
Kondisi Sofia semakin baik. Nafsu makannya meningkat setelah tiga puluh dua hari tidak sadarkan diri. Luka bakar yang dia derita juga hampir hilang. Dia bertekad kuat untuk sembuh karena satu orang, Jordan.
Sejak Sofia bangun hingga sekarang, sudah lebih dari satu minggu Jordan tidak pernah meninggalkannya. Bahkan tidak sedetikpun. Dia menolak bekerja dan datang ke istana. Seolah mereka tidak penting. Jordan menolak semua kunjungan ke mansion.
Sofia hanya bisa menghela nafas kesal. Dia menjadi super protektif setelah tidur panjangnya. Dia baik-baik saja. Dia bukan gelas kaca yang mudah pecah.
Tapi semua yang dilakukan Jordan kadang tampak lucu. Setelah mengetahui perasaannya, Sofia menjadi sensitif terhadap perlakukan Jordan. Sangat terlihat sekali perasaannya dari membaca gerak-geriknya.
Hal inilah yang membuat Sofia tidak tahan. Dia telah menunggu lama untuk mendengar pengakuan Jordan langsung. Tampaknya Jordan sama sekali tidak akan mengakuinya. Dia tipe yang lebih baik menyimpannya sendiri.
Berbeda dengan Sofia. Bibirnya sudah gatal sejak lama. Dia bertekad akan mengakuinya hari ini. Jika tidak ada yang maju, hubungan mereka selamanya akan seperti ini terus.
"Aku harus ke istana karena ada yang perlu aku selesaikan." Ucap Jordan di tengah sarapan mereka.
Rencana gagal terkonfirmasi di kepala Sofia. Semalam dia telah menyusun rencana untuk menyatakan perasaannya setelah mereka makan pagi.
Tidak ada istimewanya acara makan mereka. Malahan aneh menurut Sofia. Masih ingat bukan dengan sikap super protektif Jordan, ya inilah buktinya.
Sofia dilarang keluar kamar semeterpun. Jordan menjadi asisten pribadi yang siap melayaninya dua puluh empat jam. Bahkan keguanaan menjadi sia-sia karna urusan merawat Sofia dirampas oleh Jordan. Mereka selalu makan di kamar tidur.
Kamar tidur kepala keluarga Hexalios telah berubah fungsi menjadi tempat tinggal Sofia sementara. Mobilitas pelayan sangat leluasa apalagi dengan adanya Sofia. Kamar itu bukan lagi kamar agung tempat Jordan tinggal.
Lalu dimana Jordan tidur?
Laki-laki itu selalu bisa menjaga jarak dengan baik. Dia merawat Sofia dengan penuh perhatian, namun satu waktu dia akan menjauh secara alami. Dia tidur di kamar sebelah. Kamar tepat disamping ruang kerjanya. Dia akan menghilang pada saat Sofia tidur dan segera kembali saat Sofia bangun.
Jordan seteguh batu karang di tengah lautan. Sofia kadang meragukan perasaannya. Benarkah dia mencintainya? Dia tidak kenapa dia perhatian, kenapa iya kenapa dia selalu menjauh saat Sofia merasa mereka sudah dekat?
Sofia ingin segera mengakhiri rasa tidak nyaman ini. Dia ingin Jordan tidak menjaga jarak darinya. Dia ingin selalu melihat wajahnya. Dia ingin bersamanya.
"Pukul berapa Jordan akan kembali?"
"Sebelum matahari tenggelam aku akan sampai rumah."
"Baik. Saya ingin makan malam bersama Jordan."
"Kita selalu makan malam bersama bukan?"
Sofia mengangguk. Tentu saja. Tapi makan malam yang seperti formalitas.
'Sampai kapan kamu akan menghindariku?' Ingin rasanya Sofia berteriak.
"Ada buku yang ingin saya baca bersama Jordan." Nada Sofia melembut. Saat ini dia sedang dalam mode merayu.
'Ayolah.' Bentak Sofia dalam hati.
"Apa yang ingin kamu baca?"
"Ada yang Jordan rekomendasikan? Jordan yang memilihnya. Biasanya saya yang memilih."
Kadang-kadang untuk mengusir kebosanan karena Jordan tidak memperbolehkannya keluar kamar, Sofia membaca buku dan Jordan menyelesaikan pekerjaannya. Tepat disampingnya.
Maka dari itu ini adalah tawaran yang sangat alami.
"Baiklah aku akan memilihnya."
Senyum Sofia mengembang. Malam ini akan dia pastikan tidak akan gagal.
"Jordan kembalilah dengan selamat. Saya akan menunggu Jordan di rumah."
Perpisahan yang singkat namun tulus. Ini adalah perpisahan mereka pertama setelah satu minggu bersama. Perasaan Sofia meluap hingga air mata tidak bisa dibendung. Begitu pintu kamar tertutup tangis Sofia pecah.
Setelah menyadari perasaannya, hati Sofia penuh sesak dengan Jordan. Dia ternyata sama. Tidak bisa tanpa Jordan. Bagaimana jadinya dia tanpa Jordan. Dia hanya memiliki Jordan di dunia ini. Jordan adalah hidupnya.
Sofia menghabiskan waktunya dengan istirahat cukup, makan dan menyulam. Hobi lamanya. Meskipun para pelayan khawatir, mereka sama khawatirnya dengan Jordan. Tapi Sofia tetap teguh. Dia ingin memberikan sesuatu pada Jordan. Sapu tangan dengan namanya.
Tidak sulit untuk membuatnya karena itu adalah keterampilannya. Sapu tangan sutra putih dari bahan terbaik yang didapat dari kepala pelayan, dia sulam ujungnya dengan inisial nama Jordan, J.H untuk Jordan Hexalios. Setelah selesai Sofia merapikannya kemudian meletakkannya disebuah kotak yang sudah dipersiapkan. Sebuah pita berwarna senda dengan kotaknya diikat dengan rapi.
Sofia memerintahkan pelayan untuk menyimpannya di dalam laci. Dia akan memberikannya diwaktu yang tepat.
Tanpa disadari matahari telah tenggelam. Sofia segera bangkit kemudia memanggil pelayan. Dia mandi dan berganti pakaian yang lebih ringan. Rambut peraknya diikat longgar dan diletakkan disisi bahunya. Pelayan menyampirkan selendang di pundaknya. Rasa hengat segera memeluk Sofia. Dia selalu bersyukur dikelilingi orang-orang baik.
Tidak cukup hanya Jordan, semua orang yang ada di mansion perhatian padanya. Air mata Sofia mengancam keluar setiap kali dia mendapatkan perlakuan maha baik.
"Nyonya, Duke akan sampai dalam beberapa menit." Kepala pelayan mengumumkan.
"Baik. Tolong persiapkan makan malam di balkon."
"Ya?"
"Saya ingin menghirup udara segar."
"Tapi anda mungkin bisa flu Nyonya." Kepala pelayan mengerutkan keningnya.
"Kami akan makan malam seperti biasa kalau begitu, tapi tolong persiapkan teh dan makanan ringan setelahnya, di balkon."
"Nyonya maaf..."
"Tolong, sekali ini saja. Saya janji tidak akan flu. Saya tidak akan melepaskan selendang ini."
"Tapi Duke mungkin tidak setuju."
"Saya yang akan bicara dengan Duke."
"Baik Nyonya."
__ADS_1
Jordan masuk saat makan malam selesai disajikan.
Dia terlihat tampak segar. Rambutnya masih basah dan dia mengenakan pakaian yang lebih santai.
"Bagaimana hari Jordan hari ini?" Sofia memulai percakapan.
"Seperti biasanya." Jawab Jordan acuh tak acuh. Dia menarik kursi kemudian duduk. Tangannya mendekati dahi Sofia. Menempelkannya di dahi, pipi dan leher. Seperti biasanya.
"Saya baik-baik saja. Saya sudah semakain membaik Jordan."
"Aku hanya memastikan saja."
"Terima kasih." Jawab Sofia dengan senyum tipis.
Mereka makan malam dengan tenang. Percakapan kecil terjadi namun itu tidak berarti. Sofia menanyakan tentang istana dan Jordan menanggapi secukupnya.
Apa yang bisa Jordan ceritakan tentang istana?
Dia sendiri tidak suka Sofia mengingat tempat itu. Keadaan semakin hari tidak semakin baik malah semakin buruk. Para aristokrat semkain ganas mengkritik Alex dan Janetta. Jordan sendiri pada titik sedikit kasihan pada mereka karena setiap hari mendengar caci maki dari para bangsawan.
Tapi mau bagimana. Jordan sudah memutuskan dari awal tidak peduli. Selama nama Sofia tidak terseret, dia akan tetap diam mengamati.
"Buku apa yang Jordan pilih?"
"Ada beberapa. Sebelum kembali aku mampir ke perpustakaan istana kemudian meminjam beberapa. Sofia pasti akan suka."
'Tentu saja. Apa yang Jordan tidak tidak tentangku. Terakhir di pesta teh semuanya sesuai dengan seleraku. Jadi pasti kali ini juga buku tentangku bukan?'
Sofia tersenyum manis.
"Saya sudah selesai makan. Saya akan menyuruh pelayan membawakan teh dan camilan ke balkon. Saya ingin membaca buku sambil menghirup udara segar."
"Tidak. Ini sudah malam. Anginnya pasti dingin Sofia."
"Saya mohon."
"Tidak!"
Sofia cemberut. Dia bosan di dalam, dia butuh penyegaran.
"Jordan.. hanya sebentar saja."
"Tidak Sofia. Jangan membuatku khawatir. Kamu bisa saja flu."
Hah. Bahu Sofia merosot.
"Aku akan menyuruh pelayan membuka jendela. Kita bisa membaca buku disini sambil melihat bulan dari jendela."
Bukan ide yang buruk tapi tetap saja dia masih di dalam kamar. Mau sampai kapan dia dikurung, Sofia ingin jalan-jalan juga di taman.
Mau tidak mau Sofia menangguk. Kapan dia bisa menang dari laki-laki ini.
'Huh dasar tiran keras kepala!' Sofia mengutuk dalam hati.
Sofa panjang diletakkan di dekan jendela. Meja rendah yanh serasi ikut melenglapi. Teko, cangkir dan beberapa piring camilan diletakkan. Para pelayan segera meninggalkan ruangan setelah mereka membuka jendera dan menggulung tirai.
Angin malam yang sejuk segera lolos. Cahaya bulan tidak mau kalah dengan menorobos masuk. Menyinari kamar.
Sofia duduk bersandar di sofa menunggu Jordan mengambil buku. Wangi bunga-bunga ditaman menusuk hidungnya. Menyegarkan. Dia tidak sabar untuk jalan-jalan di taman. Menghirup wanginya yang menenangkan.
Jordan segera masuk dengan beberapa buku ditangannya. Kebiasaan mereka sebelum tidur. Membaca bersama. Tapi kali ini Sofia tidak ingin membaca. Dia hanya ingin mendengarkan. Artinya Jordan yang harus membacakannya.
"Sofia suka yang mana?" Jordan meletakkan buku-buku di atas meja.
Judul buku-buka tersebut terlihat jelas. Semunya tentang mimpi. Mata Sofia membulat. Mengalihkan pandangannya dari buku ke Jordan.
"Aku memilihnya sambil memikirkan Sofia. Sepertinya tidak rugi jika kita tahu sedikit tentang ini."
Setelah dia bangun Jordan sama sekali tidak pernah membahas mimpi yang Sofia alami. Dia hanua terus mencurahkan perhatian untuk pemulihan Sofia.
Jadi Sofia sedikit terkejut.
"Saya memilih ini." Saya mengambil sebuah buku yang tampak kuno bersampul hijau.
Tertulis "Mimpi Selalu Indah Bagi yang Menginginkannya."
Sofia mengambilnya kemudian menyerahkannya pada Jordan.
"Jordan membaca, saya ingin mendengarkannya."
"Ya?"
"Saya mohon." Pinta Sofia.
Jordan mengangguk kemudian mengambil buku dari tangan Sofia. Suara gesekan kertas segera terdengar.
Sofia mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman dan siap mendengarkan Jordan. Pandangannya luruh ke arah bulan yang bergelantungan di langit.
"Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi."
Prolog yang mengejutkan.
Kata-kata dari buku mengalir. Sebuah nasihat dan kisah mimpi terus bermunculan. Sofia mendengarkan dalam mimpi.
Mimpinya tidak buruk lagi sekarang. Karena dia telah mengubah mimpi itu. Dia sekarang hidup berdasarkan apa yang dia inginkan. Mimpi itu pada intinya tidak pernah terjadi. Akhir hidupnya yang tragis dalam mimpi mustahil jadi kenyataan. Bersama dengan laki-laki hebat disampingnya. Sofia yakin dia akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Jordan.. saya menyukai Jordan."
Sofia mengalihkan pandangannya dari bulan ke arah Jordan.
Ruangan yang berisik oleh suara Jordan dan suara kertas bergesekan menjadi sunyi.
Tatapan mereka bertemu.
Wajah Jordan terkejut. Sofia bisa melihat itu. Tapi dia tidak bisa mundur lagi.
"Bagaimana ini, saya telah melanggar perjanjian pernikahan kita. Saya mungkin menjadi serakah setelah bersama dengan Jordan dalam waktu yang lama. Saya ingin menjadi istri Jordan yang sesungguhnya." Kata-kata Sofia lancar.
Namum respon Jordan sedikit mengecewakan. Wajahnya mengeras. Tidak ada satupun kata yang keluat dari mulutnya.
Krisis kepercayaan melanda. Sofia membasahi bibirnya karena gugup. Mungkin dia yang salah paham. Melihat wajah terdistorsi Jordan menyadarkannya, mungkin dia salah. Mungkin suara di mimpinya itu hanyalah halusinasinya. Hanya keinginannya di tengah ketakutan yang melanda.
Sofia segera memperbaiki emosinya. Dia tidak ingin mengacaukan hubungan damainya dengan Jordan.
"Ah saya bicara omong kosong." Sofia segera menunduk. Menghindari tatapan Jordan yang bisa menusuk kulitnya.
"Sofia." Jordan membuka suaranya.
"Saya tidak akan melanggar perjanjian pernikahan kita. Meskipun saya menyatakan perasaan saya tanpa pikir panjang, tolong lupakan itu. Saya harap Jordan tidak merasa terbebani. Jika waktunya tiba dan seseorang yang Jordan cintai muncul, saya siap pergi kapan saja." Air mata Sofia mengancam meledak. Hatinya terasa nyeri.
Seperti apa yang dikatakan buku itu, "Mimpi hanyalah mimpi". Sofia menjadi salah paham sejenak karena mimpi itu terlalu nyata baginya.
"Tunggu sebentar, beri aku waktu berpikir Sofia. Ini terlalu mendadak." Suara Jordan bergetar.
Sofia mendongak. Memberanikan diri untuk menatap Jordan. Wajah dingin itu retak. Emosi lain yang tidak bisa Sofia kenali terlihat di wajah Jordan.
Tubuh Sofia menciut. Pikiran buruk segera terlintas di kepalanya. Sofia meremas gaunnya hingga kusut. Tangannya berkeringat dingin. Dia melakukan kesalahan besar.
Dia terlalu percaya pada mimpinya.
"Maafkan saya yang telah memiliki perasaan pribadi pada Jordan. Saya siap menerima konsekuensinya. Anggap Jordan tidak pernah mendengar apapun. Saya mohon." Kata-kata Sofia berputar-putar.
"Jika Jordan tidak nyaman, saya akan kembali di kamar saya dilantai dua. Saya akan hidup seolah saya tidak ada. Jika, jika wanita yang Jordan sukai datang saya akan segera pergi." Sofia semakin gugup. Dia hanya ingin memperbaiki keadaan.
"Jika Jordan masih tidak berkenan, Jordan bisa menceraikan saya sekarang. Meskipun sulit tolong beri saya waktu sedikit untuk mempersiapkannya. Saya salah. Saya minta maaf Jordan." Suara Sofia bergetar di akhir.
Dia mengacaukan dirinya sendiri. Sofia mengutuk dirinya sendiri. Darimana datangnya keberanian itu.
'Mimpi hanya mimpi!' Sofia memaki dirinya sendiri.
Ditengah kekalutan pikirannya. Tangan besar meraih tubuhnya kemudian memeluknya erat. Tubuh Sofia menegang. Kepala Jordan jatuh di tengkuknya.
"Sudah kubilang tidak ada perceraian di keluarga kami."
Sofia diam.
"Kamu tidak memberiku waktu sedikitpun bahkan untuk bernafas. Kamu benar-benar wanita jahat."
Suara nafas Jordan menggelitik leher Sofia.
"Apakah kamu sudah selesai bicara? Sekarang giliranku."
Jordan melepaskan pelukannya kemudian menjauhkan tubuh mereka untuk menyamai pandangannya.
"Coba katakan sekali lagi."
"Ya?"
"Bahwa kamu mencintaiku." Bibir Jordan bergetar.
Sofia mengedipkan matanya beberapa kali. Apakah dia salah? Wajah dingin Jordan yang tadi kini terlihat tegang. Apakah dia akhirnya salah paham akan satu hal. Jordan bukannya dingin tapi dia terkejut. Kepercayaan Sofia kembali melambung.
"Saya, saya menyukai Jordan. Tidak saya mencintai Jordan." Ucap Sofia terbata-bata.
"Sungguh?"
Sofia mengangguk.
"Ini bukan mimpin kan?"
"Ini kenyataan Jordan."
"Ya Tuhan!"
Jordan berteriak sambil menarik Sofia kedalam pelukannya lagi.
"Bagaimana dengan Jordan?"
Pelukan Jordan lepas dan mereka kembali menatap.
"Saya mencintai Jordan, bagaimana dengan Jordan?"
Jordan menarik nafas dalam-dalam kemudian membuka bibirnya.
"Sofia.." Panggilnya lembut. Tangannya mengelus pipinya yang lembut.
"Tidak cukup untuk menggambarkan perasaanku padamu hanya satu kata. Kamu adalah hidupku. Kamu adalah duniaku Sofia. Aku sangat-sangat mencintaimu."
Air mata Sofia tumpah.
The Empress Crown #37 Next..
__ADS_1