Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Jungkir Balik Dunia Jessy #5


__ADS_3

Berlama-lama di Jakarta bukanlah tipe Kent. Hampir seluruh pekerjaannya ada di Bali. Setelah pulang dari Singapura, Kent memutuskan untuk berkunjung ke Royal Corp cabang Jakarta. Mereka tengah mempersiapkan pembangunan shopping mall jadi tidak ada salahnya sekalian meninjau proyek tersebut.


Saat mendengar nama Jayanegara Group sebagai rekanan, Kent terkejut. Dia termenung lama. Dia sudah lama sekali tidak berhubungan langsung dengan mereka. Dulu mereka sangat dekat sebelum sejauh sekarang.


Oleh karena itu Kent memutuskan untuk terlibat dalam pemaparan rancangan pertama. Dia kenal pemilik Jayanegara Group, Arjuna Jayanegara. Mereka adalah teman semasa kuliah.


Ada sesuatu diantara mereka yang tidak terselesaikan dengan baik empat tahun lalu. Hubungan mereka renggang setelah peristiwa tersebut. Mereka tidak saling berkomunikasi lagi. Kent membenamkan dirinya pada pekerjaan di Bali, menolak berhubungan dengan keluarga Jayanegara.


Dia salah. Mereka berdua salah. Kent mengingat Jessica Jayanegara, adik dari teman baiknya itu. Mantan istrinya dan orang membuat ledakan besar empat tahun lalu. Keluarga mereka disatukan oleh pernikahan dan keluarga mereka renggang karena perceraian.


Kent masih mengingat bagaimana fitur mantan istrinya saat mereka resmi berpisah. Sangat rumit. Mereka bercerai tidak baik-baik. Hubungan keluarga hancur karena mereka. Kent merenung sangat lama. Hingga tanpa disadari empat tahun telah berlalu. Dia tidak melakukan apapun selama itu dan kini tib-tiba di bertemu mantan istrinya, Jessica Jayanegara.


Dia mengamati seseorang yang terlambat masuk dengan mata yang membulat. Matanya tidak salah lihat. Meskipun dia duduk jauh di belakang, Kent mengenalnya secara spesifik. Penampilannya memang berubah, tapi Kent masih mengenalnya. Mana mungkin dia lupa. Dia tidak akan pernah lupa wajah pucat, lelah dan tatapannya yang kosong. Bola mata hitam miliknya kusam setiap dia melihatnya.


Kent tidak pernah berpikir bahwa mereka akan bertemu lagi. Kent kira wanita itu tidak akan mungkin ada di tempat seperti ini, dia adalah wanita yang berjiwa bebas. Liar. Punya mimpi yang besar dan tidak suka dikungkung.


Kilatan cahaya di bola matanya mengejutkan Kent. Wanita itu sedang mengobrol dengan teman disampingnya. Sorot matanya berbeda seperti apa yang Kent sering lihat lima tahun yang lalu. Cahaya itu hidup. Saat pandangan mereka bertemu dan dia sadar keberadaan Kent, sorot mata wanita itu aneh. Tidak seperti sebelumnya. Dia seperti baru saja melihat hantu. Bola mata hitam itu menggelap.


'Jessy'.


Saat namanya dipanggil, tubuh Kent ikut tersentak sama seperti dia.


Jessy mantan istrinya memperkenalkan diri dengan percaya diri. Tatapan Kent kosong. Perasaannya rumit. Jessy yang dia kenal dulu tidak seperti itu. Wanita itu dulu pemberontak. Tampaknya waktu telah merubahnya.


Wajahnya tidak lagi pucat dengan mata lelah. Dia tampak segar dan menawan. Penampilan wanita muda yang cantik. Kent menertawakan dirinya sendiri. Dulu waktu mereka menikah dia sama sekali tidak melihat hal itu pada Jessy. Tapi kini, pesona Jessy mengguncang hatinya.


Senyum kecut kembali tersungging di bibirnya. Hingga rapat selesai mereka tidak saling menyapa. Kent melihat jika Jessy menghindari matanya. Jessy tidak memperlakukan dia seperti seseorang yang pernah kenal. Diam-diam Kent kecewa. Dia juga tidak menyapa Jessy hingga wanita itu pergi dan ruangan sepenuhnya kosong. Ingatan Kent kembali ke lima tahun yang lalu. Saat mereka menikah.


*****


"Proyeknya deal." Ucap Juna seraya menyeruput es americano.


Mereka sedang makan siang bersama, di salah satu caffe yang tak jauh dari kantor. Juna meminta Jessy makan bareng karena ada yang ingin dia sampaikan. Jessy sengaja memilih tempat ini karena teman-teman satu timnya tidak ada rencana makan siang disini. Tadi Jessy sempat mendengar mereka akan makan di warung nasi padang. Jadi aman.


"Serius mas?" Alis Jessy terangkat. Padahal dia pesimis. Sejujurnya dia tidak ingin proyek itu berlanjut. Meskipun dia tahu resikonya besar bagi perusahaan.


"Iya. Mas kan udah bilang hari ini penandatanganan kerjasamanya." Jawab Juna.


"Mas ketemu dia?"


Juna mengangguk. Dia mengambil garpu miliknya kemudian ikut mengambil fettucini carbonara di piring Jessy.

__ADS_1


"Dia tanya tentang Jessy gak mas?"


Juna kembali mengangguk.


Sepulang dari Royal Corp Jessy langsung ke apartemen dan tidak kembali ke kantor. Dia lelah. Jessy tidur lebih awal dan dia tidak bertemu Juna. Paginya Juna berangkat lebih awal jadi dia tidak bertemu Jessy. Praktis mereka tidak saling bercerita.


"Sumpah?" Tubuh Jessy tersentak. Dia meletakkan garpunya.


"Kamu kemarin ada ngobrol gak sama dia?" Tanya Juna yang masih menikmati makanan milik Jessy, padahal makanan dipiringnya sendiri masih utuh, grilled tuna with mushroom.


"Gak sama sekali." Jawab Jessy tegas. "Dia tanya apa mas?"


"Jujur mas lama gak ketemu Kent setelah kalian bercerai. Dia lama di Bali dan jarang ke Jakarta. Ya dia tanya seputar kamu yang ternyata baru kembali dari Inggris terus dia juga tanya kamu kok bisa jadi karyawan Jayanegara Group. Itu aja sih gak banyak. Selebihnya kita membahas yang lain." Jelas Juna kembali menyantap makanannya.


"Mas jawab apa?" Jessy melipat tangannya di dada. Makanan di piringnya sudah tidak menarik lagi.


"Mas jawab jujur Jess, kan ditanya."


"Lha emang jawabnya gimana?"


Juna melepas sendoknya kemudian mengangkat kepalanya.


"Mas bilang kalau kamu tetap di Inggris setelah bercerai, terus kamu kuliah lagi seni desain disana. Dua minggu lalu kamu pulang dan setuju kerja di kantor mas, gitu aja sih."


"Kalau tentang kamu gak Jess, dia lebih tanya pribadi ke mas, kabar mama papa dan keluarga kita."


"Terus mas jawab? Gak benci gitu sama dia?" Tanya Jessy denga nada nyinyir.


"Jess, yang terjadi empat tahun lalu adalah urusan kalian. Hubungan kami baik-baik saja kok, mas udah kenal lama sama Kent."


"Tapi adik mas ini pernah disakiti lho sama dia." Jessy tak terima Juna membela Kent.


"Ya mas tahu. Tapi kan itu udah lama banget Jess. Kamu kan juga udah maafin dia tho?"


Jessy terbelalak tak percaya. Kakaknya itu peduli atau tidak pada adiknya. Dia sama sekali tidak ada rasa dendam pernah disakiti.


"Ah udahlah mas, males ngomongin dia terus. Jessy gak mau sakit ati lagi. Cukup ya Jessy dulu tersakiti, sekarang Jessy bahkan gak mau melihat dia lagi."


Juna acuh tak acuh. Itu urusan pribadi Jessy dan dia tidak mau ikut campur.


"Oh iya Jess, karena kerjasama udah dibuat terus pembangunan juga segera dimulai, jadi tim kalian harus siap-siap terjun ke lapangan."

__ADS_1


"Ya? Maksud mas?"


"Selama proyek berlangsung kalian harus disana."


"Di Royal?"


Juna mengangguk.


"What?"


"Mulai besok mungkin kalian udah bisa ngantor disana?"


"Hah?"


"Tenang aja, Kent balik ke Bali sore ini kok. Kamu gak akan ketemu dia. Dia itu kemarin habis dari Singapura makanya mampir ke Jakarta. Orang sekelas CEO gak mungkin bakal terjun ke proyek. Tiap hari laporannya pasti sudah ada di meja dia." Timpal Juna.


"Oh oke." Jessy bernapas lega. Dia tidak mampu membayangkan jika setiap hari harus ketemu orang itu. 'Males banget.' Pekik Jessy dalam hati.


"Jessy!"


Saat Jessy hendak melanjutkan makan tiba-tiba suara yang sangat familiar terdengar. Dia beradu pandang dengan Juna.


Kepalanya mendongak mencari sumber suara, ternyata itu adalah Yola. Semua rekan kerjanya tak terkecuali masuk ke cafe. Jessy gelagapan.


"Hei Jess katanya tadi mau ketemu temen, jadinya disini ketemuannya. Temen kamu mana?" Yola berlari ke arah tempat duduk Jessy dengan wajah ceria. Saat melihat orang yang duduk di depan Jessy wajah Yola memucat.


"Selamat siang Pak Juna."


Teman-teman Jessy yang lain mengikuti Yola dan mereka ikut tersentak melihat Juna yang memegang sendok dengan santainya makan satu piring dengan Jessy.


Jessy sontak saja berdiri.


"Pak Juna. Jadi bapak ya teman Jessy." Ucap Yola.


Juna yang acuh tak acuh mengangkat pandangannya.


"Oh hai, aku bukan teman Jessy. Aku kakaknya Jessy. Kalian mau makan siang ya? Sini gabung." Jawab Juna jujur.


Semua orang terkesiap tak terkecuali Jessy. Dia susah payah menyembunyikan identitasnya selama dua minggu ini. Semuanya jadi sia-sia.


Mereka saling pandang antara Jessy dan Juna.

__ADS_1


Jungkir Balik Dunia Jessy #6 Next...


__ADS_2