Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #6


__ADS_3

Jordan Hexalios tidak pernah tidak menepati janjinya. Seorang kurir beserta surat telah datang.


Awalnya Sofia hanya penasaran. Begitu kakinya melangkah keluar pintu belakang istana, seseorang yang entah darimana datangnya muncul begitu saja.


Seorang laki-laki muda mengenakan seragam rapi. Setelah menyerahkan surat, dia langsung menghilang begitu saja. Bahkan Sofia belum sempat berterima kasih.


Sofia bergegas kembali.


Dia duduk di kamarnya yang kini beralih fungsi menjadi tempat kerjanya. Sofia mengamati amplop putih dengan segel emas berlambang singa. Kepala Sofia miring ke kanan. Dia segera membuka suratnya.


Kata-kata yang tertulis disurat sangat sederhana.


Halo Sofia, ini aku.


Jika kamu sudah membaca surat ini artinya kamu sudah bertemu dengan kurir pengantar surat. Panggil dia Alfons. Dia anak muda yang baik.


Tidak perlu menunggu dan mencari Alfons. Dia akan selalu datang ketika kamu membutuhkannya.


Jangan lupa segera kirimkan balasan Sofia, aku menunggunya.


Jordan Hexalios.


"Hexalios?"


Sofia hampir tersedak. Dia pernah mendengar nama keluarga Hexalios. Seperti tidak asing. Sofia memeras ingatannya. Saat sesuatu muncul di kepalanya, Sofia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Hexalios adalah satu-satu pemilik gelar Duke di Elderbar. Nama itu tidak serta mata datang tanpa sebab. Leluhur Hexalios adalah pahlawan dalam perang pendirian Kekaisaran Elderbar.


Karena kontribusi yang besar ini salah satu putri kaisar dinikahkan dengan Duke Hexalios. Secara tidak langsung, Hexalios juga berdarah kaisar dan berhak atas tahta.


Darah panas mengalir deras. Dengan tangan gemetar Sofia kembali memeras ingatannya.


Pasangan Duke dan Duchess telah lama meninggal akibat kecelakaan kereta saat mereka sedang liburan.


Jika tidak salag ingat, Jordan Hexalios adalah satu-satunya mereka. Itu artinya, Jordan adalah Duke Hexalios yang sekang.


"Astaga!" Sofia memekik pelan.


Mendapatkan kebenaran ini lebih mengejutkan dibandingkan pertemuannya dengan Jordan sendiri.


Sofia tidak ingin terlibat dengan keluarga kekaisaran. Kenyataan bahwa Alex dan Jordan adalah saudara tidak bisa dihiraukan sama sekali. Berteman dengan Jordan terlalu berbahaya.


Jordan yang menjadi variabel kemungkinan membawa ketidakberuntungan. Semakin sedikit orang yang tahu tentangnya, semakin aman untuk Sofia.


Lagipula Sofia tidak ingin ada rumor kotor tentangnya. Meskipun dia hanya berteman dan berbagi surat dengan Jordan. Segala kemungkinan bisa terjadi.


"Aku harus segara menghentikan ini."


Sofia segera mengambil satu lembar kertas berwarna biru penuh dengan hiasan bunga kering buatannya sendiri. Dia mengambil nafas dalam-dalam kemudian mulai menulis.

__ADS_1


Surat itu telah dibungkus rapi dengan dua buang sapu tangan. Satu milik Jordan yang ingin Sofia kembalikan, dan satunya lagi adalah hadiah untuk Jordan.


Itu adalah sapu tangan putih dengan kain sederhana. Tidak sepadan dengan sapu tangan sutra milik Jordan. Namun sapu tangan itu memiliki sulaman bunga di empat sudutnya, satu karya pertama yang Sofia buat.


Sofia tak lupa menyemprotkan sedikit parfum bunga yang dia buat sendiri juga.


Tanpa terasa langit telah gelap. Sofia menyimpan suratnya dengan baik di laci. Besok dia akan menyerahkannya pada kurir.


Benar apa yang dikatakan Jordan dalam suratnya. Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu belakang istana, seorang laki-laki muda yang Sofia kemarin muncul entah darimana.


Sofia segera mendekat dan mengeluarkan seikat surat pada kurir itu. Suratnya sangat sederhana. Diikat dengan tali rami yang dia anyam sendiri, tanpa simbol dan tanpa ciri khas keluarga bangsawan.


Sofia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih saat matanya terbelalak menyaksikan kurir tersebut menghilang tanpa jejak.


Dengan langkah gontai Sofia kembali ke istananya. Malam ini dia berencana untuk pergi ke taman istana. Dia butuh beberapa bunga lagi. Kali ini Sofia ingin pergi sendiri. Dia tidak ingin merepotkan Ema dan Rona untuk terus membantunya.


Sepeeti biasa, taman itu tampak suram, sepi dan hening. Sofia segera memindai beberapa bunga dengan bantuan cahaya bulan.


Dia berjongkok rendah ke tanah untuk mengambil beberapa bunga yang tumbuh pendek. Tak butuh waktu lama utuk memenuhi rok Sofia dengan bunga.


Saat dia terhanyut dengan aktivitasnya, langkah kaki terdengar. Telinga Sofia mengirimkan sinyal bahaya ke otaknya. Segera dia bangkit dan bersembunyi di semak-semak yang gelap. Jika dia berlari otomatis langkahnya akan terdengar.


Sofia menahan nafas dan mulutnya dengan kedua tangannya. Dia lengah.


Seperti yang pernah dia lihat sebelumnya. Dua orang sedang berjalan beriringan dan saling bergandengan tangan. Itu adalah Alex dan Janetta. Sofia mengenali mereka saat sosoknya terungkap di bawah sinar bulan.


Wajah pucat dengan bibir biru dan mata tertutup rapat itu masih terngiang di kepala Sofia. Saat itu adalah hari pemakaman Felix de Elderbar, putra mahkota Kekaisaran Elderbar yang dieksekusi mati oleh ayahnya sendiri karena dianggap meracuni adik tirinya.


Pemakaman itu tidak layak. Bahkan tidak ada satupun keluarga kekaisaran yang datang untuk mengatarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Hanya jeritan dan tangisan satu orang yang mengiringinya, bukan doa dari seluruh rakyat yang ditinggalkan, hanya suara ibunya, dan dia adalah Sofia.


Tekad Sofia semakin gigih untuk mengubah masa depan yang dilihatnya dalam mimpi.


Suara langkah kaki sudah tidak terdengar lagi. Sosok dua orang yang berjalan sambil bergandengan tangan juga sudah menghilang.


Sofia bangkit kemudian keluar dari tempat persembunyiannya. Saat kakinya melangkah untuk meninggalkan taman, sosok hitam besar bediri kokoh di depannya. Karena minimnya cahaya disekitar, Sofia terkejut dan bunga yang ada digenggamannya berhaburan.


"Astaga!" Sofia memekik.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Suara Alex terdengar. Sofia mengenalinya.


"Yang Mulia?" Sofia memastikan padangannya.


Ranting bergoyang tertiup angin. Cahaya bulan menerobos dan mengenai wajah Alex.


Sofia bisa melihat wajah dingin Alex dengan bola mata yang menatapnya lekat.


"Salam kepada matahari Elderbar. Semoga berkat Dewa Elderbar selalu menyertai anda Yang Mulia." Sofia tidak melupakan sopan santunnya.

__ADS_1


Setelah membungkuk dan kemudian meluruskan punggungnya, Sofia bisa melihat kerutan di dahi Alex.


"Seseorang yang seharusnya tidak berada disini, sekarang ada disini. Bersembunyi dan mengandap-endap. Seperti seorang pencuri."


Kata-kata Alex sangat tajam. Jika itu pisau, Sofia pasti sudah tercabik-cabik.


"Bukankah anda sedikit berlebihan Yang Mulia?Saya hanya mengambil sedikit bunga di taman yang sepertinya tidak akan habis meskipun saya mengambilnya setiap hari selama seratus tahun lamanya."


Sofia tak kalah tajam.


"Pencuri adalah pencuri."


Mata Sofia membulat mendengar ucapan Alex. Nadanya penuh akan amarah.


"Apakah anda marah Yang Mulia?"


Salah satu alis Alex terangkat.


"Apa yang membuat anda marah? Saya yang mengambil bunga tak seberapa ini atau karena saya melihat anda bersama dengan Lady Janetta Oliver?"


Ketegasan meluncur begitu saja dari mulut Sofia. Jika Alex bisa menyerangnya, kenapa dia tidak. Dia hanya mengambil sedikit tapi mendapatkan ucapan yang menyakitkan.


"Tutup mulutmu!"


Suara Alex menggelegar.


Sofia tersentak.


"Orang rendahan mau bagaimanapun tetap rendahan. Mengintip urusan orang lain dengan berbagai alasan."


"Ya? Saya tidak berbohong Yang Mulia. Saya hanya mengambil bunga di taman. Saya tidak punya niatan untuk mengintip anda."


Sofia akhirnya tahu penyebab amarah Alex. Dia dituduh mengintip mereka. Sofia hampir saja tertawa jika saja mata Alex tidak menusuknya.


"Omong kosong. Jangan pernah dekati area ini mulai dari sekarang. Bukankah kamu sendiri yang berjanji tidak akan muncul dihadapanku lagi atau mendekati istana utama?"


Sofia hampir saja tersedak. Bukankah itu terbalik? Dia sendiri yang mendekati Sofia. Sofia mendecakkan lidahnya. Tidak akan ada ujungnya berdebat dengan orang keras kepala. Sofia akan mengalah.


"Baik Yang Mulia. Maaf atas kesalahan saya."


Sofia membungkuk mengakui kesalahannya. Bukan untuk semuanya, tapi hanya satu, masuk ke taman istana utama.


Alex acuh tak acuh seperti biasa. Dia segera berbalik alih-alih menjawab.


"Yang Mulia. Pastikan anda menepati janji anda. Bukan untuk berteman, tapi dua permintaan saya. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi. Tolong tetap ingat janji anda Yang Mulia. Semoga berkat Dewa Elderbar selalu menyertai anda."


Meskipun tidak keras, Alex mendengar suara Sofia. Tapi dia tidak menghiraukannya.


The Empress Crown #7 Next...

__ADS_1


__ADS_2