
Berdalih untuk mempercepat perjanjian mereka berhasil, hubungan Hwan dan Seokyung semakin harmonis. Mereka melakukan hubungan intim seperti tidak pernah ada kecanggungan sebelumnya. Natural. Alami seperti itu sudah seharusnya terjadi.
Sudah satu bulan berlalu sejak mereka pulang dari Jeju. Belum ada tanda-tanda kehamilan padahal Hwan melalukannya setiap hari. Memang Seokyung sempat mendapat tamu bulanannya setelah pulang dari Jeju. Seminggu setelah itu selesai, Hwan menuntunnya siang dan malam ke tempat tidur.
Tubuhnya didera rasa lelah yang berkepanjangan. Hwan tidak pernah cukup satu atau dua kali. Dia akan melakukannya berkali-kali hingga fajar, hingga Seokyung tak bisa bergerak. Jika siang dia terlalu sibuk bekerja dan tidak bisa pulang awal, malam harinya akan dia gunakan sebagai waktu pengganti.
Seokyung ingin protes. Dia lelah dengan kebiasaannya bangun siang. Dia malu. Dia menjadi pemalas setelah Hwan gigih mendorongnya ke tempat tidur. Tapi itu menyenangkan. Hwan mengajarinya berbagai hal. Dimulai dari tempat tidur, sofa, kamar mandi, tempat kerja, hingga dapur sudah pernah mereka coba. Dengan berbagai macam posisi baru.
Melakukan dengannya sangat menyenangkan. Seokyung tak pernah membayangkan dia akan menanggapi Hwan dengan penuh suka cita. Saat tubuh mereka menyatu, semua terlupakan. Kenyataan bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah perjanjian dan Sora terlibat didalamnya, kabur begitu saja.
Dua tubuh yang menjadi satu tersebut melupakan kenyataan pahit. Mereka saling menginginkan. Membelai, mencium dan melilit bersama.
Hwan sudah menyerah menghubungi Sora sejak persatuannya dengan Seokyung. Kehadiran Sora tidak penting lagi baginya. Dia hanya butuh Seokyung. Wanita lembut yang selalu menerimanya, mengerti dan perhatian. Wanita yang setiap pagi dilihatnya untuk pertama kali ketika dia bangun.
"Selamat pagi." Sapa Seokyung dengan suara serak. Rasa lelahnya kini telah membaik berkat kebiasaan. Tubuhnya juga tidak terlalu sakit lagi ketika bangun. Hari ini untuk pertama kalinya Seokyung bisa bangun pagi.
"Selamat pagi. Tidurlah lagi, hari masih pagi." Jawab Hwan mencium pipi putih Seokyung.
"Kamu tidak punya hati nurani!" Suara Seokyung serak. Dia berbalik memunggungi Hwan. Dia malu harus bangun siang setiap hari. Saat dia bisa bangun pagi respon Hwan mengecewakan.
Seokyung terkesiap. Tubuh Hwan mendekat dan bibirnya menciumi pundak dan leher belakangnya secara acak.
"Apakah kamu marah?" Ucap Hwan ditengah ciumannya.
Seokyung diam. Dia menikmati sentuhan Hwan.
"Apa itu?" Tanya Hwan sekali lagi.
Tubuh Seokyung dibalik tiba-tiba. Kini telantang dan Hwan menjulang di atasnya.
"Hwan!" Seokyung terkejut dan sontak menutup dadanya. Tubuh mereka masih telanjang akibat persatuan semalam.
__ADS_1
"Kamu marah padaku?" Tanya Hwan lagi.
"Tidak aku tidak marah." Jawab Seokyung. 'Aku tidak berhak marah. Atas dasar apa.' Lanjutnya dalam hati.
"Jangan berpaling dariku kalau begitu."
"Ya?"
"Seperti yang kamu lakukan tadi. Aku tidak suka. Jika kamu marah padaku jangan memunggungiku sayang. Katakan baik-baik." Hwan menunduk kemudian mencium bibir Seokyung sekilas.
Hatinya berdesir. Hwan sering mengganti panggilannya dengan 'sayang'. Setiap kali mendengarnya tubuh Seokyung menegang. Dia seperti wanita yang dicintai dan istri yang sesungguhnya. Sekuat tenaga Seokyung menekan perasaannya.
"Aku hanya malu." Jawab Seokyung jujur. "Setiap hari harus bangun siang. Aku ingin bangun lebih pagi."
"Tidak akan ada yang memarahimu."
Tubuh Hwan turun dan menghimpit Seokyung.
"Hwan kita harus bangun. Aku akan membuatkanmu sarapan. Apa yang kamu inginkan?" Seokyung mencoba mendorong dada Hwan menjauh tapi sia-sia. Dada itu sekuat baja.
Mata Seokyung membulat besar. "Jangan main-main ini masih pagi." Pemberontakan Seokyung masih berlanjut.
"Aku tidak sedang main-main." Kini bibir Hwan sudah berada diperpotongan lehernya. Mencium, menghisap dan menggigitnya. "Aku mau kamu." Lanjut Hwan ditengah-tengah ciumannya.
"Hwan!"
"Di bawah sini masih bengkak dan basah." Tangan Hwan sudah sampai dibagian bawah Seokyung yang berkedut.
"Hwan! Eung! Ah!" Teriak Seokyung. Ada penyusup masuk. Punggungnya melengkung. Penyisipan dangkal itu membuat seluruh tubuhnya menegang.
"Seokyung! Aku bisa gila!" Geram Hwan. Suaranya rendah. Matanya berubah merah penuh dengan gairah.
__ADS_1
Dengkuran halus terdengar. Suara nafas yang halus terdengar. Pagi yang menenangkan. Hwan melihat wajah tidur Soekyung yang damai. Hatinya tenggelam dalam ke khawatiran. Rasa sakit saat melihat wajah Seokyung tumbuh setiap hari. Hubungan mereka tidak nyata. Ada sebuah perjanjian dengan jangka waktu di atasnya.
Sejak kapan Hwan memiliki Seokyung dihatinya? Sejak Sora menghilang tanpa jejak. Kekosongan hati akan Sora yang besar diisi oleh Seokyung. Seokyung menggantikan peran Sora sebagai istri. Ketika bangun dan menghitung hari, Hwan tenggelam dalam kegelapan. Hari-hari terus berlalu. Waktu yang diberikan dalam perjanjian juga semakin berkurang. Ada rasa takut yang menggerogotinya setiap hati.
Hwan sadar dia salah. Dia masih ingat saat Sora mengatakn jika dia tidak boleh menggunakan perasaannya. Dia bukan binatang. Bagaimana seseorang bisa melakukan hal intim seperti itu tanpa menggunakan perasaan. Bagi Hwan itu penting dan menurutnya Seokyung juga sama. Mereka menggunakan perasaan masing-masing. Salah satu kesepakatan perjanjian telah dilanggar. Mereka berdua sadar namun memilih diam. Dengan dalih agar segera berhasil mereka menekan kegundahan hati.
Saat-saat yang ditunggu telah tiba. Akhir dari perjanjian tersebut terlihat. Seokyung hamil. Setelah tiga bulan lamanya terus mencoba.
"Usianya sekitar empat minggu. Kamu harus berhati-hati karena ini masih tahap awal." Jelas dokter.
Seokyung tercengang. Dia datang untuk memeriksakan kesuburannya. Seokyung datang rutin satu bulan sekali untuk konsultasi pada dokter tentang hari suburnya. Sebenarnya itu hal yang sia-sia karena Hwan melakukannya setiap hari kecuali dia sedang datang bulan. Seokyung datang karena dokter secara pribadi menyuruhnya datang. Seokyung datang sendiri karena hari ini Hwan ada rapat penting. Dokter Arthur Alexander sangat peduli denganya dan Hwan.
Hasil pemeriksaan kali ini berbeda. Seokyung dinyatakan hamil. Dia bahkan tidak tahu. Dia tidak pernah menghitung masa datang bulannya. Karena mereka datang tidak tepat waktu. Seokyung juga tidak memiliki gejala apapun. Hingga dia dinyatakan hamil empat minggu oleh dokter Seokyung masih tidak percaya.
Tangannya segera mengelus perutnya yang masih rata. Hatinya terasa penuh. Menyadari keberadaan lain didalam dirinya Seokyung membeku. Dia hamil. Itu akhirnya, tidak lebih dari satu tahun lagi perjanjiannya dengan Sora akan selesai. Itu artinya dia harus meninggalkan Hwan. Sekelebat emosi ganjil memenuhi ruang hati Seokyung. Dia tenggelam, tenggelam dalam kekacauan perasaannya.
"Aku sudah memberi tahu Hwan, dia mungkin sedang perjalanan menemuimu. Dua minggu lagi akan aku jadwalkan untuk datang kembali. Kamu harus berhati-hati oke?"
Seokyung mengangguk kemudian berpamitan pada dokter.
Tatapannya kosong begitu sampai di rumah. Saat pintu rumah dibuka Seokyung menolah.
"Hwan." Ucap Seokyung.
Hwan membatu di ambang pintu. Dia segera berlari dan menarik tubuh Seokyung ke dalam pelukannya.
"Aku baru saja diberi tahu Arthur tentang kehamilanmu? Kamu hamil?" Hwan menjauhkan tubuhnya untuk menjangkau pendangan Seokyung.
Seokyung mengangguk.
"Jadi itu benar? Kamu mengandung anak kita? Terima kasih Seokyung. Terima kasih." Hwan kembali menarik tubuh Seokyung ke dalam pelukannya.
__ADS_1
'Bukan anak kita. Tapi anakmu dengan Sora.' Mata Seokyung panas dan air matanya tumpah. Hormon kehamilan sepertinya telah bekerja.
Game of Hearts #9 Next...