Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Game of Hearts #11


__ADS_3

Seokyung menatap nanar ponselnya. Dia membaca pesan yang dia kirimkan pada Sora. Centang biru dan pemberitahuan terkirim terlihat. Beberapa bulan lalu pesan itu belum terkirim dan hari ini secara mengejutkan pesan itu telah terkirim. Itu artinya Sora telah menerima pesan yang dia kirim, pesan tentang kehamilannya.


Perasaan Seokyung campur aduk. Dia bingung harus bagaimana. Akhirnya Seokyung mengirim pesan lagi tentang masa kehamilannya dan waktu melahirkan, Seokyung juga menekankan sisa uang yang akan dia dapat setelah perjanjian berakhir. Tidak munafik. Seokyung sangat butuh uang itu.


Pesan itu terkirim, tapi Sora tidak membalasnya. Perasaan ganjil kembali memenuhi hatinya.


"Ah!" Perut Seokyung bergejolak. Dua bayi di dalam perutnya seperti tahu akan perasaannya. Ini adalah kali pertamanya dua jabang bayi itu menunjukkan eksistensinya di dalam.


"Ah!" Tendangan kembali terasa, kali ini disebalah kanan. Bukan hanya ada satu tapi dua sekaligus. Seokyung dibuat merintih akan keaktifan mereka di dalam perutnya.


"Sayang, apakah kalian mengerti perasaan ibu? Maafkan ibu karena tidak memperhatikan kalian."


Tendangan mereda. Seokyung kembali mengelus perutnya pelan-pelan. Hatinya sakit. Membayangkan anak-anaknya tumbuh tanpa kehadirannya. Mereka tidak tahu siapa ibu yang melahirkannya. Mereka tidak akan mengenal Seokyung. Air matanya kembali tumpah. Bagaimana seorang ibu tega menjual anaknya. Darah dagingnya sendiri.


Mata Seokyung bengkak dan merah. Seharian ini dia lakukan dengan menangis. Hatinya lembut. Sensitif akan hal kecil. Hwan sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Dia baru akan kembali besok. Seokyung tidak mau menunjukkan hatinya yang bengkok pada Hwan. Dia diurus dan dijaga dengan baik oleh orang-orang yang dipilih Hwan.


Tapi Hwan kembali tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia pulang lebih awal. Saat Seokyung sedang terisak dibalik selimutnya, Hwan masuk.


"Seokyung?" Suara Hwan menggema.


Seokyung menarik selimut dan melihat sekitarnya. Memastikan telinganya tidak salah. Hwan berdiri terpaku di samping tempat tidurnya. Dia segera bangkit dan dengan langkah gontai menghampiri Hwan. Kehamilannya yang memasuki bulan kelima terlihat besar.


"Hwan? Kamukah itu?" Tanya Seokyung dengan tangis yang semakim keras.


"Apa yang terjadi?" Hwan membalas pelukan Seokyung. Tangannya mengelus ramput panjangnya.


"Aku tidak salah bukan? Kamu benar Hwan bukan?" Tangan Seokyung melekat erat di leher Hwan.


"Benar ini aku. Apa yang terjadi? Kamu menangis, apa ada yang menyakitimu?"


Seokyung menggeleng dalam pelukan Hwan. "Aku merindukanmu." Ucapnya dengan suara teredam dada Hwan.


"Aku juga. Aku juga sangat merindukanmu. Maafkan aku meninggalkamu sendiri di rumah." Hwan mengangkat tubuh Seokyung kemudian membawanya ke sofa.


Dua tubuh menempel dalam pelukan erat. Seperti melepas rindu satu sama lain. Mereka berdua saling mencurahkan isi hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Ah!" Seokyung melepas pelukannya kemudian memegang perutnya.


"Apa yang terjadi?"


"Bayinya menendang."


"Ya?"


Seokyung menarik tangan Hwan kemudian menempelkannya di perutnya yang bergerak-gerak. Mereka terkejut saat bayi mereka bergerak. Seokyung juga belum terbiasa.


Mata Hwan melebar saat merasakan gerakan di perut Seokyung.


"Ya Tuhan!" Pekik Hwan.


"Karena ada dua, gerakan mereka sangat terasa." Tutur Seokyung yang tersenyum dengan pipinya yang masih basah.


"Benar. Mereka sangat aktif." Kepala Hwan menunduk kemudian mencium perut Seokyung. "Sayang jangan nakal. Jangan ganggu ibu." Bisiknya lembut sambil mengelus perut Seokyung.


Gerakan berhenti.


"Tentu saja aku ayahnya." Balas Hwan sombong. Senyumnya terbit. Dia kembali mendongak seraya mengusap air mata Seokyung di pipinya.


Seokyung membalas dengan senyum getir. "Hwan..." Panggilnya pelan.


"Apa itu? Katakan saja." Hwan menatap Seokyung.


"Semua pesan yang aku kirim ke Sora telah terkirim. Aku juga mengirim pesan lagi tentang waktu persalinanku." Ucapnya dengan suara rendah.


Alis Hwan berkerut. Wajahnya berubah keras. Kehangatan dari tubuhnya kini menjadi dingin.


"Sudah aku bilang fokus saja pada kehamilanmu, jangan pedulikan Sora." Ucapnya dengan suara kesal.


"Tapi bagaimanapun dia berhak tahu. Perjanjian ini sudah setengah jalan."


"Hentikan! Aku tidak mau mendengar ini." Sorot mata marah terlihat. Seokyung bergidik ngeri.

__ADS_1


"Hwan, istrimu adalah Sora. Anak yang akan lahir ini akan menjadi anak kalian. Jangan seperti ini. Kalian sudah harus memikirkannya. Tentang bagaimana ke depannya."


Hwan diam, memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Deru nafasnya terdengar kasar.


"Setelah mereka lahir perjanjian itu akan berakhir dan aku harus segera pergi. Aku hanya ingin anak ini dibesarkan dengan kasih sayang kedua orang tuanya."


"Ibunya adalah kamu Seokyung, bukan Sora." Hwan kembali menatap Seokyung. Sorot matanya merah gelap karena terbakar amarah.


"Bukan. Sora adalah ibu mereka." Seokyung menyesali ucapannya ini. Dia segera mengelus perutnya yang besar karena kembali bergejolak.


"Lupakan Sora. Aku tidak peduli dia kembali atau tidak. Kamu adalah ibu mereka, kamu yang akan melahirkan mereka jadi kamulah ibunya. Siapa lagi yang akan mengurusnya jika bukan kamu?" Suara marah Hwan menggelegar.


"Istrimu adalah Sora bukan aku." Bantah Seokyung. "Aku hanya orang lain yang tega menjual anaknya demi uang." Kepala Seokyung menunduk. Air matanya mengancam keluar.


"Cukup! Aku tidak ingin membahas ini lagi." Hwan bangkit. Amarah menguasainya. Dia takut akan hal-hal yang diucapkan Seokyung. Semuanya benar tidak ada yang salah. Tapi Hwan menolak kenyataan itu.


"Hwan jangan pergi aku mohon." Seokyung menarik tangan Hwan.


"Aku butuh berpikir jernih." Hwan melepas tangan Seokyung kemudian pergi.


Tangis Seokyung kembali pecah saat punggung Hwan tidak terlihat lagi. Dia menangis hingga malam, menunggu Hwan kembali namun mengecewakan. Hwan tidak datang ke kamarnya. Tidak ada di ruang kerjanya, Hwan tidak ada di rumah. Hwan pergi tanpa memberitahu Seokyung.


Hingga hari berikutnya, salah satu staff yang berada di rumahnya menemui Seokyung dan mengatakan jika Hwan sedang meninjau proyek hotel baru di Paju, jauh dari Seoul.


Merasa kehilangan tentu iya. Hwan tidak kembali selama berminggu-minggu. Sudah lima minggu dia tidak pulang. Dua minggu awal Seokyung habiskan untuk menangis. Dia tidak pernah menghubungi Hwan karena memang tidak memiliki nomornya. Tapi Seokyung selalu bertanya tentang kondisi Hwan pada para staff.


Dia pergi ke dokter diantar oleh para staff. Jenis kelamin bayi di dalam kandungannya telah terungkap. Mereka satu pasang, laki-laki dan perempuan. Seokyung tidak memberitahu Hwan. Tapi entah darimana Hwan tahu, dia mengirim bunga dan beberapa hadiah lewat staff. Seokyung tertawa getir menerimanya.


Suatu pagi Hwan pulang tapi tidak naik ke kamar Seokyung. Seokyung mendengar kepulangan Hwan dari para staff. Mereka mengatakan jika Hwan hari ini terbang ke Jeju untuk menghadiri pertemuan dengan para pemegang saham dan meninjau proyek baru disana. Mungkin memakan waktu beberapa bulan.


Hwan pergi dengan meninggalkan banyak hadiah. Khusus untuk bayi mereka yang belum lahir. Beberapa hari setelah kepulangan dan kepergian Hwan lagi, tiga orang arsitek datang untuk membuat kamar bayi. Mendekorasi dan mengisi semuanya dengan perabot lengkap. Seokyung melihatnya tanpa ekspresi. Hatinya kini sulit dijelaskan.


Menurut Seokyung tindakan Hwan ini tepat. Hwan tidak menyakitinya. Ketidakpedulian Hwan padanya dia anggap sebagai ucapan selamat tinggal lebih awal. Salam perpisahan sudah seharusnya dipersiapkan. Bagaimapun mereka akan jadi orang asing setelah bayi di dalam perutnya lahir.


Hingga waktu persalinan yang semakin dekat, Hwan tidak pernah pulang.

__ADS_1


Game of Hearts #12 Next...


__ADS_2