Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Jungkir Balik Dunia Jessy #19 (END)


__ADS_3

"Jessy bersamaku." Jawab Kent pada orang diseberang telepon.


Kent terus menjawab beberapa pertanyaan kemudian panggilan tertutup.


Hari makin siang. Sebentar lagi waktu makan siang.


Setelah lelah menangis Jessy tertidur seperti bayi. Nyaman di dalam pelukan Kent. Tubuh Kent tak bergerak sama sekali. Kepala Jessy yang lemah terkulai di dadanya. Kent takut jika dia bergerak sedikit saja Jessy akan bangun.


Dia tidak ingin membangunkan Jessy yang tenang dalam tidurnya.


"Kent." Seseorang membuka pintu dan suaranya menggema.


"Sstt, Jessy bisa bangun." Kent memberi isyarat Juna yang masih berdiri di dekat pintu.


"Aku hampir gila karena tidak menemukan Jessy dimanapun. Dia meninggalkan ponselnya." Langkah Juna mendekat. Dia mengambil tempat duduk kosong.


"Aku juga sama. Aku dapat telepon dari kantor katanya ada orang yang mencariku. Saat aku tanya siapa dia, ternyata Jessy." Curhat Kent.


"Semalam aku bahkan menunggunya. Aku tidak tahu kapan dia keluar kamar." Juna mengatur nafasnya. Perasaan berat yang menggelayut padanya lepas dengan melihat Jessy.


"Pikirannya sedang kacau makanya Jessy begitu. Syukurlah dia baik-baik aja dan datang kemari. Entah apa yang terjadi jika dia tidak mencariku." Kent menatap wajah Jessy yang tenang. Tatapannya melembut.


"Jessy pasti sudah menceritakan apa yang terjadi."


Kent mengangguk.


"Bagaimana kamu menyelesaikan masalah ini?"


"Aku akan bertanggung jawab." Jawab Kent cepat.


"Dengan cara?" Dahi Juna berkerut.


"Menikah."


Juna terkesiap. Memang harus seperti itu tapi entah kenapa jawaban Kent tanpa ragu mengejutkannya.


"Kamu yakin?"


Kent mengangguk dengan senyum tipis tersungging di wajahnya.


"Kamu bicara sendiri pada Jessy, aku tidak ingin ikut campur. Aku akan diam hingga Jessy sendiri yang membicarakannya."


"Serahkan semuanya padaku."


"Tapi jangan paksa Jessy, aku tidak ingin dia terluka. Aku percaya padamu Kent."


"Tidak akan Juna, aku tidak akan mengecewakanmu."


Mereka saling beradu pandang.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya pada Jessy?" Pertanyaan spontan keluar begitu saja dari mulut Juna.


"Meskipun aku terlambat menyadari dan pernah membuat kesalahan, aku sudah lama merenungkannya. Hatiku terasa kosong saat tidak melihatnya. Mungkin ini yang dikatakan rindu. Rindu bisa terasa jika kita mencintai orang itu." Kent beretorika. Mengemas kata 'aku mencintainya' dengan kata yang lembut.


"Ah sial! Kapan aku bisa seperti itu!" Juna meringis kesal.


Di umurnya yang tidak muda lagi, dia juga ingin seperti Kent. Menemukan tambatan hatinya. Dua adik perempuannya sudah mendahuluinya.


"Tanya kepada hatimu Juna, sebenarnya apa yang kamu inginkan. Kamu ingin hidup seperti apa." Kent menasehati.


"Entahlah. Aku sendiri bingung dengan hatiku."


Kent tertawa mengejek.


"Jessy akan bersamaku. Kamu bisa kembali Juna. Kalau ada apa-apa aku akan menghubungimu."


"Oke, aku percayakan Jessy padamu. Ini ponsel Jessy. Mungkin dia akan mencarinya nanti."


"Thanks Juna".


Juna mengangguk kemudian meninggalkan ruangan.


Kent membenarkan posisi Jessy agar tidurnya lebih nyaman. Dia bangkit dengan mudahnya padahal harus membawa Jessy dalam pelukannya.


Sebuah suara sayup-sayup terdengar saat Jessy mengerjapkan kelopak matanya. Pandangannya kabur. Di menatap atap tinggi di atasnya. Atap yang berbeda dengan kamarnya.


"Sudah bangun hmm?" Tangan hangat menyentuk dahi Jessy.


Jessy mengangguk. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga penglihatannya menjadi terang.


"Mas Kent?"


Hati Kent berdesir. Ini adalah kedua kalinya Jessy memanggilnya begitu setelah mereka bertemu lagi. Pertama saat dia di bawah pengaruh obat dan yang kedua adalah saat ini. Tangannya mengelus pipi Jessy lembut.


Mata Jessy berkaca-kaca dan air matanya tumpah. Perasaannya meledak-ledak, meluap hingga tidak bisa ditampung. Dia hanya ingin menangis.


"Kok nangis lagi, Jessy kenapa?"


Jessy menggeleng sebagai jawaban. Mungkin hormon awal kehamilan yang membuat perasaannya tumbuh dengan sensitif.


"Jess jangan seperti ini terus, kamu bisa saja dehidrasi. Pikirkan kesehatanmu, ada bayi kita yang lebih penting." Kent mengusap pipi Jessy yang basah.


Isak tangis Jessy semakin keras.


"Jessy, apa yang harus aku lakukan agar kamu berhenti menangis? Pukul aku juga itu memuaskan hatimu." Kent menarik tangan Jessy ke dadanya. Memukul dirinya sendiri dengan tangan Jessy.


"Jahat! Kamu sengaja kan? Kamu jahat!"


"Iya Jess aku jahat, tapi itu dulu. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tolong beri aku kesempatan. Aku akan menebus semua kesalahanku dengan hidupku. Jessy, kamu memegang hidupku sekarang. Kamu bebas melakukan apapun. Tapi tolong jangan suruh aku pergi. Aku tidak bisa. Aku bisa hancur Jess." Kent menggenggam erat tangan Jessy. Mencium punggung tangan Jessy dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu membenciku, kenapa baru sekarang?"


"Itu dulu Jess. Sekarang aku tidak seperti itu. Tolong lihat kesungguhanku. Aku kacau, hancur dan berantakan selama empat tahun ini. Aku butuh kamu Jess. Percayalah padaku, tolong." Suara Kent bergetar. Dia belum pernah memohon seperti ini pada seseorang. Bahkan kepada orang tuanya. Hanya Jessy satu-satunya.


Jessy tidak menjawab. Dia belum bisa beradaptasi pada perubahan yang tiba-tiba ini. Ini ingin percaya, ingin membuka hatinya lagi, tapi dia ragu. Dia takut tersakiti lagi.


Tapi sekarang situasinya berbeda. Ada orang lain di tengah mereka. Bayi mereka. Anak yang ada dikandungan Jessy.


"Jessy..." Suara lembut Kent membuyarkan lamunan Jessy.


Dia tidak mungkin bisa menanggung semuanya sendiri. Hamil tanpa seorang suami dan anaknya suatu saat pasti akan menanyakan ayahnya. Dia bisa saja nekat tapi Jessy tidak mau. Hidup sendiri cukup berat baginya. Ditambah harus membasarkan anak. Jessy tidak bisa. Dia butuh Kent.


"Kamu janji akan berubah?" Tanya Jessy dengan suara lemah. Isak tangisnya sudah mereda.


"Sepenuh hati Jess, kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan jika aku tidak menepati janjiku. Demi anak kita." Mata Kent berbinar saat berjanji.


Janji itu atas nama nyawa. Mata Jessy bisa melihat kilatan kesungguhan dari mata Kent. Dia ingin mengenal laki-laki itu. Ingin tahu semua isi hati dan kehidupannya. Jessy siap menyelaminya bersama.


Jessy mengangguk sebagai jawaban alih-alih kata yang mengiyakan.


Mata Kent membulat sempurna. Senyum lebarnya tersungging di wajahnya.


"Kamu menerimaku Jess? Kamu memaafkanku?"


Jessy kembali mengangguk.


Kent merengkuh tubuh Jessy ke dalam pelukannya. Hatinya bahagia, dia seperti mendapatkan undian lotre milyaran rupiah.


"Jess makasih, aku tidak akan mengulangi kesalahanku dulu. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan anak-anak kita kelak." Air mata Kent keluar tanpa bisa ditahan.


Dia sangat berterima kasih pada Tuhan karena sudah membawa Jessy kembali kepadanya. Disaar dia sudah pasrah dengan keadaan, keajaiban datang. Ini adalah kesempatan kedua untuknya, dan Kent tidak akan menyia-nyiakannya.


"Kita harus segera memberitahukan berita bahagia ini Jess."


"Ke siapa?"


"Semua orang."


"Tidak perlu."


"Kita harus secepatnya menikah."


"Ya?"


"Tentu harus segera Jess."


"Jangan buru-buru, satu persatu."


Jungkir Balik Dunia Jessy END.

__ADS_1


__ADS_2