Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Jungkir Balik Dunia Jessy #7


__ADS_3

Emosi menarik dari Jessy mengguncang hati Kent. Wajahnya selalu terbayang di matanya. Wanita itu sekarang berbeda. Hatinya tercubit. Dulu saat mereka masih bersama, Jessy tidak tampak seperti itu. Tapi setelah mereka berpisah tampaknya Jessy telah pulih sendirian. Sedangkan Kent masih terpuruk dalam kisah masa lalu.


Hubungan Kent dengan orang tuanya merenggang setelah perceriannya dengan Jessy. Ide bercerai mereka sangat ditentang. Kent berusaha menyelesaikan masalah mereka namun gagal. Sepertinya semua telah berjalan ke arah yang salah. Tali perdebatan mereka tersimpul kuat hingga tal bisa terurai dengan mudah.


Perceraian adalah satu-satunya jalan. Sejak awal menikah hingga bercerai, tidak pernah satu haripun mereka tidak berdebat. Perbedaan mereka terlalu jauh. Kent dengan egoisnya menyalahkam Jessy atas ketidakberdayaannya. Sedangkan Jessy yang berjiwa muda menanggapinya dengan berapi-api. Jessy lelah mengalah. Dia selalu beraksi negatif pada Kent.


Rumah tangga mereka tidak pernah harmonis. Perbedaan keduanya tidak terakomodasi dengan baik.


"Orang setampan dan semapan itu kok belum menikan ya Jess? Aku tuh kadang suka heran." Bisik Yola.


Jessy mengangkat bahunya. Dia pura-pura tidak tahu.


"Menurut kamu kenapa La?" Tanya Jessy balik.


"Padahal ya Jess, Pak Kent Sadewa itu gandengannya aktris. Mau lihat gak?" Yola membuka IG miliknya kemudia mengetik user @kent_sadewa.


Jessy sedikit melirik, penasaran dengan topik Yola. Dia aktif di media sosial, bahkam akunnya terverifikasi dengan centang biru. Sering upload foto juga. Lebih banyak foto tentang aktivitas sosialnya. Seperti bermain golf, liburan atau sedang rapat. Jessy mencelos.


'Bodo amat.' Teriaknya dalam hati.


"Mungkin suka sesama jenis La." Ucap Jessy


"Hah serius?" Yola terbelalak.


Tawa meledak diantara mereka. Tanpa mereka sadari ada satu pasang mata yang mengawasi mereka. Tatapannya tajam dan penuh selidik.


"Minggu depan ada perayaan ulang tahun Royal Corp. Karena kalian semua ikut terlibat dalam proyek dengan perusahaan kami maka saya undang kalian semua untuk datang ke Bali ikut merayakan ulang tahun perusahaan kami." Seloroh Kent dengan suara yang lantang.


"Kalian hanya perlu mempersiapkan barang bawaan kalian. Semua akomodasi akan ditanggung oleh Royal Corp. Acaranya Jumat malam, kalian bisa kembali ke Jakarta hari minggu. Silahkan nikmati akhir pekan di Bali. Semua fasilitas akan kamu sediakan." Pidato Kent berapi-api. Diakhir pidatonya Kent disambut dengan tepuk tangan dari semua.


Jessy tercengang. Apa yang baru saja diumumkan Kent membuat otaknya berpikir keras. Dia meminta semua karyawan Jayanegara untuk ke Bali. Apa mau orang itu, Jessy berpikir keras.


"Apa maksud senyum ambigunya itu. Dasar aneh."


Setidaknya itulah yang ditangkap Jessy. Kent tersenyum misterius menatapa Jessy. Tubuh Jessy menegang. Mual hanya dengan melihatnya saja.

__ADS_1


*****


"Kamu gak ikut Jess?"


"Gak tau La, males aja ke Bali. Jauh gitu."


"Ini itu kesempatan sekali seumur hidup lho Jess, bisa liburan gratis."


"Iya sih, tapi aku pingin istirahat aja di rumah."


"Pak Juna gak ikut ya?"


"Gak, Mas Juna katanya mau ke Singapura besok pagi."


"Kamu pasti sering ya Jess liburan gitu, kamu kan kaya keluarganya."


"Aku lima tahun ini di Inggris La, hidup sendiri. Aku sama kok dengan yang lain, gak dimanjakan orang tua."


"Tapi kan kita beda nasib Jess." Yola mendengus lemah. "Ayo Jess ikut aja yuk, kita seru-seruan di Bali, semuanya ikut lho Jess." Bujuk Yola. Dia sedih saat Jessy bilang tidak ikut.


"Oke deh aku ikut La." Jessy kalah. Kent bisa dia atasi. Tapi teman-temannya terlalu berharga untuk dilewatkan.


*****


Bali tidak pernah kehilangan keindahannya. Jessy punya kenangan pahit di Bali. Sepulang liburan dari Bali lima tahun lalu Jessy dihadapkan pada pernikahan yang tiba-tiba. Proses yang dilakukan begitu cepat sehingga dia tidak punya waktu untuk menolak.


Mempelai pria baru datang satu hari sebelum pernikahan dari luar negeri. Sungguh mencengangkan. Bali selalu meninggalkan kenangan. Kini dia ada di Bali lagi. Kini sedikit berbeda. Dulu Jessy dengan leluasa bisa mengeksplor Bali, tapi kali ini dia ingin menghabiskannya bersama teman-temannya.


Jessy berencana untuk jalan-jalan di sekitar hotel. Semua karyawan Royal Corp diundang ke acara nanti malam. Ada dua hotel yang digunakan untuk mengakomodasi mereka. Tapi tempat belangsungnya acara ada di hotel yang ditempati Jessy.


Royal Hotel dan Resort Bali, dibangun diatas tanah yang begitu luas. Mengambil kawasan elit Bali, Nusa Dua. Hotel ini menyediakan banyak sekali fasilitas mewah. Semua serba ada. Jessy berjalan lurus ke arah kolam renang. Suasananya damai, banyak pepohonan teduh. Jessy butuh menenangkan pikirannya. Orang nomor satu di Royal atau orang tua Kent pasti akan hadir nanti malam. Jessy belum siap. Dia butuh strategi untuk menghindari mereka.


Jessy terus berjalan hingga dia tiba di resort. Bangunannya tidak sama dengan yang lain. Ada dua bangunan yang menghadap ke arah pantai. Suasananya sepi. Jessy terus berjalan masuk menelusuri jalan setapak. Diujung sana ada jalan yany mengarah ke pantai.


Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Bau air laut samar-samar tercium. Jessy berdiri tegak memandang laut.

__ADS_1


"Jessy." Suara rendah memanggilnya.


Jessy menoleh. Matanya membulat sempurna. Sosok tinggi besar memunggungi sinar matahari. Siluetnya tajam dan gelap. Tubuh Jessy langsung menegang. Akhirnya mereka bertemu secara langsung.


"Ah maaf sepertinya aku gak sadar jalan ke arah sini. Permisi." Jessy mengangkat kakinya hendak pergi.


"Bagaimana kabarmu?"


Detak jantung Jessy melonjak mendengar suaranya yang rendah. Jessy berhenti.


"Aku baik. Seperti apa yang kamu harapkan." Jessy berbalik. "Boleh tanya sesuatu? Meskipun kamu gak suka melihatku tapi tolong tahan sebentar."


Dahi Kent berkerut.


"Apa maksudmu tanya sama Pak Ragis tentang aku?" Tanya Jessy tegas.


"Tidak ada maksud apa-apa."


Jessy mendengus. Wajah dingin Kent tidak berubah. Jessy tidak mau memperpanjang urusannya.


"Dengar ya, apapun alasannya jangan sok cari tahu apapun tentang aku. Aku juga terpaksa ikut dalam proyek ini. Tenang aja aku gak akan bilang-bilang ke orang lain. Pernah menikah bukanlah hal yang membanggakan." Jessy berbalik dan berjalan pergi.


"Maaf kalau itu menyinggung kamu."


Jessy berhenti. Suara rendah Kent menyentaknya. Suara yang biasanya dingin kini melembut. Jessy kesal. Dia hanya ingin pergi. Tidak terlibat dengan orang yang menjengkelkan.


"Sepertinya kamu baik-baik saja selama ini."


"Tentu saja. Sudah kubilang, sesuai yang kamu harapkan waktu kita bercerai. Aku hidup dengan baik." Jawab Jessy tegas. Dia berbalik dan kini mereka saling berhadapan lagi.


"Curang. Aku yang tidak baik-baik saja." Suara Kent bergetar.


Jessy tercengang. Wajah Kent yang membuatnya muak dulu kini terlihat lesu. Seperti seseorang yang menahan sakit sekian lama.


Jungkir Balik Dunia Jessy #8 Next...

__ADS_1


__ADS_2