
Klak
Pintu tertutup. Tubuh Jordan merosot. Telinga dan belakang lehernya diwarnai merah. Dua wajahnya ditutupi oleh kedua tangannya yang besar.
Ingatan tentang tindakannya barusan membuat jantungnya berdetak. Bibir mereka bersentuhan. Bibir kecil yang diwarnai pink itu mengalihkan perhatiannya. Dia seperti binatang buas yang haus begitu melihat bibirnya yang bergerak-gerak. Tampak imut dan menggairahkan.
Akhirnya tali kontrolnya terputus. Jordan yang sejak tadi tidak suka dengan panggilan untuknya, menuruti naluri binatangnya.
Itu bahkan tidak bisa dikategorikan sebagai ciuman karena bibir mereka hanya menempel sekilas.
Jordan memuji keberaniannya. Dia segera bangkit dan menata emosinya.
Gila!
***
Jordan tidak menepati janjinya.
Semua kembali mereda begitu saja. Sudah satu minggu sejak terakhir dia melihat batang hidungnya. Dengan bangga menunjukkan dokumen pernikahan mereka.
Malam harinya Sofia tidak bisa tidur, terus memikirkan apa yang akan terjadi besok. Bagaimanapun mereka telah menikah, meskipun itu pernikahan di atas kertas, paling tidak harus ada perayaan atau sejenisnya.
Begitu dia membuka mata besok paginya, dan seminggu kemudian, tidak ada apapun yang terjadi. Bahkan Jordan tidak ada di mansion. Hanya pelayan dan pelayan yang merawatnya.
'Hah!' Sofia menghela nafas.
'Apa yang sebenarnya aku harapkan? Ini hanya pernikahan pura-pura. Kamu terlalu banyak berharap Sofia.' Akhirnya Sofia membenamkan wajahnya ke dalam selimut kemudian tidur. Itulah mantra yang setiap malam dia ulangi untuk menanangkan kegelisahannya.
Pernikahan ini hanya pura-pura. Dia bukan Duchess Hexalios asli. Jordan dan Sofia hanya teman biasa. Ketika situasi cukup aman, saat Janetta diangkat menjadi permaisuri, mereka akan berpisah dengan cara baik-baik.
Pada hari kesepuluh, suasana di mansion sedikit berubah. Setiap kali Sofia berjalan, semuanya memberi hormat padanya, tidak terkecuali para ksatria.
Sofia punya kebiasaan kecil selama tinggal di mansion Hexalios, setiap pagi dia suka menikmati teh di istana belakang. Taman luas dengan berbagai warna terbentang. Disana ada sebuah bangunan kecil dekat air mancur yang sering dia gunakan untuk menyesap teh hangat, beberapa camilan, dan membaca buku. Menghabiskan waktunya di mansion dengan lambat. Sofia tidak seaktif wanita bangsawan lain yang mungkin akan berhias diri atau berlari dalam pesta.
Tatapan dan penghormatan mereka agak berbeda. Jika tidak salah mendengar, mereka mengganti kata "Nona" dengan "Nyonya" begitu menyapa Sofia. Tidak seperti biasanya.
Sofia bertanya-bertanya.
'Apa yang terjadi? Aku harus bertanya pada Rona dan Ema.'
Begitu meja teh ditata rapi, Sofia segera menarik Rona dan Ema untuk tetap tinggal.
"Ada yang ingin kutanyakan."
"Ya, Nyonya silahkan tanyakan apapun."
Dahi Sofia mengerut. Mereka juga tampak aneh.
"Apakah terjadi sesuatu di mansion?"
"Maaf?"
__ADS_1
"Jor, maksudku Duke apakah dia sudah kembali ke mansion?"
Pertanyaan inilah yang selama ini Sofia pendam di hatinya. Dia tidak bertanya pada siapapun apa yang Jordan lakukan, dimana dia berada dan kapan dia pulang. Sofia merasa tidak berhak.
Tapi kali ini dia tidak bisa menahannya lagi.
"Duke belum kembali sejak sepuluh hari yang lalu, saya dengar dari kepala pelayan bahwa Yang Mulia saat ini berada di istana."
"Ah.." Sofia berhenti sejenak. "Lalu kenapa kalian pagi ini berubah?"
"Maksud anda?" Suara Rona dan Ema entah kenapa sangat sopan dan tertata. Mereka biasa akrab dan tidak terlalu formal.
"Nyonya, setiap aku bertemu orang-orang mereka memanggilku begitu, kalian juga. Apa yang terjadi? Jangan coba-coba menyembunyikannya!" Suara Sofia tegas.
Ada keheningan sejenak. Salah satu dari pelayan setia Sofia membuka mulutnya, dia adalah Ema.
"Selamat atas pernikahan anda dengan Yang Mulia Duke."
"Hah?"
Mata Sofia membulat sempurna. Dari mana mereka tahu, saat dia dan Jordan membahas masalah ini tidak ada satupun pelayan di dekat mereka. Lagipula menurut Sofia, Jordan langsung meninggalkan mansion begitu urusannya selesai dengannya. Maka dari itu Sofia tetap diam. Mengumbar pembicaraannya dengan Jordan, tidak bijak rasanya.
"Saya rasa karena inilah semua pelayan dan ksatria mengubah panggilan anda. Kami juga sama, tidak mungkin lancang."
"Darimana kalian tahu?"
"Komandan Ksatria, Sir White yang mengatakannya kepada kami."
"Ceritakan lebih banyak." Desak Sofia.
Sekitar larut malam, Charlie White selaku komandan ksatria tiba-tiba kembali ke mansion tanpa pemberitahua. Segera setelah itu dia ditemani Alfons, mengumpulkan semua orang di mansion kecuali Sofia.
Dia membawa sebuah dokumen di tangannya. Membuka talinya kemudian membacakannya. Selanjutnya menyampaikan beberapa perintah dari Duke Jordan Hexalios.
Semua orang di mansion Hexalios tahu kecuali Sofia yang tidur nyenyak dibawah selimut yang hangat.
Sofia mengedipkan matanya beberapa kali.
"Jadi semua orang di mansion sudah tahu tentang pernikahan kalian." Begitulah penutup cerita Rona dan Ema.
Memang tidak ada kesepakatan antara Sofia dan Jordan tentang merahasiakan hal itu. Karena Jordan pergi begitu saja terakhir kali. Masuk akal jika kabar tentang pernikahan mereka tersebar.
Hanya saja, Sofia tidak pernah membayangkan semua ini terjadi.
Semakin membuat tidak mengerti dan mempertegas perasaan terabaikan, pada hari ke empat belas Jordan tidak kembali ke mansion, Sofia mendapati kenyataannya sendiri.
Terbangun tengah malam setelah bermimpi panjang, dia bertemu Felix di dalam mimpi itu. Sofia tidak dapat kembali tidur. Sofia bangkit kemudian membuka jendela untuk menghirup udara. Waktu sekitar tengah malam dan hampir dini hari. Hanya diterangi oleh cahaya bulan dan lampu minim, samar terlihar gerbang mansion terbuka dan sebuah kereta melambat masuk.
Jantung Sofia meringis. Kereta besar dengan lambang Hexalios yang tinggi terungkap. Tubuh Sofia menyusut.
Apakah Jordan akhirnya pulang?
__ADS_1
Perasaan aneh menyelimuti Sofia. Setelah menata perasaan rumit itu, akhirnya Sofia pada kesimpulan saat kereta itu berhenti tepat di depan mansion, dia merindukan Jordan. Rasa hampa yang menyesakinya empat belas hari lalu seperti terisi tiba-tiba.
Mungkin dia tidak diabaikan, Jordan pasti sangat sibuk. Itu karena dia berjuang keras untuk membantunya.
Dorongan untuk bertemu dengannya melonjak. Sofia mengambil selendang kemudian segara berlari menuju pintu.
Lorong tampak sepi. Sofia bergegas ke tangga untuk turun. Dari atas terlihat lantai satu tidak tampak sepi dibanding lantai dua.
Perlahan namun pasti Sofia menuruni tangga. Suara riuh rendah terdengar. Ada beberapa pelayan yang menyambut kepulangan Jordan, termasuk pelaya pelayan.
Kebanyakan dari mereka adalah pelayan laki-laki. Jordan, Alfons, dan Charlie berdiri di depan pintu. Jordan melepas mantelnya kemudian sebuah suara terdengar.
"Bagaimana kabarnya?"
Sofia menghentikan langkahnya. Dia sudah sampai di tangga terakhir sebelum kakinya menyentuh lantai. Tubuhnya tidak terungkap karena ada dua pilar besar di depan tangga. Sofia perlahan mendekati pilar dan memperhatikan mereka.
"Nyonya baik-baik saja Yang Mulia." Kepala pelayan menjawab.
"Tidak ada yang mencurigakan? Tidak ada pertanyaan apapun?"
Kepala pelayan jelas menggelengkan kepala.
"Laporkan."
Ada hening sejanak.
"Hari ini seperti biasa Nyonya menghabiskan waktu di taman untuk membaca dan melihat bunga. Setelah makan malam Nyonya masuk ke kamar tidur dan tidak keluar."
Jordan mengangguk.
"Seperti biasa besok aku akan keluar pagi-pagi, pastikan tidak membuat keributan dan membangunkan Sofia."
"Baik Yang Mulia."
"Panggil desainer dan toko perhiasan ke mansion, Sofia berhak untuk mendapatkan kemewahan sebagai Duchess Hexalios. Pastikan Sofia memilih apapun yang dia inginkan. Kalian bisa menjawab apapun jika dia menanyakanku."
"Baik Yang Mulia."
Suara pelayan menggema di ruang tamu yang sepi.
Tubuh Sofia merosot begitu Jordan dan para pelayan meninggalkan kamar. Mata Sofia tidak lepas pada arah mereka pergi. Itu adalah kamar Jordan. Mereka tampak alami, tidak seperti menyambut tuan mereka yang sudah empat belas hari berada diluar.
Jordan menyembunyikan sesuatu darinya. Hati yang menghangat sejenak kini mengeras.
Hah.
Suara tawa kecil keluar dari bibir Sofia.
"Seperti biasa besok aku akan keluar pagi-pagi, pastikan tidak membuat keributan dan membangunkan Sofia."
Sofia kamu memang diabaikan. Jordan selama ini selalu pulang ke mansion. Dia hanya tidak mau bertemu denganku.
__ADS_1
Kenyataan keras menghantam Sofia. Seluruh tubuhnya bergetar. Dia terlalu percaya diri.
The Empress Crown #26 Next...