
"Kalian bercerai? Bagaimana bisa?"
"Aku banyak memikirkanmu. Jadi aku memilih untuk bercerai."
"Pasti karena aku." Suara Seokyung terdengar sedih.
"Bukan. Itu karena aku. Aku yang baru menyadari perasaanku. Cintaku pada Sora hanya obsesi belaka, sedangkan cintaku padamu adalah kenyataan."
Seokyung diam. Matanya sayu.
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Sora yang lebih dulu melakukannya."
"Maksud kamu?"
"Dia berselingkuh. Dia memiliki pria lain dan aku hanya dimanfaatkan." Jelas Hwan.
"Sora? Aku kira kalian saling mencintai."
"Tidak, pernikahan kami hanya obsesiku saja. Tapi cintaku padamu nyata Seokyung. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku."
Hati Seokyung berdesir. Tiada kata yang paling indah yang pernah dia dengar sebelumnya. Rasanya penuh. Selama ini dia kira nasib buruk yang akan selalu datang, tapi mengenal Hwan adalah sebuah keajaiban. Seokyung sudah cukup jika Hwan ada disisinya, dia tidak butuh yang lain. Hanya Hwan seorang.
"Aku juga, aku mencintaimu Hwan."
Senyum simpul Hwan terbit. Seokyung adalah orang yang dia cari selama ini. Wanita yang bisa meluluhkan hatinya. Ibu dari anak-anaknya.
"Sejak kapan kamu mulai mencintaiku?"
"Ya?" Seokyung terhenyak.
"Jika sudah sejak lama kenapa diam saja?"
"Tidak mungkin aku mengatakan perasaanku. Kamu adalah suami Sora, kamu kakak iparku. Bagaimana bisa aku berani. Meskipun aku berusaha untuk menyangkalnya. Rasa cintaku tumbuh tanpa bisa aku kendalikan."
"Aku juga sayang. Sejak kamu datang ke rumah dan menyita seluruh perhatianku. Aku melupakan Sora."
"Aku bersalah pada Sora. Dia mengatakan aku tidak boleh menggunakan perasaan. Tapi aku malah mencintaimu."
"Seokyung, itu bukan hanya salahmu, juga bukan salah kita. Semua salah Sora. Dialah yang mempermainkan kita."
Seokyung diam. Matanya menatap Hwan penuh kasih. Benar apa yang dikatakan Hwan. Dia hanya tidak menyangka Sora adalah orang yang tidak setia. Memang betul, karena Sora mereka bisa bertemu. Diam-diam Seokyung berterima kasih pada Sora karena telah membuang suami sebaik Kang Inhwan. Laki-laki yang jika bukan karena dia tidak akan mungkin Seokyung jumpai seumur hidupnya.
"Bagaimana Inkyung dan Inseo, apakah dia merepotkanmu?" Seokyung mengalihkan topik bahasan mereka. Dia tidak ingin larut memikirkan Sora.
"Mereka terus mencarimu."
__ADS_1
"Bibi tidak mengatakan apapun tentang mereka. Mereka selalu tenang di foto-foto yang diambilnya."
"Apakah kamu tidak merindukannya?"
"Tentu saja aku rindu Hwan, aku hampir gila saat Sora mengusirku. Saat tidak melihatnya aku terus menangis."
"Hanya mereka? Lalu aku bagaimana?" Hwan mendesah.
"Sama, aku juga seperti itu. Aku selalu memikirkan kalian bertiga." Koreksi Seokyung.
"Lihat saja aku. Aku yang harus kamu perhatikan." Hwan merajuk.
"Iya, baik. Hanya kamu seorang." Senyum tipis menghiasi bibir Seokyung.
"Aku sangat merindukanmu." Ucap Hwan seraya bangkit kemudian menarik tubuh Seokyung hingga telentang.
Seokyung terkesiap akan perubahan posisi mereka yang tiba-tiba. Hwan sudah menjulang tinggi di atasnya.
"Sudah lama sejak saat itu, bolehkan aku memulukmu?" Tanya Hwan dengan suara rendah.
Seokyung menelan ludahnya sendiri. Sorot mata Hwan berubah. Tatapan itu seperti ingin melahapnya. Seokyung tahu apa yang Hwan inginkan. Seokyung membasahi bibirnya kemudian mengangguk.
"Mulai hari ini aku akan selalu menunjukkan perasaanku padamu sayang. Jadi terima perasaanku."
Seokyung kembali mengangguk. Dia berteriak saat menerima penyusup yang masuk tanpa aba-aba. Hwan mendorong tubuhnya seperti orang kelaparan. Menyentak-nyentak dengan ganasnya. Mereka haus akan satu sama lain. Persatuan mereka sebagai cinderamata rasa rindu.
*****
"Salam kenal ibu. Maaf baru datang. Saya adalah Kang Inhwan. Orang yang sangat mencintai Seokyung. Terima kasih telah membawa Seokyung ke dunia ini. Saya akan menjaganya dimasa depan. Mohon beri ijin untuk menggenggam tangannya. Saya berjanji dengan hidup saya." Hwan memperkenalkan dirinya.
Setelah itu Hwan berbalik menatap Seokyung.
"Seokyung..." Panggil Hwan.
"Ya?"
Hwan berlutut dengan salah satu kakinya sebagai tumpuan. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Terima kasih telah menjadi ibu dari anak-anakku, maukah kamu menikah denganku?"
Tubuh Seokyung menegang akan perbuatan Hwan yang tiba-tiba. Bagaimana bisa dia belutut dihadapannya. Dia hanya perempuan biasa. Dia tidak istimewa sama sekali.
"Hwan berdiri, apa yang kamu lakukan." Seokyung mendekati Hwan.
"Dihadapan ibumu, aku melamarmu Seokyung. Menikahlah denganku. Anak-anak kita butuh ibunya." Jelas Hwan. "Maukah kamu menikah denganku?"
__ADS_1
Seokyung menutup mulutnya tak percaya. Dia tidak menyangka akan mendapat lamaran seperti ini.
"Aku mau, aku mau Hwan." Jawab Seokyung dengan mata yang basah. Air matanya tumpah.
Hwan segera berdiri dan menyamatkan cincin ke jari Seokyung. Cincin yang sengaja dia buat khusus untuk Seokyung.
"Terima kasih sudah menjadi ibu dari anak-anakku Seokyung. Ayo menikah segera." Hwan menarik tangan Seokyung kemudian memeluknya.
"Iya, ayo menikah segera." Timpal Seokyung dengan berderai air mata.
*****
Hamparan pasir putih dan birunya laut terbentang. Seokyung memandang jauh ke arah lautan. Air laut tanpa ujung menyentuh cakrawala. Matanya meneduh. Sayu karena angin sepoi-sepoi yang menerpanya.
Gaun chiffon putih lengan panjang sangat cocok dengan sekelilingnya, pasir putih. Seokyung duduk termenung dengan kaki bersila. Dia fokus dengan dirinya sendiri. Suara angin menemani meditasinya.
Fajar mulai terlihat di ujung timur. Matahari seperti malu-malu menampakkan dirinya.
"Sayang..." Panggil seseorang dari belakang.
Seokyung menoleh. Terlihat laki-laki berjalan sempoyongan mendekatinya. Menggunakan piyama putih senada dengan miliknya.
"Sudah bangun?"
"Aku mencarimu."
"Aku disini." Ucap Seokyung dengan senyum di bibirnya.
Laki-laki itu adalah suaminya. Seluruh hidupnya. Si pemilik hatinya. Kang Inhwan. Satu tahun telah berlalu sejak mereka menikah secara diam-diam. Satu bulan juga sudah berlalu sejak mereka mengumumkan pernikahan mereka. Istri CEO Kangin Group, Kang Inhwan bukanlah Ahn Sora, tapi Ahn Seokyung.
Publik jelas gempar pasalnya dua orang itu memiliki wajah yang sama, karena tidak ada klarifikasi lebih lanjut dan berita itu lenyap bak hantu, orang-orang percaya jika itu adalah kekuasaan keluarga Kangin Group. Jadi semuanya memilih diam.
"Bagaimana tidurmu? Kamu keluar tidak membangunkanku." Hwan ikut duduk di sebelah Seokyung. Menarik tubuh istrinya kemudian mencium pipinya.
"Nyenyak sekali. Aku hanya ingin menghirup udara pagi. Bagaimana Inkyung dan Inseo?" Tanya Seokyung. Setelah berkumpul lagi satu tahun lalu mereka selalu tidur bersama. Tidak terkecuali saat ini.
Mereka sedang berada di Bali dalam rangka liburan. Hwan memboyong keluarganya ke villa pribadinya di Bali untuk menghindari perhatian publik setelah pengakuannya tentang Seokyung. Apalagi ada satu lagi tambahan yang perlu dia jaga ekstra, bayi yang ada di dalam kandungan Seokyung. Anak ketiga mereka.
"Mereka masih tidur." Jawab Hwan seraya mengelus perut Seokyung yang membulat. Usianya hampir dua bulan tapi sudah terlihat besar. "Apakah dia menyusahkanmu?" Tanya Hwan menunjuk pada bayi di dalam kandungan Seokyung.
"Aku baik-baik saja. Dia sama saat aku mengandung si kembar. Tenang dan tidak menyusahkan." Jawab Seokyung menatap Hwan dengan senyum lembut.
"Dulu aku tidak bisa menemanimu saat mengandung mereka, kali ini aku tidak akan meninggalkanmu." Hwan mengangkat tangan Seokyung kemudian menciumnya.
"Terima kasih karena selalu ada untukku Hwan."
__ADS_1
"Aku juga, terima kasih telah datang ke hidupku dan memberiku berkah yang luar biasa Seokyung. Aku mencintaimu."
Game of Hearts End.