
Sofia hidup bukan tanpa pengetahuan. Menjadi wanita dan anak haram Baron Barell, Sofia punya banyak waktu untuk membaca buku diam-diam. Dia bersyukur diabaikan oleh keluarganya karena dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
Dia tentu tahu apa maksud Alex dengan 'menyempurnakan pernikahan'. Artinya Sofia harus melayani Alex di tempat tidur.
Rasa dingin menjalari punggung Sofia.
Apa yang selama ini dia hindari apakah akhirnya terjadi meskipun urutannya kacau? Apakah ini karena Sofia selalu menghindari masa depan?
Bukankah ini sama artinya dengan 'bagaimanapun kamu menghindar, masa depan akan tetap terjadi'.
"Yang Mulia saya menolak. Mohon pertimbangkan keputusan anda tadi. Saya sudah berjanji akan membantu Lady Janetta untuk menjadi permaisuri. Lalu kenapa anda seperti ini?"
"Anggap saja kita sedang menjalankan rencana cadangan."
"Ya? Maksud anda?"
"Jika Janetta tidak berhasil melahirkan pangeran, maka itu akan menjadi tugasmu."
"Lady Janetta akan melahirkan pangeran Yang Mulia."
Dahi Alex berkerut mendengar ucapan Sofia.
Sofia menyadari kesalahan yang dibuatnya, mundur satu langkah. Dia secara tidak sadar mengucapkan apa yang ada dipikirannya.
"Kamu begitu yakin rupanya."
"Maaf itu hanya harapan saya. Semoga Lady Janetta segera melahirkan pangeran."
"Hah omong kosong! Sekarang kamu berusaha mendoakan kami?" Mata Alex berkilat. Dia marah hanya dengan melihat Sofia di hadapannya.
Sofia menunduk. Tidak berani mengangkat kepalanya.
"Tiga hari lagi aku akan berkunjung ke kamarmu. Persiapkan dirimu dengan baik. Akan ada beberapa pelayan akan aku kirim. Jadi kuharap kamu bisa melayaniku."
Alex pergi tanpa mempedulikan protes Sofia.
Hanya ada Jordan di dalam pikirannya sekarang. Dia harus bisa memisahkan Jordan dari Sofia. Bukan Sofia tapi Jordan yang berpotensi menggalkan rencananya. Dia tidak peduli pada Sofia, wanita itu sejak awal bukan lawannya. Lawan yang sesungguhnya adalah Jordan. Teman sekaligus keluarganya satu-satunya.
Alex perlu menunjukkan pada Jordan siapa pemilik Sofia. Jordan harus sadar jika Sofia hanyalah alat, tidak lebih. Perasaan dan emosi apapun tidak layak diberikan pada wanita itu.
Hidup Sofia telah dijual keluarganya pada kaisar. Jadi Alex yang memegang hidup dan mati Sofia.
Pelayan dan penjaga dimobilisasi besar-besaran ke istana belakang. Isu merebak dengan cepat. Suasana diistana menjadi panas dengan berita kaisar akan berbagi tempat tidur dengan 'istri bangsawan', itulah sebutan Sofia. Bukan calon permaisuri. Siapapun tahu siapa akhirnya yang akan menjadi permaisuri.
Sofia ibarat kotak pandora yang akan dibuka. Setelah menghabiskan malam dengan kaisar, dia telah melangkah ke tahap pertama untuk menjadi permaisuri.
Peraturan kekaisaran yang cukup rumit. Untuk bisa melangkah ke tahap kedua Sofia harus melahirkan seorang pangeran.
Lagi-lagi semua tahu siapa pemenangnya.
Jordan baru saja kembali dari ekspedisi ke perbatasan beberapa hari yang lalu. Dia turun dari kuda dengan debu yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.
Satu hari satu malam berkuda tanpa istirahat. Jika itu bukan ksatrian yang tidak terlatih, mereka pasti akan mati kelelahan.
__ADS_1
Begitu Jordan melewati pintu, kedatangannya telah ditunggu oleh Alfons dengan raut wajah cemas.
"Ikuti aku ke atas." Jordan memerintahkan Alfons.
"Charlie White!" Teriak Jordan.
Sir White dengan langkah tergopoh berlari mendekat. Kakinya hampir jatuh ke tanah saking lelahnya.
"Siap Yang Mulia."
"Urus semuanya, pastikan tidak ada yang naik ke lantai dua."
Jordan berjalan lebih dulu menaiki tangga diikuti oleh Alfons dengan langkah kecilnya.
Armor yang berat dan penuh debu tergeletak sembarangan di lantai. Beban berat jutaan ton terangkat dari tubuh Jordan. Pundaknya yang kaki kini rileks.
"Ada sesuatu yang terjadi?"
Jordan duduk di kursi kerjanya yang nyaman. Sedangkan Alfons mengangguk ragu.
"Sampaikan."
Darah panas langsung membanjiri Jordan saat Alfons membuka mulutnya. Melaporkan semuanya dengan rinci. Semua hal yang terjadi selama dia tidak di tempat.
"Kapan?"
"Malam ini."
Tubuh Jordan menegang. Kursi yang dia duduki terjengkang ke belakang. Tangannya menyambar pedang yang baru saja dia letakkan. Suara dentingan besi yang bertabrakan terdengar. Pedang Jordan bergesekan dengan armor besinya.
Aura gelap mengumpul di kepalanya. Dia bisa membunuh orang kapanpun.
Jordan tiba di istana tepat saat matahari terbenam. Tidak terlihat raut kelelahan diwajahnya padahal dia berkuda sehari semalam. Sir White mengikuti Jordan dengan langkah tergopo-gopoh. Tentu tidak bisa mengimbangi kekuatan tuannya.
"Anda dilarang masuk." Ada penjaga di pintu masuk istana belakang.
"Berani-beraninya kalian."
"Tidak ada yang diizinkan masuk malam ini. Maafkan kami." Salah satu penjaga menimpali.
"Minggir kalian."
"Ada apa ini?"
"Yang Mulia."
Jordan menoleh dan melihat Alex dengan pencahayaan yang minim.
"Duke Hexalios? Apa yang kamu lakukan disini?" Suara Alex tajam.
"Apa yang akan kamu lakukan? Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuh Sofia."
Semua orang disana terhenyak. Bingung dengan ketidaksopanan Jordan pada Alex. Meskipun mereka tahu jika Kaisar Elderbar dan Duke Hexalios bersaudara, baru kali ini sang Duke berbicara santai.
__ADS_1
"Jangan berlebihan Duke. Kita tahu siapa pemilik wanita itu."
"Sofia bukan barang."
"Terserah Duke mau menganggapnya apa. Silahkan tinggalkan tempat ini karena malam ini dia harus melayani suaminya."
Srakkk
Suara pedang besi keluar dari sarungnya terdengar. Ujungnya yang tajam langsung mengarah ke leher Alex.
"Yang Mulia."
Semua prajurit kecuali Sir White menarik pedang mereka dan mengarahkannya pada Jordan.
"Jangan sekalipun kamu menyentuh Sofia, atau aku bisa berbuat apapun."
Wajah Alex mengeras. Darah di tubuhnya mendidih.
"Tahan Duke Hexalios karena mencoba mengancam kaisar." Suara Alex meninggi. Sorot matanya serampangan.
"Apa yang sebenarnya coba kamu lakukan Lux? Bahkan kamu sudah berjanji pada Sofia untuk membebaskannya. Bahkan kita belum tahu Janetta melahirkan pangeran atau tidak."
Dahi Alex berkerut.
"Apa yang kalian tunggu! Cepat tahan Duke Hexalios!"
"Alexdemian Lux Elderbar!"
Para prajurit diam membatu. Perseteruan dua orang yang berkuasa. Tetap perintah kaisar yang utama. Mereka bergerak bersama kemudian menyergap Jordan dan ajudannya.
Pemberontakan segera dipatahkan saat pedang besinya terlepas dari tangannya. Tubuh Jordan ambruk ke tanah. Meraung dan marah. Suaranya memecah kesunyian malam ini.
"Aku akan membuat perhitungan jika kamu menyentuh Sofia. Ingat itu Lux!"
"Bawa pergi Duke dari sini sekarang!"
Teriakan Jordan semakin menjauh. Alex melangkah tanpa menoleh.
Kegelapan menyambutnya saat Alex melangkah masuk. Tidak ada lilin satupun yang dinyalakan. Seolah hening, semua orang pergi setelah dia perintahkan.
Bangunan istana belakang cukup sederhana, hanya ada dua lantai. Lantai dasar adalah aula besar yang biasa digunakan untuk perjamuan makan setelah berburu, dan lantai dua adalah deretan kamar untuk istirahat bagi yang ingin menginap.
Para ksatria jarang sekali menginap setelah berburu karena umumnya berburu dilakukan pagi hari dan selesai siang atau sore hari.
Alex menyusuri lorong lantai dua tanpa panduan. Meskipum gelap, Alex bisa melihat setiap sudut dengan jelas seperti pagi hari. Dia juga tahu kamar mana yang ditempati Sofia.
Kamar utama yang letaknya ada di paling ujung dengan pintu mengarah langsung ke lorong. Langkahnya melambat dan dahinya berkerut. Seharusnya pintu itu terbuka. Namun pintu kamar tertutup dan terlalu hening untuk kedatangannya.
Dada Alex berdebar keras. Langkahnya bergegas membuka pintu. Matanya membulat saat melihat semua jendela terbuka dengan tirai berkibar tertiup kencangnya angin malam.
Sosok ramping dengan tubuh berbalut selimut naik di atas jendela, siap untuk melompat. Rambut panjangnya yang tergerai juga berkibar diterpa angin. Wajahnya menoleh saat mendengar suara pintu terbuka dan menyadari kehadiran Alex.
"Tunggu!" Teriak Alex dengan langkah melebar.
__ADS_1
Sofia melompat saat mendengar teriakan Alex.
The Empress Crown #18 Next...