
Ketika anak laki-laki Hexalios tumbuh menjadi anak muda, dunia aristokrat semakin terguncang.
Desakan untuk menetapkan Putra Mahkota tidak bglisa dibendung lagi. Petisi datang seperti banjir bandang yang sulit lagi ditanggul. Jordan yang telah bertahan selama sepuluh tahun hampir menyerah.
Apa artinya Elderbar tanpa Duke Hexalios. Dia dihormati selain dipuja. Pandangann tajam dan terobosannya inovatif. Dia mampu memecahkan masalah-masalah sulit yang dihadapi Elderbar.
Bukan berarti Kaisar Alex tidak kompeten. Dia sangat kompeten hanya saja dia cenderung terhanyut akan perasaan buta. Contoh saja ketika muncul petisi untuk mencabut gelar permaisuri Janetta Elderbar, Duke Hexalios yang meredakannya dan memberikan solusi apik.
Namun itu tidak bertahan lama karena pada dasarnya pondasi telah terguncang. Tuntutan para aristokrat adalah kelangsungan hidup Keluarga Kekaisaran. Mereka tidak salah, bagaimanapun golongan konservatif pasti ingin agar penerus kaisar aman.
Sejak diumumkan jika Permaisuri Janetta tidak bisa lagi melahirkan, mereka putus asa. Satu-satunya keturunan luhur adalah seorang putri. Mereka yang menjunjung tinggi legitimasi laki-laki mendecakkan lidahnya. Meneteskan rasa tidak puas disana sini.
Sebagai akibatnya, dukungan pada anak tertua Hexalios, Felix, menguatkan tajam.
Ayah yang kompeten dipolitik dan ibu dengan kasih sayang yang luar biasa, menjadi alasan kuat para aristokrat mendorong Felix Hexalios menjadi putra mahkota.
Keinginan itu terus tumbuh begitu mereka melihat Felix Hexalios menjadi pemuda yang tak kalah cemerlang dari ayahnya. Diusia muda, dua anak kembar tersebut dilatih langsung oleh guru yang tidak bisa ditemukan dimanapun di dunia ini, ayahnya sendiri, Duke Hexalios, berebagai macam hal.
Mereka mahir dalam hal menggunakan otak dan kekuatan.
Kenapa pilihan jatuh ke Felix?
Alasannya sederhana, karena dia adalah anak yang pertama. Kedua bersaudara Felix dan Leonil Hexalios tidak memiliki perbedaan, tanpa celah. Jika Felix diproyeksikan menjadi Putra Mahkota Elderbar, maka Leonil Hexalios diprediksi akan mewarisi gelar Duke Hexalios.
Lima tahun kemudian, saat dua bersaudara tersebut berumur lima belas tahun, untuk meredakan gejolak publik, Kaisar Alex memberikan gelar kepada dua anak Hexalios karena kecerdasaannya. Lagipula itu merupakan tradisi dimana anak-anak dari keluarga berpangkat tinggi mendapatkan gelar untuk menghormati orang tua mereka.
Felix dan Leonil diberi gelar Count Hexalios karena tingkat bakatnya yang tumbuh luar biasa. Count muda menjadi ahli pedang diusia tujuh belas tahun.
Tahun depan keduanya akan memasuki usia dewasa. Di Elderbar usia dewasa berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dewasa delapan belas tahun dan wanita dewas adalah tujuh belas tahun.
Ketika mencapai usia yang matang, gejolak akan semakin tidak terbendung. Jika masalah ini dibawa di dalam sidang tahunan kabinet aristokrat, menganggulnya sama seperti tahun-tahun sebelumny akan sulit.
Tidak lain ini adalah sakit kepala Jordan Hexalios.
"Lux mengatakan jika dia akan menyerahkan keputusan pada aristokrat di sidang kabinet berikutnya." Jordan melonggarkan dasi kemudian membanting tubuhnya ke atas sofa.
__ADS_1
Wajah lelahnya sangat kelihatan jelas. Meskipun telah dimakan usia yang menua, ketampanan tidak pernah luntur sekali. Begitulah di mata Sofia yang dengan tenang duduk di sofa lain.
"Akan sulit dibendung lagi kali ini." Jawab Sofia dengan nada kesal.
Jordan diam seribu bahasa. Kepalanya sudah pusing sejak di istana. Rasanya dia ingin memenggal setiap kepala yang terdengar berisik. Ini tidak begitu berisik pada awalnya. Mereka mulai radikal ketika tahu bahwa Felix dan Leonil akan menjadi laki-laki dewasa tahun depan, dan tak kurang dari enam bulan dari bulan ini. Karena mereka lahir di awal tahun.
"Kenapa mereka tidak meninggalkan Felix dan Leonil sendiri. Sejujurnya saya tidak begitu menyukai istana. Lagi pula ada Putri Marginne yang bisa menjadi Ratu." Sofia mendesah keras.
Membayangkan anak-anak yang dia besarkan sendiri dengan penuh kasih sayang, mendapatkan kesulitan, Sofia kesal. Kenapa keluarganya harus terikat pada istana. Jika pasangan agung tidak mampu tolong kritik mereka saja. Hexalios hanya ingin hidup tenang dan damai.
"Aristokrat konservatif pasti memuja garis keturunan laki-laki. Akan sulit membujuk mereka dibangingkan belasan tahun lalu. Saat aku mengajukan percerainmu dengan Lux, Sofia. Mereka pasti sudah mengerti pola pikirku." Jordan mendengus.
"Saya tidak setuju jika anak-anak saya dibawa ke istana." Sofia melipat tangannya di dada.
"Mereka juga anak-anakku Sofia." Suara Jordan lemah.
Siapa yang tidak ingin melindungi keluarga yang berharhanya. Sofia dan keempat anak mereka adalah hidupnya. Jika tidak cukup konyol menyerahkan anaknya untuk menjadi santapan para aristokrat tua.
"Lalu selamatkan mereka Jordan!" Suara Sofia menghentak.
Senyum tersungging di bibir Duke dan Duchess Hexalios. Meskipun mereka bertengkat hampir setiap hari, mereka akan segera mereda. Itulah keluarga. Kehadirannya dinantikan dan ketidakhadirannya dirindukan.
Ketika Hexalios berusaha untuk bertahan, badai ditiupkan secara mengejutkan di akhir tahun, ketika saldu menumpuk di Elderbar.
Permaisuri Janetta Elderbar meninggal.
Dikabarkan setelah terpuruk karena vonis dokter akan ketidaksuburannya, kesehatannya perlahan turun. Permaisuri yang sejak awal tidak disukai rakyat bertindak secara impulaif. Emosinya tidak terkontrol dan dia kencanduan minuman keras.
Kematiannya terkonfirmasi karena overdosis minuman keras yang telah dikonsumsi bertahun-tahun.
Pemakaman digelar secara sederhana. Istana menjadi senyap meskipun tak banyak yang sedih karena ditinggalkan ibu negara. Rasa lega malah merayapi setiap penghuni istana. Akhirnya salah satu orang yang sulit dilayani itu pergi.
Angin dingin sangat dingin tahun ini.
Felix Hexalios berdiri dengan tegak mengenakan setelan kemeja serba hitam. Aula dalam istana sangat luas untuk menampung ribuan orang yang datang untuk memberikan salam terakhir pada Permaisuri Elderbar.
__ADS_1
Diujung ruangan diletakkan peti mati yang terbuka. Khusus untuk satu hari ini, peti itu dibuka dan pelayat bisa melihat wajah tidur Permaisuri Janetta. Dia seperti tidur dengan tenang. Meskipun wajahnya kurus dan matanya cekung. Bibirnya tertutup rapat berwarna merah dan tangannya terlipat rapi.
Pemakaman diadakan dengan ucapara yang singkat dan dia dikuburkan di tanah leluhur Elderbar.
Aula yang ramai sekejap menjadi sepi. Hanya tertinggal keluarga kekaisaran termasuk Hexalios.
Kaisar Alex duduk dikursi dengan ditemani Putri Margine di sampingnya.
Ada keheningan yang lama. Felix beserta saudara-saudaranya dan orang tuanya berdiri tak jauh darinya.
"Kalau begitu, ijinkan kami untuk meninggalkan istana Yang Mulia." Jordan maju selangkah untuk memberi penghormatan.
"Ya, terima kasih Duke untuk hari ini." Kaisar menjawab.
Keluarga Hexalios serempak menunduk.
"Bisakah kalian semua tinggalkan aku sebentar dengan Count Muda Felix Hexalios?" Ucapan tiba-tiba Kaisar Alex mengejutkan semua orang.
Namun perubahan halus segera ditekan. Jordan meninggalkan Felix bersama keluarganya yang lain.
"Count Muda mendekatlah." Titah Kaisar Alex.
Felix ragu untuk mendekat namun langkahnya penuh tekat. Dia berjalan sedekat mungkin namun dengan jarak aman.
"Count Muda."
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya. Felix terkesiap. Kaisar menatapanya dengan emosi yang sulit terbaca.
"Tolong jaga putri satu-satunya negeri ini. Dia adalah anak yang rapuh. Tolong lindungi dia." Suara Kaisar Alex lemah. Dahinya yang berkerut karena usia semakin berkerut.
"Maaf?"
"Menikahlah dengan Putri Margine."
Sesuatu retak di dalam Felix. Telinganya tidak bermasalah, jadi itu pasti kenyataan. Mata Felix bergetar hebat.
__ADS_1
The Prince and The Lady #2 Next...