Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #22


__ADS_3

"Menikahlah denganku Sofia."


Tatapan Sofia menajam. Telinganya baik-baik saja selama ini, jadi apa yang Jordan katakan bukan salah dengar.


"Ya?"


"Menikah denganku, itu adalah solusinya."


Sofia mengepalkan tangannya. Mata mereka beradu. Seperti tidak cukup dengan kata terkejut, jantung Sofia juga berdebar cepat.


Ada keheningan sejenak.


"Jawab aku Sofia." Lanjut Jordan frustasi. Dia berulang kali membasahi bibirnya. Menenangkan dadanya yang hampir meledak.


Ini secara tidak langsung adalah lamaran. Namun jauh dari kata istimewa.


"Ah, tapi.." Sofia gugup. "Saya masih menjadi istri Alex." Rasa dingin menyebar ke seluruh tubuh Sofia. Kikuk setengah mati.


"Aku akan mengurus semuanya. Asalkan kamu setuju."


"Jordan, tapi..."


Tangan Sofia yang gemetar meraih tangan Jordan. Terlihat jelas sekali wajah Jordan yang mengeras.


"Saya memang meminta bantuan Jordan, tapi tidak seperti ini. Jordan tidak perlu mengorbankan diri sendiri."


"Jadi Sofia menolaknya?"


"Bukan, bukan seperti itu. Saya hanya memikirkan Jordan."


"Aku juga memikirkan Sofia."


Sofia terhenyak.


"Tapi ini pernikahan Jordan. Tidak mungkin bisa seperti ini."


"Kenapa tidak?"


"Saya adalah orang rendahan, sebaliknya Jordan tidak."


Dahi Jordan berkerut.


"Ya?"


Sofia diam sejenak kemudian melanjutkan.


"Sebenarnya saya adalah anak tidak sah. Saya lahir dari ibu rendahan. Saya bukan anak kandung Baroness Barell. Ibu saya adalah simpanan ayah saya." Kepala Sofia menunduk. Kenyataan pahit yang ingin Sofia sembunyikan. Bahkan Alex saja tidak tahu.


"Anak tidak sah?"


"Saya bukan bangsawan seperti yang Jordan pikir selama ini. Saya menipu semua orang, maafkan saya." Sofia kembali menegakkan kepalanya.


"Sungguh?"


Sofia mengangguk.


"Pernikahan ini tidak mungkin terjadi, Jordan harus mencari wanita yang pantas."


"Jika Sofia menolaknya lalu apa yang akan Sofia lakukan? Bantuan seperti apa yang sebenarnya Sofia inginkan?" Berusaha mengurai kerumitan di otaknya, Jordan tetap tenang di luar. Tapi di dalam, panas memenuhi tubuhnya.


"Saya punya rencana."

__ADS_1


"Rencana apa?"


"Saya akan meninggalkan kekasiaran ini."


"Ya?" Dibandingkan cerita tentang yang bukan anak sah keluarganya, ucapan Sofia ini lebih mengejutkan Jordan.


Sofia mengangguk.


"Saya meninggalkan semua bekal yang telah saya persiapkan di istana. Oleh karena itu saya meminta bantuan Jordan. Saya pasti akan membalasnya, meskipum harus bekerja seumur hidup."


"Tidak itu terlalu berbahaya." Penolakan Jordan nyata.


Kelopak mata dengan bulu yang panjang milik Sofia mengerjap. Kata 'tidak' dari Jordan terdengar menyeramkan.


"Lalu bagaimana kamu memutuskan hubunganmu dengan Alex? Kalian masih terikat sebagai suami istri Sofia. Apalagi Alex adalah kaisar negeri ini."


"Ah."


Jordan benar. Sofia termenung sebentar. Lawannya memang bukan orang biasa. Percuma jika dia bebas kalau status sebagai istri kaisar masih melekat. Sofia belum memikirkan sejauh itu. Alex dengan mudah membalik seluruh kekaisaran demi menemukan dia.


Bebas yang sesungguhnya bukan keluar dari istana, tapi lepas dari Alex.


"Saya belum memikirkannya." Sofia menggeleng lemah.


"Aku akan membantu Sofia. Sofia percaya padaku bukan?" Desak Jordan. Malam semakin larut dan dia harus mendapat jawaban Sofia sebelum matahari terbit. Bagaimanapun caranya.


Sofia mengangguk pelan.


"Sofia cukup menjawab ya, semuanya akan aku urus."


"Tapi Jordan, pernikahan bukankah sedikit berlebihan?" Sofia menggigit bibir bawahnya.


"Sofia percaya padaku bukan?"


"Ssstt. Kalau Sofia percaya padaku itu sudah cukup. Ikuti semua perintahku, ya?"


"Saya berhutang banyak pada Jordan."


"Tidak. Teman harus saling membantu bukan?" Senyum tipis terbit di bibir Jordan.


"Jordan..." Panggil Sofia lembut.


"Hm?"


"Jordan tidak harus sejauh ini."


Dahi Jordan berkerut. Sepertinya pembicaraan mereka selalu kembali ke awal. Tawar menawar yang sulit.


"Saya juga ingin membantu Jordan." Lanjut Sofia.


"Sofia..." Jordan menggenggam tangan Sofia. "Sofia cukup setuju kemudian mengikuti arahanku."


"Apa tidak apa-apa?"


Jordan mengangguk pasti.


"Kalau begitu aku setuju."


Jordan sontak menarik tangan Sofia kemudian memeluknya. Mengelus rambutnya pelan kemudian berbisik.


"Semua pasti akan baik-baik saja Sofia. Percaya padaku."

__ADS_1


Tubuh Sofia yang awalnya menegang kini melunak. Dia membalas pelukan Jordan. Jika tidak ada orang ini Sofia tidak bisa membayangkan, seperti apa hidupnya. Jordan adalah penolongnya. Dia banyak berhutang budi padanya.


Melihat wajah tidur Sofia, bibir Jordan tersenyum tipis. Dia merapikan selimut kemudian bangkit. Pagi segera tiba dan dia punya banyak urusan yang harus dia selesaikan hari ini.


Jordan bangkit kemudian berjalan keluar. Langkah terdengar di sepanjang lorong menuju kantornya. Gelapnya malam berganti dengan cerahnya pagi hari. Dia butuh tidur sebentar untuk menjernihkan pikirannya, cukup hanya dua atau tiga jam.


Begitu Jordan membuka matanya, persiapan telah selesai dilakukan. Dia membersihkan dan merapikan diri di bantu oleh beberapa pelayan.


"Sofia?" Tanya Jordan pada kepala pelayan yang berdiri tak jauh darinya.


"Nona sepertinya belum bangun."


"Biarkan saja. Kami berbicara hingga larut malam kemarin. Tolong perhatikan makanan Sofia, dia tampak kurus akhir-akhir ini."


"Baik Yang Mulia."


"Dan, bersiaplah. Sofia sudah setuju dan sisanya akan aku urus hari ini."


Kepala pelayan mengangguk paham.


"Sir White sudah menunggu Yang Mulia."


Jordan mengangguk kemudian sekilas melihat penampilannya di cermin. Hari ini adalah penampilan pertamanya di pertemuan politik kekaisaran. Tentu kehadirannya harus mengesankan.


"Duke Hexalios?"


Aula pertemuan di istana utama kekaisaran gempar. Hadir seseorang yang tidak pernah terbayangkan akan datang.


Hari ini adalah hari rutin setiap tiga kali dalam tujuh hari diadakannya pertemuan politik antara kaisar dengan para bawahannya.


Keluarga Duke Hexalios yang tidak menaruh minat lagi setelah meninggalnya mendiang Duke dan Duchess Hexalios kini menampakkan wajahnya lagi setelah lebih dari satu dekade.


Apakah Duke Hexalios berhak hadir dalam pertemuan politik ini? Tentu saja. Kedudukan duke yang setara dengan putra mahkota atau orang kedua setelah kaisar, membuatnya punya hak khusus. Ditambah lagi, Duke Hexalios sebelumnya adalah penasihat kaisar dan Duchess Hexalios adalah adik satu-satunya mendiang kaisar. Hak istimewa mereka tak terbantahkan.


Namun setelah mansion Hexalios memiliki Duke muda, Hexalios menarik diri dari dunia politik. Sang Duke Hexalios muda lebih tertarik dengan militer ketimbang pergulatan politik yang panas.


Banyak orang tidak mempedulikan hal tersebut. Karena dengan tidak adanya Duke Hexalios di politik kekaisaran, itu artinya tidak ada orang kedua yang harus mereka segani atau hormati setelah kaisar.


Oleh karena itu, kehadirannya hari ini setelah lebih dari sepuluh tahun terakhir menggemparkan.


"Salam kepada Yang Mulia Duke."


Hanya ada beberapa orang yang memiliki gelar Duke di Kekaisaran Elderbar. Kebayakan dari mereka adalah laki-laki berusia tua dan tidak lagi aktif di pergaulan. Praktis, hanya Duke Hexalios yang aktif serta latar belakang keluarganya lebih tinggi dari Duke lain.


Wajar jika kehadirannya mendapatkan hormat dari semua orang, bahkan Duke Hexalios layak disejajarkan dengan Kaisar Elderbar, Alex de Elderbar.


Jordan tidak menghiraukan salam dari orang-orang yang berdiri sejajar seperti pagar memanjang. Langkahnya mantap berjalan membelah lautan dengan karpet merah membentang jauh di lantai. Dia mengambil tempat duduk di kursi paling ujung, dekat dengan singgasana kaisar, kursi Alex.


Terdengar bisik-bisik. Tapi Jordan acuh. Tujuannya datang bukan untuk mendengarkan mereka. Dia datang untuk itu, bertemu dengan seseorang yang sekarang berdiri di ambang pintu aula pertemuan.


"Yang Mulia Kaisar Elderbar memasuki aula pertemuan!"


Pengumuman itu terdengar lantang dan jelas. Sontak semua orang diam dan berdiri. Menunduk memberi hormat dengan tangan terlipat di perut, kecuali satu orang, Duke Jordan Hexalios.


Jordan duduk santai dengan kepala tegak dan tatapan lurus ke arah Alex, sang kaisar yang di elu-elukan.


Saat tatapan mereka bertemu, bukan Jordan yang bersikap kurang aja, yang terkejut. Tapi Alex yang terkejut. Langkahnya terhenti. Wajah Alex mengeras.


Tatapan yang beradu itu terasa panas. Aula pertemuan yang besar mendadak hampa. Seperti udara dirampas keluar. Semua orang yang hadir sudah mengantisipasi hal ini. Mengingat perseteruan Alex dan Jordan, serta dugaan Jordan yang merencanakan pemberontakan.


Satu hal yang mereka renungkan dalam hati, "Semoga bisa keluar dari aula pertemuan tanpa melihat pertumpahan darah."

__ADS_1


The Empress Crown #23 Next...


__ADS_2