Nyonya." Para pelayan memberi semangat Sofia.
"Terima kasih." Sofia ingin memeluk mereka namun dia urungkan. Takut akan merusak gaunnya.
Madame Fox dan para pelayan mundur. Sofia melangkah keluar dari pintu dan tatapan segera bertemu dengan Jordan yang berdiri di dekat kereta.
Mengenakan setelah jas yang senada dengan miliknya. Rambut rapi ditata naik ke atas. Sangat tampan. Bahkan dibawah sinar matahari yang tengah malu-malu, ketampanannya bersinar terang. Sofia berhenti sejenak dan mengagumi wajah surgawinya. Tidak yang bisa menandinginya.
Badan tinggi tegap. Kedudukan tinggi. Bangsawan berpangkat tinggi. Bahkan dewa mungkin iri dengan makhluk ciptaannya ini.
Berdiri disana adalah suaminya. Suami yang memperlakukannya dengan baik. Laki-laki yang menolongnya, pahlawannya. Hati Sofia teriris. Jika saja itu sesungguhnya. Jika saja dia istri sejati. Jika saja itu mimpi. Sofia bersedia tidak bangun lagi.
"Sofia.." Suara rendah yang sangat seksi menginterupsi lamunannya.
Sofia tersentak kemudian berjalan mendekati Jordan.
"Kamu sangat cantik sekali."
"Jordan juga, sangat keran."
"Sofia lebih cantik."
Pipi Sofia memerah. Malu akan sanjungan selangit Jordan.
"Kita harus segera berangkat." Jordan mengulurkan tangannya ke Sofia untuk membantunya menaiki kereta.
"Terima kasih."
"Sama-sama Nyonya."
Tawa pelan terdengar. Sofia meraih tangan Jordan kemudian menaiki tangga kereta.
"Hah sial! Kenapa dia sangat cantik! Aku tidak rela orang lain melihatnya!" Gerutu Jordan dengan suara teredam.
"Ya? Jordan berbicara pada saya?"
"Tidak tidak, ayo kita berangkat."
Sofia mengangguk dengan senyum dibibirnya.
__ADS_1
Tha Empress Crown #31 Next...