
Sofia melihat bulan dari jendela kamarnya. Bulan begitu indah tapi tampak kesepian. Sepanjang malam sendirian di atas sana. Hati Sofia tenggelam. Dia secara tidak sengaja bertemu dengan kaisar. Berdasarkan mimpinya, itu seharusnya belum.
Sofia berpikir lama. Dia juga melakukan hal-hal yang tidak pernah dia lakukan dalam mimpinya. Kali ini dia hidup dengan caranya sendiri. Dia ingin bahagia. Dia ingin hidup. Ingin merasakan saripati hidup.
Suara yang dia dengar di sungai juga tak kalah membuatnya penasaran. Sampai sekarang Sofia belum menemukan dari mana suara itu.
Malam belum begitu larut. Sofia ingin berjalan-jalan di taman untuk menyegarkan pikirannya.
Angin menerpa wajah Sofia. Dia keluar sendiri karena tidak ingin merepotkan Ema dan Rona. Dia hanya ingin berjalan-jalan sebentar kemudian segera kembali. Rasanya sesak terkurung di dalam ruangan sendiri. Jujur Sofia kesepian.
Disergap dinginnya angin malam, Sofia memeluk dirinya sendiri. Dia mengenakan pakaian tidur sederhana. Sangat sederhana mengingat fakta dia adalah istri kaisar.
Sofia berjalan di sekitar taman. Sekitarnya gelap, hanya cahaya bulan yang menyinari langkahnya. Karena gelap Sofia hendak kembali ke kamar, dia takut tersesat. Saat dia berbalik sebuah bayangam hitam besar nampak di depannya.
Langkah Sofia terhenti. Minimnya cahaya membuat bayangan di depannya tampak misterius. Sofia mengerjapkan matanya beberapa kali.
Kaki Sofia bergerak tanpa disadari. Ingin tahu siapa yang berdiri di bawah kegelapan sana. Sofia ingin memastikan siapa atau apa yang ada disana.
Sofia memperkecil jaraknya. Sosok yang berdiri dala kegelapan itu juga bergerak mendekat. Dia berhenti tepat di bawah sinar bulan. Wajahnya terungkap sedikit.
"Felix?" Sofia terkesiap. Dia menuntup mulutnya dengan kedua tangannya.
Sosok bayangan hitam itu ternyata seseorang. Begitu wajahnya terkena sinar matahari, Sofia mengenalinya. Itu adalah Felix. Sofia sendiri yang memberikan nama bayi laki-laki yang dia lahirkan.
Sofia terkesiap. Matanya terus mengamatinya. Sama persis. Itu adalah Felix, anaknya dalam mimpinya. Wajahnya mirip dengan kaisar. Dalam mimpi Sofia tidak bisa melihat anaknya. Sejak bayi anak itu telah dijauhkan darinya. Tapi tiba-tiba ingatan akan mimpi itu berulang tanpa bisa dia kendalikan.
Akhirnya dia bisa melihat wajah Felix saat mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya. Bukan pemakaman yang layak mengingat dia adalah anak pertama raja. Felix dihukum mati karena dituduh meracuni anak selir, pemakamannya dilakukan seadanya.
Wajah orang yang berdiri di depannya itu sama persis dengan Felix yang Sofia lihat di mimpinya. Air mata Sofia tumpah tampa bisa dia kendalikan. Dia tidak sedang bermimpi tapi ingatan pada malam itu terus menjadi nyata. Sofia yakin bahwa mimpi itu adalah ramalan masa depannya.
Dewa pasti yang melakukannya.
"Felix kamukah itu?" Tanya Sofia dengan suara yang bergetar. Sofia tidak bisa lagi membedakan apakah itu nyata atau ilusi.
Saat kakinya hendak mendekat, sebuah cahaya dari arah depan tampak menyinari. Cahaya itu kian mendekat diikuti oleh langkah kaki yang tergesa-gesa.
"Yang Mulia, kenapa anda cepat sekali berjalannya."
Mendengar kata 'Yang Mulia' Sofia terkesiap. Sadar akan siapa yang ada di depannya. Sofia mundur. Dia salah. Orang itu bukan Felix. Dia adalah kaisar. Siapa lagi dilingkungan ini yang dipanggil Yang Mulia jika bukan orang itu.
Dalam waktu sekejap suasana menjadi terang yang awalnya gelap. Banyak pelayan yang membawa lilin di tangan mereka.
__ADS_1
Sofia segera mengusap pipinya yang basah dan menegakkan punggungnya. Menguasai dirinya sendiri kemudian membungkuk.
"Salam kepada matahari Elderbar, Yang Mulia Kaisar Elderbar semoga kasih Dewa Elderbar selalu menyertai." Ucap Sofia pelan.
Karena tidak ada jawaban, Sofia mengangkat pandangannya. Tatapan yang sama seperti yang dia terima di tempat berburu sore tadi. Dingin dan menusuk.
Sofia menggigit bibirnya.
"Apakah ada yang ingin anda sampaikan kepada saya Yang Mulia? Jika anda berkenan saya menawarkan tempat tinggal saya yang tidak layak ini untuk Yang Mulia."
Tatapan mereka masih bertemu. Masih tidak ada jawaban. Tubuh Sofia gemetar.
"Nona, apa yang terjadi disini.. astaga! Salam kepada Matahari Elderbar!" Suara Rona menggema di taman, segera menghilang diterpa angin.
Dia berlari tergesa-gesa saat mendapati Sofia yang tidak ada di kamar kemudian melihat cahaya di taman. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Sofia.
"Aku hanya berjalan-jalan sebentar. Tanpa sadar kakinya sampai sini."
Suara itu. Suara yang Sofia dengan di upacara pernikahannya. Suara khas laki-laki yang mengucap janji pernikahan dengannya. Sofia bergidik.
"Pasti ada yang ingin anda sampaikan. Silahkan masuk ke tempat saya Yang Mulia. Saya bisa menyajikan teh." Sofia basa basi.
"Tidak perlu aku akan segera kembali."
"Tunggu Yang Mulia. Bisakah saya meminta waktu anda sebentar? Ini tidak akan lama. Ada yang ingin saya sampaikan."
Sofia memberanikan diri untuk membuka mulutnya lebih lanjut. Dia punya misi. Sesuatu yang akan mengubah masa depannya.
Alex menoleh kemudian membuka mulutnya.
"Tinggalkan kami sebentar."
Mendengar titah Alex semua pelayan mundur. Menyisakan dua orang saja dengan beberapa lilin yang ditinggalkan.
"Bagaimana kabar anda Yang Mulia. Kita bertemu lagi."
Alex tidak menjawab.
"Apa yang membawa anda kemari? Apakah karena insiden di tempat berburu tadi sore? Mohon maafkan saya jika saya bersalah. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Anda pasti terkejut melihat orang yang harusnya dipenjara di dalam istana ada disana."
Dahi Alex berkerut. Tapi dia masih bungkam.
__ADS_1
Sofia mengela nafas dalam-dalam. Dia tidak akan mundur meskipun Alex diam.
"Panggil saya Sofia. Barangkali anda lupa dengan nama saya yang Mulia."
Ini adalah pertemuan ketiga mereka. Sofia memperkenalkan dirinya.
"Aku tahu."
Jawaban Alex singkat.
Sofia mencoba tersenyum tipis.
"Yang Mulia mari kita berteman."
Suasana kembali hening setelah ucapan Sofia yang tampaknya membuat Alex terhenyak.
"Meskipun kita menikah, saya hanyalah istri di atas kertas. Saya tahu itu. Saya tidak akan menuntut banyak Yang Mulia. Saya sadar akan posisi saya."
"Apakah kamu marah karena aku baru datang setelah upacara pernikahan?"
"Tidak." Sofia menjawab cepat.
Dahi Alex berkerut.
"Mari berteman dan buat kesepakatan bersama."
"Apa yang kamu maksud?"
"Saya tahu alasan anda menikahi saya. Meskipun saya istri pertama anda, saya bukan permaisuri. Saya hanya istri kaisar. Bukankah itu alasan saya berada disini, karena mahkota permaisuri itu sendiri sejak awal bukan untuk saya. Benar bukan?"
Wajah Alex mengeras.
"Yang Mulia, saya tidak akan menghalangi jalan anda untuk membawa Lady Janetta masuk ke dalam istana dan nantinya menjadi permaisuri. Saya akan mendukung kalian, tapi tolong kabulkan beberapa permintaan saya."
Mata Alex membulat dan wajahnya pias saat nama seseorang keluar dari mulut Sofia.
Janetta Oliver. Kekasih dari rakyat jelata Alex. Dia bukan kecantikan yang luar biasa. Namun pembawaannya yang tenang dan segar menggoyahkan hati kaisar. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di pergaulan kelas atas. Bahkan kaisar telah membeli gelar bangsawan untuk keluarga Janetta demi cintanya kepada wanita itu.
Namun asal usulnya tidak bisa dihiraukan. Oleh karena itu cara inilah yang paling memungkinkan untuk membawa Janetta masuk ke istana dan tetap berada di sampingnya.
Celah ini akan Sofia gunakan untuk mengubah masa depannya yang ada di dalam mimpi.
__ADS_1
The Empress Crown #4 Next...