Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #19


__ADS_3

Hanya ada kegelapan.


Tidak bisa merperkirakan waktu. Tidak bisa mendengar apapun kecuali kesunyian.


Sofia terkapar lemah di lantai dengan kaki terikat. Pergerakannya minim karena rantai di kakinya. Tidak ada air atau apapun untuk sekedar menbasahi tenggorokannya yang kering.


Tubuhnya lemah dan mati rasa.


"Air." Suaranya nyaris tidak keluar, serak dan menyedihkan.


Pipinya basah oleh air mata. Tangisan yang sudah tidak terdengar lagi. Bahkan oleh telinganya sendiri.


Di dalam kegelapan itu Sofia terus bermimpi.


Terlihat Janetta duduk di sebuh taman dengan perut yang besar. Alex datang membawa selimut kemudian meletakkannya di pundak Janetta. Sebuah ciuman dikening menjadi hadiah besarnya cinta mereka berdua.


Janetta tertawa lembut di dalam pelukan Alex. Tiba-tiba tawa itu menghilang saat Janetta memegang perutnya dengan wajah yang pucat. Sepertinya dia akan melahirkan.


Sofia melihat mereka tepat di depan matanya. Tapi mereka tidak bisa melihat Sofia. Karena ini mimpi. Kenyataan dan khayalan tak bisa dibedakan.


Tiba-tiba tangisan bayi terdengar. Sofia mencari sumber suara. Sampai di pintu kayu tinggi yang tidak asing. Itu adalah pintu kamar kaisar.


Sofia mendorong pintu penuh hati-hati. Matanya mengintip. Obrolan dua orang sayup-sayup terdengar.


"Bayi perempuan."


"Segera singkirkan dan tutup mulut semua orang yang membantu persalinan."


"Baik Yang Mulia."


Sofia terkejut kemudian menutup pintu. Seorang pelayan keluar dengan seorang bayi terbungkus kain putih di dalan pelukannya.


Pelayan itu lagi-lagi tidak melihat Sofia meskipun dia ada di depan pintu. Sofia memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk. Mendekati Alex yang terlihat menenangkan Janetta.


Tidak ada yang Sofia takuti. Mereka tidak bisa melihatnya, karena ini adalah mimpinya.


"Tapi itu anak kita."


"Tidak Jeni, anak itu akan menjadi kelamahanmu. Hanya seorang pangeran yang boleh lahir. Jika para bangsawan tahu, hal ini akan dijadikan senjata untuk menghalangi jalan kita."


"Lalu bagaimana?"


"Aku akan mengumumkan bahwa bayi itu tidak bernafas saat kamu melahirkannya."


"Kamu yakin?"


"Aku akan memanfaatkan wanita itu untuk melahirkan pangeran. Kamu hanya perlu memulihkan diri secepat mungkin dan siap untuk mengandung pangeran lagi."


Sofia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ternyata ada kejadian seperti ini. Mungkin karena hidupnya terasing di istana paling belakang, dia tidak tahu apapun. Bahkan saat kaisar datang untuk tidur dengannya, yang Sofia rasakan hanya senang. Akhirnya kaisar mau melihatnya.


Ternyata ada variabel lain. Namun saat ini Janetta belum mengandung, apakah karena Sofia mengubah hidupnya. Maka hidup orang lain juga berubah.


Perlahan Sofia membuka matanya. Air mata membasahi pipinya.

__ADS_1


"Felix."


Dia kembali menutup matanya. Tidak jauh beda ketika membuka mata, hanya ada kegelapan.


Sofia bermimpi lagi.


Kali ini dia melihat dirinya sendiri. Tersenyum penuh arti seraya mengelus perutnya yang besar. Sofia merinding, tubuhnya sontak gemetar.


"Felix"


Wajah biru tanpa nyawa remaja tanggung melintas cepat dibenaknya. Itu adalah Felix. Anak laki-laki yang Alex rampas sesaat setelah dia melahirkannya. Bahkan Sofia tidak sempat melihat wajahnya karena terlalu lemah. Ironisnya, Sofia baru diperbolehkan untuk melihatnya saat anak laki-laki itu meninggal.


Air mata Sofia kembali membasahi pipinya. Dia ingin bangun dari mimpinya. Ingin keluar dari kegelapan yang menyelubunginya.


Apakah ini adalah hukuman dari dewa karena berani menentang kehendak kaisar. Tapi Sofia tidak mau mengandung anak kaisar. Jika pada akhirnya anak itu bernasib seperti Felix dalam mimpinya, Sofia rela menggantikannya.


"Sofia."


Sayup-sayup terdengar seseorang memanggilnya.


"Sofia."


Suara itu kian mendekat. Meskipun lemah, indra pendengaran Sofia tidak tumpul.


Sofia membuka matanya. Dia terlalu lemah untuk membuka mulutnya. Tenggorokannya perih .


Seberkas cahaya memenuhi tempat gelap itu. Matanya, yang terbiasa dengan kegelapan, lambat untuk menyesuaikan diri dengan sinar yang tiba-tiba, dan butuh beberapa waktu sebelum dia bisa melihat.


Sofia mengerjap.


Ada sosok berdiri, menjulang tinggi di balik cahaya yang menyilaukan mata. Kakinya mendekat dan membelah cahaya yang selama ini tidak mampu Sofia hilangkan.


"Sofia."


Sofia mengenalnya. Suara yang selama ini dia rindukan. Air matanya tumpah. Hanya ini yang bisa dilakukan. Tenggorokannya tercekat oleh kekeringan tanpa air. Suaranya tidak keluar.


Sebuah tangan besar meraih tubuh Sofia yang lemah dilantai. Merengkuh kemudian memeluknya. Rantai besi yang mengikat kaki Sofia berderak. Suaranya memilukan hati.


"Sofia semuanya akan baik-baik saja."


"Jordan."


Tiba-tiba semua jadi gelap. Sofia kehilangan kesadarannya.


Kelopak dengan bulu matanya yang lentik dan panjang bergerak. Perlahan terbuka.


"Astaga. Nona sadar. Segera panggil dokter."


Sofia mengerjap beberapa kali. Berusaha menyesuaikan penglihatan dengan kecermelangan yang tiba-tiba. Hari-hari yang dia lalui dalam kegelapan. Seperti jatuh ke dasar jurang yang dalam. Sofia tidak mempedulikan suara ribut disampingnya. Sofia fokus menatap langit-langit tinggi dengan lampu gantung mewah.


"Air." Bahkan suaranya hampir tidak keluar. Sofia mengangkat tangannya ke udara.


"Minumlah."

__ADS_1


Sofia menutup matanya saat sensasi dingin mengalir ke seluruh tenggorokannya.


Rasanya segar. Mata Sofia terbuka sepenuhnya. Seperti dihidupkan lagi dari kematian. Dia bisa melihat wajah Jordan.


"Jordan." Ucap Sofia lirih.


Bibir Jordan membentuk garis senyum tipis. Tangannya merapikan rambut Sofia yang berantakan dan basah oleh keringat.


"Bagaimana perasaanmu?"


Mata Sofia mengerjap. Semalam ternyata bukan mimpi. Air yang melewati tenggorokannya yang kering adalah kenyataan. Sosok Jordan yang dia lihat juga bukan ilusi. Tiba-tiba rasa sesak memenuhi dada Sofia. Air matanya mengancam untuk keluar.


Emosinya rumit. Perasaannya campur aduk. Banyak hal yang ingin dia sampaikan tapi tenggorokannya terlalu sakit dan suaranya lemah. Akhirnya, air mata satu-satunya cara untuk menyampikan betapa menyedihkan keadaannya.


Sofia menangis. Air matanya tumpah.


Jordan menarik tubuhnya dan memeluknya. Mengelus punggungnnya seraya berbisik.


"Menangislah. Ada aku disisimu."


Tangis Sofia semakin menjadi. Seperti belum pernah menangis sebelumnya. Sofia mencurahkan segala rasa yang dia pendam. Menangis sebanyak-banyaknya.


Jordan duduk termenung mengamati wajah tidur Sofia. Setiap jengkal dari mata, hidung, dan bibir. Tangannya mengelus pipi lembut Sofia.


Pintu terbuka dan dokter masuk.


"Salam Yang Mulia, dokter sudah datang."


"Ya persilahkan masuk."


Jordan bangkit dari kursinya kemudian menerima salam hormat dari dua orang yang berpakaian rapi dengan tas kotak di tangan mereka.


Tanpa perintah, dua orang tersebut segera mendekati Sofia kemudian memeriksanya.


"Bagaimana keadaannya?" Jordan tetap tinggal dan mengamati dokter yang sedang memeriksa Sofia.


"Tidak terlalu buruk Yang Mulia. Nona mengalami dehidrasi kritis. Dia butuh banyak istirahat untuk memulihkannya. Tapi ada hal yang sedikit buruk."


"Apa itu?"


Dokter menarik selimut yang menutupi kaki Sofia. Menunjukkan sebuah luka di kaki kanannya yang mengerikan. Meskipun sudah dibersihkan dan dibalut dengan perban, perban putih itu ternoda darah.


Jordan meringis.


"Untuk sementara waktu Nona tidak diperbolehkan untuk menggerakkan kakinya. Akibat rantai besi yang mengikatnya sekian lama, sepertinya ikatan tersebut melukai kakinya dan cukup dalam. Kemudian tulangnya sedikit retak seperti terjatuh."


Wajah Jordan mengeras. Melihat kulit putih yang kontras dengan luka di pergelangan kaki, amarah Jordan hampir meledak.


"Kami akan memfokuskan pengobatan disini Yang Mulia."


"Lakukan apapun. Apapun yang bisa menyembuhkannya."


"Baik Yang Mulia."

__ADS_1


"Sembuhkan luka itu tanpa meninggalkan bekas. Berapapun biayanya. Meskipun harus mencari obat di ujung benua."


The Empress Crown #20 Next...


__ADS_2