Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #21


__ADS_3

"Felix anak itu, mati. Mati ditangan Alex."


Untuk pertama kalinya nama Alex keluar dari mulut Sofia.


Sofia masih menangis. Mengingat kematian Felix di dalam mimpinya.


"Bagaimana bisa seorang ayah membunuh darah dagingnya sendiri. Felix, anak itu, saya tidak ingin dia bernasib sama."


Meskipun suaranya serak, Jordan bisa mendengarnya dengan baik. Kesedihan dan penderitaan, tampaknya tidak cukup bagi Sofia, dia juga didera dengan mimpi yang menakutkan. Betapa sulit hidup Sofia. Jordan hanya bisa menghela nafas kasar. Rasa kesalnya pada Alex membumbunh tinggi. Bagaimanapun orang itulah alasan semua penderitaan Sofia.


"Jordan tolong saya."


Sebuah permintaan.


Jordan melepas pelukannya dan menjauhkan tubuh Sofia.


"Apa yang kamu katakan?"


"Jordan adalah teman saya, tolong bantu saya."


"Bantuan?"


"Ya. Saya tidak mau kembali ke istana. Saya tidak mau semua itu terjadi. Jordan tolong bantu saya."


Sofia tidak ada hentinya menangis. Dengan suara yang memohon dan air mata yang meleleh, siapa yang tidak pedih hatinya. Itu adalah permintaan dari hati terdalamnya. Jordan menggigit bibir bawahnya kemudian kembali menarik tubuh Sofia ke dalam pelukannya lagi.


Tanpa diminta, dia akan senang hati melakukannya. Memang sejak awal itulah tujuannya.


"Aku akan membantu Sofia."


"Sungguh?"


"Ya."


"Jordan sudah berjanji, harus Jordan tepati."


"Tentu Sofia."


"Saya akan mengabulkan semua permintaan Jordan. Apapun kecuali uang. Bahkan saya bisa membayar dengan tubuh dan tenaga saya. Saya bisa melakukan pekerjaan apapun, bahkan pekerjaan pelayan."


"Tenanglah Sofia. Jangan berpikir macam-macam. Fokus saja pada pemulihanmu."


Jordan kembali mengeratkan pelukannya. Dia tidak menanggapi tawaran Sofia. Tentu saja tidak. Mana mungkin dia menjadikan Sofia pelayan. Meskipun dia menginginkan Sofia berada disisinya, dia tidak akan menempatkannya di tempat rendah seperti itu.


Fajar mulai menyingsing saat Sofia kembali tenang. Isak tangisnya berubah menjadi dengkuran halus. Setelah membaringkan tubuh lemah itu kemudian menyelimutinya, Jordan menarik tali dan beberapa pelayan diluar pintu segera masuk.


"Panggil dokter untuk memeriksa kondisi Sofia dan panggil kepala pelayan ke kantorku. Tolong jaga Sofia selama aku menyelesaikan beberapa urusan. Berikan apapun yang dia inginkan kecuali meninggalkan mansion. Laporkan setiap yang Sofia lakukan secara tertulis." Titah Jordan dengan suara pelan namun tegas.


"Baik Yang Mulia."

__ADS_1


Tiga orang pelayan menunduk hormat hingga kepergian Jordan.


Matahari tepat di puncak kepala saat utusan kaisar datang membawa surat peringatan. Jauh lebih tenang dari apa yang dibayangkan. Jordan kira Alex akan datang sendiri dengan satu kelompok pasukan. Memaksa masuk kemudian melempar konfrontasi.


Pasukan yang awalnya ditempatkan di mansion karena tuduhan pengkhiatanan Duke Hexalios juga ditarik kembali pagi hari tadi.


Alis Jordan berkerut membuka gulungan surat yang diikat dengan tali sutra merah berlambang Kekaisaran Elderbar. Senyum tipis segera tersungging di bibir Jordan.


Satu-satunya orang yang tahu sifat asli Alex adalah dia. Sesuai dengan prediksinya, Alex adalah orang yang tumpul. Mudah terbawa emosi namun tidak bijak. Dia selalu menangani hal-hal dengan caranya sendiri, yang Jordan anggap tidak tepat.


Contohnya sekarang. Surat peringatan itu berisi sebuah bujukan dibanding tuduhan. Tertulis bahwa dia akan menghentikan rumor, menarik pasukan, dan sejumlah hadiah jika dia mau menyerahkan Sofia. Sungguh lucu. Jordan menahan tawa sekuat tenaga.


Dia adalah kaisar yang diagungkan rakyat Elderbar, dia bisa melakukan apa saja. Memaksa, mengintimidasi, bahkan merampas. Semua yang ada di Elderbar adalah miliknya.


Alih-alih seperti itu, Alex berusaha menyelesaikan masalah ini dengan konyol. Jordan tentu tidak terpangaruh. Tawaran Alex seperti memberi permen pada anak kecil yang sedang menangis.


Dia siap untuk konfrontasi. Menyelesaikan masalah ini dengan dewasa. Dengan caranya. Demi kehormatan keluarga Hexalios yang telah diinjak-injak oleh Alex sendiri.


"Sampaikan kepada Yang Mulia Kaisar jika Duke Hexalios tidak akan membalas surat peringatan ini secara tertulis. Katakan juga bahwa Duke Hexalios tidak peduli dengan apa yang dilakukan kaisar."


Utusan itu tersentak. Bukan hanya dia, semua yang ada diruangan juga tersentak. Ucapan Jordan cukup jelas untuk dikatakan sebagai 'mengabaikan perintah kaisar'.


"Sebagai gantinya Duke Hexalios akan datang ke pertemuan bangsawan Elderbar besok." Tambah Jordan seraya melempar gulungan surat ke lantai.


Utusan itu mengangguk kemudian segera meninggalkan mansion. Tubuhnya gemetar saat berhadapan dengan Jordan. Bahkan dia tidak yakin bisa kembali dengan selamat. Untung saja semua itu tidak terjadi.


Sepeninggal utusan itu Jordan mengajak diskusi kepala pelayan, Sir White, dan Alfons. Mereka saling bertukar pikiran. Tentang strategi, kegagalan, hingga antisipasi.


Pertemuan besok akan Jordan untuk mengambil celah dan memukul lawan dengan satu kali tembakan. Lawan mereka bukan main-main. Dia adalah kaisar, yang tentu punya kekuasaan yang besar. Jordan yakin dengan kekuatan yang dia miliki, maka dari itu besok adalah hari dimana dia akan mencuri kekuasaan itu dari Alex.


"Alfons lanjutkan seperti biasa, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Kepala pelayan akan menjadi benteng pertahanan di mansion, menjaga Sofia dan semuanya, sedangkan Sir White ikut denganku ke istana. Sisanya akan aku urus."


Diskusi itu berakhir saat matahari benar-benar tenggelam. Lampu-lampu di mansion mulai dinyalakan oleh pelayan. Malam tiba, dan malam ini akan jadi malam yang panjang.


Jordan melirik sobekan kertas-kertas putih di atas mejanya. Itu adalah laporan singkat tentang kondisi Sofia. Dia bangkit dari kursi kerjanya menuju kamar tidurnya. Melapas pakaiannya kemudian menenggelamkan tubuhnya ke dalam air hangat di bak.


Dia butuh merilekskan pikirannya. Berusaha untuk menata hati pada apa yang akan dia lakukan.


Setelah mandi dan berganti pakaian nyaman Jordan menuju kamar Sofia. Dia mengetuk sebentar kemudian menarik gagang pintu. Kamar Sofia terang benderang. Saat sampai di depan pintu tadi Jordan bertanya-tanya kemana perginya para pelayan, ternyata mereka ada disini.


Bersama dengan Sofia yang duduk di sofa, mereka sedang sibuk dengan sesuatu di atas meja.


"Sofia."


Suara itu mengagetkan dan sontak saja mereka menolah. Empat orang pelayan yang dua diantaranya tidak asing bagi Jordan, berdiri dengan kepala menunduk melihat lantai.


"Salam Yang Mulia."


"Jordan." Senyum Sofia mengembang melihat Jordan diambang pintu.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


Jordan berjalan cepat menuju tempat Sofia. Matanya melihat bunga berwarna-warni yang disebar di atas meja.


"Ah tadi saya berjalan-jalan di taman kemudian memetik bunga, besok akan saya keringkan. Saya akan membuat hiasan kertas surat yang bagus untuk Jordan."


"Berjalan-jalan? Kamu belum boleh menggerakkan kakimu."


Jordan mengambil tempat duduk di sebelah Sofia.


"Saya bosan."


"Tapi tetap saja, dilaporan tidak tertulis seperti ini." Jordan melirik para pelayan yang masih berbaris rapi seperti patung.


"Saya yang memaksa mereka untuk merahasiakannya. Maaf tidak meminta izin Jordan terlebih dahulu, Jordan sangat sibuk hari ini. Saya takut mengganggu."


"Kamu bisa meminta pelayan untuk melakukannya Sofia."


"Saya ingin melakukannya sendiri."


"Hah! Dasar keras kepala." Jordan menghela nafas kasar. Betapa khawatirnya dia.


"Jordan marah? Maafkan saya."


"Bukan begitu Sofia. Luka di kakimu bisa saja terbuka lagi."


"Sudah tidak sakit lagi."


"Tapi..."


"Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


Jordan mengangguk pasrah. Mulai besok sepertinya dia harus menempatkan penjaga di depan kamar serta menertibkan para pelayan. Kondisi Sofia jauh lebih utama disini.


"Ada yang ingin aku sampaikan Sofia."


"Apa itu?"


Jordan melirik para pelayan. Memberi isyarat untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya. Mungkin akan sulit tapi tidak ada jalan lain.


"Sofia meminta bantuanku bukan kemarin?"


Sofia mengangguk kemudian menjawab 'ya' pelan.


"Ada satu cara untuk menyelesaikan masalah ini."


Mata Sofia mengerjap. Siap mendengarkan Jordan dengan hati yang teguh. Dia yang meminta bantuan Jordan, tentu dia siap menerima apapun yang Jordan tawarkan.

__ADS_1


"Menikahlah denganku Sofia."


The Empress Crown #22 Next...


__ADS_2