Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #4


__ADS_3

"Tolong kabulkan beberapa permintaan saya Yang Mulia."


Suara Sofia menggema. Keinginannya terdengar jelas.


"Apa yang kamu inginkan?"


Seolah mengiyakan posisi Janetta Oliver, Alex membuka suaranya.


"Suatu hari nanti tolong bebaskan saya dan dua pelayan saya, itu yang pertama."


Dahi Alex kembali berkerut.


"Kemudian yang kedua dan yang terakhir, tolong ijinkan saya untuk keluar istana. Saya hanya akan melihat sekitar. Tidak setiap hari, cukup dua atau tiga hari dalam satu minggu." Lanjut Sofia.


"Keluar istana?" Alex mengulang kata-kata Sofia.


"Saya tidak akan berkeliaran di dalam istana. Saya akan keluar masuk melalui pintu belakang. Saya akan merahasiakan identitas saya."


Senyum merekah di bibir Sofia.


"Silahkan lakukan sesuai keinginanmu." Itu kata terakhir Alex sebelum dia pergi.


"Yang Mulia, panggil saya Sofia. Anda tidak perlu menegur saya, cukup ingat nama saya saja." Sofia mengehela nafas. "Kita tidak akan bertemu lagi bukan ke depannya? Saya tidak tertarik untuk menjalani kehidupan suami istri sungguhan dengan anda. Tolong mengertilah." Sofia berusaha menguasai dirinya sendiri.


Langkah Alex terhenti sejenak. Sofia bisa melihat punggung itu.


"Dan tolong lupakan kejadian tadi."


Suara Sofia gemetar. Dia salah mengenali dan bahkan menangis di depan Alex.


Alih menjawab, Alex berjalan lebih cepat dan menghilang di antara kegelapan begitu saja.


Tubuh Sofia ambruk ke kursi yang tak jauh darinya. Detak jantungnya melonjok berkali lipat. Dia tidak membayangkan berhadapan dengan kaisar sesulit itu.


Meskipun di dalam mimpi dia pernah bertemu dengan kaisar, tapi rasanya tetap saja beda. Rasanya mencekik.


Masalah kaisar telah selesai lebih cepat dari perkiraannya. Dia hanya perlu hidup bersembunyi seperti tikus hingga Janetta Oliver masuk ke istana.


Sofia mencoba mengingat waktunya. Itu seharusnya tidak lama lagi. Setelah itu dia akan melahirkan anak kaisar dan menjadi permaisuri. Saat itulah Sofia akan meminta kebebasan pada Alex.

__ADS_1


'Felix'


Mengingat Janetta yang melahirkan anak kaisar, Sofia menyentuh perutnya. Dia juga melahirkan anak kaisar di dalam mimpi. Sangat mirip dengan ayahnya hingga tidak bisa dibedakan.


Kali ini anak itu tidak akan lahir sebagai anak kaisar kemudian mati ditangan ayahnya sendiri. Sofia bertekad mengubah semuanya.


Besok paginya datang seorang utusan dari kaisar yang membawa sebuah plat bulat berwarna perak, utusan itu mengatakan jika Sofia bisa menggunakan itu untuk keluar istana. Itu tanda langsung dari kaisar jika dia telah diijinkan untuk keluar masuk istana.


Sofia menghela nafas kasar. Dia ingin mengucapkan terima kasih kepada Alex dengan mengirimkan surat tapi segera Sofia urungkan. Dia tidak ingin terlihat sok akrab dengan Alex. Kesepakatan mereka jauh dari cukup untuknya.


Mulai hari ini Sofia akan menata hidupnya.


Uang memang ada tapi tidak banyak. Tidak ada barang berharga dari rumah Barell yang dibawa Sofia. Keluarganya mungkin cukup kaya tapi dia sendiri miskin.


Sofia memandang cincin bermata merah delima ditangannya. Itu adalah satu-satunya harta peninggalan ibunya.


Hari ini Sofia berencana untuk keluar istana. Dia akan ke pasar. Dia ingin menjual cincin itu untuk modal. Sofia memiliki kemampuan kerajinan tangan dari ibunya. Dia bisa menyulam dan membuat kertas surat. Kesempatan ini ingin dia gunakan untuk mengumpulkan uang.


Jika suatu hari nanti dia keluar istana, Sofia ingin hidup sederhana di desa. Tentu dia butuh bekal.


Sofia mengeratkan jubah yang menutupi tubuhnya. Dibelakangnya Ema dan Rona mengikuti. Dengat plat perak dari Alex, Sofia sukses keluar istana melalui pintu belakang.


Sofia memindai sekitar. Dia mencari toko perhiasan.


Setelah selesai dengan urusannya. Sofia segera membeli kain, kertas, jarum, benang, serta peralatan lain. Sofia akan membuat sapu tangan dan kertas surat. Dia akan menjualnya. Kemana dan kepada siapa Sofia belum memikirkannya.


"Aku butuh bunga-bunga untuk dikeringkan." Gumam Sofia pelan.


Dia sudah kembali ke istana. Dia menggelar barang yang dia beli ke atas meja kemudian mengamatinya. Untuk sapu tangan sulaman itu tidak masalah karena sudah ada benang dan jarum. Untuk kertas surat dibutuhkan item tambahan yaitu bunga kering.


Sofia butuh mengeringkan bunga. Tapu masalahnya dia harus mencari bunga. Bunga di taman istananya kurang bervariasi. Sofia butuh bunga berbagai jenis.


"Di taman utama banyak sekali bunga Nona." Timpal Ema.


"Betul Nona, banyak sekali jenisnya."


Sofia berpikir sejenak. Dia sudah berjanji pada Alex untuk tidak berkeliaran di sekitar istana utama. Tapi jika itu malam hari pasti tidak apa-apa. Sofia akan menyelinap pada malam hari. Itu bukan ide yang buruk.


Itu hanya bunga dan di taman pasti ada banyak. Seharusnya tidak masalah.

__ADS_1


"Nanti malam aku akan kesana, bisa tolong antar aku kesana?"


Ema dan Rona sontak mengangguk.


Istana utama Elderbar sangat luas. Tidak cukup satu hari untuk menjelajahinya. Banyak lorong dan tikungan. Jika berjalan sendiri Sofia masih sudah tersesat.


Akhirnya mereka sampai di taman utama. Sofia terbelalak melihat besarnya taman itu. Berada ditengah bangunan istana, taman itu menjadi pusat. Ketika malam keindahannya disinari oleh cahaya bulan.


Mata Sofia segera memindai sekitar kemudian mengenali beberapa jenis bunga. Seperti edelweis, lily, daisy, celosia, lavender, mawar dan banyak lagi lainnya. Mata Sofia berkilat penuh antusias. Dia segera mendekati taman kemudian memetik beberapa bunga.


Sofia juga memerintahkan Ema dan Rona untuk membantunya.


Suasananya sepi. Mungkin karena malam semakin larut dan taman bukan tempat pilihan ketika malam hari. Secara praktis taman menjadi terabaikan, mereka hanya keindahan yang hanya dipandang dan hiasan belaka. Tidak lebih dari itu. Secara keseluruhan mereka diabaikan. Hanya diperhatikan untuk dipamerkan. Taman punya fungsi sebagai simbol kesombongan pemiliknya.


"Sepertinya sudah cukup." Seru Sofia dengan suara pelan.


Tangannya sudah penuh dengan bunga berwarna-warni. Dia ingin membuat ujicoba sebelum benar-benar membuatnya. Lagipula dia bisa ke taman lagi.


Sofia melangkah lebih dulu untuk menjauhi taman, diikuti oleh Ema dan Rona. Baru beberapa langkah dia dikejutkan oleh suara langkah kaki.


Sofia refleks menarik tangan pelayannya untuk bersembunyi dibalik pohon. Sekelilingnya gelap, jadi dia bisa melihat area taman yang terang.


Seorang wanita mengenakan gaun tidur yang sangat indah terlihat. Rambutnya terurai panjang, berwarna emas seperti sinar matahari. Langkahnya anggun dan memesona. Dibelakangnya diikuti oleh seorang laki-laki yang tak kalah bersinarnya.


Rambut hitamnya bergoyang ketika kakinya bergerak. Seperti serasi dengan gelapnya malam, rambut itu kontras dengan kulitnya yang putih. Badannya tegap dan tinggi.


Tangan kedua orang itu bergandengan. Madu menyebat di sekitar mereka. Mereka hanya berdua tanpa orang lain.


Mereka berhenti sejenak kemudian bertukar tawa.


Sofia mengenal dua orang itu. Si laki-laki yang matanya penuh kasih sayang menatap wanita di depannya adalah Alex de Elderbar, kasiar Kekaisaran Elderbar sekaligus suaminya. Sedangkan wanita yang tersenyum malu menatap Alex adalah Janetta Oliver. Wanita kaisar yang terkenal di seantero benua.


Tidak ada rasa cemburu di mata Sofia. Dia hanya sedikit terkejut melihat Janetta secara tidak langsung. Wanita itu sangat cantik seperti dalam mimpinya.


Namun seharusnya Janetta belum ada masuk ke istana. Seingat Sofia, waktunya sekitar satu tahun lagi. Mata Sofia tak lepas menatap dua pasangan yang sedang memadu kasih di depannya. Mereka tidak bisa melihatnya karena dia bersembunyi di kegelapan.


Sofia segera berbalik kemudian berjalan pergi. Dia acuh tak acuh. Itu bukan urusannya.


The Empress Crown #5 Next...

__ADS_1


__ADS_2