Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Lady Veronica #1


__ADS_3

Veronica Hazlet, menikah untuk kenyamanan. Semua anak perempuan keluarga bangsawan harus segera menikah setelah melakukan upacara kedewasaan.


Surat permintaan pernikahan datang dari keluarga Duke. Sebuah surat yang menghebohkan kekaisaran Armeta. Baru kali ini sepanjang sejarah panjang Armeta, kekuarga Marquis dipinggiran kota mendapat surat lamaran dari keluarga Duke. Biasanya bangsawan berpangkat Duke akan menikah dengan putri kekaisaran. Karena pangkat Duke setara dengan putra kaisar.


Keluarga Marquis Hazlet tidak mungkin menolak. Ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali. Mereka mendorong putri mereka ke dalam pernikahan itu. Veronica Hazlet, anak kedua dan putri satu-satunya Marquis Hazlet, Ruben Hazlet.


Mahar yang ditawarkan tidak main-main. Bahkan orang bodoh sekalipun tidak akan bisa mengelak. Siapa yang tidak mengenal Duke Ivan Wilhem pemilik kerajaan bisnis ibukota Armeta. Duke Wilhem adalah pemilik pusat pembayaran di seluruh kekaisaran Armeta.


Semua perputaran uang di Armeta dikendalikan oleh Duke Wilhem turun-temurun.


Duke Ivan Wilhem menjadi kepala keluarga di usia yang masih sangat muda, sembilan belas tahun, satu tahun setelah upacara kedewasaannya.


Armeta memiliki peraturan usia untuk kedewasaan. Perempuan di usia tujuh belas tahun sedangkan laki-laki di usia delapan belas tahun.


Orangtua Duke Wilhem meninggal karena kecelakaan kereta. Mendiang pasangan Duke dan Duchess meninggal di tempat. Oleh karena itu Ivan harus menggantikan posisi ayahnya sebagai kepala keluarga di usia muda.


Banyak rumor yang beredar tentang kepribadian Duke Ivan Wilhem. Dia adalah bintang pesta. Pecinta wanita kelas atas. Tiada hari tanpa wanita di lengannya.


Marquis Hazlet tidak peduli, selama Veronica bisa melahirkan ahli waris untuk keluarga Duke Wilhem, segala penyimpangan bisa ditekan.


Surat lamaran telah diterima dan dibalas dengan tanggal pernikahan. Kedua keluarga telah menyepati hari pernikahan.


Dunia sosial kelas atas terguncang dengan berita pernikahan Duke Ivan Wilhem yang sepertinya tidak ada tanda-tanda ketertarikan menikah. Setiap hari wanita ditangannya selalu berubah. Ada yang mendukung dan ada juga yang mencibir. Mengasihani wanita yang akan jadi Duchess nanti.


Hari pernikahan telah tiba. Veronica menatap pantulan dirinya di kaca dengan wajah datar. Menikah baginya hanya sebuah kewajiban. Menjadi istri kemudian melahirkan anak. Itulah tugasnya. Perasaan lain dia abaikan.


Anak perempuan bangsawan harus siap menikah dengan siapapun yang datang membawa mahar yang cocok. Mereka tidak punya hak bersuara dan memilih. Karena hanya anak laki-laki yang akan mewarisi gelar keluarga. Itulah yang akan di dapat kakak laki-laki Veronica, Verdian Hazlet.


"Lahirkan seorang anak laki-laki, maka posisimu akan aman." Itulah pesan terakhir Ruben Hazlet kepada anaknya yang akan berangkat ke rumah Duke Wilhem.

__ADS_1


Kereta kuda dengan lambang Duke Wilhem telah menunggu di depan gerbang. Inilah waktunya Veronica berpamitan kepada keluarganya. Ibunya menangis dan mereka saling berpelukan sebelum akhirnya Veronica turun diantar oleh Verdian.


"Segera kirim surat setiba disana." Titah Verdian.


Veronica kemudian mengangguk dan masuk ke dalam kereta. Setelah pintu ditutup, roda bergerak. Melalui jendela kereta Veronica memandang rumah yang telah dia tinggali kurang lebih sembilan belas tahun. Ada suka dan duka.


Dia menegakkam punggungnya. Mengusir segala pikiran yang ada. Dia tidak dijual, dia sedang menjalankan tugas mulia sebagai wanita dewasa.


Suasana ibukota sangat berbeda dengan tanah milik Marquis Hazlet. Banyak keramaian dimana-mana.


Veronica sampai ke rumah paling besar di ibukota Armeta. Gerbangnya terbuat dari besi hitam yang harganya menggedor jantung manusia. Saat pintu dibuka, ada hamparan taman bunga megah. Di tengahnya ada air mancur dengan patung dewa-dewi yang saling melilit.


Tepat diujung taman, sebuah rumah besar tampak berdiri dengan sombong. Mewah serta berkilau. Veronica tercengang. Dia tidak bisa menjumlah jendela yang ada saking banyaknya.


Otaknya kosong. Dia datang untuk menjadi nyonya di rumah besar itu. Tubuh Veronica bergidik tiba-tiba. Rasa tenangnya hilang seketika. Tangannya gemetar. Wajah Veronica pias.


Pintu kereta dibuka.


Veronica turun dari kereta dengan bantuan Roffel. Gaun putih pernikahan berkibar terkena angin. Rambut peraknya berkilau terkena sinar matahari.


"Silahkan ikuti saya."


Langkah Veronica segera mengikuti Roffel. Setelah melawati lorong panjang dan banyak tikungan, akhirnya mereka sampai ke sebuah aula.


Dekorasinya sederhana. Pernikahan hanya akan dilakukan secara pribadi tanpa mengundang keluarga atau orang lain. Hanya untuk mereka berdua, pekerja yang setia dan perwakilan dari kuil agung Armeta.


Suasana sangat tegang untuk dibilang sebagai upacara pernikahan. Veronica duduk dengan tenang menunggu calon suaminya.


Ketegangan itu kian meningkat karena lebih dari tiga jasm Duke Wilhen belum datang. Veronica menatap orang-orang dengan matanya. Terlihat kepanikan dan bisik-bisik. Roffel si kepala pelayang segera bangkit dan keluar ruangan.

__ADS_1


Tak lama kemudian datanglah orang yang ditunggu. Pemeran itu acara ini. Duke Ivan Wilhem. Mengenaikan pakaian seadanya tidak seperti Veronica.


Dia baru pertama kali bertemu calon suaminya. Veronica menatap hambar laki-laki yang berjalan gontai menyusuri altar.


Veronica mengutuk dalam hati. Dia sering mendengar rumor tentang Duke Ivan Wilhem yang hidup hanya untuk senang-senang.


"Maaf aku lupa jika hari ini adalah hari pernikahan kita." Ucap Ivan dengan senyum mengembang.


Ini adalah pertemuan pertama mereka.


Bibir Veronica berkedut melihat laki-laki tidak bermoral di depannya.


"Mari kita mulai saja." Titah Ivan.


Segera saja upacara pemberkatan pernikahan dilangsungkan. Kedua mempelai mengucapkan janji kepada Dewa Armeta. Acara selesai lebih cepat karena banyak tahapan yang dilepati dari yang terkecil hingga yang terbesar.


"Selamat datang istriku. Kamu sangat cantik ternyata. Karena kita sudah menikah, kamu harus menghabiskan malam bersamaku bukan?" Seringai muncul dibibir Ivan.


"Memiliki anak adalah tanggung jawab pasangan. Melahirkan adalah tugas saya. Jadi saya tidak akan menolak." Jawab Veronica dengan suara datar. Dia muak dengan wajah tidak tahu malu Ivan.


Mendengar ini, wajah Ivan berubah.. Itu adalah wajah wanita menanggapinya dengan suara dingin. Dia yang memiliki kebanggaan tak tergoyahkan kini hancur berantakan.


Setelah pernikahan selesai Veronica memasuki rumah Duke tempat Ivan tinggal. Dia pergi ke kamar tidur terlebih dahulu, mandi, berganti pakaian, duduk di tempat tidur, dan menunggunya. Tapi tidak peduli berapa lama dia menunggu pintu kamar tidur tidak terbuka, dia tidak berpikir itu akan terjadi. Hanya ada keheningan yang tersisa dari gelapnya malam.


Malam semakin larut dan Veronica kehilangan kesabarannya, dia membuka pintu kamar dan pergi ke luar.


Di depan kamar tidur, dimana Veronica pikir tidak akan ada orang di sana, ternyata ada seorang ksatria dan pelayan, yang sedang bingung harus berbuat apa.


"Dimana Duke?"

__ADS_1


Lady Veronica #2 Next...


__ADS_2