Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #24


__ADS_3

Sofia bangun pagi seperti biasanya. Mandi dan berdandan dilayani sudah menjadi kebiasannya.


Lima hari.


Dia menghitung di kepalanya. Sudah lima hari dia tidak melihat Jordan setelah dia setuju untuk menikah dengannya. Dia tahu jika dia hanya akan menjadi istri di atas kertas, tapi apa tidak keterlaluan jika dia diabaikan begitu saja.


Perlakuan semua orang di kediaman Duke Hexalios memang tidak berubah, tapi Sofia merasa kesal dengan sendirinya. Dia tidak bisa melihat wajah Jordan sedikitpun.


Sofia bertanya kesana kemari. Jawaban semua orang sama, Duke sangat sibuk. Beberapa hari ini dia harus ke istana kekaisaran dan pulang larut malam.


"Hmmm."


Tanpa sadar Sofia menghela nafas kasar.


"Apa yang sedang anda pikirkan begitu dalam Nona?" Suara pelayan yang sangat familiar, Rona. Dia adalah pelayan setia Sofia.


Rona segara ditemukan oleh ksatria Hexalios di pelosok pasar. Dalam keadaan linglung dan kelaparan. Berkat petunjuk dari Ema, salah satu pelayan Sofia sebeluknya, Jordan segara mengerahkan pasukannya. Kini Rona dan Ema yang melayani Sofia, dibantu oleh pelayan Hexalios lainnya.


Sofia tersenyum atas pertanyaan Rona.


"Apakah hari inipun aku tidak bisa bertemu dengan Jordan? Ah maksudku Duke?"


"Ah maaf kami belum memberitahu anda Nona, Yang Mulai Duke pulang larut malam kemarin. Hari ini beliau mengatakan ingin makan siang bersama anda."


"Sungguh?"


Rona mengangguk diikuti oleh beberapa pelayan lain.


"Baik, persiapkan aku untuk makan siang nanti."


"Baik Nona."


Beberapa tangan segera menjadi sibuk, bahkan Sofia sendiri dibuat bingung dengan pergerakan mereka. Pelayan di kediaman Hexalios sangat terampil. Diasah oleh kemampuan bertahun-tahun melayani mantap Duchess, mereka tidak kehilangan sedikitpun keahliannya meskipun sudah sejak lama kediaman itu kehilangan nyonya rumah.


Kedatangan Sofia entah bagaimana disambut hangat. Semua pelayan Hexalios sejak sepuluh tahun yang lalu hanya melayani satu tuan, yaitu Duke muda Hexalios, Jordan. Tiba-tiba suatu hari tuan mereka membawa pulang seorang wanita.


Waspada tentu saja. Setelah beberapa hari memperhatikan, suasana yang awalnya tegang berubah begitu saja. Sofia seperti sinar matahari pagi yang mampu mencairkan bongkahan es.


Rumah suram dengan hanya satu orang laki-laki yang dilayani, dan itupun dengan kuantitas hitungan jari. Sang Duke lebih banyak menghabiskan waktunya diluar, berperang, inspeksi wilayah, berburu, hingga patroli perbatasan. Praktis mengakibatkan kelesuan diantara para pelayan.


Hanya kedatangan satu orang wanita, seolah komedi putar yang lampunya meredup karena tidak ada pelanggan, kini berputar lagi dengan lampu menyilaukan. Hanya satu orang.


Entitas yang diakui seluruh orang di rumah Hexalios, tak peduli apa latar belakangnya. Jika itu berhubungan dengan Duke, mereka bisa mengabaikan semuanya.


Dia adalah Sofia. Tapi Sofia sendiri tidak tahu jika banyak orang berharap padanya.


Pintu ruang makan terbuka. Meja oval panjang dengan kursi berderet terlihat. Makanan menyebar di meja. Jika hanya untuk dua orang, hidangan itu sungguh mewah.


Tatapan Sofia jatuh pada wajah Jordan yang tidak serasi dengan keindahan di sekitarnya. Entah kenapa wajah itu terlihat lelah dan kurang tidur.


"Duke..." Suara Sofia lirih.


"Kamu sudah datang Sofia, duduklah. Aku juga baru sampai." Jordan berdiri kemudian menarik kursi untuk Sofia.


Sofia duduk setelah merapikan gaunnya yang sedikit kusut.

__ADS_1


"Sulit melihat Duke selama ini."


Jordan yang baru saja duduk menegang. Pernyataan yang dilempar Sofia tepat sasaran. Tatapan matanya menyerempet mata dengan bulu matanya yang lentik, sedang memperhatikannya.


Sadar akan tatapan Jordan yang intens, Sofia buru-buru mengoreksi ucapannya.


"Duke pasti sibuk, maaf atas kelancangan saya."


"Sofia.." Suara Jordan rendah.


Sofia menunduk, malu akan perilaku impulsifnya. Sadar akan kesalahan karena kelancangannya. Jordan adalah bangsawan tinggi berpangkat Duke, tidak seharusnya dia memuntahkan ketidaksopanan. Sebenarnya kenapa? Sofia sendiri sedang mencari alasan atas ucapannya.


Apakah karena dia kesal atas ketidakhadiran Jordan setelah mengajaknya menikah? Tapi kenapa? Kenapa Sofia kesal dengan itu. Hatinya merasa kecewa karena Jordan menghilang begitu saja tanpa kabar. Tapi kenapa juga dia harus kesal? Jika dilihat lagi, dia bahkan menumpang di mansion Hexalios, wanita yang entah bagaimana dilindungi oleh sanga Duke. Bahkan dia adalah wanita kaisar yang melarikan diri.


Jika dia kesal pada perilaku Jordan, jelas dia salah. Siapa dia berhak marah atas Duke Hexalios yang tinggi. Meluruskan alasan kenapa dia harus marah mereda seketika. Bagaimanapun Sofia harus tahu tempatnya.


Posisi Duchess Hexalios bukanlah miliknya. Itu hanya sementara. Sampai dia aman dari Alex Elderbar, Sofia harus siap melepaskan posisi itu.


Tapi entah kenapa, ada rasa pahit diujung lidahnya.


Akhirnya dengan segala keberanian yang dia punya, Sofia mengangkat kepalanya kemudian menampilkan senyum paling cerah yang dia punya.


Dia bisa melihat tatapan Jordan yang tidak teralih padanya. Jantungnya terasa berdenyut. Sofia seperti meleleh hanya dengan dilihatnya.


"Maafkan aku."


Sofia tersentak.


"Aku pasti sangat sibuk, sehingga kamu menegurku."


'Ya?'


"Duke, maaf.."


"Jordan, kamu memanggilku begitu sebelumnya."


Sofia berkedip tanpa merespon.


"Aku memang sibuk akhir-akhir ini, maaf jika aku tidak datang menemuimu. Kamu pasti kesal."


Seperti bisa membaca pikirannya, Sofia segera memotong.


"Bukan seperti itu, tapi.."


"Sofia, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Itu karena Alex sialan itu, aku dikurung di istana siang dan malang dengan dokumen dan pertemuan yang tidak ada habisnya." Suara menggerutu Jordan menetas.


Suasana tegang segera mencair. Tubuh Sofia yang menegang juga mengikuti.


"Apa yang terjadi?" Sofia bertanya ragu-ragu.


"Aku berhasil." Senyum segera mewarnai wajah Jordan.


"Ya?"


"Aku mendapatkan dua dokumen kemarin."

__ADS_1


Tangan Jordan memberi isyarat. Kemudian salah satu pelayan membawa nampan berisi du gulungan dokumen.


"Selamat Sofia, kamu telah resmi bercerai dengan Alex."


Jordan mengambil salah satu gulungan dokumen dan menyerahkannya pada Sofia.


Tangan Sofia gemetar saat membuka dokumen tersebut. Dia bingung harus bagaimana, bingung harus bereaksi apa.


"Kemudian, selamat juga atas pernikahan kita."


Tubuh Sofia langsung tegang. Kepalanya yang menunduk untuk membaca dokumen perceraiannya dengan Alex kini terangkat. Tatapan terkunci dengan mata Jordan yang indah.


"Pernikahan ini bahkan telah disahkan oleh dewa."


Jordan membuka gulungan kemudian menunjukkannya pada Sofia. Beberapa baris kalimat dengan cap kekaisaran dan kuil.


Sofia tertegun.


"Karena inilah aku tidak bisa melihatmu berhari-hari. Tidakkah kamu bisa memberiku maaf karena aku membawa dua dokumen ini? Ya? Maafkan aku hmm? Aku juga tidak ingin siang-malam di istana. Aku ingin melihatmu setiap hari, makan bersama, membaca buku atau berbincang denganmu. Sofia, maafkan aku."


Sofia lebih terkejut dengan Jordan yang membujuknya untuk memaafkannya. Bukankah harusnya dia mendapat ucapan terima kasih atau pujian karena telah berusaha keras dengan semua ini. Di lubuk hati paling dalam Sofia berdenyut. Menyadari bahwa Jordan adalah laki-laki yang baik, sangat baik. Sehingga dia merasa kecil untuk berada disampingnya.


Apa-apaan ini.


Kondisi yang terbalik anehnya kikut untuk dia terima.


"Jordan kamu telah berusaha keras, terima kasih atas semuanya." Alih-alih memaafkan, Sofia memilih untuk berterima kasih.


Bibir Jordan cemberut.


"Jadi kamu tidak bisa memaafkanku."


Jika ada telinga di atas kepala Jordan, dua telinga itu pasti sudah terkulai karena sedih.


"Kenapa anda haru meminta maaf? Saya yang seharusnya meminta maaf karena membuat anda seperti ini."


"Aku juga salah."


"Duke tidak. Saya yang salah disini."


Atas gerakan Jordan yang tiba-tiba, mata Sofia terbelalak. Jordan mencondongkan tubuhnha, jarak antara mereka sangat tipis, sehingga dia bisa menghirup aroma tubuh Jordan samar. Bibir Jordan yang beberapa inchi darinya bergerak dengan cepat kemudian mencium bibirnya sekilas.


Mata Sofia membulat sempurna.


"Jordan. Aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku seperti itu."


Tubuh Jordan kembali duduk dengan tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa. Berbanding terbalik dengan Sofia yang duduk kaku. Otaknya sedang memproses apa yang sedang terjadi.


"Kita cukup sampai disini, aku harus menghadiri urusan penting. Sampai bertemu lagi Sofia."


Jordan bangkit kemudian segera menghilang dari ruang makan.


Ditinggal sendirian, Sofia menyentuh bibirnya dengan berbagai perasaan yang mendera.


'Apa.. apa yang sedang terjadi? Apa yang barusan Jordan lakukan? Apa-apaan ini, beraninya dia melarikan diri setelah membuatku kacau. Lalu, pembicaraan kita belum selesai, perceraian dan pernikahan, arrggghhh! Jordan!'

__ADS_1


Tubuh Sofia segera merosot. Tangannya menutup wajahnya yang diwarnai merah. Jantungnya berdebar kencang seperti hampir meledak.


The Empress Crown #25 Next...


__ADS_2