Happy Ending Love Story

Happy Ending Love Story
Game of Hearts #16


__ADS_3

"Belum ada kabar?"


"Belum ada. Tapi ada laporan yang baru saja data dari Busan."'


"Apa itu? Laporkan."


"Nona Seokyung meninggalkan Busan setelah ibunya meninggal. Rumahnya dibiarkan kosong. Tetangga sekitar melihatnya lebih dari satu tahun yang lalu. Kemudian kami dapat fakta dari teman dekat Nona Seokyung. Kalau tidak salah ingat Nona pernah berpamitan padanya akan bekerja di Seoul, ada tawaran pekerjaan yang bagus dengan gaji besar selama satu setengah tahun." Suara di seberang telpon menjelaskan panjang lebar.


"Nona Seokyung tidak menjelaskan secara detail pekerjaan apa itu, yang pasti Nona mengatakan jika uang itu bisa digunakan untuk membayar hutang." Lanjutnya.


"Hutang?"


"Ya Tuan, berdasarkan keterangan teman Nona ini, ibu Nona sakit keras dan lama sekali dirawat di rumah sakit. Ketika beliau meninggal jenazahnya tidak bisa di bawa pulang untuk dikuburkan jika semua biaya rumah sakit tidak dilunasi."


"Tidak ada yang lain?"


"Belum ada perkembangan Tuan, kami masih mengamati rumah dan lingkungan sekitar rumah Nona Seokyung."


"Baik, segera hubungi aku jika ada informasi terbaru."


Sambungan telpon terputus. Kang Inhwan merenung. Tangannya bertaut kemudian menopang dahinya yang terasa berat.


"Seokyung kamu dimana?" Ucap Hwan dengan suara yang memilukan.


Hampir dua minggu dia mencari Seokyung tapi tidak menemukannya. Dia berhasil memaksa Sora untuk memberi alamat Seokyung di Busan, tapi dia tidak disana.


Fakta-fakta baru bermunculan sehingga menyadarkannya bahwa dia tidak banyak mengenal Seokyung. Andai dia memiliki nomor ponsel Seokyung. Mereka telah hidup bersama satu tahun tapi dia tidak mengenal Seokyung secara pribadi. Hwan mengutuk kebodohannya.


Proses perceraian dengan Sora menambah beban hidupnya. Sora licik seperti rubah. Dia merasa tidak bersalah hingga akhir. Dia menolak menandatangani surat perceraian dan mengancam membeberkan identitas Seokyung dimuka umum.


Kang Inhwan dalam keadaan siaga penuh. Dia memperketat keamanan di rumahnya. Siapapun dilarang masuk. Hwan takut Inkyung dan Inseo bisa saja diambil oleh Sora.


Saat pikirannya semakin buntu, sebuah panggilan internasional muncul di layar ponsel Hwan.


"Halo?" Hwan menempelkan ponsel di telinganya. "Bicaralah." Titah Hwan dengan suara lemah.


"Kami menemukan orang yang bersama dengan Ahn Sora selama di Eropa. Dia adalah keturunan Korea-Perancis bernama Roy Lee." Jelas orang yang ada di seberang telpon.

__ADS_1


Hwan bangkit. Dia berjalan ke arah sofa yang empuk. Melemparkan dirinya kesana. Melonggarkan ikatan dasinya dan mengangkat kakinya ke meja.


"Ya teruskan."


"Dalam satu tahun ini The Swan Ballerina tidak mengadakan tour dunia, terakhir kali mereka tour dunia tiga tahun yang lalu. Kami sedang mengawasi target Roy Lee." Lanjutnya.


Seringai muncul di bibir Hwan. Jadi tour dunia atau mengejar mimpi hanya kebohongan Sora belaka. Kepalanya berdenyut sakit. Dia marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia dipermainkan begini. Padahal dia percaya pada Sora.


"Tangkap Roy Lee dan segera bawa ke Seoul. Aku tunggu tiga hari lagi." Hwan sudah kehabisan waktu. Dia akan menggunakan Roy Lee untuk mengancam Sora. Bukan hanya Sora yang punya kartu ASnya, Hwan juga sama. Mereka impas. Hwan ingin segera mengamankan posisinya dan menemukan Seokyung.


"Baik Tuan, kami akan segera kembali ke Seoul bersama target besok lusa."


Klik. Panggilan dimatikan.


Hwan menghela nafas kasar. Hidupnya kacau dua minggu ini. Setiap malam dia harus mengurus Inkyung dan Inseo seorang diri. Mereka butuh ibunya. Hwan tidak tega melihat anak-anaknya mencari ibunya. Tangannya mengusak kasar wajahnya.


Dia mengingat Seokyung. Mata gelapnya kontras dengan senyumnya yang cerah. Aroma tubuhnya manis dan segar. Seperti sinar matahari. Ketika dia pergi, Hwan kehilangan sinar hidupnya. Dia jatuh dalam kegelapan. Dia butuh cahaya. Dia butuh Seokyung.


*****


Dua orang saling duduk berhadapan di sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Disamping kanan mereka ada orang yang mendampingi masing-masing. Mereka saling menatap dengan sengit. Saat ini Sora dan Hwan melakukan pertemuan mediasi dengan didampingi kuasa hukum mereka.


"Kita baru menikah satu tahun dan kamu berani meminta yang bukan hakmu? Dasar licik." Balas Kang Inhwan.


"Kamu sendiri yang mengatakan jika aku berhak mendapat hartamu." Suara Sora sedikit tinggi. "Tentu aku berhak. Aku istri sahmu." Gertak Sora.


Hwan melipat tangannya ke dada. Dia menghela nafas kemudian membuka mulutnya. "Kamu hanya akan mendapatkan kompensasi uang. Aku menolak memberikan aset apapun milikku kepada istri yang tidak pernah menjalankan perannya sebagai istri."


"Ingat Hwan, aku siap membeberkan siapa Seokyung ke media, kapanpun."


"Sejak awal memang hanya uang yang kamu incar. Kamu benar-benar tidak punya harga diri Sora." Balas Hwan dengan suara yang tegas.


"Terserah kamu mau bilang apa. Departement Store, perceraian dan Seokyung akan aman atau aku bisa memberitahu publik sekarang juga." Ancam Sora.


"Silahkan lakukan apa maumu. Aku tidak takut dengan ancamanmu." Timpal Hwan dengan percaya diri.


"Jangan pernah menyesal kamu Hwan." Sora mengambil ponselnya kemudian menekan panggilan. Dia menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Bawa dia masuk." Titah Hwan dengan suara lantang.


Saat seseorang masuk, mata Sora terbelalak. Tangannya sontak menjatuhkan ponselnya.


"Roy?" Tubuh Sora bergetar, dia langsung berdiri.


Wajah laki-laki yang sangat familiar baginya tampak berantakan. Tangannya diikat dengan tali. Dia berdiri mematung menatap Sora. Tatapannya kosong.


"Aku sudah menyuruhmu untuk tanda tangan dengan baik-baik Sora, tapi kamu memaksaku untuk berbuat kasar." Hwan buka suara. "Tanda tangan, ambil uang kompenasasi kemudian pergi dengan tenang atau aku akan membuat perkara ini menjadi panjang." Ancam balik Hwan.


Tubuh Sora gemetar hebat. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tenggorokannya tercekat. Tubuhnya jatuh terduduk. Dia bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika Hwan memperpanjang masalah mereka. Dia memilih lawan yang salah. Sora telah membangunkan singa yang sedang tidur.


"Apa yang kamu mau?" Tanya Sora dengan sisa kekuatannya.


"Tanda tangan, ambil uang kompensasi dan pergilah dari negara ini."


"Tapi?"


"Aku akan memberi uang kompensasi dua kali lipat. Tapi ada yang harus kamu berikan padaku sebelum menerima uang itu."


"Apa?"


"Beri aku nomor ponsel Seokyung."


*****


Kang Inghwan mencoba menghubungi nomor telpon yang tertulis di selembar kertas. Tersambung tapi tidak dijawab. Hwan frustasi. Akhirnya dia sedikit dekat dengan Seokyung, itu yang awalnya dia pikirkan. Namun kenyataannya berkata lain. Dia tetap jalan di tempat. Hwan belum menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan Seokyung.


Dia melempar ponselnya ke sembarang tempat. Dia sakit. Dia gila. Dia tidak waras. Hanya Seokyung yang mampu membuatnya begini. Hwan ingin bertemu Seokyung. Dia rindu, dia hampa tanpa Seokyung.


Ponsel yang terlempar jauh berdering. Hwan secepat kilat mengambilnya, berharap itu adalah Seokyung, ternyata bukan. Panggilan itu dari salah satu staffnya.


"Halo?"


"Halo Tuan. Nona Seokyung baru saja terlihat di rumahnya di Busan. Kami sedang siaga penuh untuk mengawasinya."


"Aku, aku akan segera kesana. Jaga dia jangan sampai kabur lagi." Titah Hwan.

__ADS_1


Dia segera menyambar kunci mobilnya. Sepanjang perjalanan ke Busan air mata Hwan tidak ada henti-hentinya tumpah. Hatinya penuh oleh emosi. Akhirnya dia menemukan Seokyung.


Game of Hearts #17 Next...


__ADS_2