Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Game of Hearts #12


__ADS_3

Meskipun rindu dan ingin bertemu, Seokyung menjalani harinya dengan normal. Selama empat bulan terakhir dia terbiasa tidur sendiri. Mengurus semuanya sendiri. Tanpa diminta semua staff membantunya dengan baik.


Seokyung berhenti menanyakan kabar Hwan pada para staff. Dia kembali menata hatinya yang kacau dengan tertatih. Seperti apa yang dikatakan Hwan dia memfokuskan dirinya pada kehamilannya. Melakukan apapun sendiri. Seokyung seolah bersiap untuk angkat kaki kapanpun dari rumah Hwan. Itulah Seokyung jika dilihat dari luar. Siapa yang tahu jika di dalam hatinya hancur berkeping-keping.


Setiap malam dia sering terjaga. Melihat tempat disampingnya yang kosong dan dia sendirian, Seokyung menangis. Hatinya hancur. Dia butuh Hwan, dia butuh sandaran.


Segala keperluan untuk persalinan sudah disiapkan dengan baik. Empat staff dan bibi pembantu dalam keadaan siaga. Ketika kontraksi dirasakan mereka sudah siap dengan segala keperluannya untuk ke rumah sakit. Seokyung sangat bersyukur ada mereka. Kesulitan selama hamil besar tidak begitu memberatkannya karena ada mereka.


Perjanjiannya dengan Sora hampir berakhir. Dia senang juga sedih. Rasa yang dicecap bersamaan. Senang dan tidak sabar akan melihat bayinya. Sedih karena dia harus segera meninggalkannya.


Kang Inhwan bukan miliknya sejak awal. Seokyung telah dibutakan akan rasa nyaman bersama Hwan. Merasa menjadi satu-satunya wanita yang diperhatikannya. Semuanya akan kembali ke tempatnya semula. Hwan adalah suami Sora. Dia salah karena menginginkan milik orang lain. Hubungan mereka sebatas perjanjian belaka bukan yang sesungguhnya.


Siapa yang menginginkan milik orang lain dialah yang akan menderita. Kasih tak sampai. Cinta yang tidak akan pernah dimiliki. Itulah Seokyung. Diakhir masa perjanjian ini dia banyak berpikir dan menata hatinya. Kelopak matanya basah. Dia harus bisa melupakan Kang Inhwan.


Hari sabtu pagi menjadi hari yang menegangkan. Seokyung dibawa ke rumah sakit setelah merasakan kontraksi yang pertama. Seperti sudah dipersiapkan, dokter Arthur Alexander sendirilah yang akan menangani persalian Seokyung. Ada beberapa dokter lain yang ikut bergabung dalam tim ini. Semua orang antusias, hanya satu orang, Kang Inhwan, yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya.


Lampu dinyalakan. Seokyung berbaring menatap lampu diatasnya dengan resah. Dia menunggu detik-detik rasa sakit yang amat sangat kembali terasa. Tidak ada yang menenangkannya. Seokyung menahannya sendiri. Dia tidak pernah membayangkan sebelumnya jika dia bisa sampai ke tahap ini. Beberapa jam lagi dia akan menjadi ibu. Seokyung mengabaikan perjanjiannya dengan Sora. Dia hanya ingin memikirkan bayinya. Mereka akan segera bertemu. Tiba-tiba wajah Hwan berkelebat dipikirannya. Seokyung menangis. Menangisi jalan hidupnya yang pelik.


Riwayat pemeriksaan kesehatannya selalu bagus jadi Seokyung bisa melahirkan normal. Tubuhnya seperti akan hancur ketika mengikuti instruksi dokter. Rasa sakitnya menyebar ke seluruh tubuhnya. Seokyung menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Tangannya memutih meremas sprei dengan kuat. Gelombang pertama datang dan suara tangis segera terdengar. Tubuh lemah Seokyung jatuh. Air matanya menetes.


Belum sempat dia menarik nafas lega gelombang kedua datang. Rasa sakit yang kedua lebih parah dari yang pertama. Seokyung seperti akan mati. Tubuhnya bergetar hebat. Dia hampir menyerah. Namun sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menggenggam tangannya, mengusap dahinya kemudian berbisik di telinganya.


"Maafkan aku, aku terlambat."


Suara tangis bayi kedua terdengar. Tubuh Seokyung jatuh lemas. Nafasnya kasar dan dia tidak mampu menggerakkan tubuhnya.


"Selamat Nyonya kedua bayi anda sehat. Perempuan yang pertama dan yang kedua adalah laki-laki."


Seokyung seperti mendapat kekuatan ajaib saat kedua bayinya diletakkan di atas dadanya yang terbuka. Keduanya menangis. Air mata Seokyung kembali tumpah. Dia tidak memeperhatikan sekitarnya. Bibirnya yang lemah bergerak.


"Ibu pasti akan menyayangi kalian. Tolong, tolong ingat ibu." Suaranya diakhir bergetar. Harusnya ini menjadi hari yang bahagia tapi bagi Seokyung ini adalah hari paling menyedihkan. Anaknya telah lahir. Itu artinya perjanjian telah selesai.


Kang Inhwan menjauh. Dia membiarkan Seokyung bersama dengan anaknya. Dia datang terlambat. Dia mengutuk dirinya sendiri. Dia pengecut. Mendengar ucapan Seokyung menyadarkan dirinya banyak hal. Dia bodoh. Laki-laki tidak berperasaan. Bagaimana bisa dia tega meninggalkan Seokyung yang sedang mengandung anaknya, berjuang sendiri dalam kesulitan. Dia memang laki-laki bodoh. Dia tidak mampu mengendalikan emosinya, dan itu menyakiti Seokyung. Hwan keluar dari ruang bersalin dengan kepala tertunduk.


Seokyung dipindahkan ke kamar inap dengan dua bayi disampingnya. Dia tidur setelah memberikan susu kepada mereka. Seokyung sendiri tidak sadar saat dia dipindahkan.


Suara tangisan bayi membangunkan Seokyung dari tidur panjangnya. Langit yang gelap kini terang benderang. Matanya berkabut. Sekuat tenaga Seokyung bangkit tapi tubuhnya sangat lemah. Alhasil dia hanya berhasil bersandar di kepala ranjang.

__ADS_1


"Hwan?" Matanya samar melihat punggung seseorang yang dia kenal.


"Dia membangunkanmu ya? Tidur lagi saja, aku akan mengurusnya." Jawab Hwan membelakangi Seokyung.


'Dasar laki-laki tidak bertanggungjawab. Kamu baru datang setelah aku berada diantara hidup dan mati? Dasar tidak berperasaan!' Kutuk Seokyung dalam hati.


Mata Seokyung menatap punggung Hwan. Dia menggunakan baju santai. Dia sedang menenangkan salah satu bayi mereka.


"Bisa berikan dia padaku? Sepertinya dia haus." Pinta Seokyung dengan suara terkendali.


"Biar aku yang mengurusnya." Jawan Hwan tanpa menoleh. Suaranya terdengar dingin.


"Apakah aku sudah tidak boleh menyentuh mereka Tuan Kang? Ini baru sehari. Tidak bolehkah aku memberinya air susuku untuk mereka? Aku akan menepati janjiku. Tapi biarkan aku memberikannya selama aku belum pergi." Kata-kata Seokyung spontan. Dia tidak ingin menahannya lagi. Dia ingin bebas dari kerumitan hatinya.


Hwan terkesiap dengan kata-kata Seokyung. Sontak saja dia berbalik. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis tercetak diwajah Seokyung.


"Aku, aku hanya tidak ingin mengganggumu."


"Tidak. Aku baik-baik saja. Tolong berikan dia padaku." Seokyung mengulurkan tangannya.


"Tapi aku masih belum bisa menggendongnya. Aku tidak tahu caranya."


Hwan mendorong tempat bayi beroda ke arah Seokyung. Si bayi laki-laki rupanya yang menangis. Seokyung sedikit menunduk dengan menaham rasa sakit kemudian mengambil tubuh kecil yang menangis.


"Sayang... ibu disini, apakah kamu haus?"


Seokyung segera membuka beberapa kancing bajunya kemudian meredam tangis bayinya. Tangannya mengelus rambutnya penuh kasih sayang. Dia tidak mempedulikan Hwan yang diam membatu tak jauh darinya. Tubuhnya terlalu lemah untuk menghadapai Hwan.


"Maafkan aku. Aku terlambat datang."


"Anda pasti sibuk. Saya baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir."


"Tapi tetap saja aku bersalah."


"Tidak. Anda tidak salah. Memang seharusnya begitu. Anda sudah mengambil keputusan yang tepat. Saya sudah berhasil melahirkan mereka. Jadi tolong tarik kembali kata-kata anda."


"Seokyung..." Suara Hwan berubah rendah.

__ADS_1


"Ya?"


"Apakah kamu marah padaku?"


Tatapan mereka saling mengunci. "Tidak. Saya tidak punya hak."


"Kamu jelas marah padaku."


"Saya tidak."


"Kamu kembali seperti Seokyung saat kita pertema kali bertemu."


Seokyung tersenyum tipis. "Memang sudah seharusnya saya begitu bukan Tuan Kang? Anda juga kembali seperti saat pertama kita bertemu. Anda menghilang dan menghindari saya."


"Aku tidak menghilang. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Ya saya mengerti. Maafkan saya jika saya mengganggu waktu orang sibuk."


Ruangan itu menjadi dingin. Terjadi perdebatan antara dua orang dewasa ditengah dua bayi yang sedang tidur nyenyak.


"Aku marah padamu saat itu."


"Ah ya, maafkan saya."


"Seharusnya kamu meminta maaf saat aku pergi waktu itu."


"Saya sudah mencegah anda tapi anda sudah terlanjur pergi. Maafkan atas ketidakpekaan saya."


"Kenapa jadi kamu yang terus meminta maaf?"


"Entahlah. Saya juga bingung. Tapi saya ada satu permohonan, jadi sebelum itu saya meminta maaf dulu."


Hwan diam tak menjawab.


"Saya mohon berikan waktu pada saya beberapa hari lagi untuk bersama mereka. Saya akan memintanya langsung pada Sora jika anda tidak berkenan. Saya ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama sebelum meninggalkan mereka." Suara Seokyung bergetar.


Raut wajah Hwan mengeras. Dahinya berkerut. "Tidak. Kamu tidak akan pergi kemanapun Seokyung." Jawab Hwan tegas.

__ADS_1


Game of Hearts #13 Next...


__ADS_2