
Afrodisiak adalah zat yang bisa meningkatkan gairah seksual. Afrodisiak biasa juga disebut love potion. Zat ini bisa berupa cairan. Bisa dicampur dengan bahan yang lain. Penggunaan dalam jumlah kecil bisa berakibat besar. Akan menjadi fatal jika disalahgunakan.
Ian menyeret tubuh lemah Jessy. Nafasnya berat dan tubuhnya panas. Jessy memberontak sepanjang perjalanan. Pandangannya kabur, dia tidak tahu kemana Ian membawanya. Hanya ada kegelapan disekitarnya. Jessy takut. Tubuhnya gemetar.
"Lepaskan!" Jessy mendorong tubuh Ian. Berhasil. Tangannya lepas dari genggaman Ian dan tubuhnya ambruk.
Jessy berusaha bangkit namun kakinya terpelintir. Dia mengerang keras. Tubuhnya tak ada henti-hentinya terbakar. Rasanya sangat aneh. Panas dan panas.
"Hah, hah." Jessy berusaha mengendalikan dirinya. Dia duduk bertumpu pada salah satu tangannya. Sedangkan tangan lainnya menarik ujung gaunnya agar tidak terbuka. Di bawah sana rasanya aneh.
Setiap kali benda yang terlindungi dengan pakaian dalam begesekan dengan kain, rasanya gatal. Jessy ingin menggaruknya tapi tidak mungkin. Dia menahannya sekuat tenaga.
"Ayo bangun. Kalau kamu ikut dengan tenang kamu tidak akan terluka cantik." Ian berjongkok kemudian menarik tangan Jessy.
"Lepaskan!" Jessy menyentak tangan Ian.
"Cantik-cantik kok galak." Ian mengangkat tubuh Jessy paksa. Namun sebuah dorongan membuatnya terkejut. Tubuhnya terjengkang ke depan. Matanya segera melotot ke arah dorongan.
"Pak Kent." Ucap Ian gagap.
Tubuh tinggi Kent menjulang di atasnya. Dia berjalan mendekat kemudian menginjak telapak tangan Ian.
"Argh!" Ian berteriak.
"Apa yang kamu lakukan?" Suara Kent menusuk.
"Saya hanya membantu wanita ini."
"Kamu sekali berani menyentuhnya." Aura mematikan menguar dari tubuhnya. Kent menambah kekuatan di kakinya.
"Argh! Maaf Pak saya salah."
"Segera pergi dari sini kalau kamu tahu apa salahmu." Kent mengangkat kakinya. Matanya menyipit saat melihat Ian lari terbirit-birit.
Kent berbalik. Dia melihat Jessy yang masih terduduk di lantai dengan kepala menunduk.
"Kamu baik-baik saja?" Kent berlutut. Tangannya menyentuh bahu Jessy. "Jessy?" Tanya Kent dengan suara khawatir.
__ADS_1
"Tolong aku." Ucap Jessy dengan suara berat. Kepalanya terangkat. Pandangan mereka bertemu.
"Apa yang terjadi?" Kent tersentak saat dia menyentuh lengan Jessy, rasanya panas. Wajah Jessy merah dan matanya tidak fokus.
"Jessy..." Panggil Kent dengan suara melembut. "Apa yang terjadi?" Tanya Kent lagi.
Jessy menggeleng. Tangannya meraih ujung kemeja Kent.
"Rasanya panas... dan gatal..." Jessy menelan ludahnya sendiri. Tubuhnya terbakar saat Kent menyentuhnya.
"Apa yang bajingan itu berikan padamu?" Suara Kent menggelegar. Tubuh Jessy terasa panas dibawah tangannya.
Jessy kembali menggeleng. Tubuhnya ambruk. Kent segera menangkap tubuh lemah Jessy. Kent mengambil ponselnya kemudian menelpon seseorang.
"Ayo ikut aku dulu." Kent mengangkat tubuh ringan Jessy.
Tubuh Kent mendidih. Amarah menguasainya. Melihat Jessy disentuh orang lain membangkitkan amarahnya. Ditambah melihat kondisi Jessy yang seperti ini, Kent siap membunuh siapapun.
Dia sudah memperhatikan Jessy sejak acara dimulai. Tubuh ramping tinggi mengenakan gaun merah sangat mencolok. Diantara ribuan orang, Kent bisa melihat gerak-gerik Jessy. Dia cantik memesona. Kent akui itu. Malam ini Jessy bersinar. Dia dikepung puluhan pemegam saham setelah acara formal selesai. Semua orang pindah dari convention hall ke bar hotel. Kent kehilangan jejak Jessy.
Dia lelah setelah pertemuan pemegang saham. Kent bermaksud untuk kembali ke bungalow saat dia tidak sengaja melihat dua orang melintas di jalan setapak yang gelap. Kent pertama acuh, karena malam ini ada pesta besar, pasti banyak orang berkeliaran saat malam. Jalan menuju bungalow memang gelap. Jalan itu menghubungkan antara hotel, resort dan bungalow pribadi Kent.
"Jessy." Suara Kent terkesiap.
Jessy melingkarkan lengannya ke leher Kent. Mengeratkan pelukan. Menggesek dadanya yang berisi ke dada Kent. Kepalanya mendongak dan jatuh ke leher Kent.
"Panas." Desah Jessy lemah.
"Tunggu sebentar kita hampir sampai." Kent mempercepat langkahnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Jessy mengigit lehernya.
"Jess." Teriak Kent.
Bibir Jessy menciumi lehernya kemudian menggitnya. Tubuhnya menggeliat di dalam gendongan Kent.
"Jessy jangan seperti ini." Kent menarik nafas dalam-dalam kemudian mencoba menjauhkan kepala Jessy dari lehernya.
__ADS_1
Usaha Kent gagal. Jessy menatapnya dengan matanya yang merah. Bibirnya terbuka dan wajahnya menggoda. Kelopak mata dengan dengan bulunya yang panjang mengerjap.
Mata itu terus berharap pada Kent.
"Kubilang jangan. Aku akan menolongmu, jadi tahan sedikit lagi. Kita hampir sampai." Ucap Kent dengan suara melembut.
Jessy kembali membenamkan wajahnya ke dada Kent. Menghirup aroma parfume maskulin miliknya. Tubuh Jessy semakin terbakar. Dia tidak tahan lagi. Bagian inti bawahnya berkedut. Rasanya aneh.
Kent membaringkan tubuh Jessy perlahan ke kasur. Dia tidak tega melihat tubuh lemah Jessy. Matanya menatap nanar Jessy yang tak berdaya. Rasa tidak suka membumbung. Terutama pada pakaian yang digunakan Jessy. Pakaian itu terlalu terbuka dan pastinya mengundang para pria bajingan untuk mendekatinya.
"Sial! Apa yang dia berikan padamu!" Kent mengusak rambutnya kasar. Kent melepas jas dan dasinya. Dia juga membuka beberapa kancing ataa kemejanya.
Kent menjauh. Dia kembali mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Kent memanggil dokter. Dugaan Kent sementara adalah Jessy diberi obat perangsang oleh laki-laki tadi. Kent tidak tahu siapa dia, setelah masalah Jessy teratasi, Kent akan membuat perhitungan dengannya.
Kakinya mondar-mandir. Dia sudah menelpon lima menit yang lalu tapi dokter tidak kunjung datang. Kent memutuskan untuk melihat kondisi Jessy. Betapa terkejutnya dia saat melihat Jessy yang sedang menarik resleting gaunnya turun. Tangan kecilnya mencoba menggapai bagian belakang kemudian gaun itu lepas begitu saja.
Gaun itu meluncur ke bawah tanpa hambatan. Tubuh polos Jessy yang hanya mengenakan pakaian dalam terekspos.
"Jess apa yang kamu lakukan." Kent segera berlari ke arah Jessy. Dia mencari sesuatu untuk menutupi tubuh Jessy. Tangannya gemetar.
"Panas." Ucap Jessy lirih.
"Iya panas, tunggu sebentar." Kent mengambil selimut kemudian menutupi tubuh Jessy.
"Gak mau panas." Jessy memberontak.
"Jessy sebentar."
Mereka terlibat tarik ulur selimut dan tubuh mereka saling bertabrakan. Tubuh mereka terhempas ke tempat tidur. Jessy jatuh dengan sempurna di atas Kent. Sedangkan selimut itu jatuh ke lantai.
Jessy mendongak dan tatapan mereka bertemu. Kent menelan ludahnya sendiri. Jessy menggosok wajahnya ke dada Kent.
"Jessy." Jerit Kent dengan suara serak.
"Dingin. Disini dingin." Jessy menggeliat. Pahanya bergesekan dengan kaki Kent. Wajah Kent merah padam.
"Jessy jangan bergerak, Jessy!" Benteng pertahanan Kent hancur. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jessy membangkitkan gairah primitif laki-laki.
__ADS_1
Jungkir Balik Dunia Jessy #10 Next...