
London, Inggris. Lima tahun yang lalu.
Jauh dari rumah dan orang tua membuat Jessy sensitif. Sedikit saja perbuatan, akan menyinggung perasaannya. Dia telah menikah dan sekarang menjadi seorang istri. Mereka sama-sama masih mudah dan tidak punya pengalaman. Jiwa muda yang berapi-api serta ideliasme yang tinggi membuat kepribadian mereka berseberangan.
Saling tidak bisa menerima keadaan pasangan hingga perdebatan yang panjang. Jessy lelah hidup seperti ini. Hidup dengan suami yang tidak bisa membimbingnya. Dia butuh sandaran, dia butuh teman, bukan suami yang selalu menunjukkan tampang dingin dan garang.
Jessy diam karena dia lelah. Dia menerima apapun yang dilakukan suaminya. Dari awal menikah mereka belum pernah tidur bersama. Kebahagiaan menikah tampaknya hanya dinikmati Jessy. Tapi itu hanya awalnya, hari-hari setelahnya seperti neraka.
"Mas salah Jessy itu sebenarnya apa sih? Kenapa mas itu selalu uring-uringan setiap pulang ke rumah. Tolong beritahu Jessy biar Jessy benahi. Kita itu sudah menikah lho mas."
"Tentu aku tahu kalau kita sudah menikah. Semua orang yang ada di Indonesia juga tahu."
"Aku itu sudah berusaha pengertian, menerima Mas Kent apa adanya. Tapi kalau mas seperti ini Jessy juga capek mas."
Mereka selalu berdebat dengan hal kecil. Misalnya seperti hari ini. Jessy belajar masak dari Mbok Ina, perkara masakan yang sedikit asin, Kent meledak.
"Pernikahan ini sudah salah sejak awal."
"Bukan aku atau keluargaku yang menawarkan pernikahan mas, tapi mas sendiri. Itu artinya yang salah bukan aku tapi Mas Kent."
"Ya aku salah! Aku yang salah! Puas kamu!" Suara Kent menggelegar.
Air mata Jessy mengancam untuk keluar. Seumur hidupnya dia belum pernah dibentak oleh keluarganya, tapi Kent yang bukan siapa-siapanya berani membentak dan merendahkannya. Hati Jessy sakit.
"Kalau mas tidak suka dengan Jessy kenapa orang tua Mas Kent datang melamar? Tolong kasih ngerti Jessy mas."
"Semuanya sudah terjadi tidak perlu diungkit-ungkit."
"Gak bisa gitu dong mas, kalau mas gak mau diungkit-ungkit tolong ngertiin Jessy juga mas. Jangan suka marah-marah."
"Jangan suka ngatur kamu Jess."
"Aku gak ngatur mas. Kita ini hidup berdua, harus saling kerjasama."
"Pernikahan ini hanya pernikahan politik. Jadi jangan berharap banyak."
"Maksud kamu?"
"Jangan pura-pura bodoh, kamu sendiri yang lebih tahu."
"Tentang apa?"
__ADS_1
"Tentang keluargamu yang meminta mas kawin diluar nalar. Itu artinya apa kalau tidak menjualmu padaku? Aku tahu semuanya Jess. Jangan harap kamu bisa mempengaruhiku."
Air mata Jessy tumpah. Bagaimana bisa seseorang bisa mengatakan hal begitu kejam. Jessy selalu berusaha menahan diri untuk tidak menyakiti Kent tapi sepertinya perasaannya tidak dipedulikan sama sekali.
Jessy bingung setelah menikah. Kent adalah orang yang memintanya untuk menikah. Tapi hingga akhir Kent menyangkalnya.
Setiap malam Jessy tidur dengan mata yang basah dan mimpi buruk. Dipikirannya hanya ada satu hal, 'besok akan dimarahi karena salah apa ya'.
Pernikahan itu hanya bertahan tak lebih dari satu tahun. Kent yang meminta terlebih dahulu. Dia sudah selesai kuliah di Harvard dan tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan pernikahan mereka.
Jessy seperti terbebas dari hukuman mati saat sidang putusan perceraian mereka selesai. Melihat wajah Kent yang dingin tanpa ekspresi membuat Jessy muak. Jika dia diberi kesempatan untuk mengulang waktu, dia tidak akan sudi bertemu dengan Kent Sadewa.
Rasa sakit Jessy diperparah dengan kenyataan yang tidak sengaja dia dengar. Dari awal bukan Jessy yang diinginkan Kent tapi kakaknya, Jhoya. Hati Jessy pedih. Dia jatuh sedalam-dalamnya ke lubang hitam tanpa dasar. Dia benci Kent. Sangat benci.
Bukan dia yang salah, dia tidak tahu apa-apa. Tapi Kent melimpahkan keselahan itu pada Jessy. Apapun yang tidak dia harapkan adalah salah Jessy. Seolah kehadirannya adalah kesalahan.
*****
"Oh iya Jess, tadi yang ngasih sambutan Pak Kent langsung lho Jess. Ya ampun Jess sumpah ganteng banget. Lebih ganteng daripada di IG." Oceh Yola.
"Aku tadi lihat Mbak Renatha sampai gak kedip. Sumpah gila gantengnya. Paripurna banget." Tambah Yola.
"Lihat tuh Jess orangnya duduk di depan. Kamu kan lama di Inggris mungkin gak kenal dia."
Jessy tak mendengarkan ocehan Yola. Memang benar, Jessy tidak kenal Kent. Tapi sangat kenal sekali. Saking kenalnya Jessy sampai tidak melupakan dia. Ingatan tentang Kent seperti permanen di otaknya. Rasa kecewa menyebar ke seluruh tubuh Jessy dengan cepat. Dia mengalihkan pandangannya ke arah presentasi.
Tangannya gemetar. Dia menarik tangannya turun dari meja. Menyembunyikannya di bawah meja. Ada rasa panas dari tatapan seseorang. Tapi Jessy tak meliriknya sama sekali. Dia fokus pada slide-slide presentasi yang ditampilkan.
"Jess kok diem aja?" Doni menyenggol lengannya.
Karena kaget Jessy terkesiap. Sia sontak menoleh dan senyum tulusnya terbit. Ada Doni duduk disebelahnya.
"Iya biar gak ada yang kelewatan." Akunya bohong.
"Tadi kamu sama Yola berisik kok sekarang tiba-tiba hening." Timpal Doni.
"Kami lagi menikmati wajah ganteng yang diujung sana itu lho." Yola ikut menimpali.
"Oh dia itu ya yang CEO baru Royal Corp." Ucap Doni menunjuk dengan pandangannya.
"Eh tapi kok dari tadi dia ngelihat kesini sih." Celetuk Yola.
__ADS_1
"Karena kalian itu berisik." Timpal Renatha yan duduk disebelah Doni. Tempat duduk yang sedikit di depan
Yola dan Doni menahan tawa mereka. Sedangkan Jessy hanya tersenyum.
"Hei fokus-fokus." Ferdi yang sejak tadi diam karena sedang membantu Mario menyiapkan presentasi ikut menimpali kegaduhan mereka.
"Siap." Jawab Doni kembali menegakkan punggungnya.
Presentasi masih berjalan, kali ini giliran Mario yang memaparkan hasil rancangan Tim Arsitek. Apa yang diucapkan Mario sama sekali tidak di dengarkan oleh Jessy. Dia fokus pada ponselnya.
'Dia kenapa bisa ada disini? Bertemu Pak Aris tadi harusnya aku udah curiga. Orang itu kan kemana-kemana harus sama Pak Aris.' Jessy berteriak dalam hati.
Dia sedang mengetik pesan ke Juna saat Mario selesai presentasi.
Mas kayaknya proyek ini tidak akan deal.
Jessy menunggu balasan. Dua menit kemudian balasan dari Juna datang.
Why?
Ada orang itu. Dia memimpin rapat. Aku bertemu dengannya dan dia juga sudah melihatku. Dia ada di Jakarta mas, perkiraanmu salah. Dia pasti tidak akan membuat proyek ini deal dengan Jayanegara. Mengingat betapa bencinya dia pada keluarga kita.
Besok adalah hari penentuannya. Berarti besok mas akan bertemu dia untuk tanda tangan perjanjian proyek. Are you ok Jess?
No. Im not ok.
"Jessy."
"Ya?" Jessy tersentak saat namanya di panggil. Itu adalah suara Mario.
"Pak CEO ingin tim kita memperkanlkan diri. Sekarang giliranmu."
"Ah ya mas." Jessy gelagapan dan sontak saja berdiri. Senyum canggung terbit dari bibirnya. Dia menggigit bibirnya kemudian membuka suara.
"Perkenalkan saya Jessica dari Tim Arsitek Jayanegara bagian desain ruang." Jessy menunduk kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Matanya tak sengaja menangkap ekspresi Kent. Dahinya berkerut dan tatapannya mencela. Itulah yang Jesay tangkap. Dia segera duduk dan mengatur nafasnya.
Dasar manusia tidak punya hati. Kamu kira aku menyikaimu juga? Sama sekali tidak. Jika aku dilahirkan kembali aku tidak akan mau bertemu lagi denganmu. Sentak Jessy dalam hati.
"Jessy adalah karyawan baru kami. Dia baru saja pulang dari Inggris dua minggu lalu." Mario menambahkan dengan penuh semangat.
__ADS_1
Jungkir Balik Dunia Jessy #5 Next...