
Ruang tamu berubah menjadi toko pakaian dan perhiasan dalam waktu sekejap.
Sofia tidak terlalu terkejut dengan pengumuman kepala pelayan saat sarapan tadi. Dia pura-pura terkejut. Senatural mungkin terlihat pada sekitarnya. Mulutnya hanya mengeluarkan kata-kata seperti 'wah' atau 'wow'. Tanpa menyinggung nama Jordan sekalipun.
Dia cukup berterima kasih kepada para pelayan atas perhatian mereka. Bibir bisa saja berkata manis namun di dalam hatinya menahan sekuat tenaga. Dia harus memainkan perannya. Sebaik mungkin.
"Salam kepada Yang Mulia Duchess Hexalios, perkenalkan saya Terry Fox, pemilik rumah mode Butterfly Fox. Panggil saya Madame Fox."
Sofia mengangguk untuk membalasa salam dari wanita kecil dengan gaun cerah dihadapannya. Wajahnya halus tanpa keriput. Usianya sekitar awal empat puluhan, tapi tubuhnya terawat dengan baik.
Sofia bisa melihat kilat penasaran di matanya. Ketika Madame Fox menyapanya dengan Duchess Hexalios, Sofia memperkiarakan jika dia sudah tahu banyak.
Tidak ada niat untuk mengintrogasi, Sofia mengabaikannya. Bukankah keberadaannya disini untuk memainkan perang Duchess, hal lain tidak dibutuhkan.
"Saya telah dihubungi untuk membantu anda memilih beberapa gaun, sepatu serta aksesoris lain. Saya telah membawa buku sketsa model terbaru, silahkan anda bisa memilihnya Yang Mulia."
Begitu Sofia duduk, Madame Fox tidak menyia-nyiakan waktu. Dia dengan cekatan mengeluatkan beberapa buku sketsa. Beberapa asisten pribadinya juga tampak sibuk menunjukkan mannequin gaun dan beberapa aksesoris termasuk perhiasan.
Sofia menyapukan matanya sekilas sebelum membuka buku sketsa.
Pada dasarnya pakaian wanita sangat berbeda dengan pakaian laki-laki. Wanita mendandani dirinya dengan berbagai macam barang warna-warni dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sketsa yang ada ditangannya, tidak ada yang tidak cantik. Gaun itu pasti berkualitas tinggi. Sofia tidak tahu sebera terkenalnya butik Madame Fox tapi mengingat keluarga Hexalios memanggilnya secara pribadi, itu pasti cukup terkenal.
Rasa enggan segera menetes. Untuk apa memiliki kemewahan jika dia bukanlah yang asli. Dia juga tak akan bisa memilikinya. Begitu dia keluar dari rumah ini, semua hal ini akan dia tinggalkan. Lagi pula, Sofia adalah orang yang tidak menikmati kekayaan. Apalagi kemewahan.
Matanya lesu tanpa minat. Dia hanya melakukam formalitas pada tamu. Segera halaman terakhir dibalik, Sofia merasa lega. Dia tidak nyaman. Berada di ruangan bersama orang yang mungkin saja tahu lebih banyak tentang dia, meskipun tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut.
Sofia seperti ingin berteriak 'Darimana kalian tahu aku adalah Duchess Hexalios?' Tapi kata ini tidak keluar. Akhirnya Sofia hanya menghela nafas.
"Model seperti apa yang anda sukai Yang Mulia?"
Sofia mengalihkan pandangannya sekilas dari buku sketsa ke Madame Fox. Kesunyian berlangsung lama. Tidak tahan dengan kediaman Sofia, Madame Fox menjadi gugup. Sejauh ini dia tidak pernah gagal berkomunikasi dengan wanita bangsawan manapun.
Saat surat datang ke Butterfly Fox dengan cap Hexalios, Terry Fox mengerutkan keningnya. Apalagi membaca isi surat tersebut, sudut bibirnya sedikit terangkat.
'Mengunjungi Duchess Hexalios secara pribadi besok pagi. Sepertinya rumor itu nyata.'
__ADS_1
Dalam hati Terry Fox, mari kita lihat wajah wanita yang menjadi buah bibir para bangsawan. Seoarang wanita yang mendapat julukan piala bergilir Elderbar. Wanita yang tampaknya cukup berani menikah dengan Kaisar Alex Elderbar dan menggoda Duke Hexalios secara bersamaan. Seharusnya dia menjadi orang yang serakah.
Namun kepercayaan diri Terry Fox segera terjun begitu melihat Duchess Hexalios. Pertama kali melihatnya, Terry Fox sampai lupa cara bernafas. Dia tertegun sejenak kemudian sadar untuk memberi salam sapaan hormat.
Sulit dilukiskan. Wanita dengan tubuh ramping, rambut perak panjang menjuntai. Bola mata birunya mengingatkannya akan laut dalam. Kulitnya putih bersih. Pinggang yang ramping menumbuhkan jiwa posesif para laki-laki. Tidak ada cela. Wanita dihadapannya ini adalah personifikasi kata cantik.
Julukan sebagai piala bergilir sepertinya layak diterima. Siapa laki-laki yang tidak akan jungkir balik hanya untuk melihat bulu mata panjangnya mengepak. Bahkan jika itu Kaisar Alex, meskipun ada Lady Janetta disampingnya, siapa yang mampu menolak bidadari ini. Hingga Duke Hexalios muncul kemudian jatuh cinta padanya. Sudah menjadi rahasia umum jika Lady Janetta yang akan menjadi permaisuri, tapi wanita di depannya ini tidak bisa disepelekan begitu saja. Jika Terry Fox adalah laki-laki, sudah barang tentu dia akan menjadi pemberontak seperti Duke Jordan Hexalios.
Gerakannya halus dan bermartabat. Asal usulnya tidak jelas karena wanita ini adalah alat Kaisar Alex untuk melegitimasi posisi Lady Janetta. Tapi siapa sangka, wanita itu sangat luar biasa. Para bangsawan tak banyak berminat padanya, maka dari itu kecantikannya menjadi kabur.
'Menjadi desainer pribadi Duchess Hexalios.' Terry Fox berteriak dalam hati. Dia bisa membayangkan keguncangan kelas atas saat kemunculan wanita ini di dunia sosial nanti. Dia harus membujuknya untuk memilih desainnya. Bukankah karena ini dia di panggil? Diam-diam Terry Fox tersenyum puas.
Keinginan tak semudah kenyataan. Wanita di depannya ini ternyata sulit. Dia sangat pendiam. Madame Fox menjadi gelisah karena keheningan di sekitarnya. Biasanya para bangsawan akan antusias ketika dia menunjukkan buku desiannya, karena itu terbatas. Semakin terbatas desain itu, semakin meningkatkan tingkatan mereka. Menjadi kebanggaan menunggunakan desain terbatas.
"Yang Mulia?"
Sofia kembali mengalihkan perhatiannya ke Madame Fox.
"Desain seperti apa yang anda suka?"
'Ayolah katakan sesuatu, tolong!' Batin Madame Fox menjerit. Dia seperti sedang merayu anak kecil yang merajuk.
Apapun yang dia pakai saat ini adalah pakaian lama yang sederhana. Para pelayan jika itu adalah peninggalan mendiang Duchess. Sofia bersyukur karena dia diperbolehkan menggunakan barang peninggalan keluarga.
Ketika tinggal di rumah Baron Barell, dia tidak punya kesempatan untuk menikmati indahnya gaun baru yang indah. Semua pakaiannya adalah bekas Baroness Barell, atau ibu tirinya.
"Bisakah saya rekomendasikan?"
Sofia meletakkan buku sketsa ke atas meja. Penuh dengan keengganan. Semua indah tentu saja, tapi itu pasti mahal. Dia bukan Duchess yang asli. Apakah dia berhak. Tapi Sofia mencoba menikmati arus.
Madame Fox segera mengambil buku sketsa dan menjelaskan berbagai macam gaun dan aksesoris. Seperti baru-baru ini sedang tres pakaian dari bulu dan renda. Menggunakan kain sutra dan banyak permata yang sengaja dibuat kecil seperti taburan bintang. Tidak hanya pakaian, permata itu juga diaplikasikan di rambut yang dibuat sedemikian rupa. Model rambut sanggul tidak tren lagi. Saat ini rambut panjang terurai atau dikepang sederhana adalah trenya.
Tidak seperti gaun dan hiasan rambut, sepatu dan sapu tangan tidak memiliki perubahan tren.
Kenyataan ini membuat Sofia tertegun. Apakah begitu rumit hanya untuk berpakaian. Jika dia mengenakannya, semua itu pasti rusak. Mengingat kebiasaannya, berguling-guling dengan buku.
"Jadi desain seperti yang anda sukai Yang Mulia?"
__ADS_1
"Sebenarnya saya tidak begitu mengikuti tren, lagipula apa yang ada di mansion sudah cukup bagi saya."
Madame Fox diam membeku. Itu jelas bukan kebohongan. Mata biru laut dalamnya berkata jujur. Bersih, jernih dan polos. Niat untuk memenangkan hatinya berkobar semakin besar.
"Yang Mulia, sebentar lagi akan ada pesta di kekaisaran. Bukankah itu tujuan saya dipanggil kemari? Jika tidak ada yang anda pilih saya harus bagaimana?"
"Ya? Pesta?"
"Ya, pesta penobatan Lady Janetta menjadi permaisuri."
Mata Sofia terbelalak kaget.
'Apakah secepat ini? Sepertinya masih ada beberapa tahun lagi.' Suara hati Sofia bergemuruh. Tapi karena dia mengubah masa depannya dia tidak bisa memprediksi masa depan orang lain juga. Hati Sofia jatuh.
Lalu bagaimana dengan masa depannya? Tubuh Sofia merinding. Mimpi yang dia miliki tidak pernah terjadi, lalu apa yang akan terjadi. Wajah Sofia segera memucat.
"Yang Mulia apakah anda baik-baik saja? Wajah anda pucat." Seru Madame Fox.
Beberapa pelayan yang berdiri dekat dengan Sofia segera berlari. Mereka menanyakan keadaannya. Sofia menarik nafas dalam-dalam kemudian menggeleng, dia hanya sedikit lelah. Saat kepala pelayan menawarkan istirahat, Sofia menolak. Meninggalkan tamu yang sudah datang jauh-jauh itu tidak sopan.
"Ya saya sekarang menjadi tahu jika anda datang kemari atas perintah Duke." Sofia membuka mulutnya setelah menyesap teh hangat.
"Betul Yang Mulia, saya adalah desainer pribadi Duke Hexalios."
Sofia mengangguk kecil atas apa yang baru saja dia dengar. Kenapa lagi-lagi dia mendengar dari orang lain. Dia seperti membutuhkan perantara untuk berkomunikasi dengan Jordan.
"Baik, kalau begitu saya akan setuju apapun yang dipilih oleh Dukw untuk saya. Saya akan mengikutinya."
Bang!
Wajah Madame Fox segera terdistorasi. Api semangatnya segera padam. Inilah cobaan. Bencana dan kekacauan. Sejauh ini tidak ada wanita bangsawan yang memakai gaun atau aksesoris pilihan suami atau kekasih mereka. Rata-rata dari mereka memilih sendiri dan dibayar oleh para laki-laki.
Ini adalah hal sulit dari yang tersulit. Secara tidak langsung Sofia berkata 'Silahkan tanyakan pada Duke apa yang harus saya pilih! Apa yang dipilih Duke adalah pilihan saya!'. Jadi dia ditolak sepenuhnya. Dengam cara halus dan elegan. Bagaimana bisa seorang laki-laki memilih gaun untuk wanita. Kebanyakan dari mereka tidak mau sakit kepala memikirkan banyaknya keinginan wanita untuk menghias dirinya.
Madame Fox ingin berteriak. Dia adalah wanita cantik namun dia juga sulit. Tidak seperti wanita cantik yang tahu akan kecantikannya kemudian memanfaatkan kecantikannya dengan licik.
Wanita di depannya ini, Duchess Sofia Hexalios berada di level yang berbeda.
__ADS_1
Madame Fox menutup rapat bibirnya kemudian mengangguk. Beberapa menit kemudian dia meninggalkan mansion dengan tenang. Seperti angin dingin yang lewat saat musim panas.
The Empress Crown #28 Next...