Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #28


__ADS_3

"Sofia!" Jordan terkejut saat turun dari kereta dan di sambut oleh Sofia.


Kepala pelayan dan para pelayan berdiri di belakang beberapa langkah dengan kepala menunduk. Tidak ada yang membuka mulutnya.


"Selamat datang Duke. Mohon maaf atas kelancangan saya. Mereka tidak bersalah." Sofia menoleh sekilas kemudian melanjutkan.


"Ada yang ingin saya sampaikan. Saya tidak akan lama. Mungkin Duke tidak nyaman tapi saya mohon tahan sebentar. Saya janji tidak akan lama."


"Tidak, tidak seperti itu Sofia..." Jordan menekan pelipisnya yang terasa sakit.


"Saya hanya ingin berbicara berdua dengan anda." Suara Sofia tegas.


"Ikut aku." Jordan memimpin jalan kemudian diikuti oleh Sofia.


Para pelayan yang tubuhnya menegang kini lega. Betapa terkejutnya meraka saat melihat Sofia sudah berdiri di depan pintu sebelum mereka datang.


Itu adalah waktu ketika Jordan kembali. Sangat larut malam. Kepala pelayan mencoba membuka mulutnya namun gagal.


"Ada yang ingin saya sampaikan sendiri pada Duke. Jadi tolong biarkan saya disini menunggunya."


"Baik Nyonya." Para pelayan dipaksa untuk setuju.


Tanpa memikirkan perubahan wajah para pelayan, Sofia membalikkan tubuhnya. Tidak peduli dengan suara mencekam di belakangnya.


"Selamat malam Yang Mulia. Lama tidak bertemu, bagaimana kabar anda?"


Begitu pintu ditutup Sofia segera memberi salam. Itu adalah tempat yang baru pertama kali dia datangi. Ruang kerja Jordan. Kamar mereka terpisah satu lantai jauhnya. Lantai bawah sangat asing baginya. Meskipun dia sudah tinggal cukup lama, hampir dua bulan lamanya, Sofia tidak pernah memiliki rasa penasan pada pintu tertutup di ruang lain selain kamarnya dan perpustakaan.


"Duduklah." Jordan menunjuk sofa di dekat Sofia. Dia melepas jasnya kemudian menyusul duduk.


Mereka saling berhadapan satu sama lain. Kegelapan malam hampir menelan seluruh ruangan jika saja lilin tidak dinyalakan. Sofia menegakkan punggungnya dengan tangan gemetar cemas. Keberanian yang sudah dia pupuk sejak pagi tadi menguap tanpa sisa.


"Yang Mulia maaf mengganggu waktu anda. Ada sedikit yang ingin saya sampaikan. Saya tidak akan lama." Sofia kembali menegaskan kata-katanya.


"Ya, ya pasti ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan."


Sofia mengangguk kecial.


"Yang Mulia saya tahu anda mengabaikan saya. Saya tidak mempermasalahkan itu. Saya tentu berterima kasih dengan apa yang selama ini anda berikan pada saya. Anda membantu saya. Anda bahkan memberikan tempat tinggal untuk saya. Saya merasa sudah cukup dengan semua yang saya terima, jadi tolong jangan melakukan apapun lagi. Saya takut tidak mampu membalasnya." Panjang dan lebar jika didengar tapi ini hanya setengah saja dari apa yang Sofia ingin sampaikan.


"Ya? Mengabaikan? Sofia kamu salah paham, aku bisa menjelaskan." Suara Jordan gugup.


"Ya jika itu tidak, saya tidak masalah Yang Mulia. Bukan itu yang ingin saya sampaikan."


"Sofia tunggu dulu.."


"Yang Mulia saya tahu anda sengaja berangkat pagi hari dan pulang larut malam. Jika anda merasa tidak nyaman bertemu dengan saya, saya akan berusaha untuk tidak terlihat. Tapi saya mohon untuk mengatakan kepada saya sendiri apapun itu. Agar saya tidak salah paham. Jangan melalui kepala pelayan atau orang lain. Bahkan hari ini juga, ada perancang busana datang dengan banyak hal. Tolong sampaikan terlebih dahulu pada saya agar saya bisa mengambil sikap."


Jordan membeku ditempat, tidak mampu menghentikan rentetan kata-kata yang keluar dari mulut Sofia.

__ADS_1


"Saya tahu jika posisi Duchess ini hanyalah di atas kertas saja, tapi saya ingin melakukannya sebaik mungkin. Jadi tolong menjadi nyaman Yang Mulia, kita berteman bukan? Kita tidak seperti ini sebelum surat pernikahan itu ada. Jika anda merasa terbebani saya siap menanggung resikonya. Saya akan hidup seperti orang mati. Jika perlu saya tidak akan keluar kamar."


Mata Jordan membulat sempurna.


"Tidak, jika perlu saya siap bercerai kapan saja. Ah jika itu bisa menimbulkan rumor karena saya, saya akan tetap tinggal sedikit lebih lama. Saya bisa melakukan pekerjaan apapun. Saya membentu pekerjaan rumah tangga. Jika dirasa semua sudah aman, saya pasti akan meninggalkan rumah ini." Sofia mulai gugup.


Apa yang keluar dari mulutnya terdengar berputar-putar padahal tidak hanyak yang ingin dia sampaikan.


'Tolong tinggal dengan nyaman di rumah sendiri. Jika sudah waktunya tiba saya bersedia kapan saja pergi dari rumah ini, dan tolong jangan lakukan apapun. Saya takut tidak mampu membalasnya.' Tapi dia tak mampu. Jauh di dalam lubuk hatinya Sofia tidak ingin pergi. Sofia senang dengan perhatian Jordan yang tidak langsung.


"Apa? Apa maksudmu meninggalkan rumah ini?"


"Ya? Bukankah suatu saat nanti anda akan mencari Duchess yang asli? Suatau saat nanti setelah kita bercerai. Wanita yang anda cintai, istri sesungguhnya. Duchess Hexalios yang benar-benar bukan istri di atas kertas." Suara Sofia bergetar. Hatinya nyeri mengucapkan kata 'wanita yang anda cintai'.


Rasa asing terus membanjirinya. Jordan dengan wanita lain yang lebih layak, bukan dia. Seharusnya dia senang. Tapi Sofia tidak senang sama sekali. Laki-laki baik hati dan bertanggung jawab itu, sangat sulit untuk melupakannya. Mungkin Sofia harus menguatkan hatinya dalam kesendirian nantinya. Merindukan sosok laki-laki bernama Jordan Hexalios.


Jordan melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik. Dinginnya malam tak ada apa-apanya dibandingkan dengan tubuhnya yang kian memanas. Omong kosong macam apa yang baru saja dia dengar.


"Sofia.." Suara Jordan rendah.


"Tidak pernah ada perceraian di keluarga kami. Kami selalu menjaga ikatan suci sampai maut menjemput."


Sofia terkesiap. Sorot mata Jordan yang penuh percaya diri kini tidak terlihat. Dia tampak terguncang dan sedih.


Kenapa? Sofia hanya mampu menutup rapat-rapat mulutnya. Aneh melihat laki-laki yang sepertinya tidak akan terprovokasi meskipun langit runtuh, kini gelisah.


"Tidak, saya seharusnya yang minta maaf karena membebani anda."


"Sofia diam! Dengarkan aku!" Bentakan kecil keluar dari mulut Jordan.


Sofia tersentak. Jordan marah. Sangat terlihat marah. Tapi Sofia tidak tahu kenapa dia marah.


"Akan coba jelaskan Sofia, tolong.." Jordan memijit pelipisnya yang nyeri. Dia sudah cukup tersiksa selama empat belas hari, tapi semua upayanya tampak sia-sia. Sofia salah paham padanya.


Dia tidak bermaksud untuk mengabaikan Sofia. Ciuman sekilas di meja makan empat belas hari yang lalu masih berputar di kepalanya. Jika memikirkan itu Jordan hampir menjadi gila. Tali kekang kewarasan yang susah payab di tekan hampir lepas. Jika tidak dia pasti sudah meyerang Sofia. Mengurungnya kemudian memuaskan nafsunya untuk memiliki Sofia seutuhnya. Dia laki-laki dewasa dan normal. Hasrat yang tak terbendung itu menakutkan.


Mereka sudah menikah, tidak salah jika dia menuntut Sofia dengan dalih kewajiban seorang istri bangsawan untuk melahirkan penerus. Itu adalah haknya. Dia bisa meminta apapun pada Sofia dengan ancaman surat pernikahan yang telah dilegalkan oleh Kaisar dan Dewa Elderbar.


Tapi Jordan tidak bisa seperti itu. Dia tidak sanggup untuk memaksa Sofia. Melihat tubuhnya yang rentan membuat Jordan berpikir jika dia mendorongnya sedikit, Sofia pasti hancur.


Ciuman singkat yang tidak bisa disebut ciuman jika orang lain melihatnya, itu hanya dua bibir yang menempel, empat belas hari yang lalu, memantik gelora laki-laki dewasa, nafsu itu membakar Jordan sampai habis. Alih-alih menuntaskan rasa panas yang berputar di tubuhnya, bahkan mendapatkan hatinya saja belum. Sofia masih menganggapnya teman.


Bahkan keinginan untuk memeluk atau memegang tangannya saja Jordan tahan, dia takut hal itu menyakiti Sofia. Yang bisa dia lakukan hanyalah melihatnya dari jauh. Memastikan hidup Sofia nyaman.


Tapi apa sekarang? Wanita yang dicintai? Duchess sesungguhnya? Perceraian? Amarah Jordan mendidih atas ketidakmampuannya.


"Pekerjaan di istana sangat menumpuk dan harus segera diselesaikan. Aku memutuskan untuk bergabung dalam dunia politik, posisiku sekarang adalah penasihat kaisar. Jadi wajar jika kamu salah paham. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengabaikanmu."


Ada kejujuran ada pula kebohongan. Memang sesungguhnya pekerjaan meningkat lima kalu lipat dari biasanya setelah masuk ke dunia politik. Tapi bohong jika dia tidak punya waktu sama sekali untuk pulang sekedar melihat Sofia. Tidak mungkin Jordan dengan lantang mengatakan "Aku ingin segera membawa ke tempat tidur begitu aku sampai rumah dan melihatmu Sofia!". Jordan bisa dianggap gila.

__ADS_1


Dia menawarkan pernikahan pada Sofia sebagai cara untuk lepas dari Alex. Jadi jika dia tiba-tiba berubah Sofia pasti akan membencinya. Dari awal dialah yang salah karena tidak jujur. Dia yang takut akan kenyataan bahwa hanya dialah yang mencintai Sofia sedangkan Sofia hanya menganggapnya teman.


"Maaf jika aku tidak menjelaskannya lebih awal padamu Sofia." Suara Jordan terdengar lemah.


"Untuk ke depannya aku akan mengatakannya terlebih dahulu padamu, apapun itu. Bahkan tentang kedatangan Madame Fox atau hari-hariku di istana. Jadi tolong jangan marah."


"Tidak saya tidak marah Yang Mulia."


"Ya kamu jelas marah."


"Saya tidak."


"Jika tidak kamu pasti sudah memanggilku seperti biasa, tapi kamu menggunakan gelar untuk memanggilku." Suara kecewa menetas.


Sofia membeku di tempat. Harus dia apakan laki-laki baik di hadapannya ini. Berani-beraninya dia membuat Duke Hexalios menunduk meminta maaf padanya. Menjelaskan situasinya dan memohon maaf atas kesalahpahaman bodohnya. Tubuh Sofia menyusut. Hatinya yang terbakar hangus seketika dengan kata 'maaf' darinya. Sofia menyadari jika hatinya sangat lemah.


"Jika itu yang dikatakan Jordan, saya percaya."


Suasana kembali mencair.


"Maaf atas kesalahpahaman saya."


"Kamu berhak melakukannya Sofia."


"Saya tidak akan salah paham lagi di masa depan. Jadi tolong sampaikan pada saya terlebih dahulu apa yang terjadi."


Jordan mengangguk. Menata perasaannya yang rumit.


"Saya dengar Lady Janetta akan dimahkotai permaisuri."


"Ya, itu sekitar sepuluh hari dari sekarang."


"Saya mendengarnya dari Madame Fox." Sofia diam sejenak.


"Dia mengatakan saya bisa saja hadir sebagai pasangan Jordan. Sepertinya dia tahu tentang pernikahan kita."


Jordan kembali mengangguk.


"Madame Fox adalah desainer pribadi keluarga Hexalios sejak lama. Jadi dia orang yang bisa dipercaya."


"Baik. Tapi saya tidak bisa melakukannya."


"Apa maksudmu?"


"Semua gaun itu indah tapi pasti harganya mahal. Apalagi tidak cukup hanya gaun, pasti ada aksesoris yang lain. Saya cukup menggunakan yang ada sekarang. Dan upacara penobatan, tidak mungkin saya bisa hadir."


"Apa?"


The Empress Crown #29 Next...

__ADS_1


__ADS_2