
"Bukankah ini Kang Inhwan?" Tanya suara laki-laki dibalik asap rokoknya.
Ruangan itu berbau aneh. Aroma minuman keras dan asap rokok mendominasi. Ruangan dengan selimut yang apak menambahnya. Ada juga bau dari dua orang yang bergulat bersama. Meskipun begitu, dua orang dengan tubuh polos tersebut tidak terganggu.
"Hmm?" Suara erangan rendah meluncur dari bibir merahnya. Tubuhnya naik turun dengan kepala yang melengkung ke belakang. Bibirnya mendesah dan mengerang. Tanpa mempedulikan topik pembicaraan orang di depannya, dia terus memompa dirinya sendiri dengan kenikmatan.
"Berita tentang Kang Inhwan baru saja terbit." Jelas laki-laki itu dengan suara teredam. Dia tidak tahan terus digoda oleh tubuh yang naik turun dan buah dada yang terus memantul. Dia meletakkan ponselnya kemudian meraih pinggang ramping didepannya.
Dia menanggapi godaan yang tanpa henti datang padanya seperti air bah. Terlalu besar dan menghanyutkan untuk ditolak. Dengan gerakan cepat dia membalik tubuh itu dengan dia menjulang di atasnya. Tubuh itu selalu membuatnya gila. Kejantanannya menembus dalam-dalam. Tidak mempedulikan teriakan centil wanita di bawahnya.
"Roy! Pelan!" Teriaknya kemudian diikuti dengan ******* nikmat.
"Kamu membuatku gila sayang. Teruslah mengencang, aku pasti akan menembusnya."
"Ah Roy! Yes! Yes! Siksa aku!"
"Eung! Sora! Sora!" Mereka saling meneriakkan nama masing-masing dalam kenikmatan.
*****
Sesuatu yang dingin dan basah menyentuhnya. Seokyung membuka matanya perlahan kemudian mengerjap. Pandangannya berkabut. Dia berusaha menyesuaikan pandangannya dengan sinar di dalam ruangan.
"Bagun, hari hampir siang."
Wajah Hwan segera terlihat mengikuti suaranya. Seokyung terseyum tipis. Dia melihat Hwan duduk di tepi ranjang dengan tangan yang sibuk merapikan rambutnya yang berantakan.
"Kamu sudah siap berangkat ke kantor?" Tanya Seokyung dengan suara yang serak. Tubuhnya susah digerakkan. Semalam mereka saling mendamba satu sama lain. Meskipun hanya dua kali putaran, Hwan menyiksanya tanpa henti. Selama masa awal kehamilan Hwan tidak menyentuhnya, baru semalam saat Hwan tidak mampu lagi menahannya.
"Iya, apakah sakit? Perlu ke dokter?"
Seokyung menggeleng. "Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu tidur sedikit lebih lama." Ucapnya lirih.
"Kamu belum makan apapun." Hwan mengelus pipi Seokyung.
"Biar bibi yang siapkan. Kamu pergilah bekerja."
Dahi Hwan berkerut. "Kenapa kamu selalu mendorongku bekerja?" Tanyanya dengan nada kesal.
"Apa maksudmu?"
"Kamu selalu menyuruhku bekerja." Ulangnya lagi.
__ADS_1
"Ada banyak orang yang menunggumu. Kamu CEO, kamu pemimpinnya. Sudah seharusnya kamu bekerja lebih gigih dari yang lain. Semua bergantung padamu."
"Sebenarnya kamu memihak siapa hmm?" Kepala Hwan turun untuk mencium bibir Seokyung sekilas.
"Pergilah! Aku tidak memihak siapapun."
"Tidak mau!"
"Hwan!"
"Aku hanya ingin melihatmu lebih lama, kenapa kamu selalu menyuruhku pergi?"
"Aku tidak. Aku hanya menyuruhmu segara berangkat. Kamu bisa terlambat."
"Tidak apa-apa sedikit terlambat kadang-kadang."
"Berikan contoh yang baik untuk para pegawai. Aku baik-baik saja, bibi pembantu pasti akan menjagaku."
"Hah baiklah." Hwan mencium wajah Seokyung secara acak. Sebenarnya ada yang ingin dia sampaikan tapi melihat Seokyung membuat pikirannya kacau.
"Tetaplah berada di rumah sampai aku pulang. Akan aku usahakan untuk pulang lebih awal. Jangan terima tamu siapapun." Jelasnya. "Ada dua pembantu dan dua staff keamanan yang akan datang." Lanjutnya.
Seokyung terkesiap. Dalam rangka apa banyak orang tiba-tiba dimobilisasi masuk.
"Hanya sedikit keributan."
"Apa itu?" Pikiran Seokyung kemana-mana. Keributan apa yang terjadi saat dia sedang tidur nyenyak diranjang empuk milik orang lain. Hatinya tenggelam. Apakah sudah terjadi, identitasnya yang terungkap. Tapi Seokyung tak berani bertanya. Melihat sikap Hwan yang tenang, keributan itu pasti bukan masalah besar.
"Kedatanganmu kemarin ke kantor dan kehamilanmu terungkap. Pagi ini banyak berita tentang kita di publik." Terang Hwan dengan tangan mengelus perut buncit Seokyung.
"Lalu?"
"Entah kenapa publik selalu penasaran dengan kehidupanku. Jadi hari ini kantor pusat akan memberikan pernyataan resmi tentang kehamilanmu. Tapi aku khawatir ada beberapa orang yang berusaha mendakatimu. Jadi aku memutuskan mengirim orang untuk menjagamu. Mungkin saat ini mereka sudah datang. Sapa mereka jika kamu sempat. Jangan memaksakan diri, oke?" Hwan mengarahkan bibirnya ke arah perut Seokyung. Berlama-lama mencurahkan kasih sayangnya pada dua jabang bayi di dalam perut Seokyung.
"Baik." Jawab Seokyung dengan suara rendah.
Saat pintu tertutup air mata Seokyung tumpah. Selama kehamilan hatinya penuh sesak, mungkin karena pengaruh hormon. Dia sensitif akan banyak hal. Termasuk perhatian Hwan. Perasaannya tak menentu ketika melihat Hwan. Semua sikap Hwan membuatnya seperti satu-satunya wanita yang dicintainya. Seokyung sepenuhnya sadar semua itu bukan murni untuknya, semua itu karena perjanjian mereka. Seokyung tidak pernah iri akan kehidupan Sora selama ini tapi untuk yang satu ini, tentang Hwan, Seokyung untuk pertama kalinya ingin menjadi Sora.
Ahn Sora yang sangat dicintai Kang Inhwan, Seokyung ingin menjadi dia. Ingin mendapatkan cinta, kasih sayang dan seluruh perhatian laki-laki itu. Dalam isak tangisnya di pagi hari ini Seokyung sadar akan satu hal, dia mencintai Kang Inhwan.
Setelah lelah menangis Seokyung kembali tidur. Dia bangun lagi saat matahari sudah tinggi di atas kepala orang. Dia membersihkan diri berganti pakaian kemudian turun. Hari ini dia gunakan untuk berkenalan dengan empat orang baru yang masuk ke rumahnya. Seokyung menyambut mereka dengan hangat.
__ADS_1
*****
"Mereka akhirnya berhasil." Ucap seorang wanita dengan ponsel di tangannya. "Aku tidak menfaktifkan ponselku selama ini. Mereka mungkin menghubungiku." Lanjutnya.
"Wanita yang ada disamping Kang Inhwan mirip dirimu."
"Ya, sangat mirip. Kami identik."
"Ya?"
"Dia saudara kembarku."
"Jadi kamu menjadikan adikmu sebagai gantimu?"
"Tidak. Dia bersedia dengan suka rela."
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku menjebaknya dan mengikatnya dalam perjanjian."
Gelak tawa memenuhi ruangan yang sempit. Tubuh mereka masih melilit satu sama lain.
"Aku harus bersiap kembali. Aku sudah berjanji padanya."
"Apa maksudmu?" Tanya laki-laki itu tidak senang.
"Perjanjian kami berakhir saat dia berhasil melahirkan."
"Ya ampun Sora. Kamu memberikan adikmu kepada Kang Inhwan untuk menggantikanmu melahirkan anaknya?"
"Tentu saja. Aku tidak ingin segera hamil. Aku dibesarkan dengan pikiran modern, bukan kebiasaan moderat setelah menikah lalu melahirkan. Dan aku tidak suka hidup di rumah. Dengan cara inilah aku bisa bersamamu Roy. Ingat itu, aku berkorban banyak!" Ucap Sora dengan lantang.
"Tentu aku tahu. Aku tidak menyangka kamu bisa memiliki ide gila itu."
"Tentu saja, dia adalah aset penting." Sora menunjuk foto Hwan yang tengah memegang tangan seseorang. Terlihat harmonis. Mata Sora menyipit melihat foto yang diambil wartawan.
"Aku sedikit penasaran. Sebenarnya, bagaimana perasaanmu padanya? Lalu bagaimana denganku?" Roy bangkit kemudian menjulang di atas tubuh Sora. "Disini masih basah." Ucapnya kemudian menyentak masuk dengan kejantanannya.
"Eung!"
"Jawab aku!" Roy kembali menyentak dengan kasar. Mendorong miliknya dengan membabi buta.
__ADS_1
"Ah! Roy! Ah!" Suara lenguhan kasar kembali memenuhi ruangan.
Game of Hearts #11 Next...