Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #18


__ADS_3

Merebak kabar jika putri Baron Barell melarikan diri dari istana.


Seorang wanita yang banyak orang tahu akan dijadikan alat untuk melegitimasti kekuasaan selir kaisar. Tapi tidak ada yang tahu siapa namanya. Tidak banyak pula yang tahu seperti apa wajah orang itu.


Kabar hilangnya Sofia merebak ke seluruh istana utama. Hingga para pelayan dan penjaga membicarakan hal tersebut.


Kutukan, cacian dan makian keluar dari mulut mereka. Seperti Sofia adalah wanita rendah yang diselematkan kaisar tapi malah mengkhianati. Hanya seorang bangsawan kampung yang tidak tahu diri.


Alfons mengamati mereka dalam diam. Duduk santai di salah satu dahan pohon yang kuat. Telinganya terus menyimpan informasi di bawahnya. Dia adalah satu-satunya orang yang bebas keluar dari mansion Hexalios.


Semenjak Sofia dinyatakan hilang, kaisar menurunkan perintah untuk memblokir akses Keluarga Duke Hexalios. Mansion besar di tengah kota dijaga oleh puluhan ordo ksatria kekaisaran. Praktis siapapun tidak bisa masuk dan keluar.


Rumor jahat ikut merebak menyusul hilangnya Sofia. Rumor ini memiliki skala yang lebih jauh. Dikatakan bahwa Duke Hexalios berusaha memberontak kepada Kaisar Elderbar.


Beberapa bangsawan yang tidak suka dengan keluarga Duke Hexalios membesar-besarkan cerita. Mereka bahkan membayar perantara untuk menyebarkan rumor jahat.


Desas-desus berkembang ke arah yang tidak lagi bisa dikontrol. Reputasi Duke Hexalios sebagai pahlawan perang tersapu arus begitu saja. Bahkan ada yang mengatakan jika Duke Hexalios menginginkan tahta. Kenyataan jika raja belum memiliki permaisuri dan pewaris, menguatkan dugaan tersebut.


Duke Hexalios menutup diri sebagai langkah pencehagan rumor menyebar. Namun sikap diam mereka soalah mengiyakan desas-desus yang terus berkembang.


Para penghuni mansion Hexalios memilih untuk tetap tinggal hingga suasana tegang mereda. Mereka tidak tahu apa yang terjadi malam itu. Meraka dibangunkan tengah malam oleh suara hentakan langkah kaki prajurit yang memasuki mansion. Tanpa peringatan dan tiba-tiba.


Satu-satunya orang yang ingin keluar darisana adalah sang Duke Hexalios sendiri, Jordan Hexalios. Namun langkahnya dicegah oleh kepala pelayan dan ajudannya.


Alfons menjadi harapan mereka.


"Apa yang kamu dengar dari istana?" Suara Sir White bergetar.


"Rumor."


"Seberapa buruk itu?"


"Rumor tentang Yang Mulia selalu buruk." Alfons mendesah keras.


"Hah!" Sir White mengusap wajahnya kasar. "Bagaimana dengan Lady Sofia? Apakah ada kabar?"


Alfons menggeleng lemah. Sudah lebih dari satu minggu dia mengintai sekitar istana, tapi tidak ada satupun berita baik yang dia dengar.


"Bagaimana kondisi Yang Mulia?"


"Jangan tanyakan kondisinya. Tidak tidur satu bulanpun Yang Mulia baik-baik saja. Aku khawatir dengan emosinya. Yang Mulia bisa meledak kapan saja."


"Sebenarnya apa yang terjadi malam itu?" Tanya Alfons penasaran. Semua orang juga sama namun mereka memilih tutup mulut.


"Ceritanya rumit."


"Berhubungan dengan Lady Sofia?"


Sir White mengangguk pelan.


"Dia belum ditemukan. Aku tidak percaya dia meninggalkan istana."


"Ya? Kamu yakin?"


Alfons mengangguk kemudian melanjutkan. "Malam itu aku berjaga di pintu belakang istana tanpa perintah. Tidak ada siapapun keluar darisana. Melewati tembok atau semacamnya juga tidak ada tanda-tandanya."

__ADS_1


"Sungguh?"


"Lady Sofia sangat dekat dengan pelayan-pelayannya bukan?"


Sir White mengiyakan dengan suara lirih dan kepala mengangguk.


"Mereka juga ikut menghilang seperti ditelan bumi. Sangat aneh sekali."


"Ya?"


"Aku rasa Lady Sofia masih ada di dalam istana."


Alfons mengelus dagunya pelan. Otaknya diperas habis-habisa untuk berpikir. Saat tatapan mereka bertemu, mereka kompak membuka mulut.


"Penjara Soltera."


Sebuah tempat yang terbersit dibenak Sir White dan Alfons.


Penjara Soltera adalah pernjara bawah tanah. Hanya kaisar yang bisa mengaksesnya. Terletak jauh di bawah tanah istana utama. Sangat rahasia dan misterius.


"Tapi ada kemungkinan tidak disana juga, kita harus menemukan pelayan Lady Sofia dulu. Mereka mungkin tahu sesuatu."


Alfons setuju dengan ide Sir White.


"Aku akan kembali ke istana dan mengintai penjara disana."


Sir White mengangguk.


"Hati-hati. Aku akan segera melapor kepada Yang Mulia."


Mereka berpisah dengan arah jalan masing-masing. Alfons segera menghilang di balik tembok mansion. Sedangkan Sir White menyusuri jalan sempit untuk kembali ke mansion.


"Yang Mulia, Alfons menemukan salah satu pelayan Lady Sofia."


"Ya?" Sontak Jordan bangkit dari kursinya.


"Alfons sedang perjalanan kemari dari pusat perdagangan budak."


Jordan berlari keluar dari kamarnya kemudian menuruni tangga. Sir White memblokir langkah Jordan saat dia hendak membuka pintu utama.


"Yang Mulia mohon tetap tenang. Jika anda seperti ini, mereka akan terprovokasi."


"Sofia, mungkin saja disana."


Jordan masih berusaha membuka pintu.


"Yang Mulia saya mohon."


Charlie White hampir terjungkal ke belakang menahan kekuatan Jordan. Semua orang di mansion Hexalios putus asa. Mereka sudah menahan diri selama ini.


Ordo yang dimiliki Duke Hexalios tidak bisa dibandingkan dengan milik kekaisaran. Tapi mereka kalah dengan kekuasaan. Cap sebagai pengkhianat melekat seiring waktu. Satu langkah salah, keluarga Hexalios terancam.


Bukan hanya nyawa satu orang, tapi nyawa seluruh penghuni mansion taruhannya.


Putus asa dan frustasi menyerang semua orang.

__ADS_1


"Yang Mulia saya mohon."


Sudah menjadi tugasnya melindungi majikannya. Charlie White telah bersumpah ksatria pada kelaurga Hexalios saat dia masih remaja. Dia tumbuh bersama dengan Jordan. Belasan tahun mengabdi membuatnya siap mepertaruhkan nyawa demi Hexalios.


Di tengah kekalutan mereka, kepala pelayan berlari dengan suara lantang.


"Alfons sudah tiba. Mereka sekarang ada di dapur." Suara terbata-bata terdengar.


Jordan memutar kakinya kemudian berlari menuju dapur. Sir White mengikuti, dan kepala pelayan yang belum sempat mengambil nafas menyusul dengan wajah memutih.


Aktivitas di dapur dihentikan dan semua pelayan dikirim kembali ke kamar mereka. Hanya ada Jordan, Charlie, kepala pelayan, Alfons, dan seorang wanita yanh tengah duduk di lantai dengan kepala tertunduk. Penampilannya jauh dari kata baik, pakaiannya compang-camping. Beberapa luka terlihat di tubuhnya yang terbuka.


"Siapa namamu?"


"Yang Mulia mohon jangan bunuh saya. Saya akan melakukan apa saja."


"Kamu salah satu pelayan Sofia bukan? Siapa namamu."


Hening.


"Aku tidak akan membunuhmu. Jadi jawab saja apa yang aku tanyakan." Suara Jordan menajam.


"Ba, baik Yang Mulia."


"Siapa namamu?"


"Ema."


"Ema, kamu tahu dimana Sofia?"


Ema mendongak kemudian menggeleng. Air matanya tumpah.


"Malam itu kamu tidak bersama Sofia?"


Ema kembali menggeleng.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Nona menyuruh kami keluar istana sebelum matahari tenggelam. Kami sepakat bertemu di pasar saat malam tiba."


Dahi Jordan berkerut.


"Tapi kami sudah lama menunggu tapi Nona tidak datang. Jadi saya kembali ke istana untuk menyusul Nona. Saya meninggalkan Rona di pasar tempat kami sepekat bertemu."


Ema ragu untuk melanjutkan.


"Kamu kembali ke istana belakang?"


Ema mengangguk dengan wajah pias dan basah oleh air mata.


"Saya melihat Nona Sofia diseret paksa oleh penjaga. Saya tertangkap dan pingsan. Saat membuka mata saya sudah berada di tempat perdagangan budak." Suara Ema bergetar.


Suasana hening itu sangat mencekat. Darah panas mengalir cepat di tubuhnya.


"Nona Sofia mengatakan jika Yang Mulia Kaisar setuju untuk membebaskannya. Tapi Yang Mulia tidak menepati janjinya. Yang Mulia memaksa Nona untuk melayaninya di tempat tidur. Kami membuat rencana untuk melarikan diri. Tapi akhirnya kami tertangkap." Ema menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Dimana Nona Sofia sekarang? Nona tidak mati bukan? Tuan anda pasti tahu dimana Nona sekarang? Tolong beri tahu saya, saya akan segera menyusulnya." Tangisan Sofia pecah, suaranya memenuhi ruangan. Menangis sejadi-jadinya.


The Empress Crown #19 Next...


__ADS_2