
Sepanjang malam Ares dan Theia saling mengungkapkan perasaan. Mereka bercerita, tertawa dan menangis bersama. Meratapi hari-hari perpisahan mereka. Ares menceritakan alasannya meninggalkan Theia kemudian kembali setelah tiga bulan lamanya. Theia juga menceritakan kesulitan hidupnya selama Ares pergi. Bagaimana takutnya dia yang merasa dikejar oleh Ares. Theia juga bercerita tentang rumahnya yang terbakar dan dia menganggap yang melakukannya adalah Ares padahal itu adalah ulah Duke West.
Ares mendengarkan dengan penuh antusias. Mereka saling berpelukan dan bergenggaman tangan. Sesekali Ares mencium tangan Theia. Sadar akan sesuatu yang hilang Ares mendongak.
"Theia cincinnya?" Ares bertanya tentang cincin pernikahan mereka. Bukan cincin yang besar tapi merupakan hal yang penting.
"Aku menjualnya." Jawab Theia dengan suara rendah.
"Tidak apa-apa, aku bisa memberikan gantinya. Jauh lebih baik dan lebih besar. Semua salahku, maafkan aku Theia." Ares kembali mencium tangan Theia. "Kamu adalah istri Duke sekarang, tidak ada yang tidak bisa kamu miliki." Tambahnya.
Theia berpikir sejenak kemudian menggeleng. "Bahkan aku bukan wanita bangsawan."
"Apa maksudmu?" Dahi Ares berkerut.
Sadar betul akan asal-usulnya. Hati Theia tenggelam. Dia adalah wanita rendahan dari daerah pinggiran kekaisaran. Tidak kaya bahkan tidak memiliki kekuatan apapun. Dia juga tidak cantik. Membayangkan berada disisi Ares yang seorang Duke membuat kepercayaan diri Theia jatuh. Dia tidak pantas untuk sang Duke. Meskipun seseorang mengandung anak bangsawan tingkat tinggi mereka tidak lantas disebut dengan istri. Banyak yang menjadi simpanan bahkan dianggap cucian kotor bagi keluarga bangsawan tinggi. Theia berada diposisi seperti itu.
Ares dan Theia memang belum menikah dihadapan umum. Tapi mereka telah membuat janji bersama yang menurut masyarakat umum sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka adalah suami istri. Namun kehidupan bangsawan berbeda dengan rakyat biasa. Para bangsawan butuh legitimasi untuk menunjukkan kekuasaan mereka. Mereka juga saling menikah dengan sesamanya, para bangsawan, untuk menyatukan kekuatan dua keluarga.
"Bangsawan biasanya menikah dengan para bangsawan bukan? Aku hanya rakyat biasa dan aku tidak pantas untukmu." Jelas Theia.
Ares melepaskan ciumannya kemudian menjauhkan tubuhnya untuk menyamakan pandangannya dengan Theia.
"Jangan berpikir macam-macam Theia. Aku bukan bangsawan biasa kau tahu."
"Tapi, pasti akan banyak rumor."
"Siapa yang berani? Mereka pasti tidak sayang nyawanya jika berani menentangku."
Mata Theia melebar mendengar ancaman pembunuhan secara terbuka yang dilemparkan oleh Ares.
"Kamu adalah istriku Theia, hanya kamu. Kamu adalah ibu dari anakku. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lainnya. Kamu jelas lebih unggul."
"Tapi kita bahkan tidak menikah secara resmi." Bantah Theia.
"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita. Besok atau lusa dokumennya pasti akan datang dari Ibukota."
__ADS_1
Theia terkesiap. Dia terkejut pada hal-hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Lihatlah kesungguhanku padamu Theia. Tolong percaya padaku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku." Wajah Ares mendekat kemudian dia mencium pipi Theia sekilas.
"Tapi aku..."
"Cukup Theia. Serahkan semuanya padaku. Tinggal ikuti saja aku. Tugasmu adalah menjaga anak kita dan terus berada disisiku." Ucap Ares seraya mengelus perut bulat Theia.
Matahari sudah tinggi saat Theia bangun. Semalam mereka tidur larut malam. Ares sudah pergi saat Theia bangun. Semalam Ares mengatakan padanya jika dia ada pertemuan penting dengan para bawahannya.
Theia mandi dan berganti baju dibantu oleh para pembantu. Awalnya dia canggung. Namun setelah kemarin dan hari ini Theia mulai terbiasa dilayani. Langit sangat cerah dan Theia ingin berjalan-jalan setelah makan pagi dan bertemu dokter. Dia meminta bantuan kepala pelayan Gion dan beberapa pelayan untuk menemaninya. Bagainamapun dia perlu mengenal tempat yang dia tinggali, mansion suaminya.
Theia tersipu malu sendiri saat membayangkan dia menjadi istri dari pria terkuat di kekaisaran. Theia muda bahkan tidak pernah memimpikan ini. Dia beruntung.
"Nyonya."
Theia terkesiap saat seseorang mendekatinya.
"Saya kepala pelayan, silahkan ikuti saya. Saya akan menemani Yang Mulia keliling mansion Osbern."
Gion mengangguk sebagai jawaban.
Theia masih belum terbiasa dengan panggilan barunya. Dia pasti terkejut saat seseorang memanggilnya 'Nyonya' atau 'Duchess'.
"Dimana Arei, ah maksudku Yang Mulia Duke?" Tanya Theia.
"Yang Mulia sedang ada pertemuan politik dengan para bawahan dia aula mansion Nyonya." Jawab kepala pelayan.
Theia mengangguk paham.
Kepala pelayan memandu tur singkat Theia keliling mansion. Secara garis besar kediaman Osbern terdiri dari tiga bangunan besar. Bangunan tengah adalah tempat tinggal Duke serta aula perjamuan. Sisi kiri adalah dapur, gudang dan tempat tinggal para pelayan. Sedangkan sisi kanan adalah tempat latihan, istal kuda, gudang senjata dan tempat tinggal para ksatria. Secara praktis tempat yang Theia tinggali ini berada ditengan-tengah. Bagunan utama tempat tinggal Duke memiliki halaman yang luas. Hamparan taman yang indah dengan bunga-bunga cantik bermekaran.
Theia takjub dengan banyaknya bunga. Dia jarang melihat bunga. Bunga yang berwarna-warni dan indah dianggap benda mahal. Karena bunga di kekaisaran dianggap simbol keindahan, hanya bangsawan yang bisa menanamnya. Rakyat biasa hanya mengenal satu atau dua jenis bunga saja kadang-kadang.
Melihat keindahan taman Theia tersihir. Matanya berbinar-binar. Dia berjalan mendekat. Tercium bau bunga-bunga karena angin yang menerpanya.
__ADS_1
"Bolehkah aku memetiknya?" Tanya Theia pada kepala pelayan.
"Tentu saja." Kepala pelayan menunduk kemudian memerintahkan pelayan untuk memanggil tukang kebuk.
"Bunga apa yang disukai Duke?" Theia ingin merangkai bunga untuk Ares.
"Yang Mulia..." Kepala pelayan tergagap. Dia sendiri tidak tahu Duke menyukai bunga atau tidak. Melihat kepribadiannya yang gelap mungkin saja Ares tidak.
Theia menunggu jawaban kepala pelayan. Tapi melihat perubahan wajah kepala pelayan, Theia segera sadar akan pertanyaannya. Para pria mungkin tidak tahu menahu soal bunga. Jadi jika seseorang ditanya bunga apa yang disukai mereka bingung Tidak seperti perempuan yang menyukai keindahan, termasuk bunga.
Theia menyalahkan ketidakbijaksanaannya. Dia segera menepisnya kemudian kembali memfokuskan perhatiannya pada bunga. Bibirnya membentuk senyuman.
"Nyonya berada di dekat sini." Ucap Rolex berbisik pada Ares.
Alis Ares terangkat. "Apa yang dia lakukan?" Tanya Ares dengan suara lirih.
"Sedang memetik bungan dengan para pelayan." Jawab Ares.
'Berarti dia ada di sekitar aula.' Pikir Ares.
Taman di sekitar aula pertemuan adalah taman yang paling besar. Taman itu sengaja dibuat untuk menunjukkannya pada orang luar yang datang berkunjung. Ares tidak menyangka Theia akan sampai sana. Jika keluar dari pintu aula kemudian berbelok ke kanan Ares langsung sampai di taman.
Aula pertemuan sebagian besar berdinding kaca di sisi kanan dan kiri. Lagi-lagi sengaja dibuat untuk memamerkan taman yang indah. Taman itu dibuat oleh mendiang Duchess, ibu Ares. Jadi jika tirai sisi kanan dibuka Ares bisa langsung melihat Theia.
"Buka satu tirai sisi kanan." Titah Ares.
"Baik Yang Mulia."
Segera Rolex berlalu ke sayap kanan aula untuk membuka tirai yang palint ujung dekat dengan tempat duduk Ares yang berada di tengah-tengah meja oval yang panjang. Suara riuh rendah para bawahan tak mengganggu Ares. Matanya menatap tajam Theia yang sedang dikelilingi oleh para pelayan.
Tatapan Ares berubah tajam saat melihat Theia tertawa dan tampak sangat bahagia. Dia terlihat mengobrol dengan para pelayan. Ditangannya penuh dengan bunga berbagai warna. Tak jauh dari Theia berdiri kepala pelayan dan tukang kebun yang masing-masing memegang gunting besar. Rasa cemburu Ares naik ke permukaan.
Dengan mata kepalanya sendiri Ares melihat Theia tersenyum pada orang lain. Ares juga melihat para pelayan terpesona dengan Theia, tanpa kecuali kepala pelayan dan tukang kebun yang keduanya adalah laki-laki.
Kursi berderit saat Ares bangkit. Dia berjalan tergesa-gesa ke arah pintu mengabaikan para bawahannya yang sedang dalam diskusi serius. Ada wajah bingung dimana-dimana. Mereka hanya mampu menatap punggung Duke hingga menghilang sepenuhnya di balik pintu.
__ADS_1
More Than Love, This Is Destiny #12 Next..