
"Apa.. apa yang terjadi?"
Mansion Hexalios terguncang. Angin musim panas telah mengirimkan badai ke dalam rumah.
Para pelayan terkejut saat mendapat kabar jika Sofia pingsan dan mereka sedang dalam perjalanan pulang. Dokter dipanggil dan mereka telah baris di depan pintu untuk menyambut kedatangan tuan mereka.
Betapa terkejutnya mereka saat Jordan turun dengan tubuh Sofia di dalam pelukannya.
Telihat leher sebelah kiri Sofia melepuh dan berwarna merah. Pipi kiri yang bengkak dengan bekas merah besar. Tak sampai disitu ada goresan agak panjang disana dan mengeluarkan darah.
Tubuh semua orang menegang. Aura membunuh terlihat jelas di raut wajah Jordan. Suaranya dingin dan kasar.
"Dokter sudah tiba?"
"Sudah Yang Mulia, saat ini sedang menunggu di dalam."
"Bawa dia ke kamarku."
"Baik Yang Mulia."
Jordan meletakkan tubuh Sofia dengan penuh hati-hati di kasur. Dahinya mengernyit melihat penampilan berantakan Sofia. Dadanya bergemuruh dan nafasnya kasar.
Mereka baru saja berpisah sekitar tiga puluh menit tapi Sofia mendapat perlakuan buruk. Sepertinya pasangan kekaisaran itu punya bakat untuk menyakitinya.
Jordan menarik tali untuk memanggil para pelayan.
"Bantu aku untuk mengganti pakaian Sofia."
"Baik Yang Mulia."
Dokter masuk tepat setelah Jordan yang dibantu oleh para pelayan wanita mengganti pakaian Sofia. Semua orang menahan nafas. Tak terkecuali kepala pelayan yang berdiri paling depan.
Dia masih mengingat kondisi serupa beberapa bulan lalu saat Jordan membawa pulang Sofia dalam keadaan yang sama. Tidak sadarkan diri dan terlihat kacau.
"Panggil dokter yang kompeten untuk menyembuhkan luka bakar hingga tidak meninggalkan bekas. Jika perlu panggil penyembuh dari Kuil Elderbar."
"Baik Yang Mulia." Jawab kepala pelayan segera mengundurkan diri.
"Alfons!"
Kaki tangan Jordan mendekat. Dia muncul dari sudut yang tidak diketahui orang.
"Aku perlu kamu melaporkan apa yang terjadi saat pesta teh Sofia tadi. Hari ini. Tidak masalah jika harus menyuap para pelayan atau mulut para wanita disana."
Alfona mengangguk tanpa suara. Kehadirannya segera menghilang.
"Charlie White!"
__ADS_1
"Berikan perintah anda Yang Mulia."
Komandan ksatria Hexalios duduk berlutut dengan satu lututnya.
"Batalkan semua kegiatan hari ini. Tutup gerbang dan kerahkan para ksatria untuk menjaga mansion. Hexalios menolak semua audiensi dari luar."
"Baik Yang Mulia."
Para pelayan wanita dan seorang dokter yang tertinggal di kamar. Keheningan merayapi. Bahkan tak ada satupun yang berani membuat suara. Mereka bahkan takut bernafas seolah sekecil apapun gerakan akan menentukan hidupnya.
Suasana yang menyelimuti tuan mereka sangat buru. Hingga terlihat jelas bahwa dari ujung kepala hingga ujung kaki amarah menguar tak karuan.
"Lakukan yang terbaik. Aku percayakan dia padamu."
Jordan bangkit kemudian mundur. Memberikan ruang untuk dokter memeriksa Sofia.
Dia berjalan meninggalkan kamara kemudian berpindah ke ruang disebelah kamar, ruang kerjanya.
Jordan melonggarkan ikatan dasinya kemudian melepas jas yang dia kenakan. Dadanya terasa sangat sesak. Nafasnya naik tak beraturan. Dia seperti baru saja kembali dari kematian. Bayangan gelap segera melintasi.
Para laki-laki sedang membual tentang hasil tambang Elderbar baru-baru ini. Mutiara hitam secara mengejutkan ditemukan. Tambang yang biasanya menghasilkan berlian putih dan warna-warna lain, menunjukkan penemuan yang menakjubkan.
Berlian hitam.
Hal yang baru inilah membuat Elderbar menjadi tanah yang menjanjikan. Segera harus dibuat regulasi jual beli berlian ini.
Kembali terdengar teriakan dari para wanita diluar, kali ini lebih keras.
Tanpa menunggu informasi dari luar, Jordan melebarkan kakinya. Dia berlari ke arah pintu kiri. Para wanita berdiri dan berkerumun di satu tempat. Menjauhi meja. Sepanjang matanya mengedar, tidak ada Sofia. Jordan tak mempedulikan langkah kaki serempak yang terdengar di belakangnya. Jordan merangsak masuk, memecah kerumunan wanita.
Hatinya jatuh. Mata melihat tubuh Sofia yang meringkuk di lantai.
"Sudah kubilang tutup mulutmu!" Itulah terakhir yang Jordan dengar dengan jelas. Setelah itu telinganya tidak bisa memprises apapun.
Jordan berlari meraih tubuh Sofia yang basah kuyup dan gemetar. Mata wanita yang tiga puluh menit lalu penuh dengan senyuman kini berderai air mata dan tidak fokus.
Perbuatan macam apa ini. Siapa yang berani menyakiti wanitanya. Ibu dari bangsanya, Hexalios. Dia segera merengkuh tubuh rapuh itu kemudia memeluknya. Tubuhnya gemetar hebat. Bahkan Jordan bisa merasakan tangisannya yang pilu. Menyayat hatinya.
Dunianya semakin hancur saat wanita gemetar di pelukannya tak sadarkan diri. Dia berteriak.
"Sofia!"
Marah? Jelas. Tapi prioritas utamanya adalah Sofia. Dia tidak akan melepaskan siapapun yang berani menyentuh bahkan sehelai rambutnya.
Jordan mengambil secarik kertas kemudian menulis beberapa kalimat. Nama yang dituju adalah Alex Lux de Elderbar.
"Kenapa belum bangun?" Dahi Jordan mengernyit.
__ADS_1
Total ada empat orang yang saat ini mengelilingi Sofia. Dua dokter dan dua penyembuh dari kuil Elderbar, kecuali dokter semuanya adalah wanita.
Dokter yang baru saja tiba adalah dokter ahli luka bakar. Dibantu oleh dokter keluarga, dia mulai memeriksa luka bakar yang dialami Sofia di leher dan pundaknya. Luka akibat siraman teh panas itu terlihat merah dan panjang. Akibat gaun terbuka yang dia gunakan, air teh panas itu menyebabkan kerusakan parah.
Dua penyembuh dari kuil sedang berusaha memperbaiki luka dalam Sofia.
Tidak ada luka lain selain luka bakar, luka gores dan memar. Saat mendengarkan laporan dokter dan Alfons, darah Jordan mendidih.
"Duchess sedang mengobrol dengan para wanita, sepertinya obrolan itu menyinggung Permaisuri. Ketika Duchess berusaha meminta maaf, cangkir Permaisuri yang baru saja diganti dengan teh panas baru melayang ke arah Duchess. Kemudian Duchess berusaha berdiri namun lagi-lagi Permaisuri marah pada sikap Duchess yang dianggap kurang ajar. Tangannya terangkat kemudian menampar pipi Duchess. Luka gores di pipi didapat dari cincin yang Permaisuri kenakan. Itulah yang saya dapat daru menyuap pelayan Permaisuri." Alfons menutup laporannya. Giliran dokter yang menyampaikan hasil pemeriksaaannya.
"Luka di pipi Nyonya sudah ditangani Yang Mulia. Luka bakar di leher sepertinya sangat serius maka dari itu saya segera memanggil dokter ahli luka bakar. Nyonya sangat syok sehingga menyebabkan pingsan."
Jika itu syok, seharusnya saat ini dia sudah bangun. Sampai matahari terbenam, tidak ada tanda bangun. Wajah cemas Jordan retak. Amarah segera menyelimuti ruangan.
Semua orang yang menunggu Nyonya Hexalios bangun penuh harap dan doa menciut. Amarah tuan mereka tidak pernag main-main.
"Kebetulan apakah baru-baru ini Nyonya mengalami stres atau hal buruk yang membuatnya tertekan? Ini bisa jadi penyakit psikis."
Jordan tersentak. Mengingat kembali ucapan Sofia.
"Jordan saya bisa melihat masa depan dari mimpi."
Hatinya jatuh. Wajah Jordan seketika pias.
"Semua orang meninggalkan. Aku sendiri yang akan mengurus Sofia." Titah Jordan.
"Kaliam silahkan bisa kembali besok pagi untuk memeriksa kondisinya. Untuk saat ini cukup sampai disini."
"Baik Yang Mulia."
Semua orang mengundurkan diri. Setelah pintu tertutup, suasana menjadi hening dan ruangan menjadi kosong.
Jordan meraih kursi kemudian duduk di sebelah Sofia.
Tatapannya terpaku pada wajah pucat Sofia yang tenang. Dia seperti putri tidur.
"Sofia, apakah kamu sedang bermimpi sekarang? Kenapa belum bangun?" Jordan membelai pipi Sofia pelan. Tangannya meraih tangan Sofia kemudian menciumnya.
"Bangunlah. Apa yang kamu lihat dimimpimu kali ini? Aku khawatir. Tidak aku takut Sofia. Saat matamu tertutup seperti ini aku takut, aku takut kamu tidak akan bangun lagi Sofia." Suara Jordan serak.
"Sofia ayolah! Ayo bangun putri tidur. Jangan membuatku takut seperti ini. Aku tidak mau kehilangan kamu." Jordan kembali membelai pipi Sofia.
Pusat dunianya runtuh. Lalu dia harus bagaimana? Wanita yang keras kepala menutup matanya itu adalah alasan satu-satunya dia hidup. Jika dia tidak membuka matanya lagi selamanya tidak ada alasan juga untuknya hidup. Karena semua yang dia lakukan adalah untuknya.
Untuk pertama kalinya dia melakukan sesuatu dan menikmati hidupnya adalah karena ada dia disampingnya.
Dia mataharinya. Hidupnya. Segala-galanya.
__ADS_1
The Empress Crown #34 Next..