
Volume pekerjaan kian meningkat. Tim Arsitek dalam waktu dekat diminta untuk presentasi rancangan mereka. Mereka harus menyiapkan beberapa rancangan untuk didiskusikan dan rancangan mana yang akan dipilih. Jessy mendapat bagian untuk mendesain interior ruangan. Mereka lembur hingga malam untuk mengejar deadline.
Waktu presentasi telah ditentukan, minggu depan. Semua Tim Arsitek diminta untuk datang. Tak terkecuali Jessy.
"Besok ada presentasi ke Royal ya Jess?" Tanya Juna ditengah makan malam mereka.
"Ya mas, tim kita disuruh ikut semua. Ya emang sih kita harus presentasi. Tapi apa gak cukup Mas Mario aja gitu yang datang?" Jessy mengacak-acak makanannya.
"Kalian semua harus datang tho Jess, kan kerjanya tim. Nanti kalau ada usulan-usulan biar semuanya itu langsung tahu." Jawab Juna seraya menyeruput teh hangat dari gelasnya.
"Masuk akal sih. Cuma males aja mas, alergi aku tuh." Jessy mendesah. Dia mungkin akan lebih semangat bekerja jika kliennya bukan Royal Corp.
"Ini cabang Jakarta Jess, gak bakal ada dia. Dia di Bali setahu mas. Dia kan sekarang CEOnya. Pasti dia dikantor pusat." Jelas Juna.
"I see."
"Kamu gak papa kan Jess?"
"Yes. Im ok mas." Jawab Jessy singkat. "Peranku gak banyak kok diproyek ini. Aku memang sudah menyiapkan beberapa desain ruang tapi tetap aja aku baru bisa kerja jika rancangan tim kami disetujui." Lanjutnya.
"Semoga presentasi besok berjalan lancar ya Jess."
"Semoga mas. Aku juga berharap yang terbaik. Tim kita sudah bekerja keras."
Juna mengangguk paham. Dia bahkan terkejut dengan keseriusan Tim Arsitek, terutama Jessy. Adik kecil yang dulunya sering merengek dan menangis kini sudah menjadi dewasa. Ketika didepan pekerjaan dia terlihat serius dan memesona sekaligus. Matanya berbinar setiap membicarakan pekerjaannya ketika di rumah.
Juna merasa lega. Jessy yang sekarang bukanlah Jessy lima tahun lalu, yang hidup tanpa harapan. Tubuhnya hidup tapi jiwanya mati. Juna senang bisa membebaskan Jessy dari tekanan itu. Kini dia tidak akan ikut campur pada hidup Jessy lagi.
"Wah gila ya, emang perusahaan Real Estate besar. Lihat aja tuh pilar-pilarnya, gede banget." Yola tak mampu menutupi kekagumannya.
"La biasa aja deh. Kantor kita juga bagus kok." Renatha menimpali seraya mencubit tangan Yola, padahal sendirinya juga sama.
Jessy tersenyum simpul melihat tingkah polah mereka.
__ADS_1
"Jess menurut kamu gimana? Setuju kan? Bangunannya kayak istana gak sih?" Yola kini mencari dukungan lain.
"Aku setuju sama Mbak Renatha sih La, Jayanegara Group juga gak kalah bagus." Ledek Jessy. Bukan mengunggulkan keluarganya. Ratusan Hotel Jayanegara di seluruh Indonesia punya keunikan mereka masing-masing.
Yola mendengus kesal karena tidak ada yang setuju dengannya. Mereka sedang menunggu pihak Royal Corp datang. Saat ini mereka berada di ruang rapat yang berukuran sedang dengan meja bundar di tengahnya. Staff dari Royal mengatakan jika pihak mereka akan terlambat karena ada rapat intern mendadak.
Tamu dari Jayanegara Group setia menunggu klien mereka dengan suguhan yang luar biasa. Hidangan bintang lima serta dimanjakan dengan ruangan yang mewah. Tampaknya disuruh menunggu seharian mereka juga betah.
Jessy bosan sehingga dia keluar untuk mencari udara segara. Diluar ruangan ada taman terbuka. Jessy meregangkan tubuhnya. Sangat melelahkan untuk menunggu. Menurutnya menunggu itu tidak membosankan hanya saja bikin ngantuk. Jessy hampir tertidur jika saja Yola tidak banyak bicara. Ceriwisnya Yola menghidupkan suasana yang suram disana. Menunggu tanpa kepastian.
Setelah cukup menghirup udara di luar, Jessy berjalan ke kamar mandi. Karena kurang fokus tubuhnya menabrak seseorang.
"Maaf saya tidak melihat." Jessy menunduk meminta maaf. Saat kakinya hendak melangkah, tiba-tiba dihentikan.
"Ibu Jessy?" Suara yang tak asing bagi Jessy. Jessy menoleh dan mata mereka bertemu.
"Pak Ari?" Jessy kenal dengan wajah itu.
"Iya bu benar. Ibu Jessy apa kabar?" Pak Ari segera menarik tangan Jessy. Laki-laki paruh baya itu tersenyum cerah melihat Jessy.
"Syukurlah, lama tak jumpa dengan Ibu. Ibu ada perlu apa disini?"
"Ada urusan pekerjaan Pak." Jawab Jessy canggung. Dia hanya tidak mengira jika dia akan bertemu Pak Ari disini. Terakhir mereka bertemu empat tahun lalu.
"Ibu bekerja disini?"
"Tidak Pak, ditempat lain." Jawab Jessy. "Panggil saya Jessy saja Pak, saya bukan majikan Pak Ari lagi. Saya jadi gak enak Pak." Lanjutnya.
"Sudah kebiasaan begini Ibu, mau bagaimana lagi." Pak Ari tersenyum canggung.
"Pak Ari kok bisa ada disini?" Setahu Jessy Pak Ari ada di Bali. Pak Ari adalah asisten pribadi CEO Royal Corp. Aneh saja bisa bertemu orang itu disini.
"Sama dengan Ibu, ada pekerjaan juga." Jawab Pak Ari ragu. Saat mulutnya hendak melanjutkan, Jessy memotongnya.
__ADS_1
"Kabar Dewi gimana Pak? Mbok Ina juga? Mereka baik?"
"Mereka baik Ibu, sekarang ada di Bali. Dewi bulan depan mau nikah. Ibu harus datang, Dewi pasti senang kalau Ibu bisa datang."
"Ah yang benar Pak? Akhirnya Dewi menemukan jodohnya ya Pak." Jessy tertawa tanpa sadar. "Mungkin akan sulit untuk datang Pak. Tapi aku ikut bahagia untuk Dewi. Salam buat Dewi dan Mbok Ina ya Pak." Pinta Jessy dengan tulus.
"Tentu saja Ibu. Akan saya sampaikan."
"Kalau gitu saya pamit ya Pak, saya masih ada urusan." Jessy tidak ingin memperpanjang obrolannya dengan Pak Ari. Dia segera pergi meninggalkan Pak Ari tanpa menoleh. Dia masuk ke kamar mandi dan segera menutup pintunya.
Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya gemetar hebat. Dia hanya ingin hidup tenang. Dari awal dia tidak ingin berhubungan dengan Royal Corp. Tapi kakaknya terus mendesaknya untuk profesional. Hari ini dia bertemu dengan orang yang tidak terduga. Orang yang pernah dekat sebelum jauh seperti sekarang.
Jessy ingin lari. Dia ingin bersembunyi. Denting alarm dikepalanya menyentak. Jessy tak mau mengingat kenangan pahitnya lima tahun lalu.
Wajahnya pucat dan matanya sayu. Jessy membasahi wajahnya kemudian merapikan rambut sebahunya. Dipotong dengan gaya bop dan rapi. Setelah menarik nafas dalam-dalam Jessy kembali ke ruang rapat. Ternyata rapat sudah dimulai. Pihak Royal Corp telah mengisi kursi kosong di hadapan tim dari Jayanegara Group.
"Jess darimana aja?"
"Maaf aku dari kamar mandi. Udah mulai ya?"
"Udah Jess, tadi ada sambutan sebentar."
"Terus ini nunggu apa La?"
"Gak tau nih, kayaknya nunggu persiapan presentasi."
Jessy dan Yola berbisik-bisik di kursi paling ujung. Anak buah harus cukup senang duduk di meja paling ujung dan paling jauh. Di depan sana duduk berjejer mereka yang punya jabatan lebih tinggi. Dekat dengan layar proyektor dan dekat dengan pimpinan.
Saat Jessy masuk dia tidak memperhatikan sekitar karena sadar diri jika dia terlambat. Dia menegakkan punggungnya kemudian menatap lurus ke depan. Sebuah pisau tertancap ke dadanya melalui tatapan orang yang duduk diujung depan sana. Mata mereka bertemu.
Jessy lupa caranya bernafas. Tubuhnya menegang dan reaksi aneh menyebar ke seluruh penjuru aliran darahnya. Orang yang sangat dia hindari selama ini, orang yang membuatnya menggigil hanya mendengar namanya, dan orang yang membuatnya selalu mimpi buruk setiap malam, kini menatapnya dengan bola mata yang sama seperti lima tahun lalu.
Kent Ozyl Putra Sadewa, mantan suami Jessy. Akhirnya mereka bertemu lagi.
__ADS_1
Sekuat apapun kita menahan, yang datang akan tetap datang. Sebanyak apapun kita mencoba, yang sudah pergi tak akan pernah kembali.
Jungkir Balik Dunia Jessy #4 Next...