Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #29


__ADS_3

"Ya? Jordan tidak berpikir semua orang akan tahu bukan kalau kita menikah? Akan ada rumor yang muncul jika saya datang bersama Jordan."


"Hah Sofia.." Jordan menghela nafas.


'Hanya kamu seorang yang tidak tahu jika pernikahan itu sudah menyebar secepat kecepatan cahaya.'


"Pernikahan kita meskipun belum resmi diumumkan karena kita belum mengadakan upacara, rumor sudah menyebar di seluruh Elderbar."


"Apa?" Teriak Sofia kemudian refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Ada banyak mata dan mulut di dalam istana. Aku tidak mampu menutup semua mata dan mulut itu."


"Tapi saya belum pernah mendengarnya, bahkan dari para pelayan."


'Syukurlah. Aktivitasmu yang menonton menyelamatkanmu.' Ucap Jordan dalam hati.


Senyum tipis tersungging. Cahaya minim di dalam ruangan mampu menyamarkannya.


"Mereka adalah orang-orang pilihan Sofia. Mereka tidak akan berani sembarangan membuka mulutnya."


"Lalu bagaimana ini Jordan? Rumor pasti sudah besar."


Jordan mengangguk.


"Apakah kamu khawatir?"


"Tentu saja. Rumor selalu jelek. Jordan pasti akan diolok-olok."


"Rumor tidak selalu jelek Sofia."


"Anda pasti akan dirugikan. Bagaimana ini.." Suara Sofia gelisah.


Lucu melihat wajah percaya diri itu menjadi panik. Kecantikan halus yang dipancarkan bahkan tidak tenggelam dikegelapan malam. Wanita itu bersinar dengan caranya sendiri. Sungguh menyesal tidak melihatnya selama empat belas hari ini.


Jordan bangkit kemudian duduh disamping Sofia.


"Sofia jangan khawatir." Suaranya lirih yang terdengar seperti bisikan. Jordan menggenggam tanhan Sofia.


Tangan itu bergetar halus. Betapa halus kulitnya. Sangat kecil dan rapuh. Sedikit kekuatan saja bisa membuatnya hancur.


"Tapi Jordan.."


"Percayalah padaku, tidak akan masalah meskipun rumor itu beredar."


"Saya tidak mengkhawatirkan diri saya sendiri."


"Lalu?" Dahi Jordan mengernyit.


"Saya mengkhawatirkan anda."


"Apa?"


"Bagaimana Jordan bisa bertemu wanita yang anda cintai jika rumor pernikahan ini menyebar. Mereka pasti mengira Jordan adalah laki-laki beristri, atau.." Sofia ragu sejenak. "Saya tidak masalah Jordan memiliki hubungan dibelakang saya, asal Jordan mengatakannya terlebih dahulu. Jika Jordan sudah mantap dengannya Jordan bisa menceraikan saya."


Sangat lancar dan menyakitkan.


"Sofia.." Suara Jordan rendah. Suara gemetar seperti hampir menangis. Sayang Sofia tidak bisa menyadarinya.


"Apakah dikepalamu aku orang yang bisa melakukan hal itu?"

__ADS_1


"Ya? Maksud anda?"


"Berselingkuh di belakang istri."


"Hah?" Sofia terbelalak kaget. Bukan itu maksudnya. Dia bisa melakukannya jika istrinya adalah dia.


"Maaf maksud saya bukan seperti itu. Saya percaya jika Jordan adalah orang yang bertanggung jawab. Saya hanya memikirkan kemungkinan yang akan terjadi."


"Jangan dipikirkan."


Matq Sofia mengerjap bingung. Dia membuka mulutnya namun menutupnya lagi. Ragu dengan kata-katanya.


"Cukup pikirkan aku seperti apa yang Sofia pikirkan. Jangan pikirkan apa yang akan terjadi nanti. Jika sekarang kita menikah dan kamu adalah istriku. Maka aku akan bertanggung jawab sampai akhir."


"Tapi Jordan aku hanya.."


"Sofia, mari kita tidak membicarakan ini hmm? Ada hal lebih penting dari ini."


Sofia merenung sejanak kemudian membuka mulutnya.


"Baiklah, apa itu? Sesuatu yang penting?"


Jordan menganggung. Tangannya masih memegang tangan Sofia. Merasa nyaman dan ingin menjadi selamanya.


"Pesta penobatan permaisuri."


Sofia masih diam. Menunggu kata-kata Jordan selanjutnya.


"Sepertinya itu tidak bisa dihindari. Menghadirinya maksudku. Tidak akan lama lagi surat undangan resmi akan datang. Kita adalah pasangan yang telah diakui di Elderbar dan aku adalah saudara terdekat kaisar saat ini maka aku harus hadir. Itu artinya.."


"Ya?"


"Kamu sebagai istri dan pendampingku harus hadir pula."


Jika ada lubang dilantai, ingin rasanya Sofia masuk dan bersembunyi. Dia ingin lari. Menolak kenyataan saat ini.


"Tidak bisakah saya.."


"Tidak hadir?"


Sofia mengangguk.


"Itu bisa." Jawaban yang diinginkan Sofia sebenarnya. Tapi melihat emosi kecewa Jordan mencubit hatinya.


"Apakah itu pesta yang besar?" Sofia menata lagi perasaannya. Jika dibandingkan dengan apa yang Jordan lakukan untuknya, menghadiri pesta itu jauh dari setengah perjalanan. Harga yang pantas untuk dibayar Sofia pada Jordan.


"Akan ada dua pesta terpisah. Upacara penobatan dan pesta kecil untuk tamu undangan khusus, dan pesta perayaan di malam hari. Pesta di malam hari akan menjadi pesta topeng. Para bangsawan akan hadir dari seluruh Elderbar."


Sofia menelan ludahnya mendengar skala pesta yang tidak main-main. Dua acara sekaligus di satu hari. Dia mencoba mengingat upacara penobatan Janetta dulu. Tapi tidak ada satu ingatanpun. Mimpi buruknya telah lama tidak datang ditidurnya. Setelah tinggal di mansion Jordan, tidur Sofia selalu nyenyak. Ketakutan akan masa depan dalam mimpinya pudar bagai buih di lautan.


"Akan sulit hadir di dua pesta sekaligus." Desah Sofia pelan.


"Apakah Sofia bersedia hadir?"


Sofia mengangguk pelan.


"Jordan bilang harus hadir. Sedangkan saya saat ini adalah istri Jordan."


"Tapi Sofia tidak harus hadir."

__ADS_1


Sofia bingung. Apakah dia salah mengartikan. Sepertinya tadi dia menangkap perasaan jika Jordan menginginkan dia hadir. Tapi ketika dia mengatakan ya, dia mengatakan tidak.


"Maksud Jordan?"


"Jika Sofia merasa terbebani anda tidak harus hadir. Sofia yang lebih penting. Sofia mungkin akan terluka."


"Ada Jordan disamping saya bukan? Jordan pasti akan melindungi saya seperti biasanya bukan? Kenapa saya harus terluka? Apakah karena rumor itu dan omongan orang-orang? Saya tidak peduli."


"Sungguh?"


Sofia mengangguk dengan senyum tipis. Meyakinkam Jordan bahwa dia akan baik-baik saja meskipun sendirinya juga takut. Tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kemunculannya di pesta.


"Sofia tidak bisa menarik kata-katanya lagi. Tentu aku akan melindungimu. Kamu adalah satu-satunya wanita berpangkat tinggi disana, jadi tenang saja." Jordan menepuk tangan Sofia pelan.


Betapa senangnya hatinya. Akhirnya dia tidak perlu menyembunyikan lagi pada Sofia. Meskipun mereka menikah tanpa upacara dan janji setia, dokumen pernikahan yang telah disahkan cukup membuatnya menjadi pasangan suami istri. Tidak masalah jika Sofia tidak mencintainya, dengan ada disampingnya sudah cukup menghibur hatinya.


Dia hanya perlu bertahan dan berkelit ketika Sofia membicarakan perceraian. Bukankah bertahan adalah salah satu strategi bertahan di medan perang, daripada menyetang dengan ketidaktahuan tentang lawan. Jordan akan diam-diam menunggunya lengah, kemudian mencari solusi mematahkan pertahanan lawan. Satu kali menyerang untuk mengalahkan musuh.


Seperti strategi mengikat Sofia dalam pernikahan. Bertahan, menunggu kemudian serang. Hal itu berhasil sejauh ini.


"Tapi Jordan.."


"Ya?"


Jordan gugup. Takut akan Sofia berubah pikiran. Perasaan menunjukkan kepemilikannya atas Sofia kepada publik terancam.


"Bagaimana dengan gaun dari Madame Fox?"


"Kamu bisa memilihnya. Besok aku akan menyuruhnya datang lagi."


"Bukan itu. Saya bisa menggunakan gaun yang ada."


"Tidak mungkin Sofia. Kamu adalah Duchess Hexalios kamu berhak mendapatkannya."


"Tapi itu berlebihan."


"Tidak. Kamu bisa menggunakan uangku sebanyak yang kamu mau. Ingat Sofia, suamimu kaya."


Mata Sofia hampir lepas. Siapa di dunia ini yang bergitu percaya diri mengatakan dia kaya dan menginginkan uangnya dihabiskan kecuali Jordan.


"Jangan tidak masuk akal!" Bentak Sofia dengan bibir cemberut.


"Biar aku yang urus semuanya."


Sofia mengangguk.


"Sejujurnya saya tidak tahu harus bagaimana saat Madame Fox tadi. Saya terkejut dan bingung. Jadi saya mengatakannya untuk bertanya pada anda. Pilihan anda adalah pilihan saya." Aku Sofia.


"Ide yang bagus. Aku akan mengurus semuanya. Kamu cukup berdiri disampingku di pesta nanti. Jangan khawatir."


"Baik."


Jordan mengantar Sofia kembali ke kamarnya setelah berbincang sedikit lama. Jordan menceritakan tentang pekerjaan di istana dan Sofia menceritakan tentang keindahan taman dan kesehariannya. Meskipun mendapat laporan setiap hari tentang rutinitasnya, Jordan sangat antusias mendengarnya langsung dari Sofia.


Tawa riang dan percakapan mereka memenuhi suasana sepi di ruang yang biasanya sepi. Keakraban mereka menandai rekonsiliasi hubungan salah paham.


Hari ini diakhir dengan perintah Jordan kepada kepala pelayan.


"Sampaikan kepada Madame Fox jika apapun yang dilihat Sofia pada hari ini harus dia kabulkan. Apapun dan berapapun, tidak masalah dengan harganya. Sofia harus menjadi wanita paling indah di upacara penobatan sepuluh hari lagi. Jika dia mengatakan tidak sanggup, putuskan hubungan dengannya. Keluarga Hexalios cukup orang untuk menjadi perancang busana pribadi."

__ADS_1


"Baik Yang Mulia."


The Empress Crown #30 Next..


__ADS_2