Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #9


__ADS_3

Pencarian Sofia terhenti sementara waktu selama Jordan pergi latihan gabungan militer. Dia mengirim Alfons untuk mengawasi pintu belakang istana. Setiap gerak-gerik Sofia harus Alfons laporkan padanya.


Latihan gabungan ini bisa memakan waktu sedikitnya dua minggu dan paling lama sampai satu bulan. Jordan sudah frustasi bahkan dihari pertama latihan. Tidak satupun pekerjaan yang beres. Dia memimpin latihan dengan wajah yang garang.


Suasana latihan tidak seperti biasanya. Rasanya seperti di medan perang. Para ksatria gemetar.


Tak jauh beda dengan Jordan, Alex juga tak kalah sibuknya. Dia sedang mempersiapkan peringatan hari pendirian Elderbar yang tak lama lagi. Akan diadakan pesta rakyat tiga hari tiga malam.


Di dalam istana sendiri Alex juga mengundang para bangsawan Elderbar. Pesta itu akan menjadi pesta tiga malam dengan tema yang berbeda.


Waktunya tidak lama lagi, itu akan terjadi bulan depan. Alex berencana untuk memperkenalkan Janetta di muka umum.


Dalam pesta itu dia juga akan mengumumkan Janetta sebagai selir istana. Langkah ini dia ambil untuk memperkokoh posisi Janetta di dalam istana. Setelah semuanya dirasa aman, Alex akan mengangkat Janetta menjadi permaisurinya. Posisi ini tidak akan terbantahkan sama sekali.


Setelah itu Alex bisa mengirim wanita yang dia nikahi beberapa waktu lalu keluar istana. Kehadirannya tidak lain untuk memuluskan jalan Janetta. Dia tidak lebih sebagai alat bagi hukum kekaisaran yang mutlak.


Alex menghela nafas pelan. Masa depan yang telah dia rencanakan akan selesai sebentar lagi. Ngomong-ngomong soal Sofia, Alex ingat nama yang keluar dari bibir Jordan. Dia sedang mencari pelayan istana bernama sama.


'Tidak mungkin itu dia bukan?'


Dia segera mengenyahkan pikiran tentang Sofia di kepalanya. Yakin bahwa itu tidak mungkin Sofia yang dia kurung di istana belakang sana. Tidak mungkin ada kebetulan yang tidak perlu seperti itu.


Bagaimanapun wanita itu bukan siapa-siapa, lagipula wanita itu akan segera pergi dari istana.


Alex menenangkan dirinya sendiri kemudian bangkit. Pintu di depannya terbuka.


"Siapkan kuda dan panah. Aku akan pergi berburu."


Beberapa hari sekali Alex akan pergi berburu. Itu adalah hobinya. Dibanding pedang dan taktik perang, Alex mahir dalam berkuda dan menggunakan panah. Tidak seperti Jordan yang mahir dalam hal apapun, Alex cukup dengan ini.


Gedebuk.


Suara sesuatu jatuh terdengar keras. Sofia menghentikan langkahnya. Jeritan kuda melengking, memecah kesunyian hutan. Sofia melepas jamur yang ada di tangannya. Firasat buruk segera melintas. Dia tidak ingin tertangkap seperti terakhir kali oleh Alex.


Sofia berlari menjauh. Namun arah yang dia ambil salah. Di depan matanya ada seekor kuda yang sedang mengamuk dan seseorang yang tersungkur di tanah dengan kepala penuh luka.


Sofia mengerjapkan matanya beberapa kali. Kuda itu seperti siap melahap tubuh lemah di bawahnya. Wajah Alex terlihat saat dia berusaha untuk bangkit. Tangannya berusaha menarik busur untuk menembak kuda namun gagal, sepertinya tangannya terkilir.


Kuda semakin mendekat dan tubuh Alex beringsut mundur. Kaki kuda tersebut naik tinggi, siap untuk menginjak Alex.


Sofia spontan meraih ranting pohon disekitarnya dan berlari mendekat untuk menghalau serangan kuda.

__ADS_1


Krak.


Ranting pohon yang tidak seberapa terbelah menjadi berkeping-keping oleh tendangan kuda. Tubuhnya jatuh tersungkur. Sofia segera bangkit saat kuda tersebut akan menyerang Alex lagi.


Sofia memejamkan matanya dan memeluk tubuh Alex dengan tangan gemetar. Di belakangnya suara kuda meraung memekakkan telinga. Pikiran Sofia kosong. Dia menarik nafas dalam-dalam. Siap untuk mati.


Tak.


Saat situasi yang sepertinya tidak bisa dibalikkan, suara kuda meraung kembali terdengar dan kemudia hening. Sofia mengedarkan pandangannya. Seokar kuda tergelatak tak bergerak. Anak panah menembus leher kuda.


"Yang Mulia!"


Suara langkah kaki mendekat.


"Anda baik-baik saja?"


Dia adalah salah satu ksatria yang mengikuti Alex berburu. Sofia familiar dengan wajahnya.


"Saya baik-baik saja, sepertinya Yang Mulia Kaisar tidak."


Sofia melepas pelukannya. Wajah Alex berlumuran darah. Sepertiny kepalanya terluka, tangan dan kaki terkilir akibat terpelanting dari atas kuda.


"Cepat panggil dokter." Ucap Sofia dengan gagap.


Ksatria disampingnya segera menembakkan sesuatu ke udara. Segera suara kaki kuda terdengar. Sekelompok orang datang dan terkejut melihat kejadian di depan mata mereka.


Salah satu dari mereka yang tampaknya memiliki kedudukan tinggi mengambil alih situasi. Dengan cepat bantuan datang.


Alex dan Sofia dipindahkan ke istana utama. Tepatnya di kamar Alex. Ini adalah pertama kalinya Sofia masuk kesana, padahal dia adalah istrinya. Di dalam mimpi Sofia juga belum pernah menginjakkan kaki ke kamar besar yang mewah dan dominan berwarna emas.


Alex dibaringkan di tempat tidurnya. Beberapa dokter sedang mengelilinginya. Sedangkan Sofia duduk di sofa dengan dua orang dokter yang sedang mengobatinya.


Mereka beberapa kali menanyakan keadaan Sofia. Setiap orang yang ada di ruangan berwajah tegang. Kalut akan situasi yang tampaknya buruk.


Sofia juga melihat ajudan pribadi Alex yang berwajah pucat. Dia mondar-mandir cemas. Tak banyak yang memperhatikan Sofia, semua orang fokus pada Kaisar Elderbar yang tak sadarkan diri dengan kepala penuh darah. Tangan dan kakinya dibalut dengan perban.


Hanya dua orang yang begitu peduli pada Sofia. Mereka adalah Ema dan Rona, dua pelayan itu menangis di bawah gaun Sofia yang ternoda darah. Kondisi Sofia tidak parah. Hanya beberapa lebab dan tangan kakak yang terkilir. Semua sudah diobati oleh dokter.


Sofia mengedarkan pandangannya. Dia mencari seseorang yang seharusnya ada disini. Janetta Oliver, kekasih Alex.


Saat matanya tertuju ke pintu, tanpa sengaja dia bertatapan dengan ajudan Alex.

__ADS_1


"Apakah pengobatanku sudah selesai?"


"Belum Nona, tunggu sebentar lagi. Kami sedang memeriksa beberapa bagian."


"Baik." Sofia menjawab sopan. Dia lega karena tidak ada yang mengenal identitasnya.


Sofia melambai pada ajudan Alex. Memerintahkannya untuk mendekat karena dia tidak bisa menghampirinya.


Dia segara mendekat dengan wajah yang tampak gugup.


"Dimana Lady Janetta?" Tanya Sofia dengan suara pelan.


"Maaf?"


"Anda belum menghubunginya? Saya rasa Lady Janetta perlu tahu tentang keadaan Yang Mulia."


Ajudan Alex tampak bingung.


"Dimana kamarnya? Biar saya saja yang menghampirinya."


"Maafkan saya Yang Mulia. Saya tidak tahu apa-apa." Tiba-tiba ajudan tersebut membungkuk dengan tubuh rendah di lantai.


Sofia terkesiap. Dia hanya menanyakan tentang Janetta tapi ajudan itu beraksi secara tidak terduga.


Mendengar suara lantang itu, semua orang yang ada di ruangan melihat ke arah Sofia. Keberadaan yang awalnya tidak dihiraukan kini menjadi pusat perhatian.


Tak butuh waktu lama untuk mereka tahu siapa wanita yang duduk di sofa. Wajah orang-orang menjadi mengeras. Sofia menahan nafasnya. Kalut akan situasi yang berubah dengan cepat.


"Yang, Yang Mulia Permaisuri?" Dokter yang menangani Sofia membuka mulutnya.


Sofia tersedak ludahnya sendiri.


"Salam kepada bulan Elderbar, Yang Mulia Permaisuri." Suara hormat terdengar dimana-mana.


Sofia menutup matanya kemudian membukanya lagi. Situasi macam ini.


Hati Sofia mengeras.


Matanya menatap tajam Alex yang tak sadarkan diri. Disana Alex berbaring kaku, suaminya Kaisar Elderbar yang agung.


The Empress Crown #10 Next...

__ADS_1


__ADS_2