
Bukan terpaksa ikut tapi dipaksa ikut. Jessy di dorong untuk makan siang canggung bersama Kent. Mereka duduk bersebelahan. Semua ulah teman-temannya yang disuap dengan Korea BBQ. Jessy mendengus kesal.
"Gak makan?" Tanya Kent basa-basi.
"Lagi gak nafsu aja." Jawab Jessy sekilas. Dia bisa saja duduk bersebelahan, tapi dia sama sekali tidak menoleh pada Kent. Ada jarak yang besar diantara mereka.
"Nyari aku ada apa?" Tanya Jessy spontan.
"Bisa bicara berdua saja? Kamu ada waktu kapan?"
Alis Jessy berkerut. Dia melihat Kent nanar.
"Bicara aja disini." Ucap Jessy dengan nada rendah.
"Tidak bisa."
"Aku juga tidak bisa."
"Tapi ini penting Jess."
"Aku gak ada waktu."
"Ayolah Jess. Sebentar aja. Ini penting."
"Kok kamu maksa sih? Jangan maksa gitu dong. Kamu bisa aja nyuap teman-temanku. Tapi aku tidak."
Kent diam. Semburan kata-kata Jessy menohok hatinya.
"Sebentar aja Jess. Gak lama kok, kalau kamu ada waktu sekarang kita bisa ke kafe seberang. Ini penting. Aku gak bisa mengatakannya disini."
Melihat kesungguhan yang terlihat di mata Kent, keras kepala Jessy melunak. Kenapa dia tidak coba dengarkan apa yang dikatakan Kent. Kalau itu hanya omong kosong Jessy bisa menjadikan itu alasan untuk membalas balik Kent.
"Oke, aku hanya punya waktu sepuluh menit." Ucap Jessy ketus. Dia bangkit kemudian berjalan ke arah kafe seberang.
Mereka mengambil tempat duduk dekat jendela. Ada dua gelas yang mengepul di meja. Jessy memesan coklat panas sedangkan Kent memilih latte.
"Cepat katakan. Kamu mau bilang apa?"
Kent mengehal nafas kasar. Dia merapikan posisi duduknya.
"Kondisi kamu bagaimana Jess? Sudah baikan?"
"Itu hal penting yang ingin kamu ucapkan?" Timpal Jessy acuh tak acuh.
"Bukan."
"Aku gak punya banyak waktu. Jangan buang-buang waktuku."
"Kamu tidak berubah ya Jess, masih keras kepala." Kent menatap Jessy lekat.
Jessy diam.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan Jess, kamu baik-baik aja. Malam itu waktu kita tidur bersama aku tidak menggunakan pengaman. Sepertinya kita melakukannya berlebihan. Mungkin saja kamu hamil."
Tubuh Jessy menegang. Dia lupa. Dia tidak memikirkan kemungkinan ini terjadi. Mereka melakukannya sampai pagi, dari banyaknya itu bisa saja dia hamil. Kenyataan bahwa mereka terburu-buru dan Kent tidak menggunakan pengaman tidak bisa diabaikan begitu saja.
Wajah Jessy memucat. Pikirannya kacau.
Hal ini bukan lagi hal penting tapi sangat penting. Jessy panik. Tubuhnya gemetar. Kenyataan bahwa dia bisa saja hamil anak Kent mengguncang batinnya. Itu tidak boleh terjadi. Tidak akan sudi Jessy.
"Aku, baik-baik saja. Hal itu tidak mungkin terjadi." Suara Jessy bergetar.
"Kamu yakin? Kamu sudah periksa?"
Jessy menggeleng.
"Aku yakin itu tidak mungkin." Jawan Jessy cepat. "Kenapa repot-repot memikirkan itu?" Tanya Jessy balik.
"Karena jika kamu hamil itu adalah anakku. Tentu aku harus bertanggung jawab." Suara Kent menajam.
Jessy bergidik. Kepalanya seperti di pukul dengan benda berat. Bayangan masa lalu melintas cepat di pikirannya.
"Kenapa baru sekarang? Kamu jauh-jauh dari Bali ke Jakarta hanya untuk mengucapkan omong kosong begini?" Suara Jessy meninggi.
"Bukannya aku sudah minta maaf Jess, aku ingin berubah. Aku tidak mau mengulangi kesalahanku dulu."
"Terlambat. Kamu dimataku tidak akan pernah berubah."
Tatapan mereka beradu sengit. Kent melonggarkan ikatan dasinya yang terasa sesak.
"Tidak akan. Kita sudah berpisah dan tidak akan ada yang berubah."
"Kalau kamu hamil bagaimana? Bukannya aku harus bertanggung jawab?" Kent kekeh dengan pertanyaannya.
"Tidak mungkin."
"Jess ayolah. Bagaimana kalau kita periksa ke dokter, aku khawatir." Bujuk Kent.
"Apa yang kamu khawatirkan? Kamu khawatir jika seorang wanita yang sangat amat kamu benci mengandung anakmu?"
"Jess jangan kelewatan kamu. Kamu tahu bukan itu maksudku. Aku tulus akan bertanggung jawab."
"Tapi dimataku kamu tidak berubah."
Kent frustasi. Dia seperti menghadapi tembok besar yang kuat.
"Karena aku berubah makanya aku ingin bertanggung jawab Jessy. Akan aku tunjukkan kalau aku sungguh-sungguh."
"Aku tidak mau."
"Lalu bagaimana jika kamu beneran hamil?"
"Mustahil."
__ADS_1
"Jess jangan keras kepala. Seandainya itu terjadi bagaimana? Kita harus memikirkan langkah selanjutnya."
"Kita baru saja melakukannya satu kali. Kenapa kamu bisa yakin kalau aku mungkin hamil?"
"Kamu tidak ingat Jess kita bukan hanya melakukannya satu kali. Kita melakukannya sampai pagi. Jika kamu lupa aku ingatkan Jess."
Hati Jessy tertohok. Jessy mendesah lemah.
"Jika memang itu yang kamu pikirkan, aku hamil, aku yang akan mengurusnya."
Kent menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Maksud kamu?"
"Itu hanya hubungan sesaat, kita melakukannya karena alasan khusus, bukan karena kita terlibat hubungan asmara. Kita tidak punya hubugan apa-apa saat melakukannya."
"Jess dia juga anakku, darah dagingku. Anak itu nantinya berhak tahu siapa ayahnya."
Jessy melipat tangannya ke dada. Merasa kesal dengan ucapan Kent yang tidak mendasar.
"Aku bisa mengatakan jika ayahnya sudah mati."
"Jessy!" Pecah sudah kesabaran Kent. Jantungnya melonjak naik mendengar ucapan Jessy. Dia sudah cukup sabar menghadapi Jessy. Bahkan dari awal Jessy tidak mau menyebut namanya. Kent tidak peduli. Tapi semakin kesini jalannya menjadi sulit.
"Kamu tidak perlu khawatir. Jika yang kamu pikirkan benar aku yang akan mengurusnya."
"Dengan cara apa? Jika orang-orang bertanya siapa ayah anak yang ada di dalam kandunganmu, kamu mau jawab apa?"
"Kenapa kamu bisa yakin aku akan mengandung anak itu?"
Mata Kent membulat.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan? Jangan bilang kamu mau menggugurkan anak itu?"
Kepala Jessy berdenyut sakit. Dia pusing. Dia ingin mengakhiri percakapannya dengan Kent.
"Jika itu jalan terbaik kenapa tidak."
Wajah Kent seketika berubah. Rasa marah yang sejak tadi dia tahan lepas tak terkendali. Matanya menatap tajam Jessy.
"Bagaimana kamu bisa membunuh darah dagingmu sendiri Jess. Kamu boleh saja membenciku, tapi kenapa kamu setega itu? Anak itu adalah darah dagingmu juga Jessy. Aku tidak menyangka kamu akan seperti itu." Suara Kent melunak. Wajahnya menjadi pias.
Jessy menelan ucapannya sendiri. Dia hanya ingin percakapannya dengan Kent cepat berakhir. Dia tidak ada maksud untuk mengatakan hal itu. Jika memang benar dia hamil, dia tidak mungkin tega membunuh anaknya sendiri. Jessy tenggelam dalam penyesalan yang besar. Dia juga ingin menjadi ibu.
"Syukurlah jika kamu tidak hamil Jess. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Maaf jika selama ini aku membuatmu tidak nyaman." Itulah kata terakhir Kent sebelum dia beranjak pergi tanpa melihat Jessy sama sekali.
Jessy termenung di tempat duduknya. Perasaan rumit menyergap hatinya. Dia menatap punggung Kent yang menjauh hingga tidak terlihat lagi.
Air mata Jessy tumpah. Kenapa mereka terus saling menyakiti. Jessy sungguh sudah lelah.
Jungkir Balik Dunia Jessy #16 Next...
__ADS_1