Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Jungkir Balik Dunia Jessy #14


__ADS_3

"Jess aku sudah berpikir selama empat tahun ini."


"Aku memang salah, aku minta maaf."


"Semua adalah salahku, dan aku melemparkan semua salahku padamu. Aku tidak dewasa. Pantas saja kamu membenciku."


"Tidak seharusnya aku seperti itu. Aku adalah suami, harusnya aku melindungimu. Kita tinggal jauh dari orang tua dan seharusnya aku yang menjagamu. Tapi aku bersikap tidak bertanggung jawab."


"Entah darimana kamu tahu jika orang yang aku inginkan adalah kakakmu, Jhoya. Itu benar. Aku marah saat bukan dia yang aku dapatkan. Aku mengutuk diriku sendiri atas kekeliruan yang terjadi. Dipikiranku hanya ada cara untuk menyingkirkanmu. Aku sudah menyakitimu."


"Jess, maafkan aku. Kamu bertemu dengan orang yang salah. Bertemu denganku. Tidak seharusnya kamu menderita. Kamu pasti membenciku."


"Kamu pasti sangat menyesal bertemu denganku. Tapi tidak bisakah kita memperbaiki hubungan kita? Tidak sampai sejauh itu, mungkin kita bisa menjadi teman. Jika kita bertemu lagi, tolong sapa aku. Dan terima kasih sudah memaafkanku."


Jessy memikirkan ucapan Kent selama perjalanan kembali ke Jakarta. Dia menahan air matanya sekuat tenaga.


Saat itu Jessy tidak merespon sama sekali. Tidak mengiyakan juga tidak menolak. Di dalam pikirannya hanya ingin segera pergi. Dia tidak mau terlihat kacau di depan Kent.


*****


Jessy mulai bekerja kembali setelah satu minggu istirahat di rumah. Dia tidak bisa menundanya lebih lama lagi. Teman-temannya sudah banyak membantu. Jessy tidak enak terus membebani mereka.


Setelah proyek ini selesai Jessy ingin berhenti. Dia akan kembali ke Inggris. Selama masa istirahatnya di rumah Jessy berbincang banyak dengan Juna. Jessy ingin melanjutkan studinya. Tapi sebelum itu Jessy ingin ke tempat Jhoya di Korea. Mereka sudah lama tidak bertemu.


Juna mengiyakan keinginan Jessy. Apapun yang diinginkan Jessy dia akan mendukungnya. Kent adalah luka terbesar bagi Jessy. Di mata dia, Jessy seperti terguncang bertemu dengan Kent lagi. Dia berharap Jessy segera bisa berdamai dengan hatinya.


"Jessy!" Teriak Yola saat melihat Jessy membuka pintu.


"Hai semuanya. Maaf baru bisa masuk kerja. Kerjaanku numpuk ya?" Suara Jessy terdengar ceria.


"Gak kok Jess, kita seneng kamu bisa masuk lagi. Kamu benaran udah baikan?" Renatha mendekati Jessy.


"Udah kok mbak. Tiduran terus lama-lama capek juga." Jawab Jessy.


"Jangan memaksakan dirinya ya Jess, kalau lelah ya istirahat aja." Mario koordinator tim ikut buka suara yang diiyakan oleh yang lain, Doni dan Ferdi.


"Siap bos. Makasih ya semuanya." Jessy berhambur ke pelukan Renatha dan Yola. Sedangkan Mario, Ferdi dan Doni juga ikut berpelukan.


"Ada kabar apa selama aku gak masuk?" Tanya Jessy langsung.


Ruangan mereka di Royal Corp tidak seperti di Jayanegara. Ruang kerja mereka adalah sebuah ruangan berukuran sedang dengan satu meja besar yang melingkar. Setiap orang duduk bersama. Ruangan itu hanya ditempati oleh enam orang saja.

__ADS_1


"Gak ada sih Jess, semuanya balik normal. Eh cuma aku dengar dari Pak Ragil katanya ada perombakan besar-besaran di kantor pusat Royal Corp Bali."


"Perombakan apa?" Jessy menanggapi dengan malas. Jessy fokus membuka laptopnya.


"Banyak karyawan di pecat."


"Oh." Jessy sama sekali tidak tertarik.


"Setelah kejadian kamu itu Jess, katanya Pak Kent mengubah semua tatanan."


Perhatian Jessy teralihkan saat nama Kent disebut Yola.


"Gara-gara aku ya berarti."


Yola mengangguk pasti.


"Tapi Jess, kita penasaran satu hal."


"Apa?" Jessy kembali menatap layar laptopnya.


"Aku juga baru tahu ya kalau Pak Juna itu temen kuliah Pak Kent tapi aku penasaran dengan hubunganmu dengan Pak Kent." Ucap Renatha.


"Iya juga ya, pas aku telpon Jessy yang angkat juga Pak Kent. Terus besoknya ketemu sama Pak Juna di tempat tinggal Pak Kent. Aku juga sempet dengar mereka ngobrol-ngobrol serius gitu tentang kamu Jess." Jiwa detektif Yola meronta-ronta.


Sontak ruangan menjadi hening. Memang Yola dan Renatha yang sedang terlibat percakapan denga Jessy. Tapi yang lainnya juga dengar apa yang mereka obrolkan.


"Hah?" Suara Yola melonjak.


"Jess kamu serius?" Renatha tak percaya. Mulutnya ternganga.


Jessy mengangguk acuh tak acuh. Dia bukan manusia sempurna. Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu. Meskipun bukan dari dia pasti dari orang lain. Jessy ingin berdamai dengan hatinya. Dia tidak ingin melarikan diri lagi. Dia ingat apa yang diucapkan Juna.


"Jess udah saatnya kamu itu berdamai dengan masa lalu. Hidupmu itu kurang santai. Pernah menikah itu bukan aib Jess. Kamu kan uda maafin Kent, ya sudah biasa saja kalau ketemu dia. Kamu harus tunjukin kalau kamu itu baik-baik aja meskipum udah dicampakkan."


Benar apa yang dikatakan Juna. Sudah saatnya berdamai dengan hatinya. Jessy ingin melepas belenggu masa lalunya.


Senyum tipis tersungging di bibir Jessy. Dia tidak bermaksud mengejutkan teman-temanya. Karena ditanya jadi dia menjawab.


"Ya ampun Jess, sumpah kamu itu penuh kejutan ya." Ucap Yola spontan.


Setiap orang masih tertegun dan menatap lekat Jessy. Bukan maksud menghakimi. Tatapan mereka murni orang yag tidak percaya.

__ADS_1


"Ya gitu deh. Aku aja kadang suka bingung sama hidupku. Menikah di usia muda kemudian cerai, aku merasa gagal. Tapi gak papa kok, itu udah empat tahun lalu. Aku baik-baik aja." Jelas Jessy lebih lanjut.


"Gak papa Jess, gak papa. Kamu tetap dirimu terlepas dari apa yang pernah terjadi." Yola bangkit kemudian menghampiri Jessy. Dia memeluk Jessy. Air matanya tumpah.


Renatha tak mau kalah. Dia juga mengikuti Yola. Akhirnya mereka bertiga saling berpelukan.


Hari-hari berlalu seperti biasa. Jessy disibukkan dengan pekerjaannya. Tiga hari berlalu setelah masa istirahatnya satu minggu. Jessy cepat menyesuaikan dengan ritme kerjanya. Pembangun masih berjalan. Karena memang butuh waktu yang lama untuk membangun tempat sebesar shopping mall.


Di rapat koordinasi hari ini, Tim Arsitek Jayanegara Group diperbolehkan untuk kembali ke kantor mereka mulai bulan depan. Pekerjaan mereka dianggap sudah cukup. Namun jika ada hal-hal yang mendesak mereka akan dipanggil kembali. Kontrak kerja mereka terus berlanjut hingga shopping mall dibuka. Estimasi pembukaan adalah tahun depan. Berarti masih ada waktu kerja kurang lebih delapan bulan dari sekarang.


Jessy tidak masalah. Dia tidak terburu-buru kembali ke Inggris. Untuk masalah ini Jessy belum bilang ke siapa-siapa kecuali Juna.


Rapat selesai sebelum makan siang. Karena belum waktunya Jessy dan teman-temannya memutuskan untuk kembali ke ruangan mereka.


Pintu diketuk saat semua orang sedang fokus pada pekerjaan masing-masing.


"Ya masuk." Seloroh Yola.


Klek


Pintu dibuka dan seseorang masuk. Pria tinggi tegap mengenakan setelan jas warna senada mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.


"Pak Kent Sadewa! Selamat siang Pak!" Mario yang menyadari kehadiran Kent lebih dulu.


Sontak semua orang menoleh ke arah pintu.


"Halo selamat siang semuanya. Aku ingin mengajak kalian makan siang bersama. Ada yang ingin aku bicarakan dengan perempuan yang duduk di ujung sana. Dia pasti akan menolak kalau aku mengajaknya sendiri. Jadi tolong bantu aku mengajaknya makan siang."


Pandangan semua orang beralih dari Kent menunu Jessy yang dimaksud Kent dengan perempuan yang duduk diujung sana.


Mereka saling pandang dan Yola buka suara lebih dulu.


"Bapak mau nraktir kami?" Tanya Yola tanpa takut.


Kent mengangguk pasti.


"Korea BBQ ya Pak? Kalau iya kami siap membawa Jessy kesana meskipun dia menolak. Kami akan mengikatnya dan menggotongnya kesana."


Ada anggukan dari semua. Dahi Jessy berkerut. Konspirasi macam apa ini.


"Oke deal."

__ADS_1


Jungkir Balik Dunia Jessy #15 Next...


__ADS_2