
Hanya kegelapan yang terlihat.
'Dimana aku?'
Sofia mengedipkan matanya berulang kali namun hanya kegelapan yang terlihat. Tangannya meraba-raba namun tidak menemukan apapun kecuali lantai yang dingin.
Dia pingsan setelah dilecehkan oleh Janetta. Seharusnya dia sudah dibawa pulang ke mansion oleh Jordan. Sofia jelas mengingat dia yang berlari ke arahnya.
Sofia menangis kemudian pingsan. Tapi saat dia membuka matanya hanya ada kegelapan, sunyi dan sepi.
'Ah apakah aku bermimpi lagi?'
Sofia hampir terlena karena tidak mengalami mimpi buruk itu setelah diselamatkan dari Soltera. Tapi jika ini mimpi seharusnya ada yang dia lihat atau dia alami. Situasinya saat ini cukup aneh.
Merinding merayap di tulang punggung Sofia. Ketakutan ikut menyebar. Dia dimana dan apa yang terjadi tidak ada yang tahu. Sofia berusaha tegar dari kecemasan yang melanda.
"Sofia, kenapa belum bangun?"
Sebuah suara tiba-tiba mengejutkannya. Suara rendah yang sangat familiar ditelinganya.
"Jordan. Itu Jordan bukan? Jordan bisa mendengar saya?"
Hening. Masih gelap dan tidak ada jawaban. Sepertinya saat ini rohnya entah terperangkap dimana dan tubuhnya belum sadarkan diri.
"Apakah Sofia saat ini sedang bermimpi? Ayo bangunlah. Jangan tutup matamu seperti ini aku takut."
Sofia tidak bisa memperkirakan kondisinya. Sudah berapa hari dia tidak sadarkan diri. Bagaimana caranya keluar dari kegelapan ini. Secara berkala dia terus mendengar suara Jordan. Sepertinya Jordan berusaha untuk mengajaknya bicara. Tapi dia tidak tahu bagaimana menyampaikan jawabannya agar bisa didengar Jordan.
Lama kelamaan Sofia menjadi terbiasa dengan kegelapan itu. Satu-satunya harapannya adalah suara Jordan yang dia dengar.
"Istri. Istriku. Sofia Hexalios. Bagaimana kabarmu? Kenapa belum bangun? Semua orang menunggumu. Apakah kamu tidak merindukanku?"
Kali ini suara pilu terdengar. Suara itu teredam dan bergetar. Hati Sofia jatuh. Selama dia dilahirkan hingga dibesarkan di mansion Barell tidak ada yang khawatir padanya. Mendengar Jordan mengkhawatirkannya membuat hatinya penuh sesak. Dia menangis. Air matanya tumpah.
"Sayang. Sofia istriku. Hari ini langit sangat cerah. Bukankah kamu suka membaca buku di taman? Cepatlah bangun. Bunga-bunga di taman sudah bermekaran."
Nada lembut terdengar. Hati Sofia terpelintir. Bagaimana bisa ada orang seperti Jordan. Lembut, perhatian dan penuh kasih sayang. Dia hanyalah istri di atas kertas tapi kenapa seolah dia dicintainya. Sofia bingung.
"Sofia. Hari ini tepat seminggu kamu tidak sadarkan diri. Kapan kamu akan bangun? Jangan membuatku khawatir hmm?"
Ah sudah seminggu rupanya. Mulai dari sini Sofia bisa menghitung harinya.
"Aku harus ke istana Sofia. Meskipun aku marah pada orang-orang yang memperlakukanmu buruk disana, aku harus tetap bekerja bukan? Jika kamu bangun akankah kamu mencegahku untuk datang kesana? Segeralah bangun. Aku khawatir."
Sofia diam. Seksama mendengar ucapan Jordan. Karena itulah satu-satunya alasan dia bertahan. Dia selalu menunggu suara Jordan yang secara berkala datang. Tapi itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba suara Jordan tidak pernah datang lagi.
"Apakah aku sudah mati? Tidak. Tidak. Jordan tolong katakan sesuatu. Jordan! Masih banyak hal yang belum aku sampaikan padamu. Jordan tolong! Tolong jangan menyerah. Jordan!" Suara Sofia meraung.
Alasan dia yakin masih hidup adalah mendengar suara Jordan. Jika dia tidak mendengar suara Jordan lagi itu artinya apakah dia sudah mati? Tidak. Dia belum ingin berpisah dengan Jordan. Dia belum menyampaikan perasaannya padanya. Perasaan yang kian kuat padanya.
"Jordan tolong. Tolong selamatkan kau!" Isak tangis Sofia pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Tubuh kecilnya ambruk ke lantai. Sofia diliputi rasa takut yang amat sangat.
__ADS_1
Tiba-tiba.
"Sofia." Suara itu pelan namun terdengar jelas di telinga Sofia.
"Jordan!" Sofia mengangkat tubuhnya kemudian berteriak. "Kemana saja kamu? Kenapa baru datang!" Lanjutnya. Sia-sia sebenarnya dia berteriak karena hanya keheningan yang dia dapat.
"Aku takut Sofia. Kenapa kamu seperti ini? Apakah ini cara baru untuk menyiksaku? Kamu tidur lebih lama dari yang terakhir kali bukan? Ini sudah satu bulan. Kenapa kamu belum bangun? Aku takut kamu tidak akan bangun lagi." Suara isak tangis terdengar.
Sofia terkesiap. Tubuhnya menegang. Jordan menangis. Benarkah? Seperti tidak nyata. Kepalanya menjadi pusing dihantam kenyataan.
"Apakah kamu bisa mendengarku? Kalau bisa tolong segara bangun. Aku takut Sofia. Dimana kamu sekarang? Apa yang kamu mimpikan? Kenapa lama sekali? Tolong ajak aku. Jangan tinggalkan aku seperti ini Sofia. Aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Aku hancur Sofia." Suara tangis semakin keras dan berlarut.
"Sofia istriku. Jiwaku. Jantung hatiku. Sofia. Sofia aku tidak bisa hidup tanpamu. Sofia. Sofia aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Semoga kamu tahu itu. Aku bukan apa-apa tanpamu. Jika kamu tidak membuka matamu lagi selamanya, aku akan ikut denganmu. Untuk apa lagi aku hidup jika tidak bisa melihatmu. Sofia aku mencintaimu. Bangunlah! Aku mohon Sofia!" Suara itu semakin tenggelam dalam isak tangis. Suara yang memilukan.
Tanpa disadari air mata merembas dari sudut mata Sofia. Apakah itu sebuah pengakuan? Jordan mencintainya? Jordan Hexalios? Sungguh? Sejak kapan?
Kepala Sofia pusing. Tubuhnya ambruk seketika. Isak tangis yang dia tahan sebentar kembali pecah. Kali ini lebih keras. Dia menangis sekeras-kerasnya. Meratapi nasibnya.
Jordan mencintainya. Ternyata Jordan mencintainya. Dia juga mencintainya, Sofia baru sadar itu. Dia terlambat menangkap rasa cinta Jordan secara terang-terangan dia tunjukkan dalam bentuk tindakan.
Dia buta. Mata batinnya tertutup rapat akan ketakutan masa depan di dalam mimpinya hingga dia tidak bisa menangkap perasaan halus dari orang terdekatnya.
Di bodoh. Sepenuhnya bodoh.
"Jordan aku juga. Aku juga mencintaimu." Suara itu terdengar lemah karena teredam isak tangis.
Untuk pertama kalinya Sofia menangis sejadi-jadinya seperti tidak pernah menangis sebelumnya. Meskipun hidup di mansion Barell sulit, Sofia tidak menangis. Hidup yang dia lalui di Istana Elderbar juga sama sulitnya, Sofia juga tidak menangis.
Namun hanya dengan mendengar perasaan seseorang padanya dan dia tidak mampu menjawabnya, Sofia menangis. Dia ingin segera bangun dan menyatakan perasaannya langsung pada Jordan. Dia ingin hidup. Ingin bertemu lagi dengan Jordan.
"Ibu?" Suara terdengar dari kejauhan.
"Kaukah itu ibu?"
Sofia mengangkat tubuhnya yang berat kemudian menyeka air matanya. Masih berusaha menyesuikan padangannya sambil mencari sumber suara.
Berdiri tidak jauh darinya seorang anak muda yang sangat dia kenal.
"Felix?"
"Ya ini aku ibu."
Suara kaki berlari terdengar mendekat. Tubuh kecil anak itu jatuh ke dalam pangkuannya. Tangan kecil segera merengkuh lehernya. Dia membenamkan wajahnya ke pelukan Sofia.
"Aku mendengar tangisan ibu. Makanya aku datang menyelamatkan ibu."
Sofia diam tidak menjawab. Tubuhnya kaku.
"Kenapa ibu bisa berada disini?" Anak itu terus bertanya. Suara mendesak untuk dijawab.
Sofia mengangkat tangannya kemudian mengelus punggung anak kecil itu.
__ADS_1
"Felix?"
"Iya ibu ini aku Felix."
Air mata Sofia kembali merembas.
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa ada disini." Jawab Sofia dengan bibir bergetar.
"Belum waktunya ibu datang kemari." Suara Felix menenangkan Sofia.
"Aku tidak tahu caranya kembali."
"Aku akan membantu ibu kembali." Felix melepaskan pelukannya kemudian mendongak. Tatapannya bertemu dengan Sofia.
"Tapi aku mohon bawa aku juga ke dunia ibu. Aku ingin bersama ibu lagi kali ini."
Sofia mengerjapkan matanya akan permintaan tiba-tiba Felix.
"Aku akan menunggu ibu disini, tidak peduli berapa lama. Jadi tolong bawa aku ke dunia ibu. Aku menyayangi ibu." Diakhir suaranya bergetar. Kedua tangan kecil itu kembalu memeluk leher Sofia dengan posesif.
"Bagaimana, bagaimana caranya?" Sofia membuka bibirnya ragu-ragu.
"Hanya ibu yang tahu caranya. Aku akan membantu ibu kembali tapi ibu harus berjanji satu hal padaku."
Pelukan posesif Felix lepas.
"Apa itu?"
"Ibu harus membawaku ke dunia ibu saat ibu datang lagi nanti."
Senyum Felix sangat cerah.
"Ibu janji, ya?"
Felix mirip seseorang. Orang yang sangat Sofia kenal. Sifat mendesaknya dan keras kepalanya mirip Jordan.
"Baik jika itu maumu." Tidak mengerti apa yang dia katakan sendiri Sofia memilih untuk mengangguk untuk menenangkan Felix.
Seperti Jordan yang sepertinya harus mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Terima kasih ibu." Sebuah kecupan mendarat dipipi Sofia.
"Sekarang tutup mata ibu."
Tidak diberi waktu untuk merespon, tangan Felix menutupi mata Sofia. Sontak Sofia memejamkan matanya. Kehatangan tangan kecil itu menyebar. Wangi harum menusuk hidung Sofia.
"Sampai bertemu lagi ibu."
Saat Sofia membuka matanya lagi, pemandangan yang dia lihat berbeda. Bukan kegelapan bukan juga suasana terang dan Felix. Namun ruangan dengan cahaya sedikit redup.
Wanginya harum dan tidak asing. Sofia mengedarkan pandangannya. Tidak ada siapapun.
__ADS_1
'Apakah aku kembali?'
The Empress Crown 35 Next..