Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #5


__ADS_3

"Kya!" Sofia berteriak keras. Barang yang ada ditangannya berhamburan dan sontak tubuhnya terpelanting.


Bruk


Sofia menahan tubuhnya agar tidak menyentuh tanah seluruhnya dengan kedua tangannya.


Hari ini Sofia nekat keluar sendiri. Dia butuh sesuatu yang mendesak. Maka dari itu dia buru-buru untuk kembali. Saat dia mengambil jalan berbelok dari toko terakhir yang dia datangi, dia tidak melihat jika ada kereta kuda.


Sofia terkejut, dia mencoba menghindar namun karena terlalu tiba-tiba, Sofia jatuh dan barang ditangannya lepas.


"Apakah anda baik-baik saja Nona?" Sebuah suara terdengar.


Sofia mendongak. Tatapannya bertemu dengan sosok laki-laki berpakaian formal. Rambut hitamnya bersinar terang di bawah sinar matahari dengan bola mata hijau gelap yang tampak acuh tak acuh. Di bawahanya, sebuah hidung mancung tinggi dan bibir tertutup. Bahkan rahangnya tampak seperti pahatan dari dewa. Dengan penampilannya yang ssmpurna, laki-laki itu membungkuk dan mengulurkan tangannya.


Seperti tersihir, Sofia menerima tangan itu.


"Terima kasih." Ucap Sofia lirih.


Dia segera memungut kain renda berwarna-warni dan kertas yang dia beli. Laki-laki itu juga membantunya. Kertasnya berserakan di tanah. Sedikit kotor akibat jatuh.


"Kamu baik-baik saja?"


"Saya baik-baik saja Tuan. Maaf jika saya membuat perjalanan anda terganggu. Saya akan memperhatikan langkah saya." Sofia membungkuk untuk meminta maaf.


"Tidak apa-apa, kamu jatuh. Mungkin kamu terluka."


Bahkan suaranya halus dan dalam. Sofia menganggumi ketampanan orang di depannya. Dia adalah pria tampan kedua yang pernah Sofia lihat, selain Alex.


"Saya baik-baik saja... ah maaf tangan anda kotor."


Sofia melihat tangannya yang kotor terkena tanah dan tangan pria itu secara bergantian. Dia tidak membawa sapu tangan. Jadi Sofia menggunakan ujung jubahnya untuk menyeka tangan itu.


Terkejut akam tindakannya yang spontan. Sofia segera melepas tangannya dan mundur.


"Maafkan kelancangan saya Tuan."


Sofia tidak tahu siapa lawannya. Meskipun masih muda, orang di depannya mengenakan pakaian formal dengan kereta kuda yang besar dan mewah. Kedudukannya pasti tinggi. Sofia tidak ingin terkena masalah.


"Tidak apa-apa, silahkan gunakan ini untuk membersihkan tanganmu."


Sofia terkesiap saat sebuah sapu tangan tersodor di depannya.


"Saya baik-baik saja." Ucap Sofia mundur satu langkah.


Meskipun tidak bisa dianggap tidak sopan karena menolak pemberian orang, Sofia tetap teguh.


"Dimana rumahmu? Aku antar pulang."


"Ya? Ah tidak perlu Tuan. Silahkan lanjutkan perjalanan anda."


"Ambil ini untuk menyeka tanganmu yang kotor."


"Terima kasih."


Sofia terpaksa mengambil sapu tangan itu. Dia sudah menolak sekali jadi tidak mungkin menolaknya untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Kamu bekerja di isatana?"


Sofia sontak mendongak mendengar kata istana disebut.


"Maaf?"


"Aku melihat tanda istana yang kamu bawa."


"Ah iya." Sofia mengangguk pelan. "Akan saya cuci sapu tangan ini. Dimana saya bisa mengembalikannya pada anda?"


"Tidak perlu, aku yang akan mengambilnya."


"Ya?"


"Siapa namamu?"


"Saya?" Sofia ragu sejenak, tidak mengerti. "Saya Sofia, Sofia Margareth." Alih-alih menggunakan nama keluarga ayahnya, Sofia memilih nama belakang ibunya. Dengan begitu tidak akan ada yang tahu dia dari keluarga bangsawan.


Rakyat jelata cenderung menggunakan nama yang umum. Menurut Sofia itu jauh lebih baik dibanding nama keluarga yang seperti beban.


"Sampai bertemu lagi Nona Margareth." Laki-laki itu melambai kemudian segera masuk ke dalam kereta. Kereta hilang ditukungan jalan. Menyisakan Sofia yang berdiri sendiri.


Dia segara berbalik dan melangkah pergi. Dia harus segera kembali ke istana.


Satu minggu kemudian, Sofia tidak menyangka jika dia akan bertemu lagi dengan laki-laki itu di toko kain.


"Anda.." Sofia terkesiap saat tatapannya bertabrakan.


"Oh hai Sofia." Suara riang laki-laki itu pecah. "Kita bertemu lagi disini."


"Apa yang anda lakukan disini?"


"Hanya melihat-lihat saja, tidak ada tujuan khusus. Oh ya apa yang kamu lakukan juga disini?"


"Saya? Saya ingin membeli renda dan beberapa kain."


"Jenis seperti apa yang kamu butuhkan? Bolehkah aku membantu?"


"Tidak. Tidak perlu Tuan."


"Jordan. Panggil aku Jordan." Senyum Jordan cerah sekali.


"Maaf?"


"Mari kita berteman Sofia. Pertemuan kita ini seperti takdir bukan?"


"Tapi itu tidak..."


"Kamu menolaknya?" Wajah Jordan pias.


Mata Sofia membulat sempurna. Dia baru dua kali bertemu dengan Jordan, bagaimana bisa dikatakan sebagai takdir. Karena Jordan orang yang ramah, Sofia menata pikirannya sebelum mengiyakan. Siapa tahu Jordan bisa membantunya untuk menyesuaikan hidup di ibukota.


"Ah baik. Mari berteman... Jordan." Sofia ragu sejenak.


"Iya mari berteman baik." Jordan menarik tangan Sofia kemudian menjabatnya.

__ADS_1


Sofia tersenyum tipis. Mendapatkan teman secara tiba-tiba masih membuatnya tidak percaya. Tapi Jordan sepertinya adalah orang yang baik. Jadi Sofia memutuskan untuk mempercayai Jordan.


"Karena saya tidak tahu kita akan bertemu disini jadi saya tidak membawa sapu tangan anda. Kapan anda berencana untuk datang kesini lagi? Saya pasti akan membawanya lain kali, saya jugq sudah mencucinya."


"Kamu mau bertemu lagi denganku?"


Sofia mengangguk pelan.


"Kapan kamu berencana untuk keluar lagi?"


"Jika saya butuh sesuatu, tapi itu tidak tentu harinya."


"Oh begitu." Jordan mengelus dagunya. "Jika kamu berencana untuk keluar lain kali, kirimi aku surat."


"Ya?" Sofia hampir tersedak.


"Dengan teman bukankah wajar saling mengirim surat?"


"Bagaimana caranya?"


Untuk distribusi surat diperlukan kurir. Kurir biasanya sengaja dibayar khusus untuk mengantar surat. Tapi Sofia tidak memiliki kurir.


"Aku akan mengirim kurir ke istana, kamu bisa kapanpun menitipkan suratmu padanya."


"Tapi..." Sofia berpikir sejenak. "Saya keluar masuk melalui pintu belakang. Mungkin akan sulit."


"Tidak akan ada yang sulit. Besok aku akan mengirim surat beserta kurir sekitar tengah hari. Tunggulah disana."


Sofia mengedipkan kelopak matanya. Lagi-lagi tidak percaya dengan apapun yang diucapkan oleh Jordan. Semuanya terlalu tidak nyata.


"Sofia?" Suara Jordan menyentuh telinga Sofia dan membuyarkan lamunannya.


"Ah baik." Sofia mengangguk kemudian tersenyum simpul.


Jordan yang entah datang darimana sangat baik padanya. Jordan adalah teman pertamanya. Hati Sofia menghangat. Bolehkah dia menerima kebaikan ini, Sofia hanya takut jika semuanya adalah mimpi. Bertemu Jordan tidak pernah ada dalam mimpinya. Sofia ragu dan juga teguh bersamaan.


Tapi suara Jordan terus memecahkan teori di kepalanya. Bahwa semuanya nyata.


Jordan Hexalios. Turun dari kereta kemudian memasuki mansion. Tangannya penuh dengan kain berwarna-warni. Para pelayan yang menunggunya di depan pintu terkesiap. Tidak biasanya tuannya pulang dalam keadaan seperti itu.


"Kalian masing-masing boleh mengambilnya. Lakukan apa yang kalian inginkan." Jordan menyerahkan kain-kain itu kepada para pelayannya.


Secepat kilat Jordan menaiki tangga dan menghilang dipersimpangan menuju kamarnya.


Para pelayan masih membatu ditempat.


"Sir White apa yang terjadi pada Yang Mulia?" Kepala pelayan menghalangi jalan ksatria pendamping Jordan.


"Entahlah, Yang Mulia masuk ke dalam toko kain sendiri. Kemudian keluar bersama seorang Lady, aku tidak tahu dari keluarga mana. Wajahnya tampak asing."


"Lady?" Bukan hanya kepala pelayan, beberapa pelayan yang masih tertinggal juga terkejut.


Sir White mengangguk.


"Sangat cantik. Rambut perak dan mata birunya sangat memesona. Meskipun mengenakan pakaian sederhana, kecantikannya memancar di bawah sinar matahari." Sir White menjelaskan dengan penuh antusias.

__ADS_1


"Ya ampun!" Suara teriakan kecil menggema di seluruh lantai satu mansion.


The Empress Crown #6 Next...


__ADS_2