Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #23


__ADS_3

Suasana hening mencekik leher setiap orang. Kaisar telah duduk di singgasana, praktis mereka juga dipersilakan duduk di kursi masing-masing. Namun suasana menjadi canggung karena Alex tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tidak seperti biasanya ketika pertemuan ini diadakan.


"Sepertinya ada yang ingin Duke Hexalios sampaikan, mengingat orang yang tidak pernah hadir dalam pertemuan ini, kini hadir. Tanpa pemberitahuan dan melanggar hukuman sebagai tahanan rumah."


Ucapan dingin Alex sangat menusuk. Bahkan para bangsawan lain menundukkan kepala dan menutup mulut mereka.


Seperti menolak konfrontasi, Jordan menanggapinya dengan tersenyum tipis. Dia mengambil dokumen yang dibawa oleh Sir White.


"Sudah lama tidak bertemu Yang Mulia. Anda terlihat sehat sepertinya." Ucap Jordan seraya menyodorkan berkas kepada Alex.


Dahi Alex mengernyit, mulutnya hendak namun Jordan lebih dulu.


"Anda sedikit keterlaluan kepada orang yang pernah menghabiskan masa kecil bersama. Bukankah kita teman selain saudara? Bagaimana bisa anda mengatakan saya merencanakan pemberontakan dengan alasan yang tidak jelas? Jika itu maksud saya, sudah saya lakukan sejak lama, saya berada diposisi yang sangat mungkin bisa melakukannya. Apa sebenarnya yang ingin anda lakukan?"


Wajah Alex mengeras. Jordan tidak pernah berbasa-basi, bahkan di tempat umum seperti ini dia tidak kehilangan keberaniannya. Dia memang orang seperti itu, yang Alex kenal. Alex terkejut dengan sikap Jordan. Ucapannya tidak pernah terdengar marah seperti sekarang.


Kepala Alex berdenyut-denyut. Sambil menekan pelipisnya yang terasa sakit, Alex membuka mulutnya.


"Apa yang anda inginkan Duke?"


Sejak awal apa yang Alex lakukan memang tidak berdasar. Tidak ada yang menentang titahnya karena kekuasaanya. Karena Jordan tidak menanggapi, Alex semakin membabi buta.


Dibutakan oleh sikap kontra Sofia padanya, serta rencana-rencananya yang gagal, Alex menyalahkan Jordan dan Sofia. Dia marah. Kesal sekaligus.


Rasa marah yang dilampiaskan berlebihan, membuatnya mengeluarkan perintah tidak masuk akal. Puncaknya adalah hilangnya Sofia di Soltera. Kuat dugaan Alex jika Jordan ada dibalik ini.


Namun, Alex tidak bertindak keras seperti sebelumnya. Dia takut akan ada bawahannya yang curiga dan memandangnya tidak berwibawa.


Bagaimanapun, kehidupan Sofia di istana tidak boleh diketahui publik.


Jordan tersenyum tipis sebelum akhirnya menjawab.


"Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pendiri Elderbar, termasuk ayah saya sendiri, mendiang Duke Hexalios, saya mengajukan perubahan pada peraturan hukum Elderbar. Tidak semuanya. Hanya beberapa bagian yang menurut saya sudah tidak sesuai dengan kehidupan saat ini."


Suara riuh rendah segera terdengar. Para bangsawan mulai bereaksi. Beberapa dari mereka memandang Jordan dan Alex secara bergantian.


Selama Elderbar berdiri hingga saat ini, hukum Elderbar belum pernah diubah. Hukum itu dianggap mutlak karena dibuat oleh kaisar pertama Elderbar.


Ada yang setuju, tidak sedikit pula yang tidak setuju. Para bangsawan yang hadir terpecah menjadi dua. Pernyataan yang dilemparkan oleh Duke Jordan Hexalios mengundang minat banyak orang.


Mata Alex membulat mendengarnya. Meskipun Elderbar menerapkan monarki, kekaisaran ini menjamin hak setiap warganya. Termasuk hak berpendapat. Elderbar menjadi tempat yang aman ditinggali karena jaminan hak asasi manusianya.


Kaisar selaku pemegang kekuasaan tertinggi tidak bisa begitu saja menggunakan otoritasnya jika ada pendapat publik yang disampaikan. Dia akan menjadi arbitrator atau penengah.


***


Hanya ditinggalkan berdua, Jordan tetap duduk di kursinya sedangkan Alex bangkit dan mengambil tempat duduk diseberang Jordan. Secara praktis mereka berhadapan sekarang.


Alex mengusir semua bangsawan yang hadir. Kini ruangan menjadi sunyi.

__ADS_1


"Apa yang kamu coba lakukan Duke?"


Alih-alih, Jody, panggilannya seperti biasa, Alex menggunakan gelar kehormatan Jordan.


Seringan licik muncul di sudut bibir Jordan. Dia tidak mudah terpancing provokasi rendahan yang dilemparkan Alex.


"Saya akan menbantu menghapus hukum yang mengharuskan kaisar menikah dengan bangsawan. Tapi anda harus mengabulkan satu pemintaan saya. Saya akan membujuk para bangsawan, itu tidak sulit bagi saya, Yang Mulia."


Seperti melempar pisau kembali kepada pemiliknya, Jordan menanggapi sopan santun yang diberikan Alex sebelumnya.


Dahi Alex berkerut pada pernyataan Jordan. Sedikit mengejutkan. Dia mengatakan hal yang berusaha dia sendiri ubah bertahun-tahun lamanya.


"Lalu apa yang kamu inginkan?"


Alex mencoba mendengarkan Jordan sampai akhir.


"Sofia."


Jelas dan tampa keraguan sedikitpun.


"Aku tahu jika wanita itu saat ini ditempatmu."


Alex mengepalkan tinjunya. Urat di kepalan tangannya membengkak. Dia sudah menekan amarahnya sejak tadi. Hanya waktu yang bisa memastikan kapan itu akan meledak.


Karena status Jordan, dia tidak bisa sembarangan terlalu jauh. Kaisar Elderbar, Alex, takut pada opini publik.


Jika dia melemparkan suatu pendapat dan para bangsawan mengatakan "tidak", Alex akan menyerah dan cenderung mengikuti mereka. Dia hanya ingin dipandang baik oleh bawahannya.


Berbeda dengan Duke Jordan Hexalios. Dia seperti matahari yang menyinari sekelilingnya. Acuh tak acuh pada orang lain dan hanya memikirkan keinginannya saja. Tidak ada yang bisa menggerakan hatinya ataupun mengaturnya. Orang lainlah yang selalu mengikutinya.


"Ya sesuai dugaan Yang Mulia." Jordan mengangguk tanpa takut.


"Kamu bertindak terlalu jauh Duke."


"Mau bagaimana lagi, dia adalah orang yang ingin saya lindungi."


"Tidak masuk akal. Dia istriku kalau kamu tidak lupa."


"Istri yang tidak dipedulikan. Itu bukan istri namanya Yang Mulia. Anda mengisolasinya."


"Cukup! Apa yang kamu inginkan?"


"Anda ingin Lady Janetta diakui dan menjadi permaisuri bukan?"


Ada keheningan.


"Saya akan membantu. Tapi lepaskan Sofia, ceraikan dia dan izinkan aku menikahinya."


Pernikahan yang diakui oleh para dewa, juga diakui oleh pemerintah. Semua izin menikah mendapat persetujuan langsung dari kaisar.

__ADS_1


Bola mata Alex membulat sempurna. Ketidaktakutan Jordan membuatnya resah. Tentu saja itu bukan omong kosong belaka, melihat kesungguhan di sorot matanya. Alex menekan emosinya sekuat tenaga.


Ini seperti melakukan taruhan. Satu sisi dia ingin Janetta diakui, dilain sisi dia takut jika hal itu gagal. Posisinya sedang dipertaruhkan disini.


"Saya akan memastikan ini tidak gagal Yang Mulia, karena saya juga mempertaruhkan hidup saya disini."


Seolah mengerti apa yang ada dipikirannya, Alex membuka mulutnya.


"Jika itu gagal?"


"Saya tidak akan gagal."


"Duke sangat percaya diri ternyata."


"Inilah satu-satunya jalan Yang Mulia."


"Untuk siapa?"


"Melindungi Sofia."


Dahi Alex kembali berkerut. Dia tidak menduga wanita itu memberikan efek yang luar biasa pada Jordan. Dia yang Alex kenal sangat berbeda hari ini. Seseorang yang biasanya kurang ajar dan acuh tak acuh, peduli pada sesuatu. Hati Alex kesemutan. Inikah kekuatan cinta.


Tentu saja iya, tidak mungkin Jordan akan peduli pada orang yang tidak dia cintai. Alex sedikit kecewa sebenarnya. Kenapa harus wanita itu, yang berhubungan dengannya. Akan lebih mudah jika itu orang lain.


Alex juga iri pada keberanian Jordan. Dia tidak cukup berani memperjuangkan cintanya pada Janetta.


"Baiklah aku menerimanya. Saya percaya pada Duke."


Setelah memilah pikirannya. Alex akhirnya setuju dengan pendapat Jordan. Tidak ada salahnya mencoba. Alex juga akan ikut membantu.


"Terima kasih Yang Mulia. Kalau begitu saya pamit."


Jordan bangkit kemudian membungkuk pamit pada Alex.


"Tunggu! Jody!"


Pada panggilan yang tiba-tiba dibelakangnya, Jordan berhenti kemudian berbalik. Dia melihat Alex dengan wajah dingin.


"Apakah kamu sangat menyukainya? Maksudku wanita itu." Ucap Alex ragu-ragu.


"Dia punya nama Sofia."


"Ah iya Sofia. Apakah kamu sangat menyukainya?"


"Tentu saja."


Jordan menjawab sekilas kemudian berbalik dan pergi. Meninggalkan Alex dan wajah yang rumit.


The Empress Crown #24 Next...

__ADS_1


__ADS_2