Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #13


__ADS_3

"Kita mau kemana? Bisa turunkan saya dulu? Jordan!" Protes Sofia tidak dihiraukan Jordan.


Kakinya terus melangkah menjauh dari aula pesta. Suara hiruk pikut musik dansa mulai tidak terdengar.


Sofia mengeratkan pegangannya karena tubuhnya terguncang. Langkah Jordan semakin lebar dan cepat, hampir seperti berlari.


"Ini, ini dimana?"


Jordan menurunkan Sofia dengan hati-hati di salah satu kursi.


"Aku tidak tahu ada tempat seperti ini."


Di depannya terbentang luas taman mawar dan diujungnya ada rumah kaca. Sejauh mata memandang hanya ada bunga berwarna-warni. Atapnya yang terbuat dari kaca menambah keindahannya. Sinar bulan memantul dan menyinari seluruh area.


Mata Sofia berbinar cerah.


"Ini adalah istana tamu, terletak disisi kiri istana utama. Tempat ini banyak diberi perhatian karena tujuannya untuk memanjakan para tamu."


"Indah sekali."


Sofia kagum. Taman istana utama tak ada apa-apanya dibandingkan ini.


"Pasti akan lebih indah jika siang hari." Bahu Sofia melorot. Pasti tidak akan punya kesempatan untuk itu.


"Kamu suka bunga bukan?"


"Ya. Tentu."


"Maka dari itu aku membawamu kesini Sofia."


Jordan mengambil tempat duduk disamping Sofia.


"Dari mana kamu tahu?" Sofia menoleh.


Jordan tak menjawab.


"Kamu menanam orang disampingku?"


"Hanya Alfons. Ada beberapa hal yang dia laporkan."


"Astaga!" Sofia bergidik. Jadi selama ini ada orang yang mengawasi gerak-geriknya.


"Jangan salah paham. Aku hanya ingin mencari tahu kenapa kamu menolakku."


Suasana menjadi hening. Baik Jordan maupun Sofia larut dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka berdua sedang menikmati keindahan taman.


"Sofia."


"Ya?"


"Apakah kamu tidak ingin keluar dari istana?"


Sofia terkesiap. Tatapannya bergetar.


"Aku bisa membantumu."


Perkataan Jordan selanjutnya lebih mengejutkan Sofia. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


"Yang, Yang Mulia Kaisar sudah berjanji untuk membebaskan saya setelah Lady Janetta menjadi permaisuri."


Wajah Jordan mengeras. Dia tidak berpikir sampai sana. Ada kemungkinan bahwa Alex dan Sofia bisa saja membuat perjanjian.


"Kaisar berjanji seperti itu?"


Sofia mengangguk.


"Lady Janetta sudah diumumkan menjadi selir Yang Mulia. Pasti sebentar lagi Lady Janetta akan menjadi permaisuri. Saat itulah aku bebas."


Senyum Sofia mengembang.


Tidak seperti Sofia yang bisa tersenyum, dahi Jordan berkerut.


Sofia seperti itu karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Janetta tidak akan mudah menjadi permaisuri jika dia tidak melahirkan pewaris. Jika itu tidak terjadi, maka Sofia yang akan menggantikannya. Jadi sebelum seorang pangeran lahir dari Janetta, Sofia tidak akan mungkin bebas.


Bibir Jordan kalut. Dia ingin memberitahu Sofia tentang semua ini. Tapi Jordan urungkan. Dia tidak sanggup melihat reaksi Sofia.


"Izinkan aku membantumu."

__ADS_1


Kepala Sofia miring.


"Aku bisa keluar istana sendiri terima kasih. Yang Mulia sudah berjanji."


'Itu bohong Sofia. Dia hanya membuatmu untuk bertahan selagi dia menguatkan posisi Janetta dan para menteri menerima Janetta seutuhnya. Jangan percaya dia!' Teriak Jordan dalam hati.


Tenggorokannya tercekat. Nafasnya menderu keras.


"Bagaimana kalau begini..."


Dahi Sofia berkerut mendengar perkataan Jordan selanjutnya.


"Ayo berteman dan aku akan membantumu segera keluar dari istana."


"Ya? Bagaimana bisa?"


"Kamu tidak perlu tahu apa yang akan aku lakukan. Jadi ayo bertemu sebagai teman dengan nyaman Sofia."


"Tapi Yang Mulia..."


"Jordan. Kita teman sekarang. Jadi panggil aku seperti biasanya."


"Tidak mungkin. Anda adalah Duke yang kedudukannya di bawah kaisar."


"Tapi aku juga temanmu."


"Saya belum menyetujui."


"Aku anggap kamu sudah setuju."


"Ya?"


"Hari ini adalah hari pertama kita."


"Hari apa?"


"Kita berteman."


"Saya tidak setuju."


Suara Jordan terdengar seperti rengekan, dan itu terdengar aneh ditelinga Sofia. Seperti berteman dengannya adalah sesuatu yang penting. Dia tidak memiliki apapun yang bisa dia banggakan untuk berteman denga Duke Hexalios, sang pahlawan perang.


"Jordan." Suara Sofia merendah.


"Ya? Kamu setuju?"


"Kenapa anda ingin berteman dengan saya? Saya tidak memiliki apapun yang bisa saya tawarkan. Kemudian saya hanya bangsawan desa. Wanita yang pernaj dinikahi kaisar juga tidak bisa dibanggakan." Kepala Sofia menunduk. Dia tidak percaya diri berdiri di samping Duke Hexalios yang terkenal.


Duke Hexalios adalah keluarga kaisar. Garis ini tidak bisa diabaikan sama sekali.


"Kalau aku ingin bertemam denganmu apakah itu kesalahan?"


"Ya?" Sofia mendongak.


"Tidak ada yang bisa mengatur hidupku Sofia. Aku yang menjalaninya dan aku juga tidak peduli dengan ucapan orang lain."


"Tapi anda bangsawan tinggi."


"Aku tidak peduli Sofia. Bertemanlah denganku. Aku mohon."


Jordan mendekat kemudian menarik tangan Sofia. Dia menempelkan tangan Sofia ke dahinya sambil bergumam.


"Aku mohon."


Tubuh Sofia menegang. Sentuhan Jordan yang selalu tiba-tiba membuatnya terkejut. Apakah seperti ini etiket bangsawan tinggi, mengutaman sentuhan fisik daripada berbicara.


Karena Sofia bukan anak sah Baron Barell dan mereka hanya bangsawan desa, Sofia tidak pernah mendapat pendidikan etiket bangsawan kelas atas. Beruntung dia bisa membaca dan menulis dari ibunya.


"Semoga anda tidak menyesalinya." Sofia tak bisa lagi menolak. Segala resiko sudah dia pertimbangkan.


"Jadi kita berteman sekarang?"


Sofia mengangguk malu. Berteman dengan seorang Duke yang berpangkat tinggi tak pernah dia bayangkan. Bahkan tidak ada dalam mimpinya.


"Terima kasih Sofia." Senyum Jordan mengembang. Jalan untuk mendapatkan Sofia mungkin sulit, tapi Jordan tidak peduli.


Dia bisa berkorban demi orang yang dia cintai.

__ADS_1


Pesta pendirian berlangsung sukses. Selesai dengan baik. Alex kembali ke ruang kerjanya yang penuh dengan dokumen. Kertas-kertas menumpuk tinggi di mejanya.


Alex mendengus melihat pemandangan yang membuatnya tercekik. Dia ingin semuanya segera selesai. Sehingga dia bisa bertemu dengan Janetta, mengobrol atau sekedar minum teh.


"Yang Mulia, Duke Hexalios meminta audiensi."


"Ya suruh Duke masuk."


Alex menghentikan pekerjaannya. Dia melonggarkan ikatan dasinya kemudian bangkit.


"Hai Jody, apa yang membawamu kemari." Seru Alex begitu melihat Jordan masuk.


"Lama tak bertemu Lux. Kamu pasti sibuk."


Jordan duduk di sofa tanpa dipersilahkan. Alex mengikuti setelahnya.


"Kita bertemu di pesta satu minggu yang lalu Jody." Alex melemaskan pundaknya.


"Ah ya, seperti sudah lama sekali. Selamat atas resminya Janetta menjadi selirmu." Suara Jordan menggema dengan senyum getirnya. Perasaan yang hanya dia yang tahu.


Alex tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu sudah menemukan Sofia yang kamu cari?"


Jordan mengangguk.


"Sungguh? Kapan? Bisakah kamu menceritakannya padaku?" Mata Alex berkilat penuh rasa ingin tahu. Dia menegakkan punggungnya. Siap mendengar cerita cinta Jordan.


"Lux." Suara Jordan rendah.


"Ya? Aku siap mendengarnya Jody."


"Kapan kamu akan menceriakan Sofia dan membiarkannya bebas?" Singkat, padat dan jelas. Jordan tidak ingin berbasa-basi.


Wajah Alex pias. Senyum yang tersungging di bibirnya sirna. Dahinya berkerut dan matanya membulat. Terkejut akan pertanyaan Jordan.


"Sofia?"


"Ya Sofia."


"Sofia yang mana?"


"Kamu bahkan tidak tahu namanya? Astaga!" Tawa Jordan meledak. Dia bisa saja tenang di luar, tapi di dalam panas menguasi tubuhnya.


Bahkan Alex tidak peduli dengan wanita yang dia nikahi. Lebih miris lagi, tidak tahu namanya. Jordan ingin berteriak. Dia ingin memaksa Alex untuk melepaskan Sofia sekarang juga. Tapi dia tidak mau terburu-buru. Dibutuhkan langkah yang tepat karena lawannya bukanlah orang biasa. Dia adalah pemilik negara ini sekaligus keluarga satu-satunya.


"Sofia de Elderbar." Jordan segera mengendalikan dirinya. Dia mengubah posisi duduknya yang santai menjadi serius.


"Sofia de Elderbar?"


"Bukankah harusnya dia dipanggil seperti itu? Bagaimanapun dia adalah wanita yang dinikahi kaisar."


Alex terhenyak. Dahinya berkerut. Ingatan tentang 'Sofia' berputar di kepalanya.


"Panggil saya Sofia Yang Mulia."


"Sofia." Alex bergumam pelan.


Dia ingat. Wanita bernama Sofia adalah anak perempuan Baron Barell yang dia nikahi untuk menjadi alat agar Janetta bisa masuk ke dalam istana karena status sosialnya. Dia bahkan tidak peduli siapa nama wanita itu. Fokusnya tidak disana.


Tapi tiba-tiba namanya menjadi familiar di telinganya.


"Apakah akhirnya kamu tahu siapa dia Lux?"


Mata Alex menajam. Mengunci mangsa tepat di depannya. Jordan Hexalios.


"Darimana kamu tahu dia?"


"Aku sudah menceritakannya dulu. Tidakkah kamu ingat?"


Alex tak menjawab. Tentu dia ingat.


"Jadi kapan kamu akan melepaskannya?"


Jordan mengulangi pertanyaannya. Suaranya tak gentar meskipun lawannya adalah kaisar. Seperti di medan perang, perihal taktik, dia ahlinya.


The Empress Crown #14 Next...

__ADS_1


__ADS_2