
Ruangan menjadi sunyi setelah jam makan siang. Tidak seperti biasanya AC terasa begitu dingin. Tak ada yang berani bersuara. Yola dan Doni yang biasanya paling ribut kini jadi manusia paling pendiam. Mario dengan suara tegas yang memerintah juga diam seribu bahasa.
Jessy kikuk. Ini adalah salahnya. Makan siang dengan Juna adalah penyebabnya. Daia akhirnya ketahuan. Ditambah Juna menyuruh mereka makan siang satu meja. Para karyawan tentu akan salah tingkah duduk bersama atasannya. Jessy menghela nafas dalam-dalam. Hanya suara nafasnya yang terdengar. Jessy bangkit kemudian berseru.
"Maaf karena membohongi kalian." Jessy dibuat kesal oleh kelakuan teman-temannya.
Semuanya mendongak tanpa suara.
"Aku memang adik Mas Juna tapi kami profesional kok, kita bisa membedakan urusan pekerjaan dan pribadi. Jangan kayak gini dong, kalian mau diemin aku selamanya?" Jessy bersungut-sungut marah.
"Bukan gitu Jess, kami masih kaget aja." Jawab Ferdi.
"Ya maaf mas, soalnya aku gak mau kalian jadi gak nyaman sama aku." Timpal Jessy.
"Sudah-sudah, tidak perlu diperpanjang. Kita maafin kamu kok Jess."
"Makasih Mbak Rena. Kalian gak merasa dimata-matai sama aku kan?"
Semuanya sepakat diam.
"Aku gak pernah cerita soal kerjaan ke Mas Juna kok." Jessy bohong. Padahal topik utamanya di rumah adalah teman-temannya yang unik. Tapi Juna acuh tak acuh jadi tidak ada masalah.
"Kamu yakin Jess?" Mario ikut buka suara. Dia adalah koordinator tentu dia takut.
Jessy mengangguk penuh penegasan. Ada nafas lega dari semuanya.
"Oh iya, tadi Mas Juna cerita kalau proyek kita deal sama Royal Corp." Seloroh Jessy. Dia ingin membuktikan dia bisa diandalkan sebagai tukang spoiler, bukan tukang ngadu.
"Beneran kamu Jess?" Yola yang sejak tadi mengkisut kini bangkit. Kembali seperti Yola sebelumnya.
"Tadi aku makan siang sama Mas Juna itu lagi ngomongin proyek itu La. Katanya juga kita harus cepet ngantor di Royal Corp, kalau bisa besok." Tambah Jessy dengan nada membumbung tinggi.
"Astaga! Kita harus siap-siap nih, biasanya kita diberitahu pas hari H jadi suka kelabakan. Baru kali ini dapat bocoran. Ya ampun!" Jerit Renatha dengan suara yang panik.
"Wah enak ya punya orang dalam." Celetuk Doni menimpali.
Jessy tersenyum puas. Keadaan telah kembali seperti semula. Kelegaan memenuhi hatinya. Dia tidak ingin dijauhi. Jessy sudah cukup menderita hidup sendirian di Inggris empat tahun lamanya. Ditambah hidup dengan suami yang bahkan tidak mencintainya satu tahun penuh. Lima tahun Jessy sangat berat. Dia tidak mau hidupnya seperti lima tahun lalu.
*****
__ADS_1
Shopping Mall milik Royal memiliki desain dengan delapan lantai. Lantai dasar hingga lima akan diisi oleh store, kemudian tiga lantai lainnya adalah tempat parking dan ruang terbuka hijau. Tugas Jessy adalah mendekorasi dalam store agar satu sama lain tidak sama.
Sudah ada beberapa brand yang tanda tangan kontrak untuk mengisi store. Mereka juga sudah melihat cetak biru bagunan untuk menentukan posisi store yang ingin mereka tempati.
Pekerjaan ini ternyata menyenangkan. Meskipun ada di Royal, Jessy tidak pernah bertemu Kent. Selama hampir dua bulan pindah kantor kesana, Kent tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Jessy bisa lega. Seperti apa yang dikatakan Juna, CEO tidak mungkin turun ke lapangan. Dia tidak kekurangan anak buah hingga semua pekerjaan dia tangani.
Kenyamanan itu mulai terusik di bulan ketiga. Koordinator lapangan Royal menemui Jessy secara pribadi dan menanyakan sesuatu.
"Maaf ya mbak, aku cuma penasaran. Mbak kenal sama CEO Royal Corp, Pak Kent Sadewa?" Suaranya ragu-ragu. Laki-laki itu menggaruk dagunya yang tidak gatal. Namanya adalah Ragil. Jessy biasa memanggilnya Pak Ragil, selain usianya lebih tua, Ragil juga dianggap pimpinan mereka.
Mata Jessy melebar. Dia tidak menyangka ada yang bertanya padanya tentang Kent. Pernikahan mereka dilakukan tergesa-gesa dan tertutup. Sehari setelah menikah Jessy langsung ke London ikut Kent yang sedang menyelesaikan studi pasca sarjananya. Jadi kemungkinan yang tahu pernikahan mereka adalah keluarga inti.
"Kenal Pak." Jawab Jessy singkat. Dia belum tahu motif Ragil bertanya.
"Dekat mbak?"
"Emm, Pak Kent itu teman kakak saya waktu kuliah." Lidah Jessy kelu saat mengucap nama Kent. Tubuhnya merinding. "Emangnya kenapa Pak? Bapak kok tahu kalau saya kenal Pak Kent?" Tanya balik Jessy.
"Jadi gini mbak, Pak Kent sering bertanya tentang Mbak Jessy pada saya." Kali ini Ragil menggaruk kepalanya.
'What the...' Jessy hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Beberapa hari sekali mbak, pertamanya tanya tentang kemajuan proyek kemudian tanya tentang Mbak Jessy. Ya seperti bagaimana kabar Mbak Jessy, atau mbak itu lagi ngapain." Jelas Ragil jujur. "Dari situ saya jadi curiga. Ternyata mbak adiknya teman Pak Kent." Senyum terbit dari wajah Ragil.
Sebaliknya dahi Jessy berkerut. Otaknya masih loading memikirkan hal itu. Apa urusan Kent bertanya tentang dia. Jessy bergidik ngeri.
"Terus Pak Ragil jawab gimana?"
"Saya jawab apa adanya mbak."
"Semuanya?"
"Yang saya tahu aja mbak, kayak pas Mbak Jessy ketemu rekanan store. Yang kayak-kayak gitu."
'Sumpah ya kamu Kent Sadewa. Apa maksud kamu memata-mataiku. Dasar psikopat gila.' Jessy mengutuk dalam hati.
"Pak Ragil boleh minta tolong gak?"
"Apa mbak?"
__ADS_1
"Bisa gak rahasiakan ini pada yang lain? Pak Ragil cerita ke orang-orang gak kalau Pak Kent kenal saya?"
Ragil menggeleng.
"Tolong ya Pak jangan bilang siapa-siapa. Saya jadi gak enak sama yang lain." Pinta Jessy.
"Iya mbak, akan saya rahasiakan." Ragil mengangguk.
Jessy mengangguk puas, dia gak mungkin mengatakan kalau dia mantan istrinya Kent. Bisa gempar seluruh jagad raya. Jessy mendesah. Dia ingin proyek ini segera selesai. Kalau begini dia jadi tidak nyaman dengan pekerjannya.
"Mungkin sekitar setahun Jess." Jessy melongo pada penjelasan Mario. Saat makan siang dia mencuri tanya pada Mario. Harus berapa lama mereka pindah sementara ke Royal.
Jawaban Mario mencengangkan.
"Kita ditambahai kontrak untuk mendampingi mereka sampai selesai Jess, apalagi peran kamu. Dekorasi ruang store harus sampai selesai. Mungkin sampai tempat ini dibuka." Jelas Mario.
Wajah Jessy pucat. Dia kira dengan menyerahkan desain pekerjaan mereka selesai. Ternyata tidak semudah itu. Mereka bertanggung jawab hingga shopping mall buka. Jessy ingin berteriak. Dia bisa gila.
"Eh habis makan siang ada rapat koordinasi jangan lupa, yang ada acara mau keluar tolong ya dipending dulu." Celetuk Yola dengan suara menyindir.
"Siap nyonya." Sambar Doni cepat.
Mereka sudah di Royal selama empat bulan. Ada benih-benih cinta muncul. Doni salah satu dari Tim Arsitek Jayanegara sedang tahap pendekatan dengan salah satu karyawan Royal Corp. Jadi setelah makan siang Doni akan menghilang beberapa jam buat ketemuan.
Sungguh menyenangkan melihat tingkah polah mereka. Jessy tersenyum kikuk melihat hubungan Yola dan Doni yang sengit.
"Habis makan langsung ke tempat rapat yuk Jess, kita bisa ngadem dulu gitu disana." Ajak Yola yang segera menarik tangan Jessy. Dengan pasrah Jessy mengikuti Yola.
Di depan ruang rapat Jessy berpapasan dengan Ragil yang tampaknya sedang sibuk.
"Sibuk amat sih Pak? Kita kan sudah biasa rapat koordinasi, kenapa persiapannya heboh begini hari ini?" Tanya Yola dengan mulutnya yang ringan.
Ragil berhenti sejanak. Dia mengatur nafasnya.
"Hari ini Pak CEO yang akan memimpin rapat. Beliau baru saja tiba dari Bali." Jawab Ragil dengan suara berat.
'Hah? Sial!' Alarm tanda bahaya berdenting di kepala Jessy.
Jungkir Balik Dunia Jessy #7 Next...
__ADS_1