Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #14


__ADS_3

"Apa maksudmu?"


"Aku ingin kamu segera membebaskan Sofia."


Alex menyilangkan tangannya ke dada.


"Jadi maksudmu, Sofia yang kamu cari adalah anak perempuan Baron Barell yang aku nikahi beberapa bulan lalu. Saat ini kamu berusaha untuk membebaskannya segera?"


"Betul."


Dahi Alex berkerut.


"Untuk saat ini aku tidak bisa Jody."


"Kenapa? Sofia mengatakan jika kamu sudah berjanji untuk membebaskannya. Aku ingin tahu kapan pastinya kamu menepati janjimu?"


"Entahlah." Alex menggeleng cepat.


"Jangan bilang kamu mau terus mengikatnya hingga Janetta melahirkan pangeran?" Suara Jordan menajam.


Alex tertohok. Sejak awal memang seperti itu rencananya. Tapi itu hanya ada dipikiran Alex dan dia belum memberitahu siapapun.


"Sejak awal memang itu adalah tugasnya. Hukum yang mutlak itu sangat menjengkelkan." Alex mengusak rambutnya. Nafasnya tersengal.


"Jangan sentuh Sofia." Mata Jordan menyipit seperti elang yang menangkap mangsanya. "Aku tidak masalah jika kamu menahannya lebih lama di istana Lux. Tapi aku tidak akan tinggal diam jika kamu menyentuhnya barang sedikitpun." Jordan serius. Dia tahu apa yang akan Alex lakukan jika Janetta tidak melahirkan pangeran.


"Jody, apa kamu sadar apa yang kamu katakan?"


"Ya. Aku sedang tidak mabuk atau bercanda."


Alex terdiam.


"Aku yakin kamu punya banyak rencana. Jika Janetta gagal melahirkan pangeran, kamu akan membuat Sofia melahirkannya bukan? Kamu sangat picik dalam politik seperti ini Lux."


"Jody!" Suara Alex menyentak. Dia seperti tertangkap basah atas kesalahan yang belum dia lakukan.


"Kenapa? Kamu marah? Bukankah itu kenyataannya? Aku bisa membaca rencanamu Lux. Jangan lupa jika aku sudah terbiasa hidup di medan perang. Kepekaan adalah modal utama bertahan hidup."


"Jangan mengguruiku."


"Tidak. Aku hanya memperingkatkanmu agar tidak menyentuh Sofia." Suara Jordan tidak bergetar.


Tenggorokan Alex tercekat. Menghadapi Jordan memang selalu sulit. Tapi hari ini sikap Jordan diluar ekspektasi Alex. Matanya memancarkan kesungguhan dan ancaman. Seperti tidak takut pada apapun.


"Aku sudah mengambil banyak waktu orang sibuk. Aku undur diri." Jordan bangkit kemudian pergi begitu saja meninggalkan Alex.


Setelah menendang badai ke ruang kerja kaisar, Jordan sering mengunjungi istana. Bukan untuk bertemu Lux ataupun tempat latihan ksatria, tapi untuk Sofia. Jordan secara berkala berkunjung ke istana Sofia.


Hal itu yang membuat Sofia canggung pada awalnya. Tapi lama-kelamaan Sofia menjadi akrab dengan teman barunya. Apapun yang dia lakukan dengan Jordan sangat menyenangkan.


"Jordan!"


Sofia terkesiap saat melihat Jordan berdiri seperti menunggunya di halaman depan.


"Oh Sofia. Selamat pagi."


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Kemarin Jordan datang dengan membawa banyak barang untuknya. Kemudian mereka mencari bunga untuk dikeringkan. Biasanya dia akan datang dua atau tiga hari sekali. Hanya untuk sekedar ngobrol atau minum teh. Jordan juga sering membawa makanan ringan. Salah satunya bahkan favoritnya Sofia, kue coklat.


Dan hari ini dia datang lagi. Mata Sofia terbelalak. Meskipun sekitarnya sepi dari perhatian orang tapi jika rumor menyebarkan itu akan menyulitkan Jordan.


"Sofia, aku membawa sesuatu."


Mata Sofia menyipit saat Sir White, ajudan Jordan mendekat dengan menuntun seekor kuda putih.

__ADS_1


Sofia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kuda itu sangat cantik. Rambut kuda yang seperti surai sangat panjang. Warna putihnya seperti cahaya bulan purnama. Sofia tidak menyangka akan melihat kuda yang sangat cantik itu.


"Aku pernah bilang akan mengajarimu berkuda."


Sofia mengangguk dengan mata berkilat penuh antusias.


"Ayo." Jordan mengulurkan tangannya.


Sofia ragu untuk mendekat.


"Sofia." Jordan menarik tangan Sofia.


"Cantik sekali." Sofia mengagumi kuda putih tersebut dari dekat. Kuda yang sangat tenang dan tampaknya penurut.


"Kuda ini milikmu Sofia."


"Ya?"


"Aku memberikannya padamu."


"Hah? Sungguh?"


Refleks Sofia mengelus rambut putih kuda yang menjuntai. Sangat halus.


"Dia belum punya nama. Kuda ini betina. Kalian bisa menjadi sahabat. Aku mengambilnya dari Kekaisaran Hellas yang terkenal dengan kualitas hewan peliharaannya."


Sofia mengangguk. Dia pernah membaca buku tentang Kekaisaran Hellas. Wilayah kekaisaran yang ada diseberang lautan.


"Aku bersusah payah untuk membawanya kemarin Sofia."


Mata Sofia berbinar saat menatap cantiknya kuda putih di depannya.


Mengkhianati keinginan Jordan yang ingin dipuji oleh Sofia. Wanita itu malah sibuk mengagumi objek lain. Jordan kesal dan bibirnya mengkerucut. Ingin rasanya merampas semua perhatian Sofia hanya untuknya.


"Sofia. Kamu tidak berterima kasih padaku?"


Kuda bagus seperti itu harusnya berada di istal. Segala kebutuhannya pasti terpenuhi.


"Aku yang akan mengurusnya. Bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan sebentar naik kuda?"


"Tapi aku belum bisa, kyaaa!" Sofia menjerit kaget saat kakinya kehilangan pijakan.


Jordan dengan mudahnya mengangkat tubuhnya ke atas kuda. Tangan Sofia berpegangan pada pelana kuda dengan erat. Kemudia dia melompat dan duduk dibelakang Sofia.


Tubuh Sofia terkesiap. Dada Jordan menempel erat di punggungnya. Perasaan aneh berdesir.


"Aku akan jalan-jalan sebentar. Tidak perlu diikuti." Titah Jordan.


"Baik Yang Mulia." Sir White mengangguk.


Jordan menarik kendali kuda kemudian mengepakkan kakinya. Kuda itu bergerak. Berlari mengikuti instruksi Jordan.


"Jordan pelan! Saya takut. Jordan!" Sofia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tubuhnya yang terguncang.


"Luruskan badanmu ke depan Sofia. Aku akan memegangimu agar tidak jatuh." Jordan melingkarkan salah satu tangannya ke perut Sofia. Menarik tubuh Sofia semakin dekat dengannya.


Mereka sampai di danau dekat hutan berburu. Langkah kaki kuda melambat. Sofia menyapukan pandangannya ke segala arah. Sudah lama sekali sejak terakhir kali di kesini. Setelah kecelakaan yang menimpa Alex, Sofia tidak mendekati hutan lagi.


"Wah... indah sekali."


"Iya indah sekali."


Mereka berdua terhanyut dalam keindahan langit pagi yang cerah. Danau menjadi tenang dan anginnya sepoi-sepoi.


Sofia menutup matanya kemudian menghirup udara bersih sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Sofia, kamu belum memberi nama kuda ini."


Jordan turun lebih dulu kemudian membantu Sofia turun. Jordan menuntun kuda ke pohon terdekat kemudian mengikatnya.


Sofia mengikuti Jordan dari belakang.


"Ada usul?"


"Ini milikmu Sofia, kamu bebas memberinya nama."


"Stella." Sofia bergumam.


"Aku setuju."


"Saya hanya spontan. Mungkin Jordan punya nama lebih baik."


"Aku tidak. Apapun itu aku suka."


"Haisss, dasar. Selalu seperti itu."


Sofia memukul lengan Jordan.


"Ah sakit!"


"Jangan pura-pura." Mata Sofia menyipit.


Tawa meledak dari mereka berdua. Seperti inilah jika mereka bersama. Jordan selalu membuat hati Sofia lebih baik. Sulitnya hidup di istana sejenak terlupakan.


Jordan punya banyak cara untuk membuat Sofia tersenyum. Dengan tingkah konyol dan segala macam cerita lucu.


Sofia dan Jordan duduk di rerumputan dekat pohon untuk mengikat kuda. Mereka melihat tempat yang sama, yaitu danau dengan airnya yang tenang.


"Jordan!"


Tiba-tiba Jordan mengejutkan Sofia. Jordan menundukkan badannya kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Sofia.


"Hari aku sedang sedih Sofia. Kamu harus menghiburku. Karena kamu adalah temanku." Suara Jordan berubah.


Jordan yang beberapa saat lalu terlihat ceria kini mendesah. Pundaknya melemah. Sofia bisa melihatnya dari atas. Pandangan mereka saling mengunci.


"Apakah sesuatu terjadi?"


Jordan mengangguk.


"Hari ini adalah peringatan kematian orang tuaku."


Sofia terdiam. Tangannya mengelus rambut Jordan yang berantakan.


"Seharusnya sekarang ada upacara bukan? Kenapa Jordan malah kemari."


"Aku tidak pernah melakukannya."


Wajah Jordan menjadi murung. Hati Sofia tercubit. Jordan yang selalu berapi-api di depannya kini meredup. Semua sinar di wajahnya menghilang. Kematian orang tuanya pasti membuatnya bersedih.


"Saya akan menghibur Jordan. Jordan mau saya bagaimana?"


"Aku mengantuk Sofia. Semalam aku tidak bisa tidur dan aku pagi-pagi sekali sudah menunggumu di luar istana."


"Jordan bisa tidur sebentar. Saya akan menjaga Jordan."


Sofia mengelus dahi, pipi kemudian rambut Jordan. Dia melihat mata Jordan yang berangsur tertutup. Nafas Jordan menjadi lambat dan teratur. Angir sepoi-sepoi menerpa rambut Jordan.


Sofia mengamati wajah tidur Jordan yang ternang. Entah kenapa jantungnya berdebar kencang. Peradaan asing menjalari tubuhnya.


"Selamat tidur Jordan." Sofia berbisik pelan ke telinga Jordan.

__ADS_1


Dari kejauhan, tanpa disadari Sofia, sepasang mata yang duduk di atas kuda hitam gagah sedang mengawasi mereka.


The Empress Crown #15 Next...


__ADS_2