Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
The Empress Crown #12


__ADS_3

"Ternyata itu kamu Sofia."


Suara Jordan memecah kesunyian.


"Sungguh lucu. Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu ada ditempat yang tak pernah aku pikirkan."


Jordan menghela nafas kasar. Terdengar dari suaranya. Dia melonggarkan ikatan dasinya yang terasa sesak.


Dia baru saja kembali dari tempat yang jauh dan melelahkan. Setelah satu bulan lamanya membenamkan diri dalam latihan militer siang dan malam. Akhirnya Jordan kembali ke ibu kota.


Keinginannya untuk kembali mencari Sofia terpaksa ditahan karena hari pendirian Kekaisaran Elderbar sudah dekat. Jordan tentu saja harus terlibat dalam segala macam persiapan, yang memikirkan saja membuatnya sakit kepala.


Hari pendirian akhirnya tiba. Pesta pertama yang hanya dihadiri oleh undangan khusus terlihat membosankan. Tawa palsu wanita bangsawan dan muka bertopeng laki-laki bermartabat. Jordan muak.


Dia menyingkir untuk mengambil minum. Tenggorokannya hampir kering karena menanggapi para wanita yang mengerubunginya. Jordan tidak bisa serta merta menolak karena tidak sopan untuk menolak sapaan orang lain di tempat terbuka.


Jordan menenggak satu gelas minuman dan pipinya menjadi panas. Dia mendesis kesal. Pesta seperti ini bukan seleranya. Pasalnya dia selalu diikuti banyak wanita ketika pesta. Oleh sebab itu Jordan benci pesta.


Tangan Jordan hendak meraih gelas kedua saat pintu aula pesta dibuka. Seseorang masuk dengan kepala tertunduk. Suara musik berhenti. Seorang wanita dengan gaun biru pucat dan rambut disanggul.


Di altar menuju singgasana kaisar, wanita itu memberi hormat kepada matahari Elderbar. Kaisar bangkit kemudian turun dan berdiri di tengah aula.


Wanita itu mengikuti dibelakang kaisar. Wajahnya akhirnya terungkap. Jantung Jordan hampir melonjak keluar saat melihat wajah wanita itu.


Semua orang berkerumun mendekat, tak terkecuali Jorda. Dia mengenal wanita itu. Wanita yang selama ini dia cari, Sofia Margareth.


Kaisar berpidato. Sofia yang Jordan kenal juga memperkenalkan dirinya. Sangat singkat. Darah panas segera membanjiri tubuh Jordan. Telinganya tidak bermasalah. Jadi dia dengan jelas mendengar jika Sofia adalah wanita yang kaisar, Alex, nikahi.


Jordan tentu tahu fakta ini. Tidak ada rahasia diantara dia dan Alex. Wanita ini hanyalah alat yang akan Alex gunakan untuk membuat Janetta bisa masuk ke istana. Dia hanya batu loncatan saja.


Skema selanjutnya adalah, Janetta harus segera mengandung pangeran, yang nantinya akan menjadi pewaris. Jika hal ini berhasil, tugas wanita itu selesai dan dia akan diusir dari istana. Selama proses ini berlangsung, wanita itu dibatasi geraknya. Identitasnya disembunyikan sebaik mungkin.


Kemudian, kemungkinan terburuknya jika Janetta tidak segera melahirkan pewaris atau anak yang lahir adalah perempuan, wanita itu yang akan digunakan sebagai alat untuk melahirkan pewaris. Anak itu akan dijadikan pangeran dan akan diakui sebagai anak Janetta.


Intinya, Alex ingin segera mengangkat Janetta menjadi ibu negara, permaisuri Elderbar.


Jordan yang tahu rencana tersebut dan siapa wanita yang dijadikan alat itu, marah. Amarah membumbung tinggi di atas kepalanya.


Dia menatap sinis pada adegan dua sejoli yang sedang mengumumkan hubungan mereka. Di belakang mereka ada Sofia yang mengigit bibirnya. Mata Jordan menajam saat tatapan mereka tak sengaja bertemu dan Sofia segera berpaling.


Jordan ingin menebas siapapun yang ada di depannya saat ini. Jika ditangannya ada pedang, seseorang bisa saja kehilangan kepalanya.


Lampu aula meredup. Minimnya cahaya tidak mengajalangi Jordan untuk mengunci pandangannya pada Sofia yang diam-diam menyelinap keluar.


Jordan mengikuti Sofia. Dia tidak menyangka kalau Sofia akan kesana. Dia kira mungkin Sofia akan meninggalkan tempat pesta atau berdiam di pojok aula.


Balkon menjadi sepi karena perhatian semua orang terpaku pada dua pasangan yang sedang berdansa di tengah lautan bahagia.


"Sofia."


Mata Jordan menyipit saat tubuh terkejut Sofia menghianati ekspektasinya. Jelas terlihat Jika Sofia takut padanya. Tubuhnya gemetar dan terus mengigit bibirnya. Jordan bisa gila. Dia bisa kehilangan kewarasan jika melihat darah keluar dari bibir pucat Sofia. Saat itu terjadi mungkin Jordan tidak akan bisa mengendalikan dirinya.


Sebelum itu terjadi Jordan maju selangkah dan menarik tubuh Sofia ke dalam pelukannya. Menenangkan tubuh rapuh itu yang mengancam terluka kapan saja. Hati Jordan teriris saat kedua tangannya mendekap Sofia. Dia bisa merasakan sakit atas penghinaan yang baru saja Sofia terima.

__ADS_1


Jika itu orang lain mungkin Jordan tak peduli. Tapi itu adalah Sofia, wanita yang telah berhasil menjungkir balikkan dunianya.


"Maaf atas tindakanku yang tiba-tiba tadi Sofia. Kamu pasti terkejut."


"Saya baik-baik saja."


Sofia mengepalkan tangannya.


"Aku tahu perasaanmu."


Sofia menoleh pada ucapan Jordan. Mata mereka terkunci.


"Itukah alasanmu menolakku?"


"Menolak?"


Sofia tidak paham dengan bagian ini. Dia tidak pernah menolak Jordan.


"Di surat balasan itu kamu jelas menulis bahwa kamu tidak mau bertemu lagi denganku."


"Ah itu, maaf."


"Inikah alasanmu menolakku?"


"Alasan?"


"Ya. Bahwa kamu adalah istri Alex. Kamu tahu siapa aku bukan?"


Dahi Jordan berkerut.


"Lalu?"


"Saya memang benar wanita yang dinikahi Yang Mulia Kaisar. Tapi bukan itu alasan saya. Saya juga tidak menolak anda." Suara Sofia bergetar. Mengingat tindakan Jordan yang memeluknya tiba-tiba, membuatnya berkeringat dingin.


"Itu artinya kamu tahu siapa aku makanya kamu menolakku."


"Maaf tapi saya tidak menolak anda. Saya hanya tidak mau anda kesulitan karena berteman dengan saya."


"Siapa yang peduli dengan itu?" Suara Jordan menajam.


"Anda..." Sofia ragu-ragu sebelum melanjutkan. "Anda adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi, Yang Mulia Duke. Sedangkan saya hanya wanita rendahan. Kehormatan anda akan tercemar saat orang-orang tahu anda berteman dengan saya."


"Aku bahkan tidak peduli."


Tatapan Jordan menusuk. Sontak Sofia menundukkan kepalanya. Takut akan lawan di depannya. Saat ini dia seperti kelici kecil dihadapan singa besar.


"Ah! Sial! Jangan seperti ini Sofia, lihat aku!" Suara Jordan menggelegar.


"Maaf. Maafkan saya Yang Mulia. Saya bersalah." Tubuh Sofia kehilangan kekuatan.


Dia bersujud dengan seluruh tubuh yang gemetar. Reputasi Duke Hexalios sebagai tukang jagal kepala Elderbar berputar di kepala Sofia. Dia tidak menyangka akan bertemu dengannya.


Sofia takut. Dia memegang hidupnya yang jatuh dalam lubang kegelapan.

__ADS_1


Mata Jordan membulat saat melihat Sofia jatuh ke lantai. Dia tidak memperhitungkan kemungkinan ini. Sofia pasti takut dengan suara seperti ini.


Jordan frustasi. Dia mengusak kasar rambutnya.


Dia berjongkok kemudia menyelipkan tangannya ke bawah gaun. Dengan mudahnya dia mengangkat tubuh Sofia yang seringan bulu.


"Yang, Yang Mulia."


Sofia terkesiap.


Tiba-tiba tubuhnya terangkat dan wajah Jordan sangat dekat dengannya.


"Siapa yang menyuruhmu bersujud dan merendahkan dirimu seperti itu?"


Sofia mengerjapkan bulu matanya yang lentik beberapa kali.


"Saya, saya bersalah."


"Bukan kamu Sofia, tapi aku. Aku sedang kesal saat ini. Kamu pasti takut denganku bukan?"


Sofia mengangguk pelan.


"Kamu takut aku membunuhmu?"


"Tidak. Tidak Yang Mulia, tidak mungkin saya berani."


"Jordan. Panggil aku Jordan seperti biasanya."


Sofia tak menjawab. Dia sibuk mengamati wajah Jordan yang terlalu dekat dengannya.


"Kita perlu bicara berdua Sofia. Tentu saja tidak disini. Lingkarkan tanganmu ke leherku."


"Ya?"


"Sekarang."


Jordan naik ke atas pagar balkon. Angin malam menerpa mereka berdua. Ramput Sofia yang telah disanggul rapi kini berkibar.


"Apa yang akan anda lakukan?" Sofia bertanya gugup.


Dia praktis melingkarkan kedua tangannya pada leher Jorfan. Takut akan jatuh. Sofia bisa melihat kegelapan di bawah balkon.


"Turunkan saya sekarang Yang Mulia." Sofia memberontak.


"Pegangan yang erat atau kamu bisa saja terluka Sofia."


"Jangan seperti ini. Saya mohon turunkan saya. Kya! Jordan!" Suara teriakan Sofia melengking di udara. Matanya memejam saat sensasi jatuh dari ketinggian terasa.


Jordan melompat dari balkon yang tingginya sekitar lima meter dari tanah tanpa halangan apapun. Kakinya mantap di tanah seperti tidak pernah terjun dari atas.


"Kita perlu bicara Sofia. Di tempat yang tenang dan hanya berdua."


The Empress Crown #13 Next...

__ADS_1


__ADS_2