
Side Story Janetta Elderbar
Dia adalah wanita biasa yang lahir dari ayah dan ibu rakyat jelata. Maka dari itu dia tidak memiliki nama keluarga yang bisa dibanggakan seperti para bangsawan lainnya.
Janetta. Hanya satu suku kata.
Sejak kecil dia sudah mencolok dibandingkan anak lain. Perawakannya tinggi dan tubuhnya kurus. Sangat proporsional dengan kulit bersih. Rambut merah pucat dan mata hitamnya sangat menarik.
Dia hanyalah anak seorang petani yang tinggal di ujung ibukota dekat dengan Hutan Hwolij, hutan milik Kekaisaran yang sering digunakan untuk kegiatan besar.
Janetta besar dilingkungan yang paham betul tentang tumbuh-tumbuhan. Diusianya yang masih lima belas tahun, dia bisa menemukan Gingseng Hitam yang langka. Seperti tidak takut akan binatang buas, anak perempuan ini nekat masuk ke dalam hutan kemudian menggali tanah di sekitarnya.
Hutan adalah laboratorium alamai miliknya. Dia keluar masuk hutan seperti hal itu adalah kebiasaan sehari-harinya. Seperti Hutan Hwolij yang sangat besar adalah miliknya.
Jika sedang tidak mencari tanaman obat, Janetta sering memanen Jamur Hutan yang tumbuh di batang pohon atau semak-semak di bagian terdalam hutan.
Wanita muda yang hampir mengijak usia sembilas belas tahun itu pertama kalinya bertemu manusia di dalam hutan.
Seorang laki-laki mengendarai kuda dengan panah di pundaknya terkejut menatapnya yang sedang berjongkok mengumpulkan Jamur Hutan.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Laki-laki itu turun dari kuda kemudian berjalan mendekatinya.
Karena terkejut untuk pertama kalinya bertemu dengan manusia lain di dalam hutan, Janetta dia seribu bahasa.
"Kamu tinggal disekitar sini?" Tanya laki-laki itu lagi dengan suara mendesak.
"Siapa anda?" Suara Janetta gagap.
Laki-laki itu mengerutkan dahinya.
"Aku?"
Janetta mengangguk.
"Kamu tidak pernah melihat wajahku? Di suatu tempat mungkin?"
Janetta menggeleng cepat. Dia jarang berinteraksi dengan orang lain kecuali keluarganya.
"Aku pemilik tempat ini."
"Apa?" Mata Janetta terbelalak. Hutan ini adalah hutan Kekaisaran Elderbar. Tidak mungkin dimiliki oleh seseorang secara pribadi.
"Siapa namamu?"
Janetta mundur selangkah. Tangan laki-laki itu tiba-tiba terulur padanya. Mata Janetta menatapnya.
"Apakah kamu tinggal disekitar sini?"
Janetta mengangguk.
"Aku Alex, siapa namamu?"
Janetta sedikit ragu sebelum membuka suaranya.
"Janetta."
__ADS_1
"Ah Janetta, apa yang sedang kamu lakukan?" Alex menunjuk tas kulit yang dipegang oleh Janetta.
"Aku mencari Jamur Hutan disini." Jawabnya dengan sedikit mendunduk.
Janetta malu. Tangannya kotor oleh tangan dan penampilannya sedikit berantakan akibat mencari di semak-semak.
"Janetta senang berkenalan denganmu. Aku sering berburu disini, bisakah kita bertemu lain kali saat aku kemari lagi?"
"Ya?"
"Satu minggu lagi aku akan kemari, jadi temui aku di tempat ini satu minggu lagi." Ucap Alex dengan langkah kaki melebar. Dia menarik tali kudanya kemudian naik dengan satu gerakan.
"Sampai bertemu lagi Janetta!" Teriaknya dengan suara yang menggema di Hutan Hwolij.
Janetta yang ditinggalkan sendiri terbengong. Pikirannya sangat lambat untuk memproses. Meskipun demikian dia tidak lupa dengan janji Alex. Satu minggu kemudian mereka bertemu. Secara rutin ketika Alex ke Hutan Hwolij, hingga akhirnya mereka saling mengungkapkan perasaan.
Setelah itu Alex secara mengejutkan membuka dirinya. Menceritakan siapa dirinya dan meminta Janetta untuk pergi dengannya ke istana. Menjadi permaisurinya. Janetta yang pertama kali mengenal kasih sayang mejadi haus akan perhatian Janetta. Tanpa dia tahu bahwa Istana Elderbar menolaknya.
Dia harus bersembunyi. Dia menjadi bayangan orang lain. Dilecehkan hingga diasingkan. Rasa bencinya meruncing saat mendengar kabar jika Alex, akan menikah dengan orang lain. Meskipun Alex telah berjanji untuk menjadikannya permaisuri, rasa tidak sukanya dia lampiaskan kepada wanita itu secara membabi buta.
Meskipun tidak dia lontarkan secara langsung. Setiap hari Janetta mengutuk nama Sofia di dalam hatinya. Meskipun wanita itu akhirnya diusir dari istana, hatinya tetap tidak tenang. Dia bersama dengan Duke Hexalios, yang tak lain adalah saudara Alex. Berita pernikahan mereka semakin menyulut api kebencian yang membara. Dia mengenal Jordan Hexalios, mereka berteman baik. Dia tidak rela orang-orang yang yang dia kenal dekat dengan wanita itu.
Hingga suatu malam dia bermimpi. Mimpi yang sangat aneh. Mimpi panjang yang membuatnya basah kuyup oleh keringat. Mimpi di malam sebelum dia dinobatkan sebagai Permaisuri Elderbar.
Di mimpi tersebut dia melihat peristiwa yang berlum pernah terjadi. Dia melihat Sofia, wanita yang sangat dia benci.
Sofia melahirkan seorang anak laki-laki. Anak Sofia dengan Alex. Dia sendiri memiliki anak, namun anak tersebut adalah perempuan. Untung saja anak keduanya adalah laki-laki. Karena lahir lebih lambat, anak Sofia yang dijadikan Putra Mahkota. Janetta marah besar. Dia mencari cara agar anaknya yang menjadi putra mahkota.
Dia membuat skenario buruk untuk mencelakai Felix, anak Sofia. Dia menuduh Felix meracuni teh milik Leonil anaknya. Alex yang berpihak padanya menjadi gelap mata setelah terbakar hasutan. Felix dijatuhi hukuman mati oleh Alex sendiri.
Melihat wanita yang sangat dia benci terguncang, Janetta bahagia bukan kepalang. Akhirnya dia berhasil menyingkirkan kerikil yang menghalangi hubungannya dengan Alex. Wanita itu diusir dari Istana Elderbar karena dicap sebagai ibu pembunuh.
Kini cita-citanya selangkah lagi menuju keberhasilan.
Namun, di malam setelah Felix dikuburkan di tanah, Leonil medatangani dengan wajah penuh air mata.
"Aku benci ibu. Teganya ibu membunuh saudara Felix!"
"Leonil apa maksudmu?"
"Aku tahu semuanya, Ibu adalah orang yang membunuh saudara Felix. Aku sangat berdosa menjadi anak ibu. Bagaimana bisa ibu begitu kejam?"
"Leonil semuanya ini demi dirimu."
"Tidak. Itu hanya demi ibu!"
"Jika Dewa memang ada, aku ingin mengatakan jika aku tidak mau menjadi anak ibu!"
"Leonil apa yang kamu katakan?"
"Saya yang akan menanggung dosa ibu seumur hidupku! Aku juga tidak akan pernah memaafkan ibu!"
Janetta bangun dengan kepala yang sakit luar biasa. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Dadanya sesak dan terasa nyeri.
Otaknya masih memproses apa yang terjadi. Segalanya terasa nyata, bahkan orangnya juga sama. Kejadian yang terjadi juga hampir sama. Dia bersama dengan Alex, dia juga membenci Sofia. Namun ada beberapa hal yang berbeda. Saat ini Sofia telah keluar dari istana dan bersama dengan Jordan. Di mimpinya, wanita itu bertahan di istana hingga melahirkan anaknya.
__ADS_1
'Apakah itu gambaran masa depannya?' Janetta mengerang pada sakit kepala yang menghantam.
Sepanjang hari Janetta gelisah sembari menahan sakit kepala dan ingatakan di mimpinya yang enggan pergi. Tubuhnya gemetar karena tidak bisa menahan rasa sakit yang menyiksa hingga puncaknya, dia melihat wanita yang sangat dia benci, Sofia.
Berdiri dengan bangganya di samping Jordan. Kehadirannya mencuri perhatian publik yang harusnya diarahkan padanya. Dia adalah tokoh utama hari ini. Tapi kenapa bukan dia yang mendapat antusiasme. Amarah Janetta terbakar.
Sakit kepala yang menusuk-nusuk ditambah rasa isi karena kurang mendapat perhatian akhirnya tak terbendung lagi. Janetta meluapkan perasaan tidak sukanya pada Sofia.
Tanpa dia sadari, hal itu menjadi dua mata pisau baginya.
Dia bergidik ngeri pada amarah Jordan padanya. Ditambah dengan Alex yang selalu memihaknya kini ikut mengasingkannya. Janetta jatuh ke dalam lubang hitam yang dia buat sendiri.
Janetta kembali ke titik awal hidupnya, menyendiri. Namun kali ini bukan karena keadaannya tapi dia diisolosi oleh sekitarnya. Dia setiap hari mendengar kata-kata kasar dari para bangsawan yang dilontarkan secara terbuka. Dia tidak bisa melakukan apapun, dia tidak punya kekuatan.
Ketika tawaran untuk memperbaiki hubungan dengan wanita itu untuk memulihkan citra publiknya, Janetta enggan. Dia tidak akan sudi meminta maaf pada wanita seperti dia.
Dia terus bertahan untuk tegar hingga dunianya perlahan hancur. Dia mendengar Sofia melahirkan dua bayi laki-laki yang diberi nama Felix dan Leonil. Meskipun dia sendiri juga sedang mengandung, dia terpuruk mendengar kabar tersebut.
"Aku benci ibu! Aku tidak akan pernah memaafkan ibu!" Suara teriakan Leonil dimimpinya terngiang.
Tubuh Janetta runtuh.
"Dasar pencuri! Dasar wanita jaang! Kamu memang pencuri sejak awal!" Janetta mengutuk Sofia dalam teriakannya.
Janetta tahu anak yang ada dikandungannya adalah perempuan. Dia bertahan karena tahu jika anak keduanya nanti adalah laki-laki. Namun anak laki-laki kini berada digenggaman Sofia. Dia kalut. Hidupnya menjadi rumit.
Suatu hari, sebuah surat datang beserta bouquet bunga daisy. Dari segel surat saja dia sudah tahu, milik keluarga Hexalios.
Tangan Janetta bergetar membuka surat itu. Isinya tidak begitu panjang hanya dua paragraf saja. Tubuhnya langsung menegang membaca nama yang tertulis.
Dari Sofia Hexalios.
Salam kepada Yang Mulia Permaisuri, semoga karunia Dewa Elderbar terus tercurah pada anda.
Sofia Hexalios mengucap salam.
Saya mendengar jika yang mulia sedang mengandung. Saya ucapkan selamat Yang Mulia. Kehamilan itu memang sulit, namun hal ini juga merupakan berkas sebagai wanita. Yang Mulia ada yang ingin saya ceritakan.
Saya pernah bermimpi. Dimimpi tersebut saya juga melihat Yang Mulia. Saya berharap Yang Mulia akan menyayangi anak itu. Setiap anak tidak bisa memilih orang tuanya. Dia juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Semoga Yang Mulia tidak memikirkan banyak hal dan hanya fokus padanya. Laki-laki atau perempuan, anak itu berhak untuk bahagia.
Semoga Dewa Elderbar selalu melindungi Yang Mulia.
Air mata Janetta tumpah. Kenyataan bahwa Sofia juga memiliki mimpi yang sama mengguncangnnya. Dunia yang berusaha dia tegakkan hancur seketika. Dia jatuh dalam depresi yang mendalam hingga melahirkan.
Dia hanya ingin memiliki hidup yang baik. Kenapa semuanya tidak berjalan baik padanya. Semua kebahagiannya seolah direnggut oleh Sofia.
"Saya yang akan menanggung dosa ibu seumur hidupku! Aku juga tidak akan pernah memaafkan ibu!"*
Kata terakhir yang dia dengar dari Leonil sebelum dia bangun dari mimpinya. Janetta meratap dalam tangisannya.
Sampai akhir Janetta tidak pernah merenungkan kesalahannya. Dia membenci wanita bernama Sofia hingga ke akhinya. Bahkan dia tidak peduli jika dia dihukum oleh Dewa Elderbar.
Inilah kisah seorang wanita yang memakai Mahkota Permaisuri namun tidak pernah diperlakukan sebagai Permaisuri karena kesalahannya sendiri. Wanita yang sangat membenci wanita lain yang bukan siapa-siapa tapi memiliki kehidupan seperti Permaisuri. Dipuja banyak orang dan sangat dihormati. Dia sendiri yang memakai Mahkota tapi tidak satupun orang yang melihatnya.
The Empress Crown #40 (SS 2) Next..
__ADS_1