Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #8


__ADS_3

Percaya pada cinta pada pandangan pertama?


Itulah yang dialami Jordan Hexalios, Duke muda pemimpin ordo ksatria Kekasiaran Elderbar. Sejarah keluarganya turun temurun tak diragukan lagi.


Posisi itu tidak akan pernah jatuh ke tangan siapapun kecuali Duke Hexalios, seolah posisi itu memang ada untuk dia. Kemampuan serta bakatnya tak perlu diragukan lagi. Kembali ke peraturan seolah posisi itu memang ada untuk dia.


Duke Hexalios sedang perjalanan pulang dari pertemuan para pemimpin di istana. Dia baru saja pulang dari perbatasan. Pertemuan itu adalah kemunculannya untuk pertama kali setelah kembali.


Sudah lama dia tidak melihat keraiaman. Dia memutuskan ke pusat kota untuk melihatnya.


Matanya mengamati jalanan dengan acuh tak acuh. Tidak ada yang menarik baginya. Dia mendengus pelan. Tak ada gunanya melihat keramaian yang tidak menarik. Dia hendak memerintahkan kusir untuk kembali namun tiba-tiba kereta bergoyang dan suara pekikan kuda terdengar.


Sontak tubuhnya menegang. Tangannya dengan cepat membuka pintu dan turun dari kereta.


Seorang wanita jatuh tersungkur di samping kuda yang menarik kereta.


Jordan segera menghampiri dan membantu wanita itu.


Wajahnya terungkap dibalik tudung kepala yang menutupi rambutnya. Jordan bisa melihatnya gemetar. Kelopak matanya yang panjang bergerak.


Wanita itu berjongkok untuk mengambil barang yang berserakan disampingnya. Jordan ikut membantu. Matanya tak lepas mengamati wajah yang ada dibalik tudung tersebut.


Sangat misterius dan aneh. Baru pertama kali ini Jordan bertemu dengan wanita yang tidak terpengaruh dengan dirinya sama sekali.


Wanita itu gemetar karena takut membuat kekacauan bukan takut karena bertemu dengannya. Reputasi Jordan terkenal seantero Elderbar, bahwa dia adalah malaikat pencabut nyawa. Monster di medan perang.


Kebanyakan orang akan mengerdil begitu berhadapan dengannya. Tapi wanita itu terus mengucapkan maaf dengan bibirnya yang kecil. Rambut indahnya keluar dari tudung saat dia beberapa kali menunduk.


Jordan seperti dihisap masuk oleh mata birunya yang dalam. Cantik. Itulah definisi di kepala Jordan. Rambut perak, kulit putih dan mata biru. Perpaduan yang sangat apik. Bibir merahnya sangat khas. Wajahnya bersih tanpa riasan.


Kesegarannya mengguncang dada Jordan. Seperti ada sesuatu dari wanita itu yang membuatnya tertarik.


Gerak-geriknya seperti peri yang sedang menarik. Suaranya, ditelinga Jordan tidak ada suara yang lebih indah dari ini.


Wanita itu menyentuh tangan Jordan yang kotor. Aliran listrik segera membanjiri tubuh Jordan. Tangannya sangat lembut dan hangat. Otak Jordan telah menjadi bubur dan tubuhnya kaku.


"Siapa namamu?"


Jordan buka suara saat matanya tidak sengaja melihat tanda istana ditangannya.


Wanita itu menjawab dan kini dia tahu siapa nama wanita cantik itu, Sofia.


Malam itu Jordan tidak bisa tidur karena memikirkan Sofia. Setiap apa yang terjadi terulang dibenaknya seperti rekaman.


Jordan dengan segala macam cara mengyahkan bayangan Sofia dari kepalanya. Dia membuat asumsi-asumsinya sendiri.

__ADS_1


'Sofia pasti tidak tahu siapa dia'.


Dengan dalih ini akhirnya Jordan berhasil menutup matanya.


Pagi harinya jauh lebih buruk. Sofia bukan hanya ada di kepalanya, tapi ada dihadapannya dimana-mana. Dalihnya semalam hilang tanpa bekas.


Dia ingat barang yang dibawa wanita itu, kain dan renda. Rasa ingin mencari dan bertemu dengan Sofia membumbung tinggi.


Jordan sadar ada yang tidak beres dengannya. Dia harus mencari tahu apa itu.


Akhirnya dia bertemu dengan Sofia setelah tiga hari mencarinya disetiap toko kain di seluruh pusat kota. Kelegaan membanjiri tubuhnya. Sudah tiga hari juga hidup Jordan tidak tenang. Setiap malam hanya wajah Sofia yang tampak ketika dia memejamkan matanya.


Betapa bahagianya Jordan saat dia bisa bertemu dengan Sofia. Kali ini Sofia tidak mengenakan tudung kepala. Profilnya tampak jelas di mata Jordan. Dia tertegun sejenak. Menikmati keindahan Tuhan dan tidak lupa memujinya dalam hati.


Bibir Jordan menahan senyumnya sekuat tenaga. Ini adalah pertemuan keduanya. Pertemuan ini harus membuahkan hasil.


Dia mengajaknya berteman. Jordan membujuk dengan segala cara. Dia ingin mengenal Sofia. Dia ingin mencari jawaban dari setiap pertanyaan di kepalanya. Seperti 'kenapa jantungnya selalu berdetak cepat saat melihat Sofia' atau 'kenapa Jordan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sofia'.


Sofia setuju berteman dan mengirim surat. Tidak ada hal yang paling membahagiakan dari hidupnya selain hari ini.


Namun sesuatu terjadi di luar kendali Jordan. Surat balasan dari surat yang dia kirim berisi penolakan yang halus. Hati Jordan melorot ke tanah.


Dalih di kepalanya kembali muncul. Sofia pasti tahu siapa dirinya. Jordan tidak terima, dia bahkan belum memulai apapun. Amarah menguasainya. Dia ingin bertanya pada Sofia dan mendengar jawabannya secara langsung. Jika dalihnya benar Jordan akan menjelaskannya. Kemudian Jordan akan memintanya untuk berada disisinya. Mengikatnya dan meluapkan perasaannya.


Untuk pertama kalinya Jordan menyadari jika hatinya telah condong ke seorang wanita. Sepertinya Jordan telah jatuh cinta.


Jordan mengusak rambutnya kasar.


"Hah!" Keringat menetes di pelipisnya.


'Dia pasti berbohong tentang namanya.' Itu asusmsi pertama Jordan.


'Dia bisa jadi bersembunyi untuk menghindarinya.' Asusmsi kedua Jordan membuatnya sakit kepala.


'Aku harus meminta bantuan Lux.' Gumamnya dalam hati. Dia harus mencari sampai akarnya.


'Sofia Margareth, kamu tidak akan bisa melarikan diri dariku.' Seringai muncul dari bibir Jordan. Aura kematian menyebar ke sekitarnya.


Para ksatria yang mengikutinya mundur selangkah. Mereka bisa merasakan aura membunuh dari pemimpinnya.


"Kalian bisa kembali ke markas. Akan bertemu dengan Yang Mulia Kaisar." Suara titah Jordan menggelegar.


Barisan ksatria yang terdiri dari dua puluh orang serempak mengangguk kemudian membubarkan diri. Tersisa Jordan dan ajudannya.


"Yang Mulia. Ada utusan dari mansion."

__ADS_1


Jordan menolah saat seorang pelayan dari rumahnya berlari mendekat.


"Apa itu?"


Sir White mengambil surat yang dibawa oleh pelayan kemudian memerintahkannya pergi.


"Pesan dari Alfons."


Dahi Jordan berkerut. Wajanya mengeras.


"Sampaikan!" Suara bariton Jordan menusuk telinga.


Sir White mendekat kemudian membaca suratnya.


"Lady Sofia terlihat keluar istana dengan dua orang lainnya. Arah mereka adalah pusat kota." Sir White menutup surat itu.


"Ikut aku ke kota sekarang!"


Jordan berlari kemudian menaiki kudanya. Dia berlari secepat mungkin. Wajah Sofia melintas cepat di matanya.


Semua usaha sepertinya sia-sia. Jordan mendatangi setiap tempat yang kemungkinan di datangi Sofia hingga matahari tenggelam. Sofia tidak ada dimanapun, setiap sudut dia datangi. Jordan membuat kekacauan, meskipun begitu dia masih tidak bisa menemukan Sofia hingga dia menyerah.


Sir White mendekat.


"Yang Mulia." Suara Sir White rendah.


Jordan menetap tajam Sir White.


"Hari sudah larut, kita harus segera kembali."


Dahi Jordan berkerut.


"Aku masih belum menemukannya." Jawab Jordan dingin.


"Yang Mulia.. tidak ada waktu lagi."


"Ah sial!" Suara Jordan meraung.


Dia tahu apa yang dimaksud ajudannya. Besok adalah hari latihan militer seluruh ordo di Kekaisaran Elderbar, dan Jordan adalah pemimpinnya.


Semua ksatria akan datang untuk latihan gabungan ini. Tempatnya telah ditentukan perbatasan utara. Dia harus segera berangkat sebelum matahari terbit. Kenyataan ini membuat Jordan kesal.


"Aku akan pulang dulu, panggil Alfons!"


Debu berterbangan saat kudanya melaju menembus malamnya ibukota.

__ADS_1


The Empress Crown #9 Next...


__ADS_2