Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #16


__ADS_3

"Jody, aku sudah menunggumu."


Dahi Jordan berkerut saat melihat Alex duduk dengan santai di sofa ruang kerjanya.


"Kapan kamu sampai Lux?"


"Sejak matahari terbit."


Hari hampir sore dan matahari sudah tenggelam. Jordan menyadari fakta bahwa Alex sudah lama menunggunya.


"Kamu datang tanpa pemberitahuan."


"Aku selalu datang setiap tahun, di hari ini Jody."


Dahi Jordan berkerut.


"Kamu selalu mengurung dirimu di kamar setiap tahunnya. Tapi hari ini berbeda seperti sebelumnya."


Jordan melonggarkan ikatan dasinya kemudian di di sofa.


"Apa yang ingin kamu katakan Lux. Kamu bisa mengatakannya dengan jelas." Jordan melipat tangannya di dada kemudian bersandar di sofa.


"Darimana saja kamu?"


"Sepertinya itu bukan urusanmu untuk tahu aku kemana."


Wajah Alex mengeras mendengar jawaban Jordan.


"Aku sudah mendengar cerita tentang Sofia."


Keheningan pecah diantara keduanya.


"Tidak seharusnya kamu menunjukkan secara terang-terangan perasaanmu Jody."


Alex mengubah posisi duduknya. Punggungnya tegak dengan rahang yang mengeras.


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kamu menginginkan sesuatu yang bukan milikmu?" Alex melemparkan tatapan tajam.


Meskipun wajah Alex menggelap dan suaranya menusuk. Jordan tidak goyah. Dia tidak takut. Dilatih dengan kerasnya medan perang yang siap mati kapapun membuatnya tidak takut pada apapun.


Berbeda dengan Alex yang selalu mengintimidasi dengan kekuasaannya, bagi Jordan, Alex seperti anak singa yang sedang mengaung. Punya tering tapi tidak punya kekuatan.


Jordan tertawa dengan kepala miring. Seringai muncul di sudut bibirnya.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan Lux? Langsung saja, jangan berputar-putar."


"Sofia Barell. Menjauh darinya."


Alex melemperkan tatapan permusuhan pada Jordan. Jordan yang sudah terbiasa dengan tatapan ini menegakkan punggungnya kemudian buka suara.


"Saya tidak tahu siapa itu Sofia Barell, yang saya kenal adalah Sofia Margareth."


Alex terserak ludahnya sendiri. Matanya membulat sempurna.


"Baiklah siapapun nama belakang Sofia, berhenti mendekati wanita yang baru saja kamu temui di danau hutan berburu."


Jordan terkesiap.


"Kamu memata-mataiku Lux?"


Wajah Alex mengeras. Dia perlu menegaskan batas yang tidak bisa Jordan lewati.


"Jody, begini... wanita itu adalah alat untuk melegitimasi posisi Janetta. Jika keluar rumor kamu dekat dengannya, segala sesuatu akan jadi rumit. Jadi tolong menjauh darinya. Jika tugasnya sudah selesai, kamu bebas melakukan apapun dengannya. Untuk saat ini tolong tahan keinginanmu."


"Aku menolak."


"Jody."


"Jangan sentug Sofia. Aku sudah memperingatkanmu. Aku tidak peduli dengan rencanamu Lux. Janetta sudah masuk ke istana, aku rasa tugas Sofia sudah selesai."

__ADS_1


"Tidak. Tidak seperti itu."


"Ya? Maksud kamu apa? Jika Janetta gagal melahirkan pangeran kamu akan menggunakan Sofia untuk melahirkan pangeran?"


Alex tertegun tak menjawab.


"Lalu anak itu akan menjadi pangeran yang lahir dari Janetta. Kemudian hal ini akan dijadikan dasar Janetta duduk di kursi permaisuri?"


"Sejak awal itu adalah tugasnya."


"Apakah Sofia sudah tahu? atau kamu belum pernah berbicara dengannya Lux? Apakah kamu pernah memikirkan perasaannya?"


Amarah Jordan membumbung tinggi melihat kediaman Alex. Diamnya seolah-seolah mengiyakan asumsi Jordan.


Membayangkan Sofia berhubungan dengan Alex hingga melahirkan anaknya, cukup membuatnya tidak waras. Jika itu menjadi nyata, Jordan bisa gila sepenuhnya.


Alex tidak boleh menyentuh barang satu helaipun rambut Sofia.


"Aku rasa sudah cukup pembicaraan kita. Aku harap kamu bisa berpikir jernih Jordan. Jangan menginginkan sesuatu yang bukan milikmu."


"Sofia bukan barang, dia manusia yang punya perasaan."


"Aku tidak peduli."


Alex bangkit kemudian melangkah pergi.


"Jika kamu menyentuh Sofia sedikit saja, kamu harus membayar setiap jengkalnya Lux. Aku serius."


Brak.


Suara pintu dibanting terdengar keras.


Jordan mengusak rambutnya kasar. Sofia harus segera menjadi miliknya. Bagaimanapun caranya, mudah atau sulit Jordan tak peduli. Dia siap menghadapi rintangan untuk mendapatkan Sofia.


Alih-alih kembali ke ruang kerja dengan dokumen yang menumpuk untuk diselesaikan, Alex pergi ke istana belakang begitu dia sampai di istana.


Matanya memindai bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Hening dan menyedihkan. Kondisinya yang terabaikan sangat menyedihkan di mata Alex.


Matanya yang dipenuhi rasa kesal dan emosi yang meluap, Alex membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Cahaya langit semakin meredup saat Sofia tenggelam dalam kesenangannya. Hingga tidak dia sadari, Alex berdiri melihatnya tanpa berkedip.


Saat kepala Sofia mendongak dengan tangan mengangat kertas putih penuh hiasan, tatapannya bertemu dengan Alex.


"Astaga!" Sofia menjerit kaget. Kertas ditangannya terlempar begitu saja.


"Yang, Yang Mulia." Dengan suara gagap Sofia bangkit dan segera membungkuk.


"Sepertinya aku mengganggumu." Suara Alex memecah keheningan.


"Tidak Yang Mulia. Silahkan berbicara dengan nyaman." Sofia menegakkan punggungnya dengan senyum tipis.


Wajah Alex mengeras. Bola matanya yang berwarna cerah kini menggelap. Perubahan emosinya terjadi karena melihat Sofia yang kaku ketika berhadapan dengannya.


Kemana perginya wanita yang berbinar-biar penuh senyum. Dengan wajah memerah karena malu. Tertawa lepas dan bebas. Seperti hanya kebahagiaan yang dia miliki.


Darah Alex mendidih.


"Apakah karena aku memperlakukanmu tidak baik makanya kamu seperti ini padaku?"


"Maaf? Apa yang anda bicarakan Yang Mulia?"


"Ah sudahlah. Pikiranku sedang kacau makanya aku seperti ini." Alex berbalik dengan hati yang menghitam.


"Yang Mulia, apa sebenarnya yang ingin anda sampaikan? Anda jauh-jauh datang kemari tidak bermaksud untuk meracau bukan? Bahkan ini pertama kalinya anda masuk ke dalam istana. Mohon berbicara dengan nyaman." Suara Sofia menajam dan dingin.


Alex menoleh dengan dahi berkerut. Suara Sofia selalu bermusuhan ketika mencapai telinganya. Mengkhianati apa yang dia lihat saat bersama Jordan. Mereka saling berbisik lembut.


"Ya, setidaknya aku harus memuaskan rasa penasaranku. Seperti apa yang kamu katakan, aku sudah datang jauh-jauh kemari."


"Silahkan berbicara dengan nyaman." Sofia menautkan kedua tangannya di atas gaunnya.

__ADS_1


"Ada satu hal yang ingin aku sampaikan." Hening sejanak. "Menjauhlah dari Duke Hexalios."


Sofia terhenyak. Suaranya tercekat di tenggorokannya.


"Kamu tentu tahu apa tugasmu disini. Jika rumor tersebar, semuanya akan sulit. Janetta baru saja debut di pergaulan sosial sebagai selir kaisar. Jalannya akan terhambat jika sesuatu seperti itu menyebar."


Tentu Sofia tahu apa tugasnya, entah kenapa saat mendengarnya langsung dari Alex terasa menyakitkan. Sofia kira itu tidak akan sakir, ternyata sangat sakit. Sofia ingin memukul dadanya yang sesak.


"Kami hanya berteman Yang Mulia. Anda tidak perlu khawatir."


"Jordan, maksudku Duke Hexalios adalah satu-satunya keluarga kaisar dan memiliki kekuasaan tinggi kedua setelah kaisar. Jadi hentikan pertemuan kalian. Bagaimanapun, tingkatakan kalian berbeda."


Sofia mengangguk. Dia tentu tahu betapa rendahnya dia dihadapab Alex. Tapi Sofia lelah ditindas. Dia tidak melakukan kesalahan apapun.


"Yang Mulia." Suara Sofia rendah. "Bukan saya yang mencoba menggoda Duke, tapi beliau yang terus meminta saya untuk menjadi temannya. Bukankah ucapan anda keterlaluan?" Sofia hampir menangis. Perasaannya selalu rumit saat berhadapan dengan Alex.


"Kamu sudah berjanji untuk membantu Janetta."


"Ya dan anda juga berjanji untuk membebaskan saya."


Sofia menyambar secepat kilat.


"Jangan lakukan hal-hal konyol yang bisa merusakn kesepkatan kita. Aku akan membebaskanmu begitu Janetta menjadi permasuri."


"Kapan itu?"


"Saat seorang pangeran lahir."


"Jika seorang putri yang lahir?"


"Kamu yang akan menggantikan Janetta melahirkan pangeran."


Seperti disambar petir tanpa hujan, tubuh Sofia menegang saat mendengar ucapan Alex. Sesuatu yang belum pernah dia dengar dalam mimpinya. Dalih sebagai istri kaisar, dia dituntut untuk melahirkan anak. Terlebih seorang pangeran.


Ternyata ada juga variabel seperti ini. Sofia ingat jika Janetta juga akan melahirkan pangeran, setelah Felix lahir. Tapi urutannya sedikit kacau. Seharusnya Janetta menjadi permaisuri dulu baru melahirkan pangeran.


Sebenarnya apa yang terjadi?


"Maaf saya menolak Yang Mulia."


Mata Alex menyipit mendengar tanggapan Sofia.


"Kamu harus siap dengan segala resikonya."


"Ya tentu saja. Tapi saya menolaknya."


"Apakah ini karena Jordan? Kamu menyimpan perasaan padanya bukan?"


Mata Sofia membulat sempurna. Bibirnya terasa kering.


"Tolong jaga ucapan anda Yang Mulia. Kami hanya berteman."


"Aku bahkan tidak percaya pada kalian. Pasti ada sesuatu diantara kalian."


"Tidak ada Yang Mulia."


"Aku melihat kalian di tepi danau hari ini."


Kelopak dengan bulunya yang panjang mengerjap beberapa kali. Tenggorokan Sofia tercekat. Dia tidak mampu menjawab.


"Tolong buang prasangka buruk anda, kami tidak ada hubungan apapun selain sebagai teman." Sofia teguh dengan jawabannya.


"Bersiaplah untuk beberapa hari ke depan."


"Maksud anda?"


"Aku akan menyempurkan pernikahan ini."


"Ya? Apa yang anda katakan? Tidak saya tidak bersedia."


Wajah Sofia memucat. Ucapan Alex menariknya jatuh ke lubang tanpa dasar. Tubuhnya gemetar takut.

__ADS_1


"Aku perlu menunjukkan pada Duke Hexalios siapa pemilik sebenarnya."


The Empress Crown #17 Next...


__ADS_2