
Ksatria dan pelayan terkejut mendengar pertanyaan Veronica dengan wajahnya yang datar. Bertentangan dengan harapannya bahwa mereka akan segera menjawab, pelayan itu ragu-ragu untuk waktu yang lama dan tidak mau membuka mulutnya. Saat pelayan itu terus diam, Veronica melihat kembali ke ksatria yang berdiri di belakang pelayan itu. Dia adalah seorang ksatria pengawal yang selalu mengikuti sang Duke.
"Bawa aku ke tempat Duke berada sekarang."
"Nyonya, itu..." Suara ksatria ragu-ragu.
"Sekarang." Suara Veronica menajam.
Mereka bergidik takut pada suara dan tatapan tegas Veronica. Pelayan itu mengangkat kakinya dan membawanya ke tempat itu. Sebenarnya, Veronica ingin menemukan Duke sendiri dan segera menyuruh mereka pergi, tapi belum sepenuhnya tahu struktur mansion Duke Wilhem.
Setelah berjalan melewati banyak lorong, akhirnya mereka sampai. Itu adalah ruangan dengan pintu yang tidak jauh beda dengan pintu kamarnya. Dia berjalan sendirian, Verionica pasti akan tersesat dan tidak bisa membedakan tempat dia berada.
"Duke disini?"
"Ini kantor Yang Mulia Duke." Pelayan itu gemetar.
Setelah menjelaskan dengan tubuh yang gemetar, mereka akhirnya pergi dan meninggalkan Veronica sendiri di depan pintu itu.
Veronica meletakkan tangannya hati-hati di gagang pintu untuk membuka pintu. Pada saat itu, sebuah suara terdengar dan tanganny terkesiap. Dengan pintu yang sedikit terbuka, suara itu terdengar hingga lorong yang sepi.
"Ah! Ivan! Ivan! Hah! Ah! Ah!"
Suara itu, yang Veronica dengar dengan jelas adalah suara erangan centil wanita.
Nama yang dipanggil oleh wanita itu adalah nama yang sama dengan suaminya. Suami yang hari ini baru saja dia nikahi.
Siapa lagi yang dipanggil 'Ivan' di dalam kantor Yang Mulia Duke. Jadi siapa lagi yang ada di dalam sana dengan suara erangan wanita kalau bukan Ivan, suaminya. Kenyataan ini menghantam kepala Veronica. Tangannya kenali menarik gagang pintu kemudian menutupnya rapat.
Dia memang tidak mencintai Ivan. Tapi setiap wanita tidak akan pernah ingin menderita dalam sumpah janji pernikahan. Seolah bahwa pernikahannya ini tidak akan bahagia, tidak cukup. Penghinaan ini, merendahkan martabatnya sebagai seorang istri. Kilatan upacara pernikahan tadi kembali berputar. Tubuh Veronica bergidik ngeri.
Veronica mengangkat tangannya dari gagang pintu kemudian pergi. Kembali ke kamarnya. Kamar luas yang seharusnya dia tempati dengan suaminya.
Suasana kamar hening dan tenang. Tidak seperti tempat yang baru saja dia datangi. Memikirkannya saja membuat Veronica mual. Dia duduk ditepian ranjang dan mengelus selimut. Kamarnya jauh lebih hangat dibandingkan hatinya yang dingin.
__ADS_1
Veronica menghela nafas dalam-dalam. Tidak pernah sebelumnya, harga dirinya terluka. Dia merasakan penghinaan yang amat sangat untuk pertama kali dalam hidupnya.
Saat dia berbaring ditempat tidur yang sangat luas dan kosong, hati Veronica sakit. Malam pertama yang dinanti-natikan oleh pasangan pengantim baru tidak lain hanyalah sepi.
Kehidupan pernikahan yang dimulai seperti itu tidak akan pernah mulus.
Pernikahan antara keluarga bangsawan berpangkat tinggi Wilhem dengan bangsawan kelas menengan Hazlet hanyalah sebuah pertunjukan. Dalam ikatan formal pernikahan itu, hubungan Ivan dan Veronica sangat membosankan hingga tidak ada emosi sama sekali. Pantas untuk mengatakan bahwa mereka mungkin adalah mitra bisnis yang terhubung di bawah hiasan 'pernikahan'.
Dalam prosesnya, hadir seorang wanita dari keluarga bangsawan di pinggiran Armeta, Terria Ophel. Ivan jatuh cinta pada wanita muda dari keluarga Count Ophel yang baru saja datang ke ibukota untuk menjalankan bisnis mereka.
Pada awalnya, Veronica pikir itu hanya rasa ingin tahu sesaat, tapi tidak. Terria tidak menyerah mendekati Ivan selama satu bulan, dan bertahan selama tiga bulan di samping Ivan, yang tampaknya telah berubah setelah bertemu Terria.
Veronica menerima laporan tentang Ivan setiap hari. Hal itu dia lakukan untuk mencegah masalah yang bisa menyebabkan kemunduran dalam pernikahan kosong mereka. Meskipun mereka tidak memiliki perasaan, jelas bahwa pernikahan mereka sangat membantu Keluarga Marquis, dan Veronica harus melanjutkan pernikahan ini.
Bantuan bisnis dari pernikahannya dengan Ivan tidak bisa diabaikan begitu saja. Maka dari itu Veronica berpegangan erat pada pernikahan itu.
Melalui laporan yang Veronica terima. Ivan dan Terria bagai sepasang kekasih muda yang sedang bersemi kasih sayangnya. Ivan sering keluar rumah. Lebih sering sebelum bertemu dengan Terria. Alih-alih bau rokok yang biasa Ivan gunakan, dia pulang dengan aroma parfum yang wangi. Tipe parfum perempuan.
Ketika laporan yang terus datang dan menunjukkan bahwa mereka mulai berkencan di muka umum, di ibukota Armeta, Veronica tidak bisa hanya diam saja.
Meskipun hal ini bisa dianggap rumor yang tidak berdasar. Perilaku Ivan akan terus mengikutinya ketika dia melakukan pertemuan sosial dengan wanita bangsawan lainnya.
Amarah Veronica berkobar. Dia mengunjungi suaminya dengan membawa domumen-dokumen yang dia dapat kemudian melemparkannya ke atas meja kerjanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tubuh Ivan menegang.
"Jika kamu ingin berselingkuh tolong lakukan dengan baik."
"Apa maksudmu?"
"Kamu selalu menyembunyikan semua perselingkuhanmu dengan baik selama ini. Apa yang berubah sekarang?" Mata Veronica berkilat merah.
Menyadari bahwa dia tidak sedang disindir, tetapi bertanya dari lubuk hatinya, Ivan tertawa terbahak-bahak. Matanya menatap lekat pada Veronica yang berapi-api.
__ADS_1
"Aku sangat membencimu kau tahu itu?"'
"Itu sama. Aku juga membencimu." Veronica menjawab dengan menggigit bibir bawahnya.
"Seharusnya aku tidak menikah dengan orang sepertimu Veronica. Wanita tanpa ekspresi dan kasih sayang sepertimu."
"Lalu menikah dengan siapa? Wanita yang bernama Terria Ophel?"
"Jangan menyebutkan namanya sesuka hatimu!" Suara Ivan menggelegar.
Saat dia menyentak dan kepalanya miring, Veronica bisa melihat tanda merah di leher Ivan. Dia pulang larut malam. Jelas bahwa tanda itu dari Terria.
"Kamu ingin menikahinya?" Tanya Veronica dengan jijik.
"Tutup mulutmu Veronica!"
Ivan bereaksi lebih sensitif daripada yang dia harapkan terhadap provokasinya.
Itu lucu. Sangat lucu. Melihatnya, yang biasanya memandang rendah dirinya, menjadi serius seperti ini. Bukankah dia seorang pria yang tidak memikirkan sesuatu yang disebut 'perasaan' lebih dari orang lain?. Veronica meringis.
"Bermimpilah. Kecuali kamu ingin menderita dalam perceraian."
Ada aturan aneh di ibukota Armeta. Perceraian sangat dikutuk sedangkan perselingkuhan dianggap wajar. Meskipun itu keluarga kekaisaran langsung, perceraian dilarang. Seseorang yang bercerai harus siap menanggung konsukensi berat, dijauhi dari pergaulan sosial.
"Terus saja bermimpi menikahi Terria, Ivan. Meskipun aku mati dan dilahirkan kembali, aku tidak akan membiarkan itu."
Veronica berbisik dengan senyumnya yang indah dan menawan. Ivan hanya menatapnya. Dia mendengar Ivan menggertakkan giginya.
Meninggalkan tawa mengejek, Veronica pergi dari kantor Ivan. Begitu dia melangkah keluar, bunyi dentuman terdengar dari dalam. Veronica acuh tak acuh.
Hari ini kebenciannya pada Ivan tumbuh lebih besar.
Lady Veronica #3 Next...
__ADS_1