
Side Story Felix Hexalios dan Leonil Hexalios
Sofia bermimpi.
Dia duduk dipadang rumput yang terbuka. Seperti sebuah lapangan. Sinar mataharinya menghangatkan. Sepanjang dia memandang hanya ada hamparan hijau yang luas.
Sofia memejamkan matanya kemudian menikmati alam dengan caranya sendiri.
Sudah lama sekali dia tidak bermimpi. Sejak terakhir kalinya saat Felix dan Leonil datang ke dalam perutnya.
Ini adalah mimpi di usia kehamilan yang ke sembilan. Rumah Hexaliso sedang siaga penuh untuk menunggu kapan kontraksi terjadi.
Dokter paling hebat didatangkan dari penjuru Elderbar, tidak lupa para penyembuh yang ahli dibidangnya.
Sofia tidak sabar menunggu kelahiran dua anak laki-lakinya.
Namun kini dia diberi mimpi lagi. Dia bertanya-tanya apa yang akan dia lihat kali ini.
"Ibu!" Teriakan terdengar.
Bibir Sofia melengkung membentuk senyuman. Tebakannya benar. Kali ini dia pasti akan bertemu dengan mereka berdua.
Apakah mereka tidak sabar untuk segera bertemu di dunia nyata, hingga mendatangi Sofia di dalam mimpi. Begitulah mereka. Sofia semakin tidak sabar.
Sofia membuka matanya dan melihat dua anak laki-laki berlari ke arahnya.
"Jangan berlari. Kalian bisa terluka!"
Tidak mengindahkan ucapan Sofia, keduanya terus berlari.
"Ibu!"
"Ibu!"
Suara mereka sahut menyahut.
"Kalian bisa jatuh..."
Belum selesai berbicara, kedua anak tersebut sudah jatuh ke pangkuan Sofia. Keduanya melingkarkan tangannya ke leher Sofia.
"Ibu!"
"Ibu!"
Suara mereka sangat menyenangkan. Sofia membalas pelukan mereka dengan mengelusnya. Dia menghirup udara dalam-dalam kemudian melapaskannya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sofia.
"Saya merindukan ibu." Jawab Leonil dengan wajahnya yang berseri-seri.
Lama sekali tidak melihat mereka, wajah Jordan dan wajah kedua anak laki-laki dipangkuannya ini tumpang tindih. Mereka berdua memang anaknya dan Jordan. Buah hatinya. Sepotong hati miliknya. Satu-satunya.
"Ibu kami akan segera bertemu ibu di dunia nyata." Felix membuka suaranya.
Sofia mengangguk setuju.
"Ibu sudah tidak sabar bertemu kalian." Sofia mengelus rambut kedua anaknya.
"Ingatan kami akan hilang ibu. Kami akan terlahir sepenuhnya."
"Tidak masalah bagi ibu. Ayah dan ibu akan menyayangi kalian."
Felix dan Leonil kompak mengangguk.
"Ayah?"
Sofia mengangguk lagi.
"Dia sangat ingin bertemu dengan kalian."
"Ya, ayah kami berbeda kali ini. Kami juga tidak sabar bertemu lagi dengan ayah." Felix melontarkan pertanyaan yang mengejutkan.
"Bertemu lagi?"
Kali ini Leonil yang mengangguk.
"Ayah kami sekarang." Leonil adalah anak yang periang. Senyum terus terukir di bibirnya. Bukan berarti Felix. Kepribadiannya lebih ke anak yang kuat dan pendiam.
Setelah dua kali bertemu dengan mereka secara bersama, Sofia bisa menyimpulkan kepribadian masing-masing.
Felix adalah tiruan Jordan sepenuhnya. Tidak banyak bicara namun perasaannya tulus. Dia membuat orang segan untuk mendekatinya. Namun sesungguhnya dia baik. Dia sangat cocok dengan kata menawan. Sedangkan Leonil sedikit berbeda. Dia adalah anak yang spontan dan periang. Dia selalu mengutarakan perasaannya. Wajahnya ramah dengan senyumnya. Jika Felix adalah anak yang berhati-hati, Leonil adalah anak yang terbuka. Dia sesuai dengan personifikasi menarik.
Seperti setengah lingkaran yang digabungkan, mereka menjadi sempurna.
Tiba-tiba dada Sofia penuh sesak dengan kebahagiaan. Matanya berkaca-kaca dan air mata mengancam untuk keluar.
"Ibu?"
__ADS_1
"Ya?" Sofia tersentak.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada ibu." Ucap Felix yang diiyakan oleh anggukan Leonil.
Ya ampun mereka berdua, sangat kompak. Sofia terharu bukan main.
"Apakah tentang ayah kalian? Jordan?" Tanya Sofia ragu-ragu.
Keduanya lagi-lagu kompak mengangguk.
"Apa yang terjadi?" Sofia mengawali cerita.
Dia bergantian memandang Felix dan Leonil.
"Sebenarnya yang membawa kami kesini adalah ayah." Ucap Felix. Matanya lurus menatap Sofia.
"Iya ibu, saudara Felix benar."
"Apa? Jordan? Ya Tuhan!" Sofia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Felix mulai menceritakan semuanya dari awal. Saat itu dia tidak tahu ada dimana, seperti disebuah hutan. Dia duduk dan menatap sebuah nisan sederhana di depannya. Disana tertulis Felix de Elderbar. Bingung dengan keadaannya, Felix linglung menatap sekitarnya. Tiba-tiba sosok tinggi dan besar mendekatinya. Dia merendahkan tubuhnya kemudian duduk disampingnya.
"Apakah kamu tahu siapa yang tertulis disana?"
Felix menggeleng.
"Itu adalah dirimu."
Suara orang itu terngiang di kepala Felix dan tiba-tiba suasan disekitarnya berubah. Ada seorang wanita yang menangis dengan memeluk batu nisan itu.
"Apakah saya sudah mati?"
Orang itu mengangguk.
"Itu adalah ibumu."
Felix mengalihkan pandangannya ke arah orang itu.
"Lihatlah betapa kehilangannya dia atas dirimu."
"Siapa anda?" Tanya Felix memotong omongan orang itu.
"Aku adalah orang yang mencintai ibumu sejak lama."
"Ya? Anda ayah saya?"
"Jika ada kesempatan kedua, jika memang Dewa benar-benar ada, aku ingin menjadi ayahmu. Aku ingin bersamanya."
Mata Felix mengikuti pandangan orang itu. Tatapannya jatuh ke wanita yang menangis tersedu-sedu.
"Namanya Sofia. Kamu harus mengingatnya. Dia sangat mencintaimu,"
Felix mengangguk.
"Sampai bertemu lagi Felix." Orang itu mengacak rambut Felix kemudian bangkit.
"Dikehidupan selanjutnya aku adalah ayahmu. Jordan, ingat namaku." Ucapnya.
Orang itu menghilang tepat setelah ucapannya berakhir. Felix mencari-carinya namun tidak ketemu. Matanya masih menatap wanita yang menangisinya.
Jika ucapan orang itu benar, lalu apa yang harus dia lakukan? Otak kecilnya tidak mampu menerima semua kenyataan ini. Saat dirinya diombang-ombingkan keadaan, tiba-tiba sekitarnya berubah.
Dia berada disebuah ruangan yang gelap. Terdengar tangisan disudut ruangan yang menarik perhatiannya. Dia berjalan mendekati tubuh meringkuk di bawah tempat tidur.
"Hei kenapa kamu menangis?"
Mata sembab seorang anak laki-laki yang lebih muda darinya terlihat.
"Saudara Felix?"
"Kamu mengenalku?" Felix terkesiap.
Anak itu mengangguk.
"Siapa namamu?"
"Leonil. Saya adalah adik laki-laki saudara Felix."
Felix memiringkan kepalanya karena bingung.
"Apakah ibumu bernama Sofia?"
Leonil menggeleng lemah.
"Ayah kita sama tapi ibu kita berbeda. Ibu saya yang membunuh saudara Felix."
Felix tercengang. Dia tidak ingat sama sekali kehidupannya sebelum meninggal. Apakah dia menjadi roh sakarang, itulah pertanyaan besarnya. Lalu untuk apa dia diperlihatkan semuanya.
__ADS_1
"Maukah kamu ikut denganku?" Felix bertanya.
Mata anak itu melebar.
"Untuk mencari apa yang terjadi. Mencari jawaban kenapa kita dipertemukan."
Leonil mengangguk setuju.
"Saya akan ikut kemanapun saudara Felix pergi."
Mereka berdua bergandengan tangan kemudian keluar dari ruang gelap itu. Sebuah cahaya menyilaukan menerpa. Mereka menutup matanya dengan salah satu tangannya untuk mengalau sinar itu. Saat pandangannya bisa menyesuaikan diri. Mereka melihat hamparan bunga dan pohon lebat disekitarnya.
"Itu ibuku." Felix membuka suaranya.
"Bolehkah saya juga menjadi anak ibu saudara Felix?"
"Apa maksudmu?"
"Saya juga ingin memiliki ibu seperti ibu saudara Felix." Pinta Leonil dengan suara mendesak.
"Tidak." Jawab Felix tegas.
"Saudara Felix saya mohon."
"Kita temui ibu dulu. Ayo!" Felix menarik tangan Leonil kemudian berlari mendekati Sofia yang duduk di bawah pohon peach dengan mata terpejam.
Itulah pertemuan mereka bertiga untuk pertama kalinya.
Setelah kepergian Sofia, Felix dan Leonil masih bergandengan tangan duduk di bawah pohon peach. Tiba-tiba suara mengejutkan mereka.
"Apakah kamu berhasil sekarang?" Suara itu familiar.
"Siapa anda?" Tanya Leonil pada orang yang mendekat.
"Anda datang." Felix membuka suaranya.
"Di kehidupan kali ini tolong lindungi Sofia. Aku telah memohon pada Dewa Elderbar untuk menyelamatkan Sofia kali ini."
Felix mengangguk.
"Kamu juga membawanya." Orang itu menunjuk Leonil.
"Siapa dia saudara Felix?"
"Ayah kita."
Senyum Jordan mengembang.
"Ya, aku yang akan menjadi ayah kalian kali ini. Namaku Jordan. Meskpiun kalian akan melupakan semuanya, tolong jangan lupakan nama ayah dan ibumu."
"Apakah anda yang membuat kami bertemu ibu?"
Jordan mengangguk.
"Aku memohon pada Dewa Elderbar untuk memberikan kesempatan sekali lagi bertemu Sofia dan menyelamatkannya. Tentu saja ada harga yang harus dibayar. Ingatan kita akan terhapus sepenuhnya. Kita akan menjadi orang yang benar-benar terlahir kembali."
Jordan mengambil tempat duduk disamping mereka karena tahu obrolan mereka akan panjang.
"Aku bertemu Sofia pertama kali di istana. Melihat seorang wanita yang diperlukan seperti orang mati ditengah megahnya istana Elderbar membuat hatiku sakit. Aku sering mencuri lihat hidupnya. Hingga tanpa aku sadari jika aku menaruh hati padanya. Dia adalah istri saudara saya, Alex. Ayah kalian. Kaisar Elderbar yang tidak bisa dibanggakan sama sekali karena menyiksa seorang wanita demi kepentingannya sendiri. Kamu anak laki-laki Janetta bukan?"
Kali ini Leonil mengangguk.
"Demi menjadikan ibumu sebagai permaisuri, Alex tega menelantarkan Sofia. Bahkan Janetta yang telah berhasil menjadi permaisuri juga memiliki hati yang kotor. Dia ingin menjadikanmu seorang kaisar maka dari itu dia tega membunuh saudara laki-lakimu. Mereka berdua, Alex dan Janetta adalah manusia yang mengerikan." Ucapan itu lebih ditujukan kepada Leonil dari pada Felix.
"Sudah waktunya kalian datang ke Sofia. Dia pasti akan sangat bahagia bisa memiliki kalian."
"Terima kasih telah menyelamatkan ibu." Ucapan Felix tulus.
"Itu bukan untuk kalian, tapi untukku."
Itulah akhir dari cerita Felix. Sepanjang cerita Sofia tidak bisa menghentikan air matanya keluar. Dia pernah punya pertanyaan besar kenapa dia tidak pernah melihat Jordan dalam mimpinya. Ternyata inilah alasannya. Jordan juga terlahir kembali seperti Felix dan Leonil. Dia sempat ragu akan masa depannya bersama Jordan karena dia tidak bisa melihat apapun.
Ternyata mereka terhubung. Sofia bisa melihat masa depannya melalui mimpi berkat Jordan. Ternyata ada Jordan dihidupnya sebelumnya. Dia terlalu sibuk sendiri hingga tidak memperhatikan jika ada orang yang mengamatinya juga. Jika tidak ada Jordan entah apa jadinya hidupnya saat ini.
Jordan bukanlah masa depan yang tidak terduga dihidupnya, tapi Jordan adalah masa depan yang terhubung dengan masa lalu. Sofia lega mengetahui fakta ini. Mereka bukanlah orang yang sama sekali tidak pernah bertemu. Mereka sudah punya ikatan sejak lama. Dia beruntung menerima uluran tangan Jordan kali ini.
"Terima kasih sudah menceritakan pada ibu tentang ayah." Ucap Sofia seraya menyeka pipinya yang basah.
Felix dan Leonil kembali mengangguk.
"Sampai bertemu ibu. Kami sayang ibu." Felix dan Leonil memeluk Sofia.
"Ya ibu dan ayah juga tidak sabar bertemu kalian. Kami sayang kalian." Sofia mencium puncak kepala Felix dan Leonil bergantian.
Betapa beruntungnya dia. Dia yang bukan siapa-siapa diberi kesempatan untuk memiliki tiga laki-laki yang melindungnya. Bahkan secara mengejutkan ada dua tambahan lagi di dalam keluarga mereka. Mereka berenam berjanji untuk saling menjaga hingga akhir.
The Empress Crown FINAL.
__ADS_1